Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Mencari Peluang


__ADS_3

Ini hari yang baru bagi Maximo, benar-benar berbeda. Ia seperti terlahir kembali dengan tubuhnya yang tampak begitu segar dan bugar. Ia sudah mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Semua ini berkat seseorang yang sedang ia pandangi sepenuh hati, yaitu Samantha. Samantha masih terlelap di atas ranjangnya. Perjalanan jauh sekitar 6000 mil telah membuat gadis itu sangat kelelahan. Ia masih nyenyak di bawah pelukan selimut tebal.


Selesai merapikan dirinya, Maximo menghampiri Samantha yang tidur menyamping sambil memeluk bantal. Pria itu duduk di kursi yang berada di samping ranjang dan memandangi wajah Samantha yang terlihat sangat tenang. Ritme napasnya teratur, penuh kenyamanan.


“Kenapa kamu sangat cantik, Sam?” tanya laki-laki itu dengan penuh perasaan. Ia mengusap helaian rambut yang sedikit menutupi wajah cantik Samantha. Dikecupnya pipi Samantha dan wanita itu tampak menggeliat.


“Sssttt....” Maximo mendesis sambil mengusap kepala Samantha. Tetapi terlambat, mata Samantha sudah lebih dahulu mengerjap. Perlahan terbuka dan memandangi sosok tampan yang ada dihadapannya.


“Hay, selamat pagi,” sapa Maximo.


“Pagi,... kamu mau kemana? Kenapa sudah berpakaian rapi?” Suara serak Samantha terdengar sangat khas. Dahinya mengernyitkan, bingung.


“Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku ingin segera menyelesaikan semua urusanku kemarin.” Di balik senyumnya, Maximo masih menyimpan kemarahan pada orang-orang yang membuatnya menderita. Bukan hanya dirinya, melainkan juga Samantha.


“Urusan apa? Apa aku boleh tau?” Samantha berusaha untuk bangkit lalu duduk bersandar. Tangannya masih memegangi selimut yang menutupi tubuh polosnya.


“Hem, aku akan mencari pelaku yang meracuni minumanku. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka.” Lihat nyala kemarahan yang Maximo tunjukkan lewat tatapan matanya.


Samantha mengangguk paham. “Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untukmu.” Samantha beranjak dari tempatnya, untuk mengambil celana yang kemarin ia pakai. Ada sesuatu yang ia keluarkan dari dalam sakunya. Sebuah kartu nama yang ia berikan pada Maximo.


“Apa ini?” Laki-laki itu tampak bingung. Melihat nama yang tertera, nama itu adalah milik seorang laki-laki. “Kamu bertukar identitas dengan laki-laki?” Maximo langsung tersadar. Matanya menatap samantha dengan tajam, penuh kewaspadaan dan rasa cemburu.


“Ya, kami bahkan menghabiskan malam dengan minum bersama.” Santai saja Samantha menyahuti. Ia berlalu untuk mengambil outer piyama yang terserak, tetapi dengan segera Maximo menarik tangan Samantha hingga tubuh wanita itu berbalik menghadapnya.

__ADS_1


“Kamu bermain-main dengan laki-laki saat aku hampir mati?” Maximo menatap Samantha dengan tidak percaya. Api cemburu jelas terlihat dari matanya yang membola.


Alih-alih menjawab, Samantha malah tersenyum. Ia juga mengecup bibir Maximo beberapa detik. “Hanya minum-minum, tidak sampai mencium pipinya apalagi melakukan ini,” Samantha berbisik di telinga Maximo sambil meremas sesuatu di bawah perut rata laki-laki itu hingga mata Maximo mengerjap nikmati dengan mulut menganga. Setelah itu Samantha kembali menjauh dan memakai kembali bajunya.


“Benarkah?” Lihatlah, pencemburu itu masih belum percaya.


“Tentu saja!” Samantha mengikatkan tali pijamanya lalu menggulung rambutnya dan mencepolnya sederhana.


