
Samantha memutuskan untuk kembali ke ruang utama tempat berlangsungnya pesta. Tiba di salah satu sudut ruangan itu, suasana sudah berbeda jauh dengan yang terakhir kali ia lihat. Makan malam itu hanya sebuah kedok untuk sebuah pesta para mafia.
Suara musik disko mulai terdengar diruangan yang luas ini. Suaranya bergema hingga jantung Samantha ikut berdetakan seirama hentakan musik. Para wanita masuk memenuhi ruangan itu bersama para pelayan yang berseliweran menawarkan minuman anggur terbaik dari seorang mafia terkenal, William. Ini lah makan malam yang sebenarnya, wanita dan minuman.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan suasana pesta yang berubah drastis ini. Yang membuat Samantha tidak nyaman adalah saat melihat Maximo terduduk disalah satu kursi dan dikelilingi banyak wanita yang menatap pria itu dengan penuh Hasrat. Mereka menawarkan dirinya untuk disentuh oleh pria tampan yang paling mempesona dipesta ini.
Lihat saja, Crystal juga ikut menggoda Maximo. Merasa menjadi ratu pesta, gadis itu duduk di lengan kursi dan menyandarkan setengah tubuhnya pada Maximo. Entah kalimat apa yang ia bisikkan ditelinga Maximo yang ia usap dengan lembut sambil mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi dan menggerakkan tubuhnya dengan erot1s. Belum lagi para wanita yang berusaha menjamah Maximo, rasanya Samantha ingin menarik Maximo keluar dari kerumunan para betina liar itu.
“Tahan Samantha, kalau kamu menghampirinya dan menariknya sekarang, Maximo akan berpikir kamu cemburu. Hahahaha, itu tidak mungkin terjadi. Hubungan kalian adalah sebagai musuh.” Sisi gelap Samantha mengingatkan hal itu.
“Kamu datangi saja Samantha, buat wanita-wanita itu menjauh dari Maximo. Seperti yang pernah Maximo katakan, Maximo adalah milikmu.” Satu sisi lainnya mengingatkan Samantha akan hal itu, membuatnya berpikir liar. Entah mana yang harus ia ikuti, ia juga tidak tahu mana yang sebenarnya menjadi sisi terang dan sisi gelap yang membisiki hati dan pikirannya.
“Dia tidak suka wanita, untuk apa aku gelisah? Lagi pula Maximo bukan siapa-siapa.” Pikiran Samantha berusaha realistis, tetapi tidak dengan hatinya. Hatinya yang berdenyut ngilu membuat Samantha mengambil segelas minuman lalu meneguknya hingga habis.
"Akhh!" Samantha meringis merasakan sensasi pahit dan hangat didalam mulut dan masuk ke kerongkongannya. Entah minuman jenis apa yang ia teguk dan membuat kepala gadis itu terasa melayang dan tidak menempel dilehernya.
Dari tempatnya, Samantha melihat Crystal mengusap bahu Maximo dengan sensu4l. memberi sedikit pijatan yang membuat Maximo menggelinjangkan bahunya. Entah keenakan dengan sentuhan Crystal atau seperti apa, yang jelas hal itu membuat Samantha berjalan mendekat pada Maximo.
“Samantha,” Maximo segera beranjak berdiri menyambut Samantha yang berjalan dengan oleng. Ia berusaha meraih tubuh Samantha yang nyaris ambruk.
“Hay, aku tidak tau kalau pestanya akan meriah seperti ini.” Ia tersenyum seperti orang bodoh saat menatap Maximo dan Crystal bergantian. Ia menurunkan tangan Maximo yang memeganginya, karena ia tidak mau terlihat lemah.
“Kamu minum?” Maximo segera menarik tangan Samantha dan Crystal melihat jelas kecemasan dimata Maximo. Tidak bisakah laki-laki ini bersikap biasa saja? Bukankah bukan hanya Samantha yang mulai mabuk, ia ppun sama. Mabuk ole pesona seorang Maximo.
“Ya, disini banyak minuman mahal dan mewah, mana mungkin aku lewatkan. Selamat Crystal, pesta penyambutanmu sangat meriah. Banyak sekali wanita seksi disini. Hampir saja aku merasa insecure, tapi aku sadar kalau aku wanita pilihan Maximo yang dibawanya datang ke sini. Bukan lalat buah yang tiba-tiba menempel pada buah-buahan segar dan menarik ini.” Samantha mulai berceloteh dengan tidak jelas.
