
“Tumben sekali kamu mengajakku bepergian disiang hari?” tanya Samantha yang sudah berpakaian rapi siang ini. Mereka berjalan keluar rumah dengan sebuah limosin yang menunggunya.
“Pusat perbelanjaan hanya ramai pada siang hari. Mana mungkin aku mengajakmu malam-malam.” Maximo membukakan pintu mobil untuk Samantha, meletakkan satu tangannya di pintu mobil untuk melindungi kepala Samantha dari kemungkinan benturan.
“Kamu menyuruhku menghabiskan uangmu?” Samantha menatap Maximo beberapa saat sambil mengernyitkan dahi.
“Terserah kamu mau melihatnya seperti apa.” Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, lalu menutup pintu rapat-rapat. Lantas ia berjalan cepat mengitari mobil dan seorang pengawal membukakan pintu untuknya lalu duduk disamping Samantha.
“Manis sekali,” komentar Samantha atas semua sikap Maximo hari ini.
“Anggap saja aku sedang menunjukkan usahaku kalau aku tidak seburuk yang kamu pikirkan.” Maximo begitu ringan berujar, sepertinya tidak keberatan membiarkan Samantha bisa melihat perasaannya.
“Kalau saja kamu benar-benar tidak membunuh Gerald, mungkin aku akan jatuh cinta padamu.” Samantha menyunggingkan senyumnya untuk Maximo. Sungguh sebuah pernyataan yang terlalu berani untuk ia ungkapkan didepan sang mafia.
“Kamu pernah jatuh cinta?” Maximo yang penasaran, melanjutka obrolan itu dalam perjalanan menuju pusat kota.
“Entahlah. Jika cinta seperti ini rasanya, mungkin saat ini aku sedang jatuh cinta.” Samantha tampak termenung memikirkan perasaannya sendiri.
“Perasaan seperti apa maksudmu?” Maximo penasaran.
“Em, perasaan marah dan benci pada seseorang yang menyakitinya,” sahut samantha dengan yakin.
“Maksudmu laki-laki bermana Gerald itu? Kamu mencintainya? Bukankah dia kakakmu?” pertanyaan Maximo langsung beruntun.
“Ayolah Max, jangan pura-pura terkejut. Aku tahu kamu sudah menemukan banyak hal tentangku dan Gerald. Kami bukan kakak beradik yang sebenarnya meski kami menghabiskan waktu bersama dengan cukup lama. Kami tinggal satu rumah, aku tau apa saja keburukannya dan dia bisa menerima semua keburukanku, jadi sangat wajar kalau kami saling jatuh cinta.” Samantha mengatakan kalimat itu dengan gamblang.
“Sial!” Maximo hanya bisa mendengkus. Sambil menatap Samantha yang begitu tenang saat berujar, Ia memikirkan bagaimana caranya membunuh bayangan seseorang yang sudah mati?
“Kamu marah? Kamu terlalu menunjukkan perasaanmu Max.” Samantha malah menggodanya. Mengusap pipi Maximo yang ditumbuhi rambut halus dan tipis juga tercukur rapi. Sekali waktu ia menatap mata Maximo dengan tajam.
“Tunjukkan kalau kamu tidak bersalah dan bawa pembunuh Gerald kehadapanku, maka mungkin perasaanku bisa berubah.” Tatapan mata Samantha berubah penuh kemarahan dan kesedihan.
Tanpa diduga Maximo menarik tengkuk Samantha hingga membuat jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Ia balas menatap Samantha dengan lekat sambil menghembuskan napas kasarnya dipermukaan wajah cantik Samantha.
“Jangan mencoba untuk menundukkanku, Sam.” Ucapan Maximo penuh dengan penekanan. Entah ini sebuah ancaman atau ungkapan perasaannya pada Samantha.
Bukannya takut, Samantha malah tersenyum. “Max, bukankah sejak awal aku sudah menaklukanmu? Aku bahkan sudah mengikat lehermu.” Tangan Samantha bergeriliya menyentuh leher Maximo dengan pelan dan sensu4l membuat bulu kuduk Maximo meremang.
