
Suara roda terdengar di sepanjang lorong dan mendekat ke arah kamar Samantha yang pintunya terbuka. Dari pantulan cerminnya, Samatha melihat kedatangan seseorang yang terduduk di atas kursi roda. Dialah Paul. “Selamat malam, Nona,” sapa Paul. Laki-laki itu baru keluar dari kamarnya untuk menemui Samantha. Sepertinya ada hal yang sangat penting hingga ia keluar kamar dengan di antar seorang pengawal mendorongnya.
“Malam, Paul. Bagaimana keadaanmu?” Samantha yang sedang memasangkan antingnya, segera menoleh. Setelah Paul menjalani penjahitan luka semalam, baru sekarang lagi mereka bertemu. Laki-laki ini sedang diperintahkan untuk banyak beritirahat di kamarnya untuk memulihkan tenaganya.
“Sudah lebih baik. Terimaa kasih, Nona.” Paul terangguk seraya tersenyum. Ia merasa berkat Samantha, saat ini kondisinya membaik. Dengan isyarat tangan Paul meminta pengawal pergi dan menutup pintu.
“Syukurlah aku tidak perlu menamparmu berulang kali untuk membuatmu sadar.” Samantha tersenyum kecil seraya bersidekap memandangi Paul yang sudah lebih segar di banding semalam.
“Iyaa, Nona.” Laki-laki tersenyum kelu. “Nona saya dengar malam ini tuan besar akan mengadakan pesta penjamuan.” Paul memelankan sedikit suaranya, seolah khawatir di dengar oleh orang lain.
“Iya, sepertinya kamu tidak bisa ikut kalau kondisimu seperti ini.”
__ADS_1
“Tidak masalah Nona. Karena sekalipun saya ikut, mungkin saya hanya akan menjadi beban untuk tuan besar.” Paul tertunduk lesu. Baru kali ini Samantha melihat Paul termenung sedih.
“Mengapa? Memangnya kamu akan meminta Maximo untuk menggendongmu?” Samantha tersenyum kecil, baginya ucapan Paul terdengar lucu.
Laki-laki itu menggeleng pelan. “Di pertemuan nanti, nona akan bertemu dengan banyak mafia yang mengaku sebagai tuan Maximo. Dengan mengadakan pertemuan ini, sama saja dengan tuan Maximo membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya di hadapan banyak orang. Ada kemungkinan kalau posisi tuan besar mungkin akan terancam. Bersitegang mungkin terjadi karena beliau juga tidak segan untuk menembak siapapun yang menentang keinginannya. Tolong bantu beliau nona. Pastikan emosinya terkontrol dengan baik agar tujuan nona dan tuan besar dapat tercapai.” Kalimat yang semula Samantha kira hanya sebuah candaan, ternyata sebuah keseriusan dari Paul.
Laki-laki itu bahkan mengeluarkan sepucuk senjata yang ia sodorkan pada Samantha. “Saya melihat Anda bisa menggunakan senjata api. Tolong sembunyikan ini dan gunakan saat kondisi Anda berdua terdesak. Jangan biarkan siapapun melukai Anda ataupun tuan besar.” Paul berujar dengan sungguh. Sepertinya benar yang dikatakan oleh Maximo kalau Paul sangat peduli terhadapnya.
“Ya, aku akan membawa senjata ini bersamaku. Tenanglah di rumah, Paul. Aku dan Maximo akan pulang dengan selamat.” Samantha menjanjikan hal itu.
Paul mengangguk rendah sebagai bentuk ucapan terima kasih.
__ADS_1
Berangkat ke acara perjamuan hanya berdua saja, ternyata cukup sepi. Tidak ada kicauan Paul yang biasanya terdengar sepanjang jalan dan menjelaskan rute yang aman untuk Maximo dan Samantha datangi. Mereka juga tidak menggunakan mobil yang biasanya. Maximo mengeluarkan sport car mewahnya dengan kekuatan turbo yang bisa melesat cepat dijalanan. Sepertinya benar yang dikatakan Paul kalau pertemuan ini mungkin berbahaya bagi ia dan Maximo sehingga pria itu bersiap untuk banyak kemungkinan buruk.
“Ada berapa orang yang nanti akan hadir, Max?” Samantha bertanya dengan penasaran.
Maximo menoleh Samantha lalu tersenyum kecil. “Ada sekitar tiga ratus orang Maximo palsu beserta para mata-mata mafia. Apa kamu takut?” Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Samantha dan Samantha memandanginya beberapa saat.
“Aku sudah mendatangi sebuah bahaya yang paling besar dalam hidupku, mana mungkin aku merasa takut pada bahaya kecil.” Samantha tidak ragu untuk membalas uluran tangan Maximo. ia tersenyum kecil pada pria itu lantas menatap tajam ke depan sana. Melihat jalanan yang sepi dan memasuki sebuah area hutan.
“Tetaplah berada di dekatku dalam kondisi apapun.” Maximo mengingatkan. Dikecupnya tangan Samantha dengan lembut.
“Hem,” gadis itu mengangguk dengan yakin. Ia sudah Bersiap menghadapi apa yang akan ia temui nantinya.
__ADS_1
*****