Maximo berusaha menahan senyumnya mendengar analogi Samantha untuk menyindir para wanita yang mengelilinginya, termasuk Crystal. Wanita yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya dan menawarinya tidur bersama.
“Aku senang kamu menikmatinya. Pergilah untuk menari. Mintalah DJ memutarkan lagu apa saja yang kamu mau.” Kalimat ini sebenarnya hasutan dan pancingan untuk Samantha, tetapi gadis itu mengangguk setuju dengan kalimat Crystal. Ia juga melambaikan tangannya dengan elegan pada Maximo lalu berkedip genit.
“Aku akan menari, kalian silakan lanjutkan ungkapan rasa rindu kalian.” Kalimat Samantha terdengar sinis, lalu pergi meninggalkan dua orang itu.
“Sam,” Maximo mencoba menahan tangan Samantha, tetapi gadis itu mengibaskannya. Ia memilih pergi menuju lantai dansa setelah mengambil lagi satu gelas minuman dan meneguknya sedikit.
__ADS_1
“Aku datang!” suara samar Samantha masih bisa terdengar ditengah gemuruh suara musik disko. Gadis itu mengangkat gelasnya ke udara lalu meliukkan tubuhnya dilantai dansa.
Beberapa singa buas langsung menoleh, melihat sosok Samantha yang begitu menikmati alunan musik yang membangunkan sisi liarnya. Tariannya tidak terlihat beraturan, tetapi hal itu yang mengundang para pejantan untuk mendekat.
“Boleh aku bergabung?” tanya seorang lelaki pada Samantha. Laki-laki pertama yang sangat bernyali untuk mendekati salah satu wanita yang ia anggap sebagai dayangnya Maximo.
“Silakan. Minumlah! Welome drink!” sambut Samantha yang tersenyum menggoda sambil memberikan minumannya langsung ke mulut pria itu.
Pria itu sedikit merendahkan tubuhnya untuk mengimbang tinggi Samantha sementara tangannya mulai menyentuh pinggang Samantha dari belakang. Pinggang yang ramping dan sangat pas untuk dipegang dan dilingkari oleh tangannya yang kokoh.
“Apa yang dia lakukan?!” Maximo segera beranjak dari tempatnya, hendak menghampiri Samantha. Lihat, gadis itu malah tertawa saat pria itu berusaha menjamah dan meraba punggungnya dengan sensu4l.
“Tolong biarkan saja Maximo. Biarkan dia bersenang-senang dan jangan merusak pestaku. Lagipula, dia hanya dayangmu dan tidak mungkin dia bercinta dilantai dansa dengan lelaki asing kan?” Crystal menahan tangan Maximo lalu melingkarkan satu tangan kokoh itu dipinggangnya dan ia mulai menggerakkan tubuhnya dihadapan Maximo yang masih memandangi Samantha.
“Ayolah, aku rindu kita berpesta bersama,” bisik Crystal ditelinga Maximo. ia sengaja meniupkan hawa hangat ditelinga pria yang darahnya mulai mendidih melihat Samantha diajak menari oleh pria lain. Samantha bahkan tertawa-tawa. Apa dia begitu menikmati pestanya?
“Hey!” Dengan berani Crystal mencengkram rahang Maximo dan memalingkan wajah Maximo agar menatapnya. “Cukup lihat aku saja. aku sudah dewasa dan kita tidak bertemu selama bertahun-tahun. Tidakkah kamu merindukanku?” Crystal bertanya dengan menggoda. Gadis itu juga mengedipkan matanya genit pada sosok Maximo.
Maximo tidak menimpali hanya hembusan napasnya saja yang terdengar berat dan kesal. Ia membiarkan Crystal untuk meliukkan tubuhnya dihadapannya sementara matanya tidak lepas dari memperhatikan Samantha yang sedang menari berputar-putar dengan satu tangan yang digenggam laki-laki itu diudara.
“Maaf Crystal, aku tidak bisa menemanimu.” Akhirnya Maximo menurunkan satu tangan Crystal yang melingkar dilehernya, lalu pergi menerobos orang-orang yang sedang menikmati ritme musik disko yang membuat mereka sulit menolak hentakannya. Mereka mabuk kepayang, termasuk Samantha.
“Hey! Maximo! kamu meninggalkanku sendiri!” Crystal berteriak dengan kesal, tetapi Maximo tidak memperdulikannya. Ia lebih memilih menghampiri Samantha yang nyaris dipeluk oleh laki-laki yang menjadi temannya berdansa.
