
Potongan foto itu masih dipandangi oleh Maximo di ruang kerjanya. Di foto ini, wajah Mirella kecil tidak terlihat jelas, tetapi cukup untuk ia kenali. Gadis itu memakai dress berwarna kuning tua, warna favoritnya. Rambutnya dikepang dua, mengikuti gaya rambut pada masa itu. Ekspresinya juga ekspresi enggan di foto karena saat itu Mirella habis menangis setelah tahu kalau ia akan diadopsi bersama kedua kakaknya.
“Aku hanya ingin tinggal dengan ayah dan ibu, bukan orang asing itu.” Itu kalimat penegasan yang dikatakan Mirella saat tahu kalau Cortez akan membawanya. Di antara mereka bertiga, memang hanya Mirella yang menolak keras untuk adopsi. Gadis ini juga belum bisa menerima kepergian kedua orang tuanya.
Susah payah Maximo dan Michael membujuk sang adik agar mau ikut. Namun sungguh, saat ini Maximo merasa sangat bersalah telah memaksa Mirella. Karena ia sendiri pula yang membuat mereka bertiga akhirnya menjadi yatim piatu dan hanya memiliki satu sama lain.
“Akh, sial.” Maximo mengguyar rambutnya kasar lantas mengusap wajahnya kasar saat sadar kalau dirinyalah sang penambah petaka. Kalau saja saat itu ia meminta Cortez untuk membawa Mirella dan Michael pergi, mungkin ia tidak akan kehilangan dua orang itu. Sekarang dua orang itu entah di mana rimbanya. Entah masih hidup atau sudah pergi lebih dulu.
“Permisi, tuan.” Suara Paul terdengar dari mulut pintu. Lamunan Maximo membuat pria itu tidak sadar kalau Paul sudah berdiri dari tadi di tempatnya.
“Masuklah,” Maximo menaruh potongan foto itu di dalam laci.
Laki-laki itu masuk dan menaruh sebuah map di hadapan Maximo. “Ada dua sidik jari di potongan foto itu, tetapi keduanya tidak dikenali. Tidak ada identitas yang muncul dari dua sidik jari tersebut. Sepertinya, sidik jari itu milik agent yang bertugas memata-matai.” Itu penjelasan singkat yang Paul sampaikan pada tuannya.
Maximo mengambil berkas itu lalu membacanya. Sepertinya dugaannya benar kalau Gerald adalah seorang agen. Lalu siapa pemilik sidik jari satunya?
“Apa Samantha sudah bangun?” Menurut Maximo hanya Samantha kuncinya saat ini.
“Sudah tuan. Nona Samantha sedang berendam dan meminta Nora untuk membuatkannya salad. Beliau mengeluh perutnya sakit,” terang Paul.
Maximo termenung, setelah hampir tiga bulan tinggal bersama Samantha, baru kali ini gadis itu mengeluh sakit perut. Perasaannya mulai tidak karuan dan mulai berlajar mencemaskan seseorang. Padahal selama ini hati Maximo tidak mengenal perasaan semacam itu. Samantha lah yang membuat ia mengenal perasaan seperti ini.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menyerang kita? Kamu sudah mendapatkan informasi lebih?”
“Ya, tuan. Kami menemukan informasi kalau dalam tubuh mereka terdapat racun tricyclon type satu, dimana tubuh mereka akan membusuk setelah tiga hari. Sepertinya mereka sengaja diperintahkan untuk menyerang kita setelah diberi racun itu, agar kita tidak bisa memeriksa mereka lebih lanjut.”
“Itu artinya, orang yang memberi perintah tahu kalau kita akan pergi ke tempat itu dan menjadikan tempat itu sebagai perangkap untukku dan Samantha.” Maximo menarik satu benang merah yang penting.
Paul tercengang, “Apa mungkin di antara orang-orang kita ada pengkhianat, tuan?” Pria itu langsung bertanya. Entah siapa yang melakukan hal tersebut yang jelas terlalu berani.
Maximo tidak menjawab. Ia berdiri memandang foto dirinya bersama Cortez yang terpajang di dinding. Ia sedang berpikir dengan serius tentang kemungkinan pelaku penyerangannya. Setelah berpikir cukup lama, Maximo memutuskan untuk pergi ke kamar Samantha. Ia harus menemui wanita itu untuk memastikan satu hal.
