
Ruangan dengan warna dinding abu dan hitam ini kembali dimasuki Samantha. Ia menyusul Maximo yang berjalan didepannya. Ada sebuah foto besar terpajang di dinding. Seorang laki-laki tua dengan Maximo muda. Keduanya terlihat rapi dengan memakai jas. Sayangnya tidak ada seorang wanita yang menunjukkan ia sebagai ibu dari Maximo.
Walau penasaran, Samantha tidak tertarik untuk bertanya. Ia lebih tertarik akan alasan Maximo mengajaknya berbicara berdua diruang kerjanya tanpa ada Paul yang biasanya selalu ada disamping Maximo. Kemana perginya pria itu?
“Duduklah.” Maximo menarikkan kursi untuk Samantha. Sedari tadi gadis itu hanya memperhatikan sekeliling ruang kerja Maximo yang tertata rapi.
Samantha duduk dengan santai, menyilangkan kakinya, membuat dress tipis yang dikenakannya itu sedikit terangkat dan menunjukkan bagian pahanya yang putih dan mulus.
“Ada apa memanggilku datang kemari? Mau mengomeliku atau apa?” Ia menopang dagunya dengan tangan kanan, memandangi Maximo yang masih berdiri, lalu beranjak duduk berhadapan dengan Samantha. Ia sadar, semalam ia pasti membuat kekacauan hingga membuat Maximo menodongkan senjatanya pada Maximo palsu.
Maximo tidak lantas menjawab. Ia mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya lalu menaruhnya dihadapan Samantha. Sebuah berkas yang disusun rapi dengan gambar wajah seseorang di halaman depan.
“Apa dia Gerald yang kamu maksud?” tanya Maximo dengan tatapan lekat pada Samantha.
Samantha langsung memeriksa berkas yang ada dihadapannya. Terlihat sekali kalau ia kaget dan panik diwaktu yang bersamaan. Maximo hanya tersenyum, seraya mengigiti kuku ibu jarinya tanpa melepaskan perhatiannya dari Samantha. Sepertinya ia menunjukkan gambar yang tepat.
“Darimana kamu dapat semua ini?” Samantha masih kebingungan. Padahal Wilson mengatakan kalau ia sudah menghapus semua akun media sosial Gerald juga miliknya. Lantas bagaimana Maximo bisa menemukan foto-foto ini, sampai foto saat Samantha dan Gerald masih sekolah.
“Itu tidak penting. Ada seribu cara untuk menemukan nama pria yang kamu sebut semalam. Aku juga tau kalau dia sudah mati. Kenapa kamu masih memikirkannya?” Kalimat Maximo terdengar tenang tetapi penuh penekanan dan menunjukkan ketidaksukaannya pada isi kepala Samantha yang membuatnya cemburu.
“Aku pun punya seribu cara untuk diam dan tidak menjawab apapun.” Samantha memberi pembalasan. Ia menutup kembali berkas dihadapannya lalu bersidekap seolah tidak peduli pada ucapan dan dokumen yang disodorkan Maximo.
Maximo mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Samantha. Ia juga tersenyum sinis pada pemilik wajah cantik dan tegang itu. Seorang Samantha memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya lewat ekspresi wajahnya yang terlalu ekspresif.
“Aku kesulitan mencari tahu tentang kalian, terutama laki-laki ini. Apa dia juga seorang mafia? Apa dia musuh yang mengintaiku?” Maximo bertanya dengan tertata, tetapi penuh intimidasi.
“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab!” Samantha beranjak dari tempatnya, ia mulai merasa tersudut.
“Samantha!” Maximo ikut beranjak dan memandangi Samantha yang sudah samapi dimulut pintu ruang kerjanya.
“Apa karena kematian laki-laki ini kamu ingin membunuhku?” pertanyaan Maximo teramat tajam. Samantha sampai terhenyak dengan ulu hati yang tiba-tiba terasa nyeri. Ucapan Maximo seolah mengingatkannya dendamnya yang masih membara.
