
Pagi ini, langit cerah memayungi sebuah gereja yang telah hias banyak bunga segar di sekelilingnya. Tempat ini akan menjadi saksi ikrar sehidup semati sepasang kekasih. Suasana ceria dan bahagia di balut suara musik yang mengalun indah, mengiringi suara obrolan hangat dan suara tawa para tetamu yang hadir. Sekali waktu terdengar gemuruh tepuk tangan orang-orang saat menyambut Samantha yang memasuki ruang gereja.
Hanya tersisa alunan musik yang mengiringi langkah Samantha bersama Paul yang menjadi pendamping pengantin. Ia melingkarkan tangannya di lengan kokoh Paul yang berjalan dengan tegap dan dada yang membusung. Di belakang mereka, ada anak-anak kecil yang menjadi pengiring pengantin. Tempat duduk jemaat diisi oleh para tetamu. Tidak banyak orang yang hadir selain keluarga terdekat Maximo. Hadir juga Wiliiam yang menjadi bagian dari acara, Crystal yang bertepuk tangan tanpa rasa bahagia sedikitpun dan Alicia yang tampak terharu menyaksikan acara pernikahan Samantha dan Maximo.
Seorang laki-laki yang terlihat gagah dengan tuxedonya sudah berdiri lebih dulu di hadapan pendeta yang akan memimpin upacara pernikahan mereka. Ia menatap haru melihat kedatangan Samantha yang semakin mendekat ke arahnya. Wanita itu terlihat cantik, berkilauan, anggun dan membuat mata Maximo berbinar bahagia. Ia sudah tidak sabar untuk mengucap janji suci mereka berdua.
“Apa kaki Anda baik-baik saja, Nona?” Pertanyaan tidak penting Paul itu bentuk kecemasannya pada Samantha.Sebenar tidak perlu ditanyakan sekarang, saat mereka berjalan menuju altar. Tetapi hal itu terpaksa dilakukan Paul untuk mengusir rasa gugup mendampingi Samantha di hadapan sekitar tiga puluh orang tetamu yang hadir.
“Sudah lebih baik Paul, rasanya aku ingin berlari menghampiri laki-laki tampan itu,” sahut Samantha dengan senyum gemasnya pada Maximo. Tuan mafia itu terlihat tegang, menunggu detik-detik Samantha tiba di hadapannya.
Samantha masih mengingat tingkah Maximo saat berlatih tadi malam. Karena tidak sabar, laki-laki itu berlari menghampiri Samantha dan menggendongnya hingga sampai ke altar. Paul yang mengingatkannya agar tidak melakukan hal itu. Tetapi sekarang, rasanya Samantha yang ingin segera sampai kehadapan lelakinya.
“Aku sangat tegang Paul, apa hidup setelah pernikahan itu indah?” Samantha mengeratkan genggaman tangannya yang dingin pada Paul.
“Saya belum pernah menikah nona, jadi tidak bisa memberi nasihat apapun. Tapi sejauh yang saya lihat, Anda memilih laki-laki yang tepat. Laki-laki yang seluruh hidupnya hanya ada Anda di hati dan pikirannya.” Sahutan Paul sungguh manis untuk didengar.
“Kamu sangat manis Paul,” Samantha tersenyum senang.
“Iya nona, tapi tolong jangan mencium saya, saya takut tuan besar melubangi kepala saya dengan peluru.” Paul segera menarik tubuhnya sedikit menjauh saat melihat Samantha mendekatkan wajah padanya.
“Astaga aku lupa. Tapi mulai hari ini, Maximo tidak bisa sembarangan menembakmu. Karena kamu yang membawaku kehadapannya,” cicit Samantha.
“Anda benar nona,” laki-laki itu membusungkan kembali dadanya yang semula mengkerut.
Tanpa terasa, mereka sudah tiba di hadapan pendeta. Paul memberikan tangan Samantha ada Maximo, “Tolong jaga beliau baik-baik, tuan,” ucap pria itu dengan penuh harap.
