
Tangan gadis itu mencengkram erat setir mobil yang ia lajukan sesuka hati. Tidak ada waktu untuk menikmati perjalanan malam dengan menggunakan mobil sport berharga fantastis ini. Ia hanya tahu kalau ia harus segera sampai di rumah.
Memasuki hutan pinus, dua mobil mengawal Samantha dari belakang. Mereka adalah pengawal Maximo yang mengikuti Samantha kemanapun gadis ini pergi. Secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam, mereka menjadi spion yang sangat handal untuk Samantha mengindari para musuhnya.
Memasuki terowongan membuat Samantha bisa bernapas lega. Ia mulai memasuki zona aman dari kediaman Maximo. Masih ada waktu sekitar delapan jam lagi untuk memberikan obat ini pada Maximo. Laki-laki yang ia lindungi nyawanya dengan mempertaruhkan segenap jiwa dan raga.
Ban mobil terdengar berdecit bergesekan dengan jalanan beraspal saat memasuki halaman rumah Maximo yang luas. Paul segera menyambut Samantha, berjalan tertatih-tatih dengan tongkat yang membuatnya bisa berjalan dengan tiga kaki.
“Selamat datang, Nona,” sambut Paul yang membukakan pintu untuk Samantha.
“Terima kasih Paul.” Tiba-tiba saja samantha memeluk Paul dengan erat, ternyata ia sangat bahagia bisa pulang ke rumah ini dan melihat wajah laki-laki yang mencemaskannya. Meski sering ia kerjai, ternyata Paul tetap menantikan kepulangannya. Paul menahan hatinya yang sedang terharu.
“Tuan besar menunggu Anda, Nona.” Paul segera menyadarkan Samantha. Gadis itu melerai pelukannya dan mengusap bahu Paul.
“Tentu, aku akan segera menemuinya.” Gadis itu beranjak dengan cepat. Berjalan tergesa-gesa untuk segera sampai di kamar Maximo.
“Nona,” Nora ikut tersenyum haru melihat kedatangan Samantha.
“Aku tau kamu merindukanku Nora. Kita akan berbincang nanti, siapkan saja telingamu untuk mendengarkan semua cerita tidak masuk akal dariku.” Gadis itu berceloteh seraya menjentikkan jarinya, tersenyum melihat mata Nora yang berkaca-kaca karena merindukannya.
"Tentu, nona." Dada Nora bergemuruh melihat semangat Samantha yang seperti tidak pernah habis.
“Ini obatnya.” Samantha segera memberikan tas ransel miliknya pada dokter yang merawat Maximo.
“Segera saya siapkan.” Dokter itu segera mengambil alih tas punggung Samantha sementara pemiliknya segera menghampiri Maximo.
Mata Maximo langsung membola melihat Samantha yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu berusaha berbicara dengan tatapan matanya yang penuh arti.
“Aku baru saja mengalami petualangan yang luar biasa, Max. Segeralah pulih, aku butuh teman bicara. Kamu pasti merindukan suara berisikku ‘kan?” Samantha mengusap kepala Maximo dengan lembut dan tersenyum pada pria itu. Ia memandang lekat wajah Maximo terlihat lebih tirus dari biasanya karena tidak hanya tubuhnya yang sakit melainkan juga mental dan hatinya yang sakit membayangkan Samantha berjuang seorang diri.
__ADS_1
Harusnya ia lah yang melindungi Samantha, tetapi kali ini gadis ini yang berjuang mati-matian. Bolehkan jika ia sedikit percaya diri dengan menganggap dirinya sangat penting untuk Samantha? Pria itu hanya bisa menatap lekat wajah Samantha yang begitu dirindukannya siang dan malam. Dalam terjaga ataupun terlelap, hanya Samantha yang mengisi pikirannya.
“Obatnya sudah siap, Nona.” Dokter itu mendekat pada Samantha dan duduk di dekat Maximo.
“Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan jangan melakukan kesalahan. Karena aku bisa menghabisimu dengan satu tembakan saja.” Wanita itu mengancam sang dokter dengan penuh kesungguhan.
“Baik Nona.” Beruntung mental laki-laki ini sudah terlatih karena sering berada di lingkungan Maximo yang kejam dan menakutkan. Ia tentu tahu aturan main di dunia mafia. Walau masih belum menyangka kalau Samantha bisa sekejam ini.
Laki-laki itu sudah memakai sarung tangannya dan mengarahkan jarum suntik pada selang infusan Maximo. Samantha segera memalingkan wajahnya dan menempatkan dahinya di atas dahi Maximo. Ia merasakan ketakutan yang sama seperti yang pernah dihadapi Paul, takut akan benda tajam yang kini mengalirkan obat ke seluruh pembuluh darah Maximo.