__ADS_1
Samantha termenung beberapa saat, sepertinya laki-laki itu sudah menemukan banyak hal tentang dirinya dan Gerald. Tentu saja, mencari jarum dalam tumpukan Jerami bukan sesuatu yang sulit bagi seseorang yang berkuasa seperti Maximo. Maximo mungkin menemukan alasan utama Samantha masuk ke dalam sangkarnya, tetapi pria itu tidak pernah tahu sejauh mana Samantha akan menghancurkannya.
Samantha memutuskan untuk berbalik. Ia menghampiri Maximo lalu berdiri tepat dihadapan laki-laki bertubuh tegap itu. Dengan berani ia meraih kerah baju Maximo lalu menariknya. “Ya, aku ingin membunuhmu karena kamu sudah membunuh kakakku!” seru gadis itu dengan mata merah dan berkaca-kaca. Pertanyaan Maximo seolah menjadi pematik kemarahan yang selama ini ditahannya.
Maximo tidak menimpali. Ia malah tersenyum lalu terkekeh dihadapan Samantha. Semakin lama suara tawanya semakin keras dan menggema mengisi seluruh ruang hampa di ruangan luas itu. Ia sampai membungkuk menahan tawanya dan tubuhnya bergetar karena tawanya yang kuat.
“Pikirmu lucu?!”
Plak!
Samantha menampar laki-laki itu dengan cukup keras karena merasa Maximo mengejek rasa kehilangan yang ia alami. Tawa Maximo pun berhenti berganti dengan serangan tiba-tiba dari tangannya yang kokoh dan mencengkram rahang Samantha.
Laki-laki itu mendorong tubuh Samantha hingga mundur beberapa langkah dan setengah tubuhnya terbaring diatas meja kerja Maximo. Dua tangan Samantha disatukan dan ia dorong ke atas kepala Samantha dengan satu tangan saja. Samantha mendengkus kesal, ia mencoba berontak, tapi kuncian Maximo terlalu kuat.
Maximo menatap Samantha dengan lekat. Ada kilatan kemarahan dimatanya yang menyala-nyala. Namun hanya beberapa saat saja itu terjadi karena jantungnya malah menggebu merasakan perasaan yang tidak biasa saat melihat Samantha yang berusaha memberontak padanya. Jiwanya seperti tertantang oleh sosok cantik yang membuat jantungnya memiliki irama merdu dan hangat.
“Pikirmu aku membunuh laki-laki itu, hah?” Maximo bertanya dengan pelan namun penuh penekanan.
“Untuk alasan apa? Aku bahkan tidak mengenalnya.” Maximo masih melanjutkan rasa penasarannya.
“Orang yang kamu kenal saja bisa kamu bunuh, apalagi orang yang tidak kamu kenal. Bukankah sangat mudah untuk seorang Maximo menarik pelatuk senjatanya?” Samantha masih berusaha melawan dengan kata-katanya.
Maximo kembali tersenyum, melepaskan cengkraman didagu Samantha. Bekas tangannya menyisakan warna kemerahan yang membekas.
Dug!
Tiba-tiba saja Samantha menanduk Maximo hingga hidungnya kembali berdarah. Ini kedua kalinya Samantha melakukan hal ini pada Maximo. Laki-laki itu tetap tidak bergeming, membiarkan darah menetes dari hidungnya dan membasahi kemejanya.
“Siapapun yang aku bunuh, meski aku tidak mengenalnya, akan selalu ada alasan yang membuatku melakukan itu. Wajah kakakmu itu belum penah aku lihat sekalipun. Aku bahkan tidak mengingat bagaimana ekspresinya saat meregang nyawa dihadapanku. Karena itu, aku sangat yakin kalau aku tidak pernah membunuh laki-laki itu."
"Seperti yang kamu tau, ada banyak bajingan yang mengaku sebagai Maximo. Mereka menggunakan namaku untuk mengukuhkan seolah diri mereka berkuasa. Mungkin saja kamu menuduh Maximo yang salah.” Maximo mendekatkan tubuhnya ke arah Samantha. Tubuhnya sampai melengkung seolah akan menghimpit tubuh Samantha. Ia ingin Samantha mendengar jelas apa yang ia katakan.
