Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pagi yang menantang


__ADS_3

Diatas ranjang bersprai sutra itu, terbaring sepasang kekasih yang masih terlelap hingga matahari terbit. Mereka masih merasakan tidur yang lelap setelah menghabiskan malam yang panas berdua. Beberapa kali Maximo membuat Samantha mengerang tertahan melepaskan gairahnya hingga tubuh wanita itu terkulai lemah.


Berada dibawah selimut yang sama dan Samantha mulai membuka matanya. Ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang, juga tangan yang lain yang menjadi bantalan kepalanya. Samantha membuka matanya semakin lebar, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang ada disekitarnya. Sedikit saja ia bergerak dan tangan kokoh itu bertambah erat memeluknya. Melarang untuk beranjak dan menjauh.


“Jangan pergi kemana-mana.” Suara tegas Maximo juga terdengar lemah ditelinga Samantha. Pria itu semakin menempelkan tubuhnya pada Samantha dan menyesap wangi leher Samantha lalu menghujaninya dengan beberapa kecupan.


Samantha merinding geli dengan perlakuan Maximo pagi ini. Ia iseng menyentuh jemari Maximo dan ternyata laki-laki itu langsung mencengkram tangan Samantha. Mentautkan jari-jarinya lalu mengepalkannya dengan erat.


“Sudah siang, Max.” Samantha memberanikan diri untuk bersuara. Pelukan dan cengkraman Maximo terlalu menguncinya.


“Memangnya apa masalahnya dengan siang? Aku masih ingin memelukmu, Sam. Jangan pergi kemanapun.” Suara mafia itu terdengar lemah dan manja membuat Samantha gemas sendiri.


“Tapi aku lapar. Perutku keroncongan.” Samantha berujar dengan sesungguhnya.


“Benarkah?” Mata Maximo langsung terbuka. Tangannya mengusap perut Samantha yang polos tanpa sehelai benang pun di bawah selimut.


“Iyaaa. Jangan mengusapnya, geli Max.” Samantha mengelinjang, tetapi Maximo semakin enggan melepasnya.


“Aku masih betah. Sebentar lagi saja.” Rasanya ia tidak rela melepaskan pelukannya dari Samantha. Ia juga masih ingin memejamkan matanya dan menikmati waktunya untuk bermalas-malasan.


“Kamu mau membuatku kelaparan?” Sedikit ancaman diberikan Samantha pada prianya.


Berhasil, Maximo mulai melonggarkan pelukannya. “Mana mungkin aku membuat wanitaku kelaparan.” Ucapannya terdengar manis.


Samantha tersenyum kecil. Ia bangkit duduk sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya. Ditatapnya sepasang mata Maximo yang kini memandanginya dengan penuh perasaan.


“Kamu cantik sekali, Sam.” Tangan besar Maximo mengusap kepala Samantha, turun ke lehernya, lantas sedikit menarik tengkuknya bersamaan dengan mengangkat sedikit tubuhnya untuk mengecup bibir Samantha. Memagutnya beberapa saat sebelum kemudian kembali membaringkan tubuhnya.


“Pagi seperti ini, aku butuh sarapan makanan, bukan rayuan,” ujar gadis itu. Ia beranjak dari tempatnya dan membuat Maximo terkekeh.

__ADS_1


“Mandilah dulu, aku akan meminta Paul untuk menyiapkannya.” Laki-laki itupun terpaksa bangkit. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Paul.


“Astaga,” ujarnya sambil terkekeh. Samantha membawa selimut untuk membungkus tubuhnya sementara tubuh Maximo dibiarkan terbuka tanpa sehelai benangpun.


Samantha balas terkekeh. Setelah sedikit menjauh dari Maximo, ia melepas selimut yang menutup tubuhnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia memang sengaja hanya ingin membalas dendam pada laki-laki yang semalam menanggalkan semua pakaiannya.


Sambil menghubungi Paul, ia memperhatikan Samantha yang sedang mengguyur tubuhnya dengan air shower di dalam kamar mandi yang hanya dikelilingi oleh kaca itu. Maximo sampai menelan salivanya kasar-kasar saat melihat tetesan air yang melewati setiap lekukan tubuh Samantha. Rasanya ia sangat iri pada setiap bulir air itu.


“Selamat pagi, tuan.” Suara Paul terdengar diujung sana.


“Siapkan sarapan dan pakaian untukku dan Samantha.” Satu kalimat perintah itu yang Maximo berikan pada Paul.


“Baik, Tuan.” Pria itu mengangguk patuh. Saat panggilan terputus, ia melihat jam ditangannya, sudah jam delapan pagi.


“Sepertinya tuan tidur dengan nyenyak.” Ucap laki-laki itu seraya tersenyum kecil. Baru kali ini Maximo bangun sangat siang dan tidak memberi perintah pekerjaan apapun padanya selain menyiapkan pakaian dan sarapan. Sepertinya tuannya masih ingin menghabiskan waktunya bersama Samantha.