Obat itu hanya sekitar lima mili dan penyuntikannya tidak memakan waktu lama. “Sudah selesai, tuan,” ujar sang dokter.
Samantha segera mengangkat tubuhnya dan sedikit melerai jarak dari Maximo. “Apa kamu merasakan sesuatu, Max?” Samantha menatap mata Maximo dengan tajam. Ia juga menyentuh dada kiri Maximo yang berdebar sangat kencang. Entah karena reaksi obat atau karena Samantha berada di dekatnya.
“Katakan sesuatu Max, jangan membuatku takut.” Samantha benar-benar tidak sabar untuk menunggu reaksi Maximo.
“Mungkin kita tunggu dulu beberapa saat, Nona,” ujar dokter.
Samantha langsung menoleh pada laki-laki itu. “Mungkin katamu?” Gadis ini tidak suka dengan kata berkonotasi negative itu. Bagi Samantha itu seperti sebuah keputusasaan dan kepasrahan padahal ia sudah berjuang sejauh ini.
“Mohon maaf, maksud saya, ada baiknya kita menunggu beberapa saat karena obatpun perlu waktu untuk bekerja efektif di tubuh pasien.” Dokter meralat kata-katanya yang memancing emosi Samantha.
Samantha tidak menimpali, ia menatap kembali wajah Maximo yang masih terlihat tidak berekspresi apapun.
“Saya akan melepas beberapa selang di tubuh tuan Maximo, agar saat bangun tuan Maximo merasa nyaman,” dokter itu meminta izin untuk mendekat.
“Lakukan, jangan ada kesalahan.” Setiap kalimat Samantha memang selalu menegaskan tidak boleh ada kesalahan.
Laki-laki itu mengangguk paham dan Samantha sedikit menjauh dari prianya. Ia berpindah ke kursi dan memandangi Maximo dari kejauhan.
__ADS_1
Beberapa selang di lepas dari tubuh Maximo. Selang NGT, selang catheter dan hanya menyisakan selang infus dan selang oksigen juga elektroda EKG yang masih menempel di dada Maximo. Samantha memperhatikan monitor jantung Maximo dan detak jantung mah sama, kembali pelan seperti sebelumnya.
“Kenapa tidak ada perubahan? Menyingkirlah!” Samantha kembali mendekat. Ia tidak suka menunggu terlalu lama.
Ia kembali duduk di samping Maximo sementara dokter memeriksa tubuh Maximo dengan stetoscopenya. Memang tidak ada yang berusah dan laki-laki itu hanya menggeleng saat Samantha menolehnya.
“Bodoh!” Samantha mengumpat kesal. Perasaannya semakin tidak karuan.
“Max, katakan sesuatu. Apa ada yang berbeda yang kamu rasakan saat ini?” Samantha menatap lekat mata Maximo. Ia juga mendekatkan wajahnya pada Maximo. Hatinya ketar ketir cemas memikirkan Maximo.
"Apa mungkin dosisnya kurang? Apa kamu menghitungnya dengan benar?" Samantha semakin paranoid.
"Saya sudah menghitungnya dengan benar nona, sesuai dosis ini." Dokter menunjukkan label obat pada Samantha dan sepertinya dosisnya memang benar.
"Max, bicara sesuatu. Apapun itu, aku mohon..." Samantha mengusap-usap dada Maximo lalu mengecupi pipinya, dahinya, lalu menyentuhkan hidungnya pada Maximo. "Apa bibirmu sangat kelu?" tanya gadis itu. Ia mengusap bibir Maximo yang kering dan pecah-pecah. Mendekatinya perlahan lalu menecup bibir itu dengan hati-hati.
“RAWR!!!” tiba-tiba saja Maximo menerkam tubuh Samantha. Tubuhnya sudah bisa ia gerakkan. Samantha terhenyak kaget begitupun dengan Paul dan dokter yang berjaga.
“Brengsek kamu Max! brengsek!!!” seru Samantha seraya memukul dada Maximo. tetapi laki-laki itu malah terkekeh. Ya, ia bisa tertawa. Ia meraih tubuh Samantha untuk ia peluk dengan erat lalu ia ***** bibirnya dengan garang.
“Sebaiknya kita keluar, dok,” ajak Paul yang paham benar apa yang akan terjadi berikutnya. Laki-laki itu tersenyum lega sambil menyusut air matanya.
"Terserah tuan mau melakukan apapun, asalkan jangan membatu seperti tadi," batin Paul seraya menutup pintu kamar Maximo.
***
__ADS_1