Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Bangun


__ADS_3

“Apa aku sudah mati? Apa aku sudah berada di dunia lain?” Samantha membatin saat ia membuka matanya untuk pertama kali. Penglihatannya masih berbayang seperti banyak kabut putih yang menghalangi pandangannya dan membuat penglihatannya samar-samar.


Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang masuk. Kepalanya masih pusing berputar, memori dikepalanya mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Yang terakhir ia ingat adalah saat-saat ia jatuh ke laut, dengan tubuh yang menghantam lautan berombak yang membuat punggungnya pedih seperti dipukuli. Ia berusaha berenang, tetapi rasa sakit di tubuhnya membuat ia lemah. ia sulit bergerak sampai kemudian seseorang menarik tubuhnya yang lemas karena kehabisan oksigen dan tidak sadarkan diri.


Sejak saat itu semua gelap. Ia tidak melihat ataupun mengingat apa pun, selain beberapa kali ia sering mendengar suara langkah kaki kuda yang berlarian dan mengusik alam bawah sadarnya hingga memaksanya untuk bangun. Saat ini ia baru sadar kalau ia tengah berada di sebuah ruangan dengan suara monitor yang berbunyi nyaring, bukan peternakan kuda seperti yang ada dipikirannya. Lalu dari mana asal suara yang menggetarkan jiwanya itu?


Tidak lama berselang, dua orang berlari menghampirinya. Seorang wanita dengan jas putih dan seorang laki-laki yang menatapnya penuh haru dan cemas.


“Sam,” panggil laki-laki itu. Suara yang sangat khas dan akrab di pendengarannya. Laki-laki itu menggenggam tangan Samantha dengan erat, lantas mengecupinya. “Syukurlah, akhirnya kamu siuman.” Laki-laki itu tertunduk penuh rasa syukur di hadapan Samantha.


Samantha masih sangat bingung, di mana sebenarnya ia berada saat ini. Mengapa ada laki-laki ini? Bukankah dia sudah lama meninggal?


Samantha hendak berbicara, namun ia malah terbatuk. Mungkin karena masih ada alat bantu napas yang mengisi mulutnya hingga ke trachea.


“Anda ingin berbicara, nyonya? Biar saya lepas dulu ETT-nya.” Wanita yang bisa Samantha tebak berprofesi sebagai seorang dokter ini, bergerak dengan cepat. Ia melepas alat bantu napas dimulut Samantha dan membuat ia bisa bernapas sendiri dengan leluasa. Ia juga memperdengarkan bunyi napas dan denyut jantung Samantha melalui stetoscopenya. Senyumnya terlihat lega saat mendapati Samantha baik-baik saja.


“Apa yang kamu rasakan, Sam? Ada yang sakit?” Laki-laki itu kembali bertanya, membuat Samantha perlahan menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu. Ia bingung dan ragu jika laki-laki yang ada dihadapannya ini sosok nyata. Mungkin hanya bayangannya saja seperti sebelumnya.


“Tolong tinggalkan kami berdua.” Pria itu memberi perintah tegas pada sang dokter. Sepertinya Samantha masih dilanda kebingungan.


“Baik, tuan.” Dokter wanita itu pun bergegas pergi setelah memastikan Samantha baik-baik saja.

__ADS_1


Laki-laki itu mendekat pada Samantha, duduk di samping tubuh Samantha yang terbaring lemah lantas tersenyum. “Senang melihatmu kembali terbangun, Sam,” ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca.


Samantha tidak lantas menimpali. Ia mengangkat tangannya yang lemah, hendak menyentuh wajah laki-laki itu. Laki-laki itu menyambutnya, membiarkan Samantha mengusap wajahnya dengan lembut. Ia tampak kaget saat menyadari laki-laki dihadapannya bisa ia sentuh.


“Kamu nyata atau hanya lamunanku, Gerald?” Pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulut Samantha. Sangat pelan dan serak.


Laki-laki itu memegangi tangan Samantha, membiarkannya menempel di pipinya yang ditumbuhi rambut halus, lantas tersenyum.


“Aku nyata dan ada di sampingmu, Sam.” Laki-laki itu berujar dengan sungguh. Ia mencondongkan tubuhnya, mengusap kepala Samantha lantas mengecup pucuk kepala Samantha dengan lembut. Tidak hanya itu, laki-laki itu juga menatap mata Samantha dengan jarak yang sangat dekat, membuat hidung mereka nyaris beradu.