“Semoga Anda baik-baik saja, Nona.” Paul sedikit mencemaskan Samantha yang entah seperti apa nasibnya sekarang. Sudah pasti tidak baik-baik saja karena Maximo tidak akan melakukannya dengan biasa-biasa saja.


***


“Apa aku benar-benar tidak boleh menyentuhmu?” Maximo menatap Samantha dengan penuh gairah.


“Ya, saat ini jangan terlalu dekat denganku. Kamu sangat menakutkan, Max.” Gadis itu menoleh Maximo yang kebingungan. Meniupkan bulir air yang memenuhi mulutnya hingga sedikit menyiprat.


“Aku minta maaf kalau aku menyakitimu.” Terlihat sekali wajah sang mafia yang penuh sesal.


Samantha tidak menimpali. Ia segera menyelesaikan mandinya, memakai kimono dan segera keluar dari kamar mandi. Ia membiarkan giliran Maximo yang membersihkan tubuhnya.


“Hari ini aku ingin berjalan-jalan ke kota. Ada beberapa hal yang ingin aku beli.” Samantha berbicara sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

__ADS_1


“Aku akan menemanimu.” Laki-laki itu menyahuti. Mempercepat mandinya agar segera selesai.


“Tidak perlu. Aku ingin pergi berjalan-jalan sendirian untuk mencari udara segar.” Samantha sengaja meminta hal itu ada Maximo. ia ingin melihat apa Maximo akan mengizinkannya atau tidak.


Laki-laki itu segera mengambil handuk dan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan kain putih yang lembut itu.


“Beberapa orang mafia sudah mengenalimu sebagai wanitaku. Aku tidak bisa menjamin kalau tidak ada yang berniat buruk padamu, jadi sebaiknya aku temani.” Maximo memberikan alasannya. Ia duduk di tepian tempat tidur sambil memeriksa ponselnya.


“Astaga, aku merasa seperti tawanan. Sangat tidak bebas saat ingin pergi kemanapun.“ Samantha menghembuskan napasnya kasar membuat pria itu menoleh.


Maximo menaruh kembali ponselnya dan menghampiri Samantha. Ia berdiri dibelakang wanita itu, mengambil sisir dan membantu Samantha mengeringkan rambutnya. Samantha sampai kaget dengan apa yang dilakukan Maximo padanya.


“Aku tidak ingin memperlakukanmu sebagai tawanan. Sebagai gantinya, aku akan melayanimu dengan baik. Kamu boleh pergi kemanapun asalkan bersamaku. Jadi jangan merasa kehilangan kebebasan.” Ucap laki-laki itu dengan penuh kesungguhan. Ia menatap bayangan Samantha yang menatapnya dari kaca yang ada dihadapan mereka.


Samantha tersenyum kecil, ia berbalik menghadap Maximo. Diusapnya dada bidang berambut halus milik pria itu.  “Kamu harus tau Max, bahwa terkadang kita memerlukan jarak untuk satu sama lain. Tidak harus selalu bersama seperti itu. Aku bisa melindungi diriku sendiri.” Samantha berujar dengan penuh kesungguhan. Posesifnya Maximo membuat Samantha kesulitan mencari bukti tentang Gerald dari sudut pandang lain. Terlebih semalam ia merasa seperti melihat Gerald di club.


“Kamu boleh meminta apapun, asal jangan meminta jarak denganku. Karena kemanapun kamu pergi, aku akan ada sebagai bayangan yang menyertaimu.” Maximo tetap kukuh dengan keputusannya, tidak membiarkan Samantha pergi begitu saja.


“Tunggulah sebentar lagi. Tunggu sampai aku menemukan siapa pembunuh kakakmu. Karena mungkin saja, pembunuh itu tidak hanya mengincar kakakmu, melainkan juga mengincarmu.” Kali ini Maximo menatap Samantha dengan sungguh. Kekhawatiran ini yang belakangan mengusik pikirannya.


“Kamu berlebihan Max. Aku tidak pernah berurusan seserius itu dengan orang lain.”


“Tapi kamu tidak pernah tahu kan, bagaimana orang lain memandang urusannya denganmu?” Cepat sekali Maximo menimpali, membuat Samantha tidak bisa memberi alasan lagi.


“Hah, entah aku harus merasa senang atau takut saat ini. Kekangan yang kamu berikan terhadapku pun sangat menakutkan Max,” ucap Samantha. Ia menatap Maximo dengan lekat dan laki-laki itu hanya terdiam.


Bukan ia tidak mengerti perasaan Samantha, ia hanya tidak ingin wanitanya celaka.


****

__ADS_1



__ADS_2