“Ya, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku,” timpal Maximo tanpa rasa ragu.
__ADS_1
Paul tersenyum senang. Seisi gereja tampak hening mendengarkan khutbah pernikahan Samantha dan Maximo. Mereka menatap haru saat Samantha dan Maximo mengucap janji sehidup semati di hadapan pendeta. Eveline tidak bisa menyembunyikan air mata harunya saat kemudian sepasang kekasih itu resmi menjadi pasangan suami istri.
Maximo menyematkan cincin pernikahan di jemari lentik Samantha, begitupun sebaliknya. Pemberkatan pernikahanpun berlangsung dengan khidmat hingga kemudian pria itu mencium istrinya dengan lembut dan penuh cinta membuat seisi ruangan ikut terhayut dalam rasa bahagia yang menyeruak di hati sepasang kekasih itu.
Selesai dengan susunan acara sakral itu, mereka beranjak keluar gereja untuk menerbangkan sepasang merpati yang menjadi simbol kebahagiaan mereka. Melempar bunga pada tetamu dan yang mendapatkannya adalah Eveline. Wanita itu melonjak girang, tetapi kemudian tampak muram saat bingung ia akan menikah dengan siapa.
“Cari laki-laki yang mencintaimu lebih besar darimu. Laki-laki yang tidak pernah membuatmu mengemis perhatiannya. Laki-laki yang tidak hanya mencintaimu melainkan juga menyayangi dan menghormatimu. Maka aku yakin, hidupmu akan bahagia,” bisik Samantha mengingatkan adik iparnya.
“Terima kasih Sam, aku yakin aku akan menemukan laki-laki seperti itu. Tidak, dia yang akan mencariku. Benar bukan?” tanya Eveline dengan sepenuh hati.
“Ya,” Samantha mengangguk yakin, ia pun mendo’akan kebahagiaan untuk adiknya.
Acara berlanjut hingga malam hari. Eveline menyiapkan makan malam romantis untuk pasangan pengantin di sebuah hotel berbintang. Makan malam itu dikhususkan hanya untuk Samantha dan Maximo. Mereka terlihat serasi dalam balutan pakaian serba hitam yang dipilihkan Eveline.
Sebuah meja besar ada di tengah-tengah ruangan dengan menu makanan mewah yang mengundang rasa lapar. Suara musik romantis menambah kesyahduan suasana penuh cinta antara Samantha dan Maximo.
“Aku mau steaknya.” Samantha menatap daging itu dengan air liur yang nyaris menetes.
Maximo segera mengambil alihnya, memotong daging itu menjadi ukuran yang mudah untuk dimakan oleh Samantha. Samantha memandangi sang suami yang begitu asyik menyiapkan makanannya. Tangannya yang kekar begitu lihai memainkan garpu dan pisau. Ia sangat tidak sabar menikmati potongan steak buatan Maximo.
Tidak bisa menunggu lebih lama, wanita itu memutuskan untuk menghampiri Maximo. Ia duduk di atas pangkuan Maximo, sambil melingkarkan tangannya di leher prianya. “Suapi aku,” pintanya. Padahal Maximo belum selesai memotong dagingnya.
Dengan senang hati Maximo menyuapi wanitanya. Samantha makan dengan lahap dan sesekali iseng menaruh potongan daging itu di ujung lidahnya, lantas sengaja mendekatkan mulutnya ke mulut Maximo agar laki-laki itu mengambilnya. Maximo mengikuti permainan Samantha, ia mengambil alih daging dari mulut Samantha, menguyanghanya perlahan sambil memandangi sang wanita yang tengah menatapnya dengan lekat dan penuh cinta. Tangan lembutnya mengusap pipi Maximo dengan pelan-pelan.
“Suamiku sangat tampan, aku jatuh cinta padamu, Max,” ucap Samantha sekali lalu mengecup pipi Maximo.
Laki-laki itu tersenyum tipis. Ia segera menelan makananya dan meneguk minumannya dengan nikmat. Waktunya tidak banyak untuk menikmati makan malam karena Samantha mulai menggodanya.