“Maaf karena meninggalkanmu terlalu lama,” bisik laki-laki itu. Ia hendak mengecup bibir kering Samantha, tetapi Samantha memalingkan wajahnya.


Pikirannya masih berantakan, sama dengan hatinya yang berantakan. Gerald bisa memahami itu. Samantha yang baru sadarkan diri setelah koma kurang lebih selama satu bulan, tentu kebingungan saat kembali ke dunia nyata dan melihatnya masih dalam keadaan hidup.


Gerald tersenyum kecil, sepertinya Samantha sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya. Raut wajahnya menjelaskan kalau wanita itu sangat kecewa. “Kita akan berbicara nanti, setelah tubuhmu lebih sehat dan bugar. Sekarang fokus saja pada kesehatanmu karena kamu tidak hanya harus mengurus dirimu sendiri, tetapi juga makhluk kecil yang ada di perutmu.” Gerald menatap perut Samantha dengan penuh perhatian.


“Apa maksudmu?” Samantha segera menoleh. Belum selesai keterkejutannya karena ternyata Gerald masih hidup, kini kalimat Gerald seolah memberinya pukulan yang lebih keras di ulu hatinya hingga tenaganya bertambah untuk sekadar bertanya dan berbicara.


“Ssstt… pelan-pelan Sam, pelan-pelan. Kamu belum pulih benar.” Laki-laki itu mengusap kepala Samantha untuk menenangkan wanita ini.


“Ulangi yang tadi kamu katakan dan jelaskan apa maksudnya.” Samantha menatap Gerald dengan tajam, tatapan yang belum pernah Gerald lihat sebelumnya.

__ADS_1


Laki-laki itu kembali tersenyum kecil. Ia menggenggam tangan Samantha yang lemah dengan infusan di punggung tangannya. “Kamu sedang mengandung, Sam. Seorang bayi sedang tumbuh di rahimmu. Apa kamu tidak merasakannya?” Gerald menyentuhkan tangan Samantha ke perutnya sendiri. Tidak terasa membuncit. Entah karena janin itu masih kecil atau karena ia tengah berbaring telentang?


“Kamu melakukannya kepadaku?” Mata Samantha langsung membulat, membuat Gerald kaget lalu terkekeh. Setakut itu Samantha jika ia menyentuhnya.


“Hey, harusnya aku yang bertanya siapa yang berani menanam benih di rahimmu? Kamu koma selama lebih dari satu bulan, mana mungkin aku menggagahi wanita koma. Walaupun aku sangat merindukanmu.” Gerald mengecilkan suara di ujung kalimatnya. Samantha menatapnya waspada.


“Aku serius Sam, aku tidak melakukan apa pun. Aku rasa ini anak pria itu, Maximo.” Raut wajah Gerald segera berubah dingin saat menyebut nama Maximo. Seperti ada banyak kekecewaan di hatinya karena Samantha memilih bersama laki-laki yang ingin ia hancurkan.


“Aku bisa saja percaya kepadamu, tetapi kamu terlalu banyak berbohong Gerald. Kamu mengubah kehidupan menjadi kematian dan begitupun sebaliknya. Kamu membuatku bingung dan tidak mengerti dengan apa yang aku hadapi selama ini. Aku,”


Kalimat samantha terhenti saat tiba-tiba saja Gerald membungkamnya dengan sebuah kecupan. Kecupan hangat penuh perasaan yang diikuti oleh gigitan lembut yang membuat darah Samantha berdesir. Sadar wanita itu hanya terdiam, Gerald mengangkat tubuhnya. Mengulur jarak dari wanitanya.


Plak! Tangan lemah Samantha menampar pria itu. Wajah Gerald sampai berpaling. Meski tidak terlalu sakit, tetapi cukup untuk menyadarkannya.


“Pikirmu, lucu?” Samantha bertanya dengan sinis. “Pikirmu semua yang kamu lakukan ini lucu?!” suaranya semakin meninggi hingga gadis itu terbatuk.


"Sam," Gerald segera mengambilkan air minum, tetapi Samantha mengibaskannya hingga gelas di tangan Gerald jatuh dan pecah berserakan di lantai. Ia berusaha untuk bangkit, bertumpu pada kedua tangannya yang lemah, tetapi gagal. Ia kembali jatuh di atas kasurnya.


“Argh sial!” dengus Wanita itu dengan penuh kemarahan.


Gerald hanya termangu, sepertinya kemarahan Samantha sangat besar padanya.

__ADS_1


****


__ADS_2