
Dalam perjalanan pulang dari tempat olah raga Maximo, Paul disibukkan dengan tugas barunya mencari laki-laki bernama Gerald. Hasil pencarian yang ia lakukan, ada sekitar delapan ribu enam ratus laki-laki dengan nama Gerald. Entah itu nama awal ataupun tengah.
“Sebanyak ini?” mata Paul sampai melotot kaget. Bagaimana bisa ia menentukan orang mana yang dekat dengan Samantha?
Ternyatam sehebat ini seorang Samantha mengerjainya.
“Sudah kamu temukan?” ternyata Maximo mendengar seruan Paul yang kaget.
“Sedang saya cari, tuan.” Ia tertunduk kembali fokus. Tidak ada waktu untuk berleha-leha.. Sepertinya perjalanan ia untuk mencari seorang Gerald akan sangatlah susah.
Maximo tidak menimpali, ia memilih menyalakan ponselnya untuk mengecek CCTV rumah. Ia memperhatikan Samantha yang ternyata sedang makan siang dengan ditemani seorang pelayan.
“Apa yang dia makan?” Maximo bertanya pada layar ponselnya. Ia melihat Samantha sangat lahap menikmati makanannya.
Gambar diponselnya ia perbesar untuk melihat makanan apa yang sedang dinikmati Samantha. Ternyata hanya burger, tetapi mengapa bisa senikmat itu saat Samantha mengunyah makanannya.
“Berkendaralah lebih cepat!” titah Maximo pada sopirnya. Ia ingin melihat langsung Samantha.
“Baik, tuan.” Sopir pribadi Maximo pun mempercepat laju mobilnya. Paul terpaksa menjeda pencariannya beberapa saat karena ia harus mengenakan sabuk pengaman dan ikut fokus pada jalanan. Ia bisa mengira kalau Maximo ingin segera sampai rumah karena ingin bertemu dengan Samantha.
__ADS_1
“Nona muda, sihir apa yang Anda berikan pada tuan kami sampai beliau Anda buat seperti ini?” Paul bergumam dalam hatinya. Ia memperhatikan Maximo melalui kaca spion dan ternyata tuan besarnya sedang melamun. Memandang keluar jendela dengan wajah serius. Entah apa yang muncul dibenaknya saat ini dan membuatnya tetap gelisah padahal ia sudah menaklukan tebing yang tinggi.
Perjalanan menuju kediaman Maximo ditempuh dalam waktu satu jam. Saat tiba dirumahnya, Maximo langsung masuk ke kamar. Paul mengekori tuannya. Tumben pikirnya, tuan besarnya tidak langsung mencari Samantha.
Maximo membersihkan tubuhnya yang berkeringat, berganti dengan baju yang bersih lagi wangi dan tentu saja memakai parfum yang menyegarkan. Didepan cermin ia mematut dirinya. Rambutnya yang masih basah hanya ia sisir dengan jari.
“Kirimkan data-data yang sudah kamu temukan tentang seorang Gerald.” Maximo mengambil laptopnya dan duduk bersila diatas ranjangnya.
“Baik, tuan.” Paul segera membuka ponsel pintarnya. Membuka data apa saja yang sudah ia temukan tentang sosok Gerald. Ada beberapa foto yang ia dapatkan, Gerald yang berusia muda hingga Gerald yang sudah berambut putih.
“Hanya ini saja?” Maximo menatap tidak percaya. Mana mungkin informasi yang Paul dapatkan sangat sedikit sekali. Padahal biasanya laki-laki ini pandai mencari informasi.
Maximo tidak menanggapi. Ia memilih fokus dengan layar laptopnya. Ia membuka rekaman CCTV Samantha, mengambil pindaian wajah cantik itu lalu mencocokannya dengan data didunia maya. Maximo memang sangat mahir melakukan penjelajahan di dunia maya.
Semua ilmu hacking data sudah ia pahami sepenuhnya. Itu mengapa ia memiliki kekuasaan yang besar di dalam rantai bisnisnya. Meskipun demikian, Maximo jarang menggunakan kemampuannya terkecuali untuk hal yang begitu mengusik pikirannya.
Saat ini, sudah cukup banyak data yang berhasil Maximo kumpulkan tentang laki-laki bernama Gerald yang ada dimimpi Samantha.
“Apa dia benar-benar sudah mati?” tanya Maximo saat menemukan akta kematian Gerald yang bisa ia dapatkan dari situs daring milik pemerintah. Ia berusaha mencari informasi lain tentang Gerald dan ternyata semuanya mulai samar bahkan tidak ada data lain. Penyebab kematianpun tidak ia temukan.
__ADS_1
Maximo mencoba mencari keterkaitan Gerald dengan organisasi mafia yang ada di Los Angeles. Pencarian ini cukup sulit karena membobol data sesama mafia itu jauh lebih sulit disbanding membobol data milik pemerintah.
Kali ini Maximo berpikir cukup lama. Cara pertama ia lakukan dan gagal, lalu cara kedua juga cara ketiga, juga masih gagal. Tidak ada data Gerald di organisasi mafia manapun. Ia hanya seorang pengangguran yang suka berjudi di tempat judi kecil. Taruhannya pun tidak pernah lebih dari lima ratus dolar.
Namun, semakin tersembunyi dan terbatasnya informasi tentang Gerald, Maximo semakin penasaran. Ia sangat yakin kalau data Gerald mungkin disembunyikan atau dihapus oleh seseorang yang tidak ingin mengungkap siapa Gerald sebenarnya.
Semakin jauh berselancar didunia maya, Maximo menemukan satu foto yang menurutnya menyebalkan. Foto Samantha dan Gerald yang tidak terlalu jelas saat mereka masih berseragam sekolah.
“Mereka saling mengenal sejak kecil. Apa mereka sepasang kekasih?”
Dada Maximo mendadak panas membayangkan kalau Samantha sudah bersama dengan laki-laki itu sejak dulu. Panjang sekali waktu yang Samantha lewati bersama laki-laki itu. Sementara dengannya?
“Sial!” dengkus Maximo. Ia jadi teringat lagi rintihan nikmat Samantha saat ia mengecupi lehernya. Gadis itu memanggil nama Gerald penuh gairah. Bayangan ekspresi Samantha yang memimpikan Gerald sedang melakukan semuanya sungguh menyiksa pikiran dan hati Maximo.
Lelaki Jantan itu mengambil botol minumannya lalu meneguknya. Rasa pahit yang berujung manis itu terasa lebih manis dibanding rasa pahit membayangkan kedekatan Samantha dengan Gerald. Lalu sejauh apa hubungan mereka?
Apa karena kematian laki-laki ini pula yang membuat Samantha berpikir untuk membunuhnya?
*****
__ADS_1