Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Dialog hilang akal


__ADS_3

Seperti biasa, malam dan kesendirian selalu menjadi waktu yang paling menyiksa untukku, Sam. Aku terdiam di balkon kamarmu, tempat di mana aku biasa memelukmu dan belakang dan menggodamu dengan ciuman-ciuman kecil dan mengusapkan jambangku ke lehermu hingga membuatmu menggeliat sambil terkekeh. Aku selalu suka tawa itu dan membuatku tidak ingin berhenti. Saat sudah kesal, kamu akan berbalik menatapku penuh cinta dan seutas senyum yang membuatku ingin menggigit bibir merah muda miliku.


Lantas, apa kabarmu hari ini, cantik? Baju warna apa yang kamu kenakan? Apa wajahmu berseri seperti biasanya? Atau murung sepertiku yang tersiksa dalam sepi?


Sam, ini pertama kalinya aku merasakan rindu yang tidak berkesudahan. Setiap saat hanya kamu yang ada dipikiranku. Bermain-main dengan bayanganmu adalah hal yang paling menyenangkan. Karena dengan begitu, aku tidak merasa ditinggalkan. Aku dengar saat orang-orang disekitarku mengatakan bahwa kamu sudah pergi, tetapi hatiku tidak ingin mengakuinya. Nalarku bahkan berontak karena merasa waktu indah kita baru sekejap.


Sam, dulu aku selalu suka saat aku berada dalam kesadaran penuh dan kita berbicara tentang masa depan kita. Kamu pernah berkata, kalau kamu kelak menginginkan sebuah pernikahan. Kamu menunjukkan kepadaku bahwa nyalimu sangat besar untuk menjadi seorang nyonya Cortez. Tidak, bukan seperti itu. Cintamu terlalu besar hingga kamu begitu percaya kalau hidup bersamaku akan menjadi akhir hidup yang sempurna.


Hahahaha, bodoh. Bukan kamu, tapi aku. Dulu aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu sampai kemudian aku sadar karena tidak bisa lagi melihatmu di sisiku. Sekarang, aku tidak lagi menyukai kondisi sadar sepenuhnya karena saat tersadar, aku merasa kehilangan dan penyesalan itu menyiksaku.


Aku selalu bertanya dalam hatiku, apa jadinya jika saat itu aku datang lebih cepat? Apa jadinya jika aku menemanimu dan tidak membiarkanmu pergi sendiri? Apa jadinya jika aku tahu kalau kebersamaan kita di kapal pesiar akan menjadi kebersamaan terakhir yang dirampas oleh maut?


Maut, aku merinding mengatakan hal itu. Saat sadar aku mengingkari kalau maut telah memisahkan kita. Aku sangat suka bermain dengan bayanganmu, mendengarkanmu berceloteh mengatakan hal-hal yang pernah aku dengar dari mulutmu hingga aku merasa kalau aku bisa memelukmu dan sebenarnya tidak kehilanganmu.


Namun saat aku setengah tersadar seperti sekarang, aku tahu persis bahwa yang berdiri di sampingku dan menyandarkan kepalanya di bahuku, hanya bayangan masa lalu yang tidak pernah bisa aku sentuh. Bayangan yang menjadi bukti kegagalanku menjagamu dengan lebih baik.


Apa kabar Sam? Apa harimu lebih baik setelah kita berpisah? Apa kamu lebih suka dipeluk lautan di banding aku yang memelukmu? Bukankah kamu pernah berkata, bahwa berada dalam pelukanku membuatmu merasa kalau kamu memiliki rumah ternyaman?


Kamu licik Sam, kamu terlalu licik.

__ADS_1


Di saat aku merasa kalau kamu pun adalah rumah terbaikku, kamu pergi begitu saja. Tidak membiarkanku berjuang sedikitpun dan menyiapkan semua kepergianmu seorang diri dengan cara yang tragis. Sekarang rumah itu hancur, aku tidak punya tempat berlindung. Aku kedinginan, aku kesepian dan aku sendirian. Aku rindu mendengarkan hembusan napasmu yang hangat di wajahku dan detakan jantungmu yang menjadi melodi indah di telingaku. Membaringkan kepalaku di sela dua bola kenyal itu, lalu kamu mengusap kepalaku dengan lembut, sungguh itu moment yang tidak akan pernah terganti dan aku tidak membutuhkan penggantinya.


Sam, beberapa hari lalu aku makan siang di restoran favoritmu. Tempat yang kamu jadikan tempat pertemuan diam-diammu dengan temanmu. Aku membiarkamu pergi beberapa saat. Memberimu kepercayaan karena aku yakin suatu hari kamu akan bercerita apa pun yang pernah kamu hadapi.


Benar, kamu kembali. Kedatanganmu membuat makanan berkuah pedas itu terasa manis dan gurih. Aku tidak peduli dengan keringatku dan bibirku yang terasa panas. Karena saat aku tersiksa seperti itu, aku bisa membalasmu dengan sebuah *****4n penuh gairah. Kamu menyukainya, sama denganku yang dibuat mabuk kepayang bahkan saat tidak ada lagi udara di rongga dadaku.


Kamu tahu Sam, toko baju yang sering kita datangi sudah memiliki model pakaian baru. Aku membelikanmu beberapa. Ada warna hitam yang sangat cocok untuk kamu kenakan di acara pesta. Ada warna biru yang memesona saat kita makan malam berdua dan membuatmu berkilauan saat mengenakannya. Lalu ada warna putih yang dengan ekor gaun panjang menjuntai dilengkapi dengan tiara indah untuk menghiasi kepalamu. Benda itu sekarang ada di dalam lemarimu. Aku ingin kamu memakainya di depan pendeta. Di depan semua orang yang mendo’akan kita berbahagia hingga kita sama-sama menua.


