
Malam ini Samantha memutuskan untuk ikut masuk ke kamar Maximo. Ia ingin berbicara banyak hal dengan lelaki itu. Mereka membaringkan tubuhnya di atas Kasur Maximo dengan lengan kokoh Maximo yang dijadikan bantalan. Wanita itu juga mengusap-usap dada bidang Maximo yang sedikit berambut, sementara Maximo masih memandangi langit-langit kamarnya sambil memikirkan kejadian hari ini. Dahinya berkerut tanda ia sedang berpikir serius.
“Apa Paul akan baik-baik saja?” tanya Samantha. Ia mengusap dagu Maximo yang berjambang rapi. Ini menjadi salah satu favorit Samantha dari bagian wajah Maximo.
“Ya, dia akan baik-baik saja. Dokter sedang mengobatinya.” Meski terlihat tenang, sebenarnya pikiran Maximo dengan bergejolak.
“Aku tidak tahu kalau seorang Paul memiliki rasa takut. Anehnya dia takut pada jarum suntik, tapi tidak takut berada di sisimu. Bukankah berada di sisimu jauh lebih berbahaya? Dia bisa terluka lebih dari ini,” ujar Samantha yang tetap mengusap-usap wajah Maximo.
Maximo menghembuskan napasnya dengan berat. “Dia selalu berada disampingku karena dia sudah berjanji pada mendiang Cortez kalau dia akan selalu menjadi bagian hidupku.” Mata Maximo masih menerawang dengan bola mata yang sedikit bergoyang gamang.
“Benarkah?” Samantha bangkit dari tidurnya lantas menelungkup di samping Maximo. Piyamanya yang sedikit tertarik membuat Maximo bisa melihat dengan jelas belahan d4d4 yang menyembul itu.
Pria itu mengangguk. “Paul yang mengambilku dan kedua saudaraku dari panti. Saat itu aku beserta kakak dan adikku baru tinggal sekitar satu minggu di panti. Dia datang menemui biarawati dan meminta anak untuk dia urus. Biarawati menunjukku. Tapi aku menolak tawarannya karena aku tidak mau meninggalkan dua saudaraku. Kalau Paul mau mengadopsiku maka dia juga harus mengadopsi kedua saudaraku.”
“Entah apa alasannya sampai tiba-tiba dia bersedia mengikuti kemauanku. Dia mengadopsiku sekaligus dua saudaraku dan membawa kami ke rumah Cortez di pusat Kota.” Maximo menjeda kalimatnya beberapa saat. Pikirannya menerawang mengingat awal mula ia menginjakkan kakinya di rumah Cortez yang megah dan didominasi warna merah dan hitam sama dengan rumahnya saat ini.
“Satu bulan setelah kami diadopsi, Cortez berselisih paham dengan seorang mafia Rusia. Mafia Rusia itu menculik kami dan membawa kami ke negaranya. Aku pikir Paul dan Cortez tidak akan menyelamatkanku. Dengan sebuah tawaran perjanjian, Cortez menebus salah satu dari kami, yaitu aku. Sementara dua saudaraku dibiarkan tinggal di tempat mafia Rusia itu. Cortez bilang, kelak aku yang akan menyelamatkan dan membawa mereka pulang.” Ada sesal dalam kalimat Maximo.
“Dua tahun lalu, aku menemui mafia Rusia itu. Aku ingin mengajak kedua saudaraku pulang. Tapi ternyata, Michael kabur dari tangan mereka sementara Mirella di jual ke tempat pel4cur4n. Aku tidak menemukan banyak jejak dari mafia Rusia itu dan aku memutuskan untuk membunuh pria tua itu.”
Kalimat Maximo kembali terhenti, dia menoleh Samantha yang memandanginya dengan penasaran. Diusapnya bibir Samantha kemudian ia kecup, seolah ia butuh tambahan tenaga untuk meneruskan ceritanya. Samantha bisa melihat mata Maximo yang berkaca-kaca sedih.
Samantha balas mengecup bibir Maximo bahkan melum4tnya pelan. Maximo yang merasa g4irahnya terpanggil, mengangkat sedikit kepalanya untuk memagut bibir Samantha lebih dalam. Tangannya sudah bergerilia mengusap tumpukan sintal di dada Samantha dan sedikit mer3m4snya.
Tangan Samantha menahan tangan Maximo agar tidak melanjutkan apa yang Maximo inginkan saat ini.
“Teruskan dulu ceritanya, setelah itu aku akan memberikan diriku seutuhnya.” Samantha memberikan penawaran serius.
__ADS_1
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Maximo hanya bisa menurut dan meneruskan certanya. “Sampai sekarang aku belum bertemu mereka. Aku memeriksa tubuh semua wanita malam untuk mencari Mirrela dan tidak ada satupun diantara mereka yang merupakan Mirrela. Aku juga mencari Michael, tapi jejak Michael seperti raib di telan bumi. Aku tidak tahu harus mencari mereka kemana.” Maximo menatap Samantha dengan putus asa.
Samantha mengusap alis tebal Maximo dengan perlahan lalu mengecupnya. Ia merayap naik ke atas tubuh Maximo dan menelungkup di atas tubuh laki-laki itu. Maximo melingkarkan tangannya di pinggang Samantha lalu mengusap punggung Samantha dengan perlahan.
“Apa yang membuatmu masuk ke panti itu?” Samantha masih penasaran.
Seketika usapan tangan Maximo berhenti. Ia juga menurunkan Samantha dari atas tubuhnya membuat gadis itu terlentang dengan kaget.
“Apa yang kamu inginkan dengan mencari tahu semua rahasia dan masa laluku, Sam?” Maximo bertanya dengan frustasi. Samantha semakin menyelidiknya. Di satu sisi ia senang karena Samantha terlihat peduli padanya, tetapi di sisi lain ia tidak siap menceritakan masa lalunya.