__ADS_1
“Tentu aku tidak salah. Karena hanya ada satu Maximo yang tidak pernah meniduri wanita.” Samantha tersenyum sinis. Ditengah rasa gundahnya, ia mengingat satu rahasia Maximo yang tidak diketahui orang lain.
“Waw, sepertinya kamu mengetahui banyak tentangku. Sampai hal kecil dan pribadipun kamu tau. Kamu sangat yakin kalau aku buruan yang tepat. Tapi Samantha, aku tetap menegaskan kalau aku tidak pernah membunuh kakakmu.” Maximo bersikukuh tidak mengakui perbuatannya.
“Buktikan!” tantang Samantha dengan mata menyalak.
“Akh sial!” Maximo terkekeh mendengar tantangan Samantha. Ini sama saja gadis ini mau memperalatnya untuk mencari siapa pembunuh kakaknya.
“Pikiranmu sebenarnya isinya apa Samantha? Kenapa kamu begitu pintar menarik ulur pikiran dan perasaanku?” Maximo mengguyar rambut Samantha dan giginya menggeretak gemas saat melihat Samantha yang tidak menunjukkan rasa takutnya sedikitpun.
“Kamu tau aku sangat menyukaimu dan kamu mempergunakan itu dengan baik. Kamu, perempuan gila.” Maximo berbisik ditelinga Samantha. Mengecup daun telinga Samantha dan gadis itu hanya mengendikkan bahunya.
Maximo mengegakkan kembali tubuhnya lalu memandangi Samantha dengan seksama. “Selama bertahun-tahun aku berkuasa, aku tidak pernah menemukan lawan yang setimpal. Tapi kenapa sekarang malah seorang wanita sepertimu yang menjadi lawanku? Tubuhmu terlalu kurus dan aku bisa dengan mudah mematahkan bagian manapun, tapi aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa ada seseorang yang terlahir untuk mendominasiku?” lagi Maximo berbisik ditelinga Samantha.
“Kamu mainanku yang paling baik dan aku tidak akan pernah bisa merusaknya. Bodohnya, kamu mengetahui celah itu. Lalu, bagaimana cara untuk melemahkanmu dan membuktikan kalau aku tidak bersalah? Apa yang aku dapatkan kalau kita sama-sama menemukan pembunuh kakakmu?” Maximo menatap lekat sepasang mata yang selalu berhasil membuat ia tenggelam didalamnya.
“Katakan, apa yang harus aku lakukan?” lagi Maximo bertanya.
Samantha tersenyum kecil, ia menunjukkan keberaniannya menghadapi Maximo. “Libatkan aku dalam segala urusanmu. Saat kamu bisa membuktikan kalau kamu tidak membunuh kakakku dan berhasil menemukan pembunuh yang sebenarnya, maka aku akan menyerahkan hidupku. Apa itu cukup?” tantang Samantha dengan berani.
Lagi, Maximo hanya terkekeh. Ia melepaskan cengkramannya di tangan Samantha yang ia tarik ke atas kepala wanita itu. Ia melepaskan Samantha begitu saja.
“Ya, sekarang aku tahu kenapa aku menyukaimu. Kamu rollercoaster terhebat dan terpanjang dalam hidupku.” Entah pujian atau ejekan yang dikatakan Maximo saat ini. Yang jelas, Samantha segera bangkit dari tempatnya dan berdiri dengan tegak.
“Persetujuanmu adalah pilihan yang bijak. Karena dengan begitu, kamu sebenarnya sudah menyelamatkan dirimu sendiri. Aku akan dengan senang hati menumpas para mafia yang mengaku sebagai dirimu, Maximo. Bukankah itu sesuatu yang sangat menguntungkan?” tembak Samantha dengan senyum terkembang.
“Hahahahahahaha….” Maximo malah tertawa. Pemikiran Samantha benar-benar gila. Bagaimana bisa gadis ini berpikir sejauh itu.
Melihat Maximo yang hanya tertawa, Samantha tidak ambil pusing. Ia tidak akan mengajukan hal lain pada mafia ini selain menunggu Mafia ini membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
“Gerald, apa langkahku sudah benar?
__ADS_1
****