Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Memancing rasa sakit


__ADS_3

Di beranda kamarnya, saat ini Samantha terduduk seorang diri. Ia sengaja membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan membiarkan udara segar masuk. Ia memandangi langit malam yang dipenuhi bintang-bintang sambil mengusap-usap perutnya yang sesekali terasa berdesir. Bukan sebuah gerakan, hanya desiran halus di bawah perutnya.


Dokter yang memeriksa janinnya beberapa jam lalu, mengatakan kalau itu karena gerakan janin. Hanya saja belum terasa kuat karena ukuran janin yang masih sangat kecil. Detakan jantungnya normal dan kuat, gerakannya juga aktif. Yang terpenting dia tumbuh dengan baik dan sehat.


Samantha masih tersenyum haru saat mengingat kalau ia sedang berbadan dua. Ia tidak menyangka kalau saat ia jatuh ke lautan, janin ini sudah bersemayam di dalam rahimnya.


“Kamu benar-benar anak Maximo nak. Sangat kuat dan berani.” Samantha berujar lirih. Ia tersenyum kecil pada perut yang tengah ia pandangi. Entah anak ini mendengarnya atau tidak yang jelas ia hanya igin berbicara saja untuk mengungkapkan perasaannya.


“Kamu tahu nak, dady mu sangat posesif terhadapku. Dia