“Laki-laki itu adalah pemimpin di acara lelang. Dia kunci untuk mengetahui produksi trycyclon dan penawarnya. Mungkin ada jenis obat lainnya yang dia produksi dan pasarkan melalui lelang itu Nama perusahaan farmasi itu hanya kedok mereka untuk menyembunyikan produksi obat ilegal.” Samantha mengambil gelas yang ada di atas meja lalu meneguknya. Ia juga memberikan gelas itu pada Maximo, agar lelaki itu minum dan menenangkan dirinya. Setelah itu Samantha duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya dengan anggun.


“Mungkin kamu bisa mengatur siasat dengan menggunakan nomor telepon yang ada di sana.” Pendapat Samantha memancing Maximo untuk berpikir lebih.


Laki-laki itu ikut duduk di samping Samantha dan berpikir dengan serius. Sepertinya ia mulai memikirkan cara untuk menemukan pelaku hingga tiba-tiba pria itu tersenyum.


“Benarkah?” Maximo menarik tangan Samantha untuk beranjak, lalu mendudukan wanita itu di pangkuannya. Samantha melingkarkan tangannya di leher Maximo dan mengecup bibir itu dengan lembut. Maximo membalasnya dengan semangat, tetapi saat laki-laki itu meminta lebih, Samantha segera menjauh. Ia menaruh telunjuknya di bibir yang sudah tidak terlihat pucat.


“Aku boleh meminta sesuatu?” tanya Samantha tiba-tiba.


“Apa yang mau kamu minta?” Maximo baru sadar kalau Samantha sudah bertingkah manja dan manis begini, sudah pasti ada maunya.


“Aku mau pergi berjalan-jalan, tapi sendirian. Tanpa pengawal, tanpa kamu temani. Bisa?” pinta Samantha dengan sungguh.


“Tidak!” Maximo langsung menjawab.

__ADS_1


“Ayolah Max... kalau kamu mencintaiku, jangan terlalu mengekangku. Sayap-sayapku yang cantik ini bisa patah. Wajahku yang menawan ini juga akan cepat mengkerut kalau kamu membuatku sedih. Boleh yaa?” Samantha mulai merengek, membuat Maximo tersenyum gemas. Ternyata menyenangkan juga melihat Samantha merengek padanya.


“Kamu mau pergi kemana? Berbelanja?” Maximo bertanya dengan penasaran.


“Rahasia!” Samantha mencolek hidung bangir Maximo sambil tersenyum genit.


“Akan berbahaya kalau kamu pergi sendirian. Aku tidak bisa membiarkannya.” Lihat, laki-laki ini masih melarangnya. Ia takut Samantha bertemu dengan laki-laki yang mengajaknya minum-minum. Ia tahu persis kalau wanitanya tidak kuat minum banyak minuman beralkohol.


"Max, kamu lupa kalau aku baru saja berhasil keluar dari sarang mafia dan berhasil menyelamatkanmu? Apa kamu maish belum bisa mempercayai kemampuanku?" Memang [ajang urusannya kalau Maximo menolak.


"Bukan itu maksudku, Sam. Aku tidak mengecilkan usahamu. Hanya saja, aku mencemaskanmu." Maximo masih bersikukuh.


"Aku berjanji kalau aku akan pulang dengan selamat. Sebelum makan malam, aku akan berada di rumah, aku janji." Gadis itu mengangkat tangannya untuk berjanji.


Maximo memandangi Samantha beberapa saat lantas ia hampiri gadis itu lalu ia peluk dengan erat. "Apa aku bisa memegang kata-katamu?" Suara Maximo memang terdengar cemas.


"Tentu. Aku akan baik-baik saja." Gadis itu berujar dengan sungguh.


Maximo melerai pelukannya dan memandangi Samantha beberapa saat. "Okey, aku akan mengizinkanmu pergi. Kita akan melakukan kesenangan masing-masing. Tapi sebelum makan malam, pastikan kamu sudah kembali." Sepasang mata tajam itu menatap Samantha penuh kekhawatiran. Ia menangkup satu sisi wajah Samantha yang selalu ia usap dengan lembut.


"Kamu yang terbaik Max. Aku akan bersiap dan sampai bertemu nanti malam." Maximo dihadiahi sattu kecupan di pipinya. Setelah itu Samantha pergi. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2