“Jadi, apa salahnya kalau mengakui bahwa aku sudah mulai berhasil menundukkanmu?” imbuhnya, seraya mengusap pipi Maximo yang ditumbuhi rambut halus itu dengan ujung hidungnya yang bangir. Saat bibir mereka nyaris bertemu, Samantha hanya tersenyum. Menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Brengsek!” dengkus Maximo seraya melepaskan cengkramannya dileher Samantha. Sepertinya benar kalau perlahan gadis ini mulai menundukkan dan menaklukannya. Dan parahnya, ia tidak bisa berkutik selain mengikuti permainan Samantha. Rasa penasaran dan ketertarikannya yang kuat pada Samantha, membuat pikiran dan perasaannya condong pada gadis itu.
__ADS_1
“Tenanglah Max, kamu masih punya banyak kesempatan untuk membuktikan kamu tidak bersalah. Tapi kalau kamu benar-benar bersalah, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak hanya akan membunuhmu tapi juga menghancurkan semuanya.” Berganti Samantha yang saat ini mengancamnya.
Maximo tidak menimpali, laki-laki itu duduk dengan tegak dan otaknya berpikir keras bagaimana cara cepat menemukan pembunuh Gerald. Sementara itu Samantha malah iseng menyandarkan kepalanya dibahu Maximo dan kakinya ia tumpangkan ke kaki Maximo. Sial, Samantha benar-benar menantang laki-laki ini. Samantha membuatnya sulit untuk memilih antara menuruti hasratnya atau tidak membiarkan harga diriya hancur karena tidak bisa menepati janjinya sendiri.
****
Tiba dipusat kota, Samantha dibawa ke sebuah toko yang menjual baju-baju mewah dalam jumlah terbatas. Harga yang ditawarkanpun tidak murah. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang datang ke tempat ini.
“Baju mana yang harus kupilih?” Samantha berjalan mendekati deretan baju yang dipertunjukkan didepan Samantha dan Maximo. Pemilik toko tahu kalau kalau sepertinya dua orang ini bukan orang biasa-biasa saja.
“Pilihlah manapun yang kamu mau.” Maximo menimpali dari arah sofa yang ia duduki.
“Bagaimana kalau kamu tidak suka?” Samantha pura-pura berpikir. Padahal sebenarnya ia tidak terlalu peduli mau Maximo suka ataupun tidak.
“Aku menyukai apapun yang kamu pilih.” Maximo menjawab dengan pendek. Samantha tidak merespon, hanya mengangkat alisnya yang tertaut. Berbeda dengan para pelayan yang tersenyum pada ucapan gombal Maximo. Mereka yang rupanya terpesona.
“Baiklah, aku akan mencoba baju yang ini, ini dan ini. Itu juga boleh.” Samantha memilih beberapa baju yang akan ia coba.
“Baik, nona.” Pelayan itu dengan sigap mengambilkan baju-baju itu untuk Samantha.
“Ikutlah denganku masuk. Aku selalu kesulitan saat memakai reslating,” pintanya, pada pelayan toko.
“Baik, nona.” Pelayan itu menurut saja, ikut masuk ke dalam ruang ganti, sementara Maximo dengan tenang menunggu di sofa. Sesekali ia berkeliling, memilih baju mana lagi yang cocok untuk gadisnya.
“Apa yang bisa saya bantu nona?” pelayan itu langsung waspada.
“Kamu punya buku catatatan?”
“Ya!” pelayan itu segera memberikannya pada Samantha.
“Tolong hubungi nomor ini dan katakan Samantha June sedang berada ditoko ini.” Samantha menuliskan nomor Gerald dengan cepat, lalu memberikan nomor itu pada pelayan. “Jangan sampai laki-laki diluar melihatnya.” Itu pesan kedua yang Samantha mintakan.
“Baik, nona.” Pelayan itu patuh saja. Ia keluar ruang ganti lebih dulu lalu masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menghubungi nomor yang ditulis Samantha. Tidak lama seorang laki-laki menjawabnya.
“Samantha June ada di toko, dressbeauty,” ucap wanita itu pada seseorang yang tidak lain adalah Wilson.
Wilson tersenyum samar, akhirnya Samantha keluar dari kediaman Maximo dan akan memberinya petunjuk baru. Ia segera menghubungi Alicia dan wanita itupun segera Bersiap. Tidak lama Samantha keluar dari ruang ganti dan memamerkan baju yang sedang ia coba.
“Apa ini cocok untukku?” Samantha berdiri dihadapan Maximo yang sedang memilih beberapa baju. Perhatian laki-laki itu langsung beralih pada Samantha. Ia memandangi Samantha dengan seksama lalu tersenyum kecil.