Masuk ke kamar Samantha dan ternyata wanita itu masih berrendam di bath tubenya. Maximo masuk ke dalam ruangan transparan yang dikelilingi kaca, lalu menghampiri Samantha yang sedang memejamkan matanya menikmati sensasi nyaman dari air hangat dan aromatherapy yang menenangkan. Pria itu berjalan dengan mengendap-endap, walau tetap saja Samantha menyadarinya.
“Max?” tanya gadis itu. Ia terkejut melihat kedatangan Maximo ke kamarnya.
“Tumben kamu menemaniku mandi,” Samantha bertanya dengan penasaran. Ia mengusap dada Maximo yang bidang dan berambut, dengan busa sabun yang ada di tangannya.
“Aku ingin menikmati waktu yang lebih int!m denganmu.” Maximo beralasan. Di bawah permukaan air itu, tangan Maximo meraih pinggang Samantha untuk ia peluk. Lantas ia mengusap pangkal paha Samantha hingga kebagian inti tubuhnya. Dan tidak lama rudalnya menyerang inti tubuh Samantha. Melesak masuk memenuhi inti tubuh yang belum bersiap seutuhnya.
“Akh Max… kenapa harus dilakukan di sini?” Samantha melenguh pelan.
“Karena kita belum pernah mencobanya.” Pria itu berbisik lirih di telinga Samanta yang ia kecupi turun ke leher, sementara tangannya mengusap dada gadis itu yang masih berada di bawah permukaan air. Gerakannya lambat. Sedikit mengguncang tubuh Samantha dengan pelan. Tetapi semakin lama inti tubuh Samantha terasa semakin penuh saat ia meliukkan tubuhnya dan menari indah di bawah permukaan air.
__ADS_1
“Kamu mulai menikmatinya, Sam.” Bisikan laki-laki itu terdengar mulai menderu. Gairah mulai menguasai dirinya.
Samantha mengangguk pelan. Ia menoleh Maximo dan menyasar bibirnya yang ia lum4t dengan agresif. Maximo tidak tinggal diam, ia membalas Samantha dan mulai menghentakkan tubuhnya pada Samantha. Semakin lama semakin kuat hingga Samantha merasakan sesuatu yang hangat mengisi inti tubuhnya.
Maximo melenguh dan memeluk Samantha dengan erat. Ia juga mengecupi leher Samantha dengan nikmat. Keduanya masih berpelukan, menunjukkan saling kepemilikan masing-masing. Beban dipikiran Maximo mendadak terasa ringan.
“Seseorang yang kita kenal mungkin berkhianat, Sam.” Bisikan itu terdengar tegas di telinga Samantha. Jujur, ini cukup merusak suasana, tetapi Maximo harus menyampaikannya.
Mata Samantha yang sedang terpejampun terbuka begitu saja. “Informasi apa yang kamu dapatkan Max?” Samantha ikut penasaran. Mata bulatnya menatap Maximo dengan tajam.
“Sepertinya orang-orang itu dipersiapkan menyerang kita di waktu yang telah ditentukan. Mereka tahu kalau kita akan ke tempat itu. Orang-orang itu bahkan sudah diberi racun trycyclo dalam tubuhnya. Racun type satu yang membuat tubuh mereka perlahan akan membusuk dari dalam setelah 72 jam. Mereka sengaja melakukan itu agar kita tidak bisa mengintrogasi kalau mereka tertangkap.” Maximo menjelaskan dengan sesungguhnya.
Lihat, mata Samantha membulat kaget. Ia segera menjauh dari Maximo membuat penyatuan mereka terlepas. Ia berdiri lalu pergi untuk membilas tubuhnya. Pikirannya tidak karuan setelah mendengar ucapan Maximo barusan.
“Aku tidak menyalahkanmu, Sam.” Maximo ikut beranjak dari tempatnya. Ia tahu Samantha sedang merasa marah dan kecewa.
“Aku mempercayai orang yang salah, tentu itu kesalahanku.” Sambil membilas tubuhnya Samantha berujar dengan kesal. Sebelum berangkat ke tempat itu, Samantha menghubungi Alicia untuk menanyakan kronologis penemuan jasad Gerald dan tempat jasad itu ditemukan. Alicia menjelaskan dengan detail.
“Kapan kamu akan ke tempat itu Sam?” pertanyaan itu jelas dilontarkan Alicia saat Samantha menghubunginya.
“Aku sedang bersiap-siap.” Hanya itu jawaban Samantha sebelum panggilannya dengan Alicia terputus. Dan sekarang ia baru sadar, kalau mungkin Alicia telah mengkhianatinya.
__ADS_1
****