Samantha tidak lantas menjawab. Ia bangkit dari baringannya dan duduk bersila di samping Maximo. “Aku ingin mengetahui masa lalu seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku.” Samantha berujar dengan manis. Ia berusaha mengintip wajah Maximo yang tertunduk dan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku tau kamu sedang mempermainkanku.” Maximo menyahuti dengan dingin.
“Mempermainkanmu? Apa alasanku mempermainkanmu?” Samantha terkejut dengan sebenarnya. Meski berusaha tenang, perasaannya tidak karuan dan belum siap jika kelak Maximo tahu niatnya.
Mereka bertatapan beberapa saat, saling menyelidiki isi pikiran dan perasaan masing-masing.
“Aku bukan bersembunyi, aku hanya tidak memiliki apapun untuk diceritakan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku berada di panti itu sejak bayi. Aku tidak tahu latar belakangku. Lalu apa yang harus aku ceritakan?” pada bagian ini Samantha berujar dengan sungguh, tetapi tabirnya tidak ia buka dengan benar.
“Kami menjadi yatim piatu karena aku membunuh ayahku sendiri. Laki-laki gila yang suka mabuk-mabukan dan berjudi lalu menyiksa ibuku dengan tewas. Seperti itulah Maximo yang harus kamu tahu.” Maximo berujar dengan penuh penekanan. Samantha melihat dengan jelas rasa marah, sakit dan sedih yang Maximo tunjukkan lewat tatapan matanya.
Samantha tidak lagi menimpali. Ia membalik tubuhnya membelakangi Maximo lalu menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Maximo. ia juga memelukkan tangan Maximo di pinggangnya.
“Aku tidak suka melihat matamu yang seperti itu. Aku ingin menenangkanmu, tapi aku tidak berani menatapmu. Hanya bisa seperti ini saja.” Kali ini Samantha berujar dengan sesungguhnya. Karena ia tahu Maximo telah jujur dan ia tidak tega melihat kesedihan itu. Ia ingin menenangkan Maximo.
Rasanya, saat ini ia tahu alasan Maximo mengatakan kalau ia tidak ingin terikat dengan sebuah keluarga. Masa lalunya yang kelam membuat laki-laki itu ketakutan.
__ADS_1
“Tunjukkan sedikit empatimu, aku tidak akan melampiaskan kemarahanku padamu.” Dengan satu gerakan tangan Maximo membalik tubuh Samantha hingga menghadapnya. Ia menatap Samantha dengan lekat karena ia merasa membutuhkan tatapan teduh milik wanita yang ia cintai.
Samantha sampai terhenyak dan ia memberanikan diri untuk menatap mata Maximo. “Maafkan aku karena nyaliku yang kecil, Max.” Samantha mengusap wajah Maximo dengan perlahan lalu mengecup pipi pria itu.
“Kamu pasti takut kehilangan Paul juga. Bagaimana kalau kita cari orang yang mencoba mencelakai kita?” Samantha memanfaatkan moment ini dengan baik.
Maximo tersenyum kecil. “Tentu aku akan mencari mereka, tapi aku harus memenuhi janjiku dulu untuk mencari pembunuh kakakmu.” Maximo berujar dengan sungguh sambil memandangi wajah Samantha.
Samantha mengusap bibir Maximo perlahan, “Kamu sangat bersungguh-sungguh, aku suka itu. Asal kamu tahu, mayat Gerald ditemukan di sebuah gudang yang berada di kuburan mobil bekas. Dia terbunuh disana dengan luka tembak didadanya dan luka sayatan di perut juga lengan dan wajahnya.” Samantha akhirnya membuka satu rahasia. Ia merasa kalau apa yang ia lakukan bisa membantu Maximo agar pembunuh Gerald segera terungkap.
Tanpa menunggu lama, ia memanggil seorang pengawal yang berada di luar dan memberikan perintah. “Sebar undangan pesta itu besok pagi dan pastikan semua yang menerimanya hadir.” Perintah itu yang Maximo berikan pada pengawal kepercayaannya.
“Baik tuan.” Pengawal itu mengangguk patuh tanpa bantahan. Ia segera pergi setelah mendapat tugas penting dari Maximo.
“Pesta? Pesta apa yang kamu maksudkan?” Samantha mentautkan sepasang alisnya tidak paham.
Maximo menarik tubuh Samantha dan mendudukannya di atas pengkuannya. “Pesta untuk Nyonya Maximo.” Laki-laki itu tersenyum tipis membuat Samantha semakin penasaran.
"Kali ini, percayalah padaku sepenuhnya, Sam." Alih-alih menjelaskan lebih lanjut, laki-laki itu malah membenamkan wajahnya di sela dada Samantha. Ia juga memberikan gigitan lembut di dada Samantha.
“Ceritaku sudah selesai, Sam. Kamu pasti sudah bosan mendengar suaraku. Sekarang aku yang ingin mendengar suaramu,” ucap Maximo yang melanjutkan aksinya sambil mengusap punggung Samantha lalu ke pinggangnya dan menyingkap piyama wanita itu.
Dalam sekejap mata laki-laki itu *****4* bibir Samantha dengan argesif, mendominasi permainan hingga suara decapan itu begitu nyaring terdengar.
Keduanya seperti berada ditengah bara api. Maximo mematikan lampu utama dan yang terlihat sekarang hanya siluete tubuh Samantha.
"Samantha, aku mencintaimu.” Maximo terengah tanpa bisa di tahan. Dan wanita itu hanya tersenyum melihat Maximo tenggelam dalam pesonanya.
__ADS_1
****