Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Mengundang maut


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Samantha keluar dari kamar hotelnya dengan penampilan yang tertutup. Ia memakai syal untuk menutupi kepalanya, juga kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya. Setelah mengintip dari lubang intip dan tidak ada siapapun, ia membuka pintunya sedikit demi sedikit untuk memastikan keadaan di luar kamarnya, aman.


“Apa di lobby ada orang-orangnya Slavyk?” tanya Samantha pada salah satu pengawal. Di tellinganya terpasang earphone yang terhubung dengan orang-orang kepercayaan Maximo.


“Tidak ada nona. Mereka pergi setengah jam lalu,” sahut pengawal itu.


Samantha bisa menghembuskan napasnya lega dan segera keluar kamar. Berusaha berjalan dengan tenang pada dini pagi itu. Ia tidak mau terlihat mencurigakan dan membuatnya kesulitan untuk pulang. Orang-orang Slavyk yang ia hindari saat ini. Dipunggungnya ia membawa tas ransel yang berisi obat untuk Maximo. Ia sudah bertekad kalau hari ini ia harus bisa tiba di Los Angeles tanpa kurang satu apapun.


“Aku akan turun, pastikan tidak ada yang memantauku.” Samantha kembali berbicara sesaat sebelum ia masuk ke dalam lift.


"Baik, nona."


Saat pintu lift terbuka,ia melihat ada seorang pria yang berpakaian rapi. Samantha sempat terhenyak, khawatir pria itu adalah orang suruhan Slavyk yang ditugaskan untuk memantaunya. Samantha berusaha terlihat tenang, ia berdiri di depan laki-laki itu dan menekan tombol menuju lobby.


Beberapa menit di dalam lobby rasanya sangat menyesakkan. Samantha segera keluar setelah lift terbuka dan bergegas menuju resepsions untuk check out.


“Selamat pagi, saya mau mengembalikan kunci.” Samantha memberikan kunci itu pada petugas resepsionis.


“Selamat pagi, nona Jelena?” Wanita itu sedikit bertanya. Sepertinya ia curiga Samantha.


“Saya kenalannya. Jelena tidak pulang semalam, setelah pergi dengan seorang laki-laki. Sepertinya di bertemu dengan orang yang ia kenal.” Samantha memilih berbohong untuk mengubur hidup-hidup identitas Jelena di kota Moscow.


“Baik,” Walaupun ragu akhirnya petugas itu mengiyakan ucapan Samantha. Proses check out selesai dan Samantha segera pergi.

__ADS_1


Seorang pengawal sudah menunggunya di dalam taksi yang membawa Samantha pergi menuju bandara. Jam empat pagi waktu Moscow, ia meninggalkan hotel dan semua hingar bingar di tempat ini. Ia melepas masker yang membuat napasnya sesak.


“Anda baik-baik saja nona?” tanya pengawal Maximo.


“Ya, aku baik-baik saja.” Samantha menyandarkan tubuhnya pada jok. Ia perlu waktu untuk menenangkan diri.


Tidak lama, ponsel Samantha berdering, ia melihat nomor yang muncul di smart watchnya dan ternyata nomor Paul yang mengubunginya.


“Selamat pagi, nona?” sapa laki-laki itu.


“Pagi Paul. Bagaimana kondisi Maximo?” Samantha benar-benar penasaran. Sudah lebih dari dua puluh empat jam ia meninggalkan pria itu.


“Kondisi tuan besar masih lemah. Pagi ini tuan besar dipasangi selang makan agar ada nutrisi yang masuk, tetapi sepertinya syaraf di leher tuan besar mulai terganggu. Beliau kesulitan menelan salivanya dan harus dilakukan penyedotan cairan di tenggorokannya.” Kabar buruk itu yang disampaikan oleh Paul.


“Tunggu sebentar nona,” Paul segera menghampiri tuan besarnya dan duduk di samping laki-laki yang tidak berdaya itu.


“Ini nona Samantha, tuan. Beliau ingin berbicara dengan Anda.” Paul menatap Maximo dengan sedih.


Maximo hanya mengedipkan matanya satu kali dan Paul segera mendekatkan ponsel pada telinga Maximo dan menyalakan mode loud speaker.


“Hay Max, bagaimana kabarmu hari ini? Apa tidurmu nyenyak?” suara Samantha terdengar di sebrang sana. Gadis itu berusaha bersuara riang agar Maximo tidak mencemaskannya.


“Aku tidak menyangka kalau ternyata Moscow sangat indah, lain kali kita berkunjung ke tempat ini untuk liburan bersama. Kamu mau ikut?” Samantha bertanya dengan santai.

__ADS_1


Maximo tidak menimpali tetapi hatinya berujar lirih. “Ya, kelak kita akan berjalan-jalan Sam. Tapi segeralah pulang, aku sangat mencemaskanmu,” batin Maximo.


“Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan terbang ke LA pagi ini dan kamu akan segera sembuh. Kita bisa berbicara lagi tentang banyak hal, jadi tidak perlu cemas. Siapkan saja tenaga dan kesabaranmu untuk menghadapi semua tingkahku. Aku tau, kamu merindukan kegilaanku.” Hati mereka seperti terhubung. Samantha berusaha mencandai Maximo dan laki-laki itu tersenyum dalam hati. Sungguh ia menunggu saat-saat bercanda dengan Samantha.


Samantha terdiam beberapa saat, melihat matahari yang terbit di ufuk timur kota Moscow. Ia tersenyum kecil berharap maximo pun akan bangkit bersama cahaya matahari. Katanya, do'a paling baik itu saat matahari terbit.


“Aku sudahi dulu panggilannya. Jangan terlalu merindukanku. Minta Nora untuk menyiapkan makanan yang enak saat aku pulang nanti,” pesan Samantha di ujung panggilannya.


Maximo hanya mengedipkan matanya sebagai tanda kalau perbincangannya dengan Samantha sudah selesai. Benda pipih itu beralih pada Paul. “Nona, saya sudah mengirimkan tiket Anda melalui email, apa Anda sudah memeriksanya?” Paul ikut mencemaskan Wanita itu.


“Tunggu sebentar,” Samantha menjeda panggilannya dan mengecek email yang masuk. Benar saja ada satu tiket kepulangan menuju LA yang bertuliskan nama Samantha.


“Terima kasih Paul, aku sudah menerimanya.”


“Baik nona, hati-hati dalam perjalanan. Segera sampai ke rumah dengan selamat.” Paul berpesan dengan sungguh. Matanya sampai berkaca-kaca.


“Hahahaha… kamu sangat manis Paul. Sesampainya di rumah, aku akan mencium pipimu,” timpal Samantha.


Mata Paul langsung membulat mendengar kalimat Samantha barusan. Ia melirik Maximo yang juga menatapnya dengan tajam dan penuh kekesalan. Astaga, harusnya Paul segera mematikan mode loudspeakernya agar Maximo tidak mendengar perbincangan random ini.


“Tidak perlu nona, cukup sampai rumah dengan selamat, tu saja sudah cukup.” Takut-takut Paul mengatakan kalimat itu.


“Hahahahha… Ya, tentu saja.” Samantha berujar dengan ringan. Ia tidak sadar kalau kalimatnya mengundang maut untuk Paul.

__ADS_1


****


__ADS_2