Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Sejoli


__ADS_3

Sejoli yang saling merindukan itu masih bergulat di atas ranjang Maximo. Kecupan mereka nyaris tidak terlepas satu sama lain, hanya sesekali saja saat mereka butuh meraup oksigen baru untuk mengisi rongga dada mereka.


Samantha berada di atas tubuh Maximo, ******* agresif bibir kering milik Maximo. Maximo tidak kalah dalam memberi pembalasan. Sesekali ia juga mengecupi leher samantha dan memberi berkas kemerahan di sepanjang urat nadi yang berdetak kencang.


Dengan satu tangan yang mulai kuat, Maximo membalik tubuh Samantha hingga berada di bawah kungkungannya. Ia meneruskan semuanya hingga berusaha melucuti kaos bergambar maskapai yang menutupi tubuh Samantha. Akan tetapi, tiba-tiba Samantha menahan tangan Maximo agar menghentikan apa yang dilakukan oleh prianya.


“Berhenti, Max,” ucap gadis yang napasnya masih terengah dikuasai gairah.


“Kenapa? Bukankah kamu sangat merindukanku?” tanya Maximo. Tatapannya yang tajam mengunci sepasang mata bening yang bergoyang perlahan penuh keresahan dan gairah.


“Ya, tapi kondisimu belum sepenuhnya membaik.” Tangan samantha mengusap dada bidang Maximo, lantas melepas satu per satu elektroda yang masih menempel di dada berotot pria itu. Detakannya sudah tidak karuan, terlebih saat Samantha mengecupinya, membuat rambut halus di sekujur tubuh Maximo terasa meremang.

__ADS_1


“Apa kamu tau kalau aku sangat mengkhawatirkanmu?” tanya Maximo seraya mengusap rambut Samantha. Napasnya terdengar terengah dangkal. Ia menempatkan dahinya di atas dahi samantha dan membuat hidung keduanya bersinggungan. Hembusan napas ini yang mereka rindukan satu sama lain.


“Ya, aku merindukanmu. Maka, berbaringlah di sini, aku ingin memelukmu, Max.” Samantha mengusap tempat yang kosong disampingnya. Seprai sutra itu sudah tidak lagi beraturan dan sangat berantakan.


“Baiklah,” Maximo terpaksa membaringkan tubuhnya di samping Samantha. Mengusap halus rambut hitam milik gadis itu lalu mengecupnya. Menyesap wangi yang selalu membuatnya bergairah.


Samantha memiringkan tubuhnya dan memeluk pria itu dari samping. Ia termenung beberapa saat sambil memandangi wajah Maximo yang berada di atasnya. “Sepanjang perjalanan, aku selalu berpikir, apa aku akan tiba tepat waktu? Apa aku masih bisa bertemu lagi denganmu?” tanya samantha dengan tatapan lekat pada wajah Maximo. Tangannya iseng membuat garis sirkuler di dada bidang pria itu. Sedikit berambut dan ototnya tertata rapi.


“Em, hanya satu hal. Aku berusaha lebih keras lagi untuk mencari obat penawar itu. Aku tidak mau rasa takutku membuatku semakin lemah.” Samantha berkata dengan penuh keyakinan.


Maximo tersenyum bangga, “Kamu wanita yang kuat dan pilihanku yang paling tepat. Dengan semua kecemasan dan semangat itu, bisakah aku menganggapnya sebagai perasaan cintamu yang besar?” suara Maximo terdengar berat dan dalam, membuat jantung Samantha berdebar sangat kencang.

__ADS_1


Wanita itu tertegun beberapa saat, membalas tatapan mata Maximo yang membuat ia seperti terhanyut. Kilas balik kebersamaannya bersama Maximo berputar kembali di kepalanya. Sesekali membuatnya tersenyum, kadang membuatnya kesal dan sering kali membuatnya takut. Hatinya menghangat saat tatapan tajam Maximo terasa menguncinya dan membuatnya sulit berpaling. Laki-laki ini tidak bersalah, itu yang Samantha yakini lebih dulu.


Samantha tersenyum kecil. Ia mengusap bibir Maximo perlahan. Gadis ini telah sampai pada simpulan perasaannya sendiri, “Aku sangat peduli terhadapmu Max, aku rasa ini kali pertama aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di dadaku. Seperti aku tidak membutuhkan perasaan lain selain perasaan ini. Aku juga tidak perlu memikirkan hal lain selain memikirkanmu. Semuanya berhenti di sini, di jantung hatiku.” Samantha menarik tangan Maximo dan menempatkan tangan yang besar itu di atas dada kirinya. Laki-laki itu merasakan benar debaran jantung samantha yang cepat dan kuat.


Maximo tersenyum kecil, matanya tampak berkilauan saat bulir bening menggenang di pelupuk matanya. Ia meraih tangan Samantha, menggenggam tangan lembut itu dengan erat lantas mengecupinya dengan penuh perasaan. Ia memejamkan matanya beberapa saat, merasakan perasaan menyeruak yang mengisi dadanya, rongga dadanya terasa penuh oleh kebahagiaan yang tidak akan habis hanya dalam waktu satu abad.


“Aku mencintaimu, Sam,” ucap pria itu. Suaranya terdengar lembut dan tegas di waktu bersamaan hingga membuat dada Samantha berdebar semakin kencang. Semakin lama, debaran itu seperti menemukan polanya sendiri. Pola menuju ketenangan saat ia berada di dekat Maximo.


Samantha mendekat untuk mengecup bibir Maximo, mengusapnya setelah ia kecup lantas berujar, “Aku mencintaimu, Max,” timpal Samantha dengan perasaan yang sungguh. Tanpa menunggu lama, gadis itu menyecup kembali bibir Maximo. Maximo membalasnya dengan sepenuh hati. Sesekali jakunnya terlihat bergerak naik turun saat ia begitu menikmati menyesap saliva samantha yang bercampur dengan miliknya. Manis, seperti perasaan mereka berdua.


****

__ADS_1


__ADS_2