“Mau mencari hotel denganku?” tanya laki-laki yang berbisik ditelinga Samantha.
“Apa ada kamar yang lebih mewah dari sangkar milik Maximo?” Samantha balik bertanya.
“Maximo yang mana? Aku juga Maximo.” Laki-laki itu mulai melingkarkan tangannya dipingang Samantha, mengusap punggung gadis itu dengan lembut dan kedua tangannya merem4s benda sintal dibelakang tubuh Samantha.
“Akh! Apa yang kamu lakukan?” Samantha seperti tersadar kalau laki-laki dihadapannya sudah mulai berhasrat. Sedari tadi sebenarnya, Sam.
“Apa lagi? Aku hanya menyentuhmu. Kamu sangat menarik, tapi jangan berpikir kalau Maximo Cortez akan menidurimu. Lebih baik kamu memilihku dan aku akan membuatmu merintih nikmat sepanjang malam.” Usapan lembut diberikan laki-laki itu dipunggung Samantha.
__ADS_1
Namun, belum puas tangan itu mengusap, sebuah tangan kekar sudah lebih dulu mencekal tangan itu lalu menekuknya.
“Aaakkh!” laki-laki itu mengaduh saat tekukan yang diberikan Maximo terasa mematahkan pergelangannya.
“Max?” Mata Samantha langsung membulat melihat kedatangan Maximo yang tampak marah.
Maximo tidak menimpali apalagi menoleh, ia lebih memilih menatap tajam laki-laki yang berani menyentuh wanitanya. Laki-laki itu sudah meringis kesakitan tetapi Maximo belum puas dan tidak berniat menghentikan apa yang dia mulai.
“Dia bilang dia juga Maximo, Max. Dia berbohong. Lihatlah Maximo palsu, dialah Maximo yang sesungguhnya. Tampan bukan?” Samantha yang mulai mabuk berbicara dengan melantur.
Ia tetap menari dan membiarkan Maximo meneruskan urusannya. Entahlah, ia mulai menikmati melihat Maximo mengusir satu per satu lalat buah yang mengganggunya.
“Apa yang kamu lakukan pada wanita itu?” Maximo masih belum puas. Ia terus menekuk tangan laki-laki itu hingga berbunyi ‘kretek’.
“Apa masalahnya dengan wanita ****** seperti itu? Lagi pula kamu tidak menyentuhnya kan?” Laki-laki itu masih berani bertanya. Emosi Maximo tersulut. Sambil menggeretakkan giginya, ia menekuk paksa tangan laki-laki itu hingga patah.
“Aaaakkkk!!” Laki-laki itu mengaduh kesakitan. Maximo melepaskan cengkramannya dan membiarkan laki-laki itu terhuyung hingga jatuh sambil memegangi tangannya.
“Jangan pernah berani berpikir untuk menggodanya, atau aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar mematahkan tanganmu!” ancam Maximo dengan penuh kesungguhan.
Laki-laki itu tidak berani berkata-kata, ia menyembunyikan wajahnya dari maximo sambil meringis kesakitan. Beberapa saat kemudian Maximo menarik tangan Samantha hingga menubruk tubuhnya.
“Astaga, kepalaku….” Samantha memegangi kepalanya yang pusing berputar karena tarikan tiba-tiba dari Maximo.
Tidak menunggu lama sampai kemudian Maximo mengendong tubuh Samantha dengan kedua tangannya dan meninggalkan kerumunan orang-orang itu. Samantha terkulai lemah di rengkuhan Maximo, kepalanya benar-benar pusing dan berat. Ia perlu waktu untuk mengembalikan keseimbangannya.
“Maximo, kamu mau kemana?” seru Crystal yang menyusul Maximo keluar dari rumahnya.
Langkah Maximo terhenti beberapa saat. “Aku cukup menikmati pestanya. Terima kasih,” ucap laki-laki itu yang kemudian memilih pergi dari istana mewah milik William dan putrinya.
"Kamu trouble maker, Sam. Dan aku menyukainya." Ucap lirih Maximo yang tersenyum kecil pada Samantha yang menyandarkan kepalanya didadanya yang bidang.
"SIAL!" dengkus Crystal yang mengeram kesal melihat kepergian Maximo yang menggendong Samantha dengan kedua tangannya.
__ADS_1
****