
Sekembali dari kamar Maximo, Samantha memilih berendam di bath tube. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat dan masih berbau alkohol. Beberapa saat wanita itu menyelam, menenggelamkan wajah dan kepalanya dibawah permukaan air yang berbusa, berusaha menjernihkan pikiran yang masih tidak karuan.
Seorang Samantha June memang tidak terbiasa minum minuman beralkohol sehingga kekuatannya terhadap minuman memabukkan itu sangatlah rendah. Tidak ada sensasi istimewa yang wanita itu rasakan selain rasa pening dikepala dan rasa tidak nyaman didalam perut.
Sambil berendam, gadis cantik itu mencoba mengingat, apa saja yang ia lakukan semalam didalam casino. Dimulai dari memasuki Casino yang asing, bertemu orang yang tidak ia kenali, menghubungi Wilson, hingga menantang dirinya sendiri dengan meneguk minuman beralkohol tanpa jeda. Ia mengingat persis bahwa disampingnya terduduk seorang laki-laki yang mengaku bernama Maximo. Lucu, laki-laki itu terlalu percaya diri dan terlalu menyadarkan Samantha kalau sosok Maximo itu ada dimana-mana dan dijadikan figur untuk ditiru.
Laki-laki itu itu bersikap tidak sopan dengan berusaha menjamah Samantha lalu setelah itu,
Suara buih air yang menggelembung lalu pecah, terdengar jelas dari mulut Samantha yang membuang napasnya kasar. Kepalanya kembali muncul kepermukaan saat kilasan ingatan tentang sepucuk senjata yang ditodongkan seseorang pada laki-laki tambun yang menggodanya.
Dahi wanita itu berkerut, berpikir keras dan mencoba mengingat siapa yang menodongkan pistol itu. “Apa dia Paul? Atau Maximo?” Samantha bertanya pada dirinya sendiri.
Semakin lama dipikirkan, ia nalarnya mulai mengingat beberapa potongan ingatan kejadian semalam, termasuk saat ia berusaha merayu Maximo. Ya, Maximo lah yang ia rayu dan ia kecup lebih dulu.
“Akh sial! Apa aku yang mencium Maximo hingga dia membalasku?” Samantha menepuk air di bath tube hingga memercik ke mukanya sendiri. Ia mulai gelisah. Sepertinya ia sendiri yang merayu Maximo dan perlahan melanggar perjanjian yang ia buat dengan Maximo. Apa wanita ini mulai menyerahkan dirinya pada Maximo?
Tidak!
Merasa mengingat sesuatu, Samantha segera keluar dari bath tube. Ia berjalan dengan tubuh telanjang lalu membilas tubuhnya s3ksinya dengan buru-buru. Rambut panjang nan lurus itu dibilas, juga wajah dan sekujur tubuhnya yang masih licin oleh sabun. Gadis itu merasa ada yang harus ia tanyakan ulang pada Maximo dan meminta penjelasan laki-laki itu.
Setelah tubuhnya bersih, Samantha segera berpakaian. Ia merias wajahnya tipis saja, memakai lipstick warna bibir dan rambut panjangnya dibiarkan lurus tergerai. Tidak sempat untuk menata rambutnya menjadi ikal bergelombang. Langkahnya begitu tergesa-gesa menuju kamar Maximo.
“Ada perlu apa, nona?” seorang penjaga menghadang langkah Samantha di depan kamar Maximo.
“Aku ingin bertemu dengan Maximo.” Gadis itu menatap penjaga dengan berani. Tatapannya sungguh mengintimidasi. Ia memang sudah tidak sabar untuk bertemu sang mafia.
__ADS_1
“Mohon maaf nona, tuan besar tidak ada dikamarnya. Beliau,”
Tanpa menunggu kelanjutan kalimat penjaga itu, Samantha mendorong tubuh penjaga cukup keras lalu berganti mendorong pintu kamar Maximo yang terkunci.
"Brengsek!" dengkusnya. Ia berpindah ke ruang makan. Namun, Maximo juga tidak ada di sana. Gadis itu juga pergi ke ruang kerja Maximo, tetap saja pria itu tidak ada ditempat yang diharapkan.
“Kemana sebenarnya laki-laki itu?” Samantha mengerang kesal dalam hati. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar.
“Kamu melihat Maximo?” Akhirnya ia pasrah dengan bertanya pada pelayan. Sikapnya yang serampangan dan selalu dipenuhi amarah memang kerap membuat Samantha bingung sendiri.
“Tuan besar sedang keluar, nona.” Pelayan menjawab dengan pelan.
“Pergi kemana? Berapa lama?” pertanyaan Samantha bertambah dan semakin tidak sabaran. Tentu saja pelayan itu tidak bisa menjawab. Mana mungkin ia tahu kemana perginya tuan besarnya.
“Hah, aku bertanya pada orang yang salah.” Samantha kesal sendiri. “Apa aku bisa menghubungi Maximo? Boleh aku pinjam ponselmu?” Ini cara terakhir yang ingin Samantha lakukan.
