Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Terjun


__ADS_3

Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan saling bersahutan antara orang-orang Wilson dan orang-orang Maximo yang baru saja tiba. Hilangnya sinyal pelacak Samantha membuat mereka kehilangan jejak. Beruntung mereka melihat mobil para agent yang sedang mengejar Samantha dan merekapun mengekorinya.


Sejak saat itu baku tembak tidak terelakkan. Beberapa orang Wilson hangus terbakar dalam mobil yang ditembaki secara brutal oleh orang-orang Maximo. Mereka berhasil menyingkirkan beberapa orang agent Wilson dan orang-orang Maximo mendominasi terowongan gelap tempat mereka memarkirkan kendaraannya. Laki-laki tampan dan gagah itu turun dari mobilnya dan bergegas menhampiri Samantha.


Wilson semakin belingsatan. Ia menyerang Samantha, menendang senjata di tangan wanita itu hingga terlontar jauh. Ia juga menodongkan satu senjatanya pada Samantha. Seorang Wilson menyeringai puas, mendapat dua sandera sekaligus yaitu Alicia dan Samantha.


“Sial!” dengus Samantha dengan kesal. Di satu sisi ia bisa menghela napas lega karena akhirnya Maximo datang di waktu yang tepat, tetapi di sisi lain kekuatannya berkurang karena tidak ada senjata yang bisa melindunginya.


“Berhenti! Atau aku akan menembak wanita ini!” Wilson yang tersudut mulai mengancam dengan menekankan ujung senjatanya di kepala Alicia. Secara jumlah orang ia kalah, tetapi ia berbesar hati karena memiliki sandera yang bisa menekan Maximo. Satu senjatanya terarah pada Samantha dengan jarak yang cukup dekat, yang bisa ia tembak kapan saja.


Maximo tersenyum sinis pada laki-laki yang membuat wanitanya tersudut, lantas ia menatap pria itu dengan dingin dan tajam. Ia yakin kalau laki-laki ini hanya menggertak. Dia juga tidak akan berani menembak Samantha.


“Pikirmu aku peduli? Tembak saja jika kamu mau.” Maximo berujar dengan santai.


Wilson segera menoleh Samantha, “Tapi sepertinya Samantha peduli pada wanita ini.” Laki-laki itu tersenyum sinis pada Samantha yang tampak khawatir dan tidak bisa berbuat apapun.


Maximo menoleh Samantha dan menggeleng agar tidak menunjukkan sisi lemahnya pada Wilson. Melihat isyarat yang diberikan Maximo, wanita itu hanya bisa mengangguk pelan sambil menelan salivanya kasar-kasar.


“Ya, aku sudah tidak peduli pada Alicia. Terserah kalau kamu mau membunuhnya, lagi pula dia sudah memberitahuku siapa pembunuh kakakku. Keinginanku sekarang hanya satu, yaitu membunuhmu Wilson!” Samantha memulai kepura-puraan itu. Ia bisa melihat wajah Alicia yang tampak ketakutan, tetapi tetap berusaha tenang. Ia sadar benar kalau ini pilihan paling tepat yang bisa dilakukan oleh Samantha.


“Oh ya? Kamu yakin akan merelakan wanita ini mati di tanganku?” Wilson benar-benar menguji perasaan Samantha.


“Ya!” Samantha berusaha berbicara dengan yakin walau sebenarnya perasaannya sangat hancur. Ia tidak mau kehilangan Alicia yang sudah menjadi bagian dari usahanya menemukan pembunuh Gerald.


Wilson tersenyum sinis pada Samantha, wanita itu memang tidak pandai menyembunyikan perasaan khawatirnya. Satu langkah di ambil Wilson, ia mendorong tubuh Alicia menjauh darinya.

__ADS_1


DOR!


Satu tembakan ia sarangkan di kaki kanan Alicia hingga wanita itu jatuh terhuyung. Samantha terhenyak dan mulai gemetaran, ia menatap Maximo yang berjarak cukup jauh darinya, seolah ia tengah meminta pertolongan. Tetapi Maximo belum bisa melakukan apa pun, orang-orang Wilson masih cukup banyak dan bisa menembak Samantha kapan saja.


“Bagaimana, bagian mana lagi yang harus aku tembak sebelum membunuhnya?” Wilson benar-benar mengintimidasi Samantha.


“Tembak saja sesukamu Wilson!” seru Alicia dengan kesal. Ia benci membiarkan Wilson mengintimidasi Samantha.


DOR!


Benar saja, kali ini lengan kanan Alicia yang ditembak Wilson tanpa ampun. “Sesuai permintaan Anda, nona!” ucap pria jangkung tersebut. Laki-laki ini benar-benar gila dan tanpa segan menembak Alicia di hadapan semua orang. Wanita itu terkapar tidak berdaya.


Samantha semakin tidak rela, menyaksikan Alicia berdarah-darah tanpa bisa ia tolong. Sementara Wilson masih begitu menikmati permainannya. Ia berjalan mendekat pada Samantha, memegangi bahu wanita itu dan menodongkan senjatanya ke kepala Samantha. Permainnya dengan Alicia sudah berakhir, ia membiarkan wanita itu meringis kesakitan di atas permukaan aspal dengan darah yang terus mengalir dari luka-lukanya. Wilson bisa melihat wajah Samantha yang tegang bercampur marah. Napasnya terdengar memburu dengan cuping hidung yang mengembang menghembuskan napas kekesalan.