__ADS_1
“Keluarlah!” seru Maximo pada pemusik yang ada di ruangan itu. Penjaga Maximo pun segera mengeluarkan orang-orang itu dan hanya menyisakan mereka berdua di ruangan yang luas ini. Pintu ruangan mereka tutup dengan rapat.
“Kamu mengusir mereka, apa karena ingin makan malam yang lain, Max?” tanya Samantha seraya mengusap pipi Maximo dengan jari telunjuknya yang berkuku sedikit panjang. Usapannya membuat darah Maximo berdesir dan jantungnya berdebar kencang.
“Apa aku bisa mendapatkan makan malam yang lain?” Maximo membalas pertanyaan Samantha.
“Sudah satu minggu, aku yakin adikmu sudah sakit kepala? Atau dia masih bisa menahannya?” Samantha segaja mengusap sesuatu di bawah perut Maximo membuat laki-laki itu melenguh tertahan.
“Sial, dia tidak bisa menahan diri,” gumam Samantha yang tersenyum menggoda. Tanpa menunggu lama, Maximo segera menyerang mulut Samantha dengan buas. Melum4tnya hingga habis masuk seluruhnya ke mulutnya. Cukup lama sampai wanita itu terengah nyaris kehabisan napas. Matanya terpejam, merasakan gairah yang mulai naik saat bibir dan hidung Maximo menelusur garis lehernya dan memberikan kecupan dalam di urat nadinya. Tanda-tanda kemerahan membekas nyata di leher Samantha.
“Aku bisa meminta lebih dari ini?” tanya Maximo yang terengah. Gairahnya sudah memuncak setelah ia menahan dirinya lebih dari satu minggu lamanya.
“Apa ada yang berani melarangmu?” tanya Samantha seraya menangkup kedua sisi wajah tampan Maximo. Ia yang lebih dulu *****4* bibir s3nsual Maximo. Laki-laki itu membalasnya sambil mengangkat tubuh Samantha dan mendudukkannya di atas meja. Ia menyingkirkan semua benda yang ada di atas meja, agar tidak menghalanginya.
Maximo semakin menggila. Ia menukar salivanya dengan milik Samantha, menggigit bibir itu dengan serakah dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Samantha hingga terasa penuh. Wanita itu di buat mabuk kepayang oleh usapan lembut Maximo di seluruh tubuh, sampai ke inti tubuhnya, hingga membuat rambut halus disekujur tubuhnya meremang. Perasaan Samantha seperti melayang-layang di atas awan terlebih saat Maximo melesakkan tongkat saktinya ke inti tubuh Samantha. Gadis itu melenguh tanpa bisa di tahan dan memeluk Maximo semakin erat.
Gaun Samantha di tarik paksa hingga tertanggal seluruhnya. Baju Maximo satu per satu di lepaskan hingga hanya permukaan tubuh mereka yang saling bergesekan saat maximo memompakan tongkat saktinya ke inti tubuh Samantha semakin cepat dan cepat lagi.
Samantha benar-benar tidak bisa menahan diri. Ia mencengkram lengan kokoh Maximo sesaat sebelum ia mencapai puncak kenikmatannya. Maximo melenguh dalam pelukannya, napas keduanya memburu begitu cepat.
Maximo mengecupi kepala Samantha dengan serakah dan lebih lama saat ia mengecup dahi wanitanya. “Aku mencintaimu, Sam,” ungkap aki-laki itu di ujung napasnya yang tersengau-sengau.
Samantha tersenyum kecil, menatap mata Maximo yang masih buas penuh gairah. “Aku mencintaimu, Max. Kamu hal terbaik yang pernah aku punya,” ungkap wanita itu dengan sungguh.
Laki-laki itu tidak dapat menahan perasaannya. Ia mengecup bibir Samantha dengan lembut. Entah berapa kali kejadian itu berulang hingga malam menjemput pagi.
****
__ADS_1