“Hah menyebalkan!” Samantha hanya bisa membuang napasnya kasar. Sepertinya ia hanya bisa menunggu Maximo pulang dan berbicara baik-baik dengan laki-laki itu.
“Nona, Anda belum sarapan. Mau saya sediakan makanan?” pelayan itu seperti mengerti kegundahan Samantha. Mungkin dengan makan, rasa gundah dan kekesalannya berkurang.
“Aku tidak selera makan, perutku tidak nyaman.” Samantha memegangi perutnya yang masih terasa mual dan begah.
“Apa nona mau saya buatkan sarapan dari oat. Itu bisa meminimalisir rasa tidak nyaman diperut nona.” Pelayan itu masih memberikan perhatian pada Samanyha. Ia pun khawatir dengan kondisi nona mudanya. Maximo sudah memerintahkannya agar menjaga dan mengawasi Samantha baik-baik.
Samantha menoleh pelayan itu. “Kamu sangat baik, terima kasih,” ucapnya dengan penuh kesungguhan. Pelayan itu hanya mengangguk patuh lalu pamit pergi.
__ADS_1
Sepeninggal pelayan itu, Samantha berpikir banyak tentang apa yang ia alami selama ini. Sambil berjalan menuju balkon lalu terdiam di sana. Memandangi sekeliling rumah Maximo yang selalu sepi dan hanya dikelilingi oleh hutan pohon pinus. Ia membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya yang sendu dan kaku, sambil memikirkan apa saja yang sudah ia alami sejak ia tahu kalau Gerald telah pergi untuk selamanya.
Ada perasaan tidak rela yang membuat Samantha mulai membuka pikirannya dan melihat dengan seksama apa yang ada disekitarnya. Semakin dalam ia memikirkan semuanya, ia mulai sadar, kalau karena kemarahan yang terus ia turuti, membuatnya telah bertindak serampangan.
Terlalu reaktif hingga melewatkan banyak kesempatan untuk mengenali siapa musuh yang ada dihadapannya. Dan tentang Gerald, laki-laki itu sudah pergi dan kepergiannya masih belum bisa ia terima. Bisakah ia benar-benar membalas Maximo atas kematian sang kakak yang begitu ia cintai?
Cinta,
Samantha bahkan tidak tahu apa rasa sakit ini benar karena perasaan cinta atau hanya amarah yang belum terredakan dan dendam yang belum terlampiaskan juga sesal yang terlambat setelah kepergian Gerald.
Semuanya abu, langkah gadis itu mulai gontai. Ia seperti berdiri dipersimpangan dan perlu memaknai kembali perasaannya terhadap Gerald, yang masih sangat semu. Namun, kemarahannya pada pembunuh Gerald, memang menuntut untuk dituntaskan agar ia tidak lagi merasakan kemarahan yang membuat dadanya sesak.
Seekor burung terbang mendekat pada Samantha. Ia bertengger di pagar besi yang menjadi tumpuan Samantha. Berjalan mendekat, tetapi saat Samantha mengulurkan tangannya burung itu terbang lagi.
“Aku menyambutnya dengan cara yang salah,” gumam Samantha. Ia mengepalkan kembali tangannya yang sempat terulur dan membuat burung itu pergi. Ia pandangi tangan itu lalu tersenyum kecil.
“Kamu mulai kehilangan dirimu sendiri Samantha. Kamu kehilangan ketenanganmu dan cara berpikirmu yang rasional dan selalu tersusun rapi. Sudah berapa episode yang kamu lewatkan dengan dipenuhi tingkah serampangan dan berbahaya, hanya karena mengikuti emosimu? Apa yang kamu dapatkan hingga saat ini?” gadis itu bergumam, berbicara pada dirinya sendiri. Sebuah hembusan napas kasar menjadi cara yang ia ambil untuk menghilangkan semua kegundahannya.
“Sarapan Anda, nona.” Pelayan itu sudah kembali. Samantha segera menoleh. Ia melihat olahan oat didalam mangkuk keramik yang ditata dengan cantik bersama potongan pisang.. Ada segelas susu vanila yang menjadi teman akrabnya. Sepertinya pelayan ini paham kalau protein dan serat adalah obat yang cocok untuk perut nona mudanya yang tidak terasa nyaman.
“Terima kasih.” Samantha duduk disalah satu kursi dan mulai menikmati sarapannya. Sedikit demi sedikit agar bisa menggantikan udara yang terperangkap diperutnya karena efek minuman beralkohol.
“Kamu bisa menamaniku berkeliling? Aku bosan terus menerus berada di dalam kamar dan tidak melakukan apapun.” Samantha mulai merajuk sambil memainkan makanannya. Inilah Samantha yang sebenarnya, seorang gadis manja yang bisa bermanja.
“Baik nona. Saya akan menemani nona berkeliling.” Pelayan itu sepertinya paham bagaimana bosannya Samantha yang selalu terkurung disangkar sang mafia. Tentu saja, ia seorang gadis yang bebas yang sulit menerima pengekangan.
__ADS_1
“Terima kasih,” lagi, gadis santun itu mengucapkan kata yang jarang terdengar di rumah besar ini.
****