“Aku punya penawaran menarik untukmu Maximo.” Laki-laki itu kembali berbicara dengan penuh percaya diri, ia menggunakan ujung senjatanya untuk mengusap wajah Samantha dengan perlahan. Maximo mengepalkan tangannya kuat-kuat, kesal dengan tindakan berani pria gila dihadapannya.


“Apa maumu?!” Maximo terpaksa mengikuti permainan Wilson.


“HEY!! Lepaskan dia!” Maximo tidak terima karena Wilson menyentuhnya. Ia sudah menodongkan senjatanya pada Wilson dan siap menembak laki-laki itu.


“Tembak aku, maka aku akan mati bersama Samantha. Wanita cantik ini terlalu sayang untuk aku tinggalkan sendirian di dunia ini.” Ujung senjata itu Wilson tempatkan di bawah dagu Samantha dengan pelatuk yang siap ia tarik kapan saja.


“Sial!” Maximo hanya bisa mengeram dalam hati sementara Wilson menyeringai buas penuh kepuasan. Laki-laki itu benar-benar mengancam nyawa Samantha dan membuat Maximo tidak bisa menolak keinginannya.


“Cepat katakan keinginanmu dan lepaskan Samantha!" seru Maximo. Mungkin kali ini ia harus mengalah, menunggu peluang yang tepat untuk membalas Wilson dan menyelamatkan Samantha.


Wilson tersenyum puas, ia menatap Samantha dengan lekat lalu mengedipkan mata kanannya pada wanita itu. "Apa yang kamu lakukan para laki-laki itu Sam, sampai dia bisa selemah itu? Harusnya sejak dulu aku menggunakanmu untuk melumpuhkan seorang Maximo, bukan menggunakan seorang Gerlad yang merepotkan."

__ADS_1


Samantha hanya bisa mengeram kesal mendengar ujaran Wilson, giginya sampai menggeretak menahan rasa marah atas tingkah laki-laki di hadapannya.


“Beritahu aku kode yang ada di tubuhmu Max, maka aku akan melepaskan wanitamu.” Wilson mencoba memberi penawaran.


“Kenapa tidak kamu periksa sendiri, brengsek! Jangan menggunakan wanita untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Atau kamu memang hanya laki-laki tidak bernyali?!” Samantha berujar dengan kesal.


Senyum Wilson pun mendadak hilang, berganti tatapan tajam yang seolah menguliti sosok Samantha. “Baiklah, aku akan memeriksanya langsung, tapi setelah aku menghabisimu.” Wilson menaruh kembali ujung senjatanya di bawah ragu Samantha dan sedikit menangkatnya agar mendongak menatap sorot matanya yang tajam.


“Tatap mataku lekat-lekat Sam, agar kamu tidak penasaran saat mati nanti. Saat kamu merindukan tatapanku di alam sana, maka pulanglah, aku akan menunggumu,” ucap laki-laki itu seraya menyusap pipi Samantha dengan ujung hidungnya yang bangir.


“Brengsek!” Maximo segera berlari menghampiri Samantha, ia melepaskan tembakan pada Wilson dan laki-laki itu membalasnya. Samantha tidak tinggal diam, ia menanduk kepala Wilson hingga laki-laki itu terjengkang.


Satu tembakan berhasil mengenai bahu laki-laki itu tetapi tidak lantas melumpuhkan laki-laki itu. Yang kemudian yang dia lakukan adalah, menembak kaki Samantha. "Kamu yang memaksaku, Sam," ucap laki-laki itu. Ia segera bangkit untuk mendorong wanita itu ketepian lantas melompat bersama Samantha dari tebing itu.


“SAMANTHA!!!!” teriak Maximo hingga tubuhnya gemetar. Ia segera berlari menuju tepi  jurang tetapi semakin lama tubuh Samanta semakin jauh terjatuh dan masuk ke dalam air.


“AAAARRRGGHHH!!!!!” Maximo teriak sejadinya. Ia mengarahkan senjatanya pada orang-orang Wilson dan menembakinya satu per satu. Wajahnya merah padam dengan pembuluh darah yang tampak menonjol di tangan dan wajahnya. Suara desingan pelurupun tidak terelakkan. Orang-orang Maximo menembaki semua agent Wilson hingga tidak bersisa satu pun.


Tinggallah Maximo yang bertekuk lutut di tepi tebing, seraya menatap air laut yang berombak hingga bergulung-gulung dan lepas di antara batu karang. Laki-laki itu menitikkan air mata, melihat tubuh Samantha yang sudah tidak lagi muncul ke permukaan. Detik itu, waktunya seperti berhenti. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit berdiri dan berjalan ke tepian jurang lalu terjun ke bawah sana menyusul Samantha. Ia akan mencarinya seorang diri, ya mencari wanita yang ia cintai yang beberapa saat lalu meninggalkannya.


“TUAN!!” teriak salah satu pengawal Maximo.


Tetapi laki-laki itu sudah tidak memedulikan teriakan itu. Suara tubuhnya jatuh di atas permukaan air laut untuk menyusul Samantha. Ia bertekad kalau ia harus menemukan Samantha dalam keadaan hidup-hidup.


“Tuan, nona Samantha dan tuan Maximo jatuh ke laut.” Penjaga itu menghubungi Paul dan seketika jantung pria tua itu seperti berhenti berdetak. Benar bukan, harusnya ia ikut untuk menyelamatkan Samantha.


Suasana pun hening seketika. Tidak ada lagi suara tembakan yang memekakkan telinga. Hanya suara isakan Alicia yang terkapar di atas aspal juga para pengawal Maximo yang hanya bisa menundukkan kepala beberapa saat.

__ADS_1


Apa yang harus mereka lakukan sekarang?


****


__ADS_2