“Cocok,” hanya itu jawaban Maximo.
__ADS_1
Diwaktu yang bersamaan seorang wanita masuk ke dalam toko. “Ada yang bisa saya bantu, nona?” pelayan yang lain menyambut Alicia. Maximo ikut menoleh pada wanita yang baru datang. Wajahnya tidak terlalu jelas karena mengenakan topi hanya rambutnya saja yang ia lihat terikat lurus.
“Max, bantu aku melepas resletingnya. Sepertinya pelayan sedang sibuk.” Samantha segera mengambil alih perhatian Maximo agar tidak memperhatikan Alicia.
“Aku perlu masuk ke dalam?” benar bukan, perhatian laki-laki itu teralihkan.
“Ya, mana mungkin kamu membuka resletingku diluar.” Samantha mengeluarkan jurus rayuannya. Ia juga menarik tangan Maximo agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruang ganti.
Sekilas Alicia bisa melihat seperti apa wajah laki-laki yang Samantha panggil dengan panggilan ‘Max.’
Kali ini saja samantha membiarkan Maximo membuka resleting bajunya dan melihat penggungnya yang putih lagi lembut.
“Berbaliklah, aku akan berganti baju,” pinta Samantha seraya menoleh pada Maximo yang masih terpesona melihat punggungnya. Tangannya sudah terangkat ingin menyentuh punggung yang terlihat cantik itu, tetapi ia urung melakukannya. Ia menuruti Samantha untuk berbalik dan membelakangi gadis itu.
“Aku sudah selesai,” ucap Samantha setelah memakai kembali bajunya. Ia mengajak Maximo keluar dari kamar pas dan ternyata Alicia masih ada diluar dan sedang memilih pakaian.
“Max, sepulang dari sini, bisakah kita pergi ke resto yang ada diujung jalan? Aku ingin makan burger, perutku sangat lapar.” Samantha merengek dengan suara keras, agar Alicia mendengarnya. Hal itu ia lakukan agar Alicia tahu kemana Samantha akan membawa Maximo pergi.
“Baiklah. Hanya saja waktu kita tidak banyak.” Maximo menyahuti dengan polos.
“Baiklah. Kamu yang terbaik Max. Tolong segera bayar ini, aku sudah sangat lapar.” Samantha menyerahkan baju-baju itu pada Maximo.
“Biar saya bantu, tuan.” Seorang pelayan segera mengambil alih baju-baju itu.
“Hem,” hanya itu sahutan Maximo yang pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Samantha segera menghampiri Alicia yang berdiri mematung didepan sebuah manekin. “Baju ini cocok untuk anda, nona.” Ia pura-pura bersikap akrab agar Maximo tidak curiga.
“Benarkah?” Alicia menyahuti.
“Iya, warnanya cocok dengan warna kulit Anda,” timpal Samantha lagi, membuat Maximo semakin yakin kalau Samantha memang bersikap akrab pada siapapun. Ia tidak lagi mempermasalahkan perbincangan Samantha dengan teman barunya.
“Dia Maximo Cortez. Datanglah ke resto yang aku sebutkan dan kita bertemu ditoilet.” Samantha berbisik lirih ditelinga Alicia. Alicia mengangguk paham.
“Sepertinya uangku tidak cukup, lain kali aku akan datang lagi bersama pacarku.” Alicia membuat alasan untuk pergi.
“Baiklah, semoga pacarmu mau diajak kemari.” Samantha menimpali dengan akrab. Ia bahkan melambaikan tangannya pada Alicia. Maximo hanya tersenyum kecil melihat Samantha yang begitu mudah mendapatkan teman baru.
Sesaat sebelum menghampiri Maximo, Samantha mengambil sesuatu yang tergantung di hanger. Lalu membawanya pada Maximo.
“Aku mau ini juga,” ucapnya seraya ia taruh diatas meja kasir.
__ADS_1
Maximo terlihat terkejut saat ternyata yang dibawa Samantha adalah l1ngeri berwarna merah. “Aku akan memakainya saat dirumah.” Iseng ia menggoda Maximo sambil mengedipkan mata kanannya, membuat laki-laki itu berdehem karena merasakan gerah yang tiba-tiba, ketika membayangkan Samantha memakai pakaian itu.
****