Aku bahkan menyiapkan sebuah cincin untukmu dan selalu aku bawa ke mana pun aku pergi. Aku merasa, cincin ini membuatku utuh dengan tetap mencintaimu. Cincin yang tadinya akan aku berikan saat kita makan malam romantis sepulang dari kapal pesiar. Aku sudah memerintahkan Paul untuk menyiapkan acara itu.


Aku harap-harap cemas di hari itu, khawatir kamu tidak menyukai dekorasi yang aku siapkan. Aku menghiasnya banyak bunga lili dan bunga-bunga lain berwarna putih untuk menunjukkan kesungguhanku dan membuktikan kalau cintaku murni. Aku sudah menyiapkan iringan musik terbaik untuk kita berdansa. Tetapi rupanya aku mengkhawatirkan hal yang salah. Harusnya aku mengkahwatirkan jika kamu tidak pernah kembali.


Sam, dada ini semakin sesak. Aku butuh untuk membaringkan tubuhku di atas ranjangmu. Perlu kamu tahu, kalau kamar ini menjadi tempat favoritku sekarang. Aku membaringkan tubuhku yang lelah meski tidak melakukan apa pun selain melamunkanmu. Sesekali aku memandangi langit berwarna jingga di balik jendelamu. Aku suka melakukan itu, karena hal itu membuat khayalanku lebih indah.


“Max, aku menginginkanmu,” kalimat itu yang selalu aku rindukan. Lenguhanmu, desa hanmu dan semua yang ada di dirimu sekalipun itu hanya butiran keringat kita yang bercampur menjadi satu.


Lihat, aku mataku menetes lagi Sam. Padahal aku tidak pernah mengundangnya untuk datang. Setiap malam dengan serakah dia membasahi seluruh permukaan bantal yang aku pakai. Dia datang membawa kawannya, yaitu rasa sesak di dada yang tidak pernah bisa aku jelaskan. Kamu tahu Sam, rasa sesak ini membuatku sadar kalau setelah kehilanganmu tugasku hanya melanjutkan hidup yang kosong tanpa harapan.


Sam, siang tadi aku sangat bahagia karena aku menemukan radar yang membuatku memiliki harapan besar untuk bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat bersemangat untuk mencarimu. Aku datangi tempat yang menunjukkan keberadaanmu. Sayang, itu bukan kamu. Dia seorang wanita yang ingin kamu selamatkan. Aku bisa saja membantumu untuk membebaskannya dari pria yang membelinya, tetapi, aku memilih memupuk harapan lagi. Aku beri kamu kesempatan untuk datang sendiri membebaskannya. Kedatanganmu yang dia inginkan.

__ADS_1


“Permisi tuan,”


Kamu dengar Sam, itu suara Paul. Laki-laki uzur yang selalu kamu kerjai tetapi dia menikmatinya. Aku tahu dia bersedih karena sudah lebih dari satu bulan tidak ada yang mengganggunya. Dia sangat paham keadaanku, lihat dia masuk tanpa perlu aku perintahkan.


“Mohon maaf mengganggu istirahat Anda, tuan.” Ujar laki-laki yang tahu kalau aku tidak pernah bisa beristirahat. Entah kabar apa yang dia bawa.


Dia berjalan ke arahku, di tangannya membawa sebuah amplop. “Saya sudah menemukan banyak data terkait nona Eveline.”


Hah, tentang wanita itu lagi Sam. Paul terlalu bersungguh-sungguh rupanya.


“Katakan,” aku tidak suka setiap kali dia menjeda kalimat penting yang membuatku harus menunggunya.


“Gadis ini kehilangan ingatannya saat usianya empat belas tahun. Dia sempat dijual pada seorang mucik4ri dan ditebus kembali oleh tuan Dmitry saat usianya sembilan belas tahun. Dua tahun kemudian tuan Dmitry mengalami kebangkrutan dan menjadikan nona Eveline sebagai bayaran dengan menjualnya ke tempat pel4curan. Beliau kerap mendapatkan siksaan baik secara fisik maupun psikis. Terakhir beliau di lelang di Moscow dan mendapatkan penawaran yang sangat tinggi. Usianya saat ini, dua puluh enam tahun. Tidakkah tuan berpikir kalau dia adalah yang selama ini kita cari?”


Aku terdiam, aku masih sangat terkejut. Aku berpikir beberapa saat sambil memandangi amplop di tangan Paul, lantas segera ku rebut. Aku melihat foto-foto wanita itu, tubuhnya penuh luka, tetapi ada satu hal yang lebih menarik di banding luka-luka kebiruan itu, yaitu angka yang samar terlihat di pinggangnya yaitu angka enam. Harusnya kalau angka itu tidak ditutupi oleh tato berbentuk bunga maka angkanya adalah 3126.


Sial, apa mungkin dia Mirella-ku, Sam?


Aku segera beranjak. Aku mengambil radar yang ku kira milikmu. “Segera Bersiap, kita jemput gadis itu!” Aku memberi perintah dengan tegas dan lihat kamu tersenyum kepadaku Sam.

__ADS_1


Inikah yang kamu inginkan? Bukankah kamu suka saat aku bergegas?


****


__ADS_2