
Keluar dari kamar Samantha, perasaan Slavyk masih sangat berbunga-bunga. Ia mengusap pipinya dengan lembut, pipi yang tadi dikecup Samantha sebagai ungkapan terima kasih. Laki-laki itu menutup pintu kamar Samantha dengan pelan dan rapat lalu mengusap daun pintu perlahan dan mengecupnya dengan lembut. “Sampai bertemu lagi, Sam,” ungkapnya dengan penuh perasaan.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Astaga!” Slavyk sampai terhenyak saat ternyata ada Gerald di belakangnya. Jantung laki-laki itu seperti copot bersamaan dengan wajahnya yang tegang.
“Ti-tidak ada apa-apa. Tadi aku mengantar Samantha ke kamarnya, katanya tubuhnya lelah ingin beristirahat.” Slavyk lolos menjawab walau tidak lancar. Ia juga menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Bagaimana dokumennya? Apa sudah ada?” cepat-cepat Slavyk mengalihkan pembicaraan mereka.
Gerald menunjukkan berkas yang ada di tangannya.
“Waahh, kamu memang hebat Gerald. Pandai mencuri informasi. Oh maksudku mencari informasi.” Tangan Slavyk terulur hendak mengambil dokumen dari tangan Gerald, tetapi laki-laki itu segera menepiskannya, membuat Slavyk menatapnya serius.
“Kamu membawa obatnya kan?” tanya pria tersebut.
“Tentu saja, aku datang untuk bertukar itu denganmu. Mana mungkin aku tidak membawanya.” Laki-laki itu tersenyum lebar pada Gerald.
“Ikuti aku,” ajak Gerald yang berjalan lebih dulu menuju beranda belakang. Slavyk mengikuti langkah Gerald setelah memberikan kecupan jarak jauh pada daun pintu kamar Samantha. Akh, ia gemas sendiri membayangkan Samantha ada di dekatnya. Rasanya sudah tidak sabar untuk menculik wanita itu.
Dua laki-laki itu tengah berada di beranda belakang. Duduk di kursi taman dan Gerald menunjukkan dokumen di tangannya pada Slavyk.
“Waaaww….” Mata Slavyk langsung membulat saat melihat daftar nama mafia dan rantai bisnis obat-obatannya. Dokumen ini akan menjadi petunjuk untuk medekati mafia mana saja yang bisa ia susupi dengan obat-obatan illegal yang ia produksi.
__ADS_1
“Mana barangku?” Gerald segera menagihnya.
“Sebentar,” Slavyk segera merogoh sakunya dan mengeluarkan obat yang sudah ia siapkan dalam sebuah kotak. Menaruhnya di atas meja dan membukanya untuk ia tunjukkan pada Gerald. “Ini drug varian terbaru. Fungsinya mirip dengan tricyclon versi dua, melumpuhkan organ dari dalam. Bentuknya yang serbuk, terihat seperti methamphetamine, sehingga orang-orang akan menyangka kalau ini sabu biasa.” Slavyk tersenyum bangga pada obat yang berhasil ia ciptakan.
Gerald mengambil obat itu dan menyentuh butirannya yang halus di dalam plastik. Pekerjaan Slavyk memang selalu memuaskan dan membuat bisnisnya berjalan lancar.
“Lain kali, kita bertemu di luar saja. Kamu tidak perlu datang ke rumah ini.” Tiba-tiba saja gerald mengatakan hal itu. Ia merasa terganggu dengan usaha Slavyk untuk mendekati Samantha. Ia bahkan melihat di CCTV kalau laki-laki ini menggendong Samantha hingga ke kamarnya. Dan saat keluar kamar, laki-laki ini terlihat sangat bahagia. Entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar Samantha.
Slavyk yang semula tersenyum pun kini berubah dingin. “Mengapa melarangku datang? Apa karena aku tidak membawa buah tangan?” Slavyk berusaha mencandai Gerald dengan sebuah sindiran.
Gerald tersenyum kecil, cukup sinis. “Kamu terlalu cepat beradaptasi dengan penghuni rumah ini, Slavyk,” sindirnya dengan tegas.
“Yaa, rupanya kamu tidak bisa bersikap ramah pada tamu. Aku pikir semua tuan rumah akan senang saat tamunya bisa merasa kalau rumah yang ia kunjungi sudah ia anggap sebagai rumah sendiri. Baiklah, kedepannya aku akan lebih mawas diri.” Slavyk tidak mau berdebat lebih panjang. Lagi pula, ia sudah memiliki nomor terapis Samantha dan harus segera menyiapkan rencana penculikan gadis itu.
“Baiklah, aku permisi dulu. Kabari aku saat kamu memerlukan obat ini dalam jumlah banyak. Sepertinya akan enak saat di jadikan toping di atas donat.” Sempat-sempatnya laki-laki itu tersenyum sarkas pada Gerald.
Slavyk menjabatnya beberapa saat sebelum kemudian berlalu pergi keluar dari rumah ini. “Tuan rumah yang tidak ramah. Bintang satu untukmu Michael.” Laki-laki itu masih menggerutu karena kesal.
Selesai berurusan dengan Slavyk, Gerald kembali ke ruang kerjanya. Pria itu dibuat terkejut dengan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Ia segera membukanya lebar dan ternyata ada Samantha yang sedang melihat-lihat isi ruang kerjanya.
Wanita itu tidak menoleh saat Gerald masuk dan memandanginya dari pintu sambil bersandar pada daun pintu. Ia lebih asyik melihat-lihat foto yang berjejer rapi di dinding ruang kerjanya. Ada beberapa foto yang sudah ia coret, salah satunya adalah foto mendiang Cortez. Samantha juga melihat potongan foto anak kecil yang terlihat sama persis dengan foto tiga orang anak yang dimiliki Maximo.
“Jadi, Maximo adalah adikmu, Michael?” tanya Samantha dengan tegas. Wanita itu sadar kalau Gerald ada di belakangnya.
__ADS_1
Laki-laki itu tidak menjawab, ia lebih memilih menghampiri Samantha dan memutar kursi roda wanita itu untuk menghadapnya. Sementara ia duduk bersandar pada meja kerjanya. Sepertinya Samantha sudah tidak bisa lagi di buat menunggu.
“Aku memiliki kekuasaan yang tidak jauh berbeda dari Maximo. Apa itu alasan yang cukup untukmu melupakan laki-laki itu?” Gerald tidak mengingkari pertanyaan Samantha, yang berarti jawabannya ya.
Samantha tersenyum kecil dan mengusap pipi Gerald dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya pada Gerald membuat mata laki-laki itu membuka lebar dengan detak jantung yang berdebar sangat kencang. Hidung mereka sampai bertemu dan andai saja Gerald mengerucutkan bibirnya, mungkin ia sampai untuk mengecup bibir Samantha.
“Andai yang bersaing dengan seorang Maximo adalah seorang Gerald yang tidak memiliki apa-apa, aku pasti akan berpaling. Karena dia sudah memiliki separuh hatiku. Sementara kamu hanya orang asing Michael, sekalipun aku membenci Maximo, posisimu tidak akan pernah menjadi pilihan yang lebih baik dari dia,” ucap Samantha seraya tersenyum di ujung kalimatnya.
Laki-laki itu tampak kecewa mendengar ucapan Samantha yang begitu telak, seolah tidak ada kesempatan untuknya.
“Aku pernah berkata pada Maximo, jika saja laki-laki itu tidak membunuh Gerald, mungkin aku akan sangat jatuh cinta padanya. Karena seorang Gerald adalah salah satu laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Sayangnya dia sudah mati, karena keserakahan dan siasat seseorang. Percayalah Michael, aku tidak silau dengan sebuah kekuasaan. Tapi aku akan sangat terpukau pada seseorang yang jujur pada dirinya sendiri.”
Samantha menambahkan kalimat penuh ketegasan untuk Gerald. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Gerald, tetapi kemudian tangan Gerald mencengkram leher Samantha dan menahannya untuk tidak menjauh. Matanya menyalak tajam menatap lekat sepasang mata Samantha yang bening dan tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
“Kamu berada di pihak yang salah Sam. Tanpa kamu tahu, Maximo adalah orang yang serakah Sam. Dia yang harusnya mati dan tidak pernah diselamatkan oleh Cortez. Dia lemah, tidak sehebat aku. Maka seharusnya dia tidak memiliki kekuasaan apapun. Aku yang lebih layak, aku yang lebih hebat.” Gerald berujar penuh penekanan. Geretakan giginya sampai terdengar oleh Samantha.
“Lantas mengapa harus bersembunyi? Mengapa tidak melawannya secara terang-terangan? Mengapa harus menipuku? Bukankah hal seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang hebat dan layak? Setauku, hal itu hanya dilakukan oleh seorang pengecut?” pertanyaan Samantha terdengar begitu tajam, sindirannya telak.
“Dengar Michael, Maximo bukan seorang pengecut, dia juga tidak serakah. Dia mencarimu dan Mirella selama bertahun-tahun. Tapi kamu malah memilih bersembunyi. Kenapa? Karena tidak cukup merasa percaya diri untuk menghampirinya?” lagi Samantha menyeringai sarkas setelah pertanyaannya.
“SIAL!” dengus Gerald seraya mengibaskan tangannya. Ia tidak lagi mencengkram leher Samantha, melainkan beranjak dari tempatnya dan berdiri membelakangi Samantha. Ia berkacak pinggang, entah pada siapa ia ingin menunjukkan arogansinya. Pada foto-foto tidak bernyawa itu?
“Pikirkan baik-baik Michael, jika kamu akan kembali menjadi Gerald, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk berada di sisimu. Tapi jika kamu akan tetap menjadi Michael, maka Maximo akan selalu menjadi laki-laki yang lebih baik di mataku. Sekalipun aku harus mematahkan tongkat saktinya!” tutur Samantha yang kemudian berlalu pergi dengan kursi rodanya. Ia merasa apa yang harus ia katakan pada Gerald, sudah selesai ia katakan. Entah seperti apa laki-laki ini akan menanggapinya, Samantha sudah tidak lagi peduli.
__ADS_1
Gerald hanya termenung, ia menatap lekat foto Maximo yang sangat ia benci. “Kamu membuat hidup kita semakin sulit dengan tindakan bodohmu, Max. Harusnya kamu tidak membunuh ayah kita, agar kita tidak harus ikut dengan laki-laki yang membuat kita harus bertikai seperti ini. Kamu terlalu naif dan terlalu bodoh di waktu yang bersamaan. Dengar, aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Maka, hiduplah dalam kesepian. Samantha tidak akan pernah kembali padamu,” tegas laki-laki itu seraya mengeluarkan serbuk obat yang ia dapatkan dari Slavyk.
****