
Kebingungan Samantha saat ini, sama dengan kebingungan yang dirasakan Maximo. Laki-laki ini belum menemukan celah untuk mencari tahu apakah William pernah berkomunikasi dengan Slavyk atau tidak. Laki-laki itu tidak menunjukkan ponselnya sama sekali. Mungkin karena sedang berbincang dengan Maximo sehingga ia lebih fokus pada pria muda di hadapannya. Kedatangan Maximo cukup mengejutkan untuknya, setelah laki-laki itu menyampaikan ketidaksukaannya atas kehadirannya di pesta beberapa waktu lalu.
“Aku senang kamu datang Max. Aku ingin menemuimu, tetapi papahku selalu melarangku agar tidak datang apalagi mengganggumu.” Crytal yang senang melihat kedatangan Maximo, segera menghampiri pria tersebut. Ia membawakan segelas wyne untuk laki-laki pujaannya.
“Aku tidak pernah menutup pintu rumahku untuk orang yang ingin berkunjung, terlepas apapun tujuan mereka.” Maximo berujar dengan serius. Mata tajamnya menatap William yang asyik memainkan koin di tangannya sambil memandangi Maximo. Ia masih berpikir apa yang membuat pria ini datang menemuinya.
Maximo mengambil minuman yang disodorkan Crystal dan hanya memainkannya saja. Tidak berniat sama sekali untuk meminumnya. ia masih tidak percaya dengan ayah dan anak yang ada dihadapannya.
“Jadi, apa boleh aku berkunjung ke tempatmu?” Crystal bergelayut manja di lengan kiri Maximo. ia juga duduk di lengan kursi yang diduduki Maximo.
Maximo tidak menjawab, ia memilih menaruh minumannya di atas meja.
“Aku ingin berbisnis tricyclon, kamu bisa membantuku?” Maximo memilih menanyakan itu pada William. Pertanyaannya membuat William berhenti memainkan koin di tangannya.
“Untuk apa?” William tampak penasaran dengan niatan Maximo.
“Tentu saja untuk menambah kekayaanku dengan menambah satu jenis lagi perdagangan illegal. Aku dengar harga obat itu sangat fantastis, terutama penawarnya.” Pria itu sengaja memancing pria tua yang ia curigai.
__ADS_1
“Obat itu sulit di dapat. Ada pihak-pihak tertentu yang memonopolinya.” William tampak enggan membicarakan obat tersebut.
“Kamu terlihat sangat yakin, apa kamu ada di antara pihak-pihak itu?” Maximo mengerucutkan pertanyaannya.
William hanya tersenyum sinis, tepatnya menyeringai kecil. “Sekalipun aku masuk di antara para pihak itu, apa pedulimu?” William bertanya dengan penuh penekanan.
“Peduli, karena mungkin saja kamu memberikan obat itu padaku.” Jawaban Maximo cukup menohok, membuat laki-laki tua itu menekan koinnya dengan kuat hingga ujung jemarinya memutih.
“Apa maksudmu? Pikirmu aku meracunimu?” William langsung berreaksi. Ia mencondongkan tubuhnya pada Maximo dan menatap pria itu dengan lekat.
"Papah," Crystal segera menghampiri, takut Maximo terpancing dengan sikap kasar ayahnya.
“Reaksimu berlebihan Will, aku hanya bercanda. Bukankah aku sudah bilang kalau aku hanya ingin berbisnis?” Jawaban Maximo lebih tenang dan ia tersenyum kecil.
Willson menarik tubuhnya menjauh kembali dari Maximo. Dalam hati ia menggeram kesal hingga sudut bibirnya berdenyut. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi keberasannya tanpa menurunkan pandangannya dari sosok Maximo.
“Aku tidak tertarik untuk berbisnis dengan menggunakan obat itu, jadi jangan mengajakku.” Laki-laki itu menolak dengan sarkas.
__ADS_1
Maximo mengangguk paham, rasanya pikirannya mulai terbuka pada William. Ia cukup paham mengapa reaksi William berlebihan dan pura-pura tidak tertarik dengan ajakan Maximo. Pria itu memilih beranjak dari tempatnya. Ia menoleh Crystal yang berdiri di sampingnya, lantas menatap wajah wanita itu dengan lekat.
“Datanglah ke rumahku, kita bisa melakukan banyak hal di sana.” Tiba-tiba saja Maximo menawari Crystal. William sadar pria muda itu merubah strateginya. Menyerang bagian paling lemah dalam kekuasaannya.
“Benarkah?” Crystal tampak tertarik. Wajahnya tampak ceria.
“Tentu. Kita bisa minum-minum bersama dan membahas masa depan. Aku tidak punya teman untuk membicarakan hal semacam itu. Itupun kalau ayahmu mengizinkannya.” Maximo berujar dengan penuh kesungguhan dan membuat Crystal langsung menoleh, menatap sang ayah dengan penuh harap.
William tidak merespon sedikitpun dan membuat Maximo akhirnya pergi begitu saja.
“Papah, Maximo mengundangku. Apa aku boleh pergi ke tempatnya?” Crytal langsung menghampiri sang ayah dan memegangi tangan pria paruh baya itu. Laki-laki tampan itu tersenyum kecil, merasa umpannya diterima Crystal dengan baik.
Tetapi William tidak menjawab, ia masih ingin tahu maksud Maximo mengundang putrinya.
“Papah… boleh yaaa....” Crystal terdengar merengek, tetapi William tetapp tidak bergeming, ia malah mengepalkan tangannya erat-erat sambiil menggenggam koin keberuntungan di tangannya.
Entah apa niatan Maximo saat ini hingga ingin mendekati putrinya. Sepertinya laki-laki itu mulai menyerang kelemahannya, melalui sang putri yang sangat menyukai Maximo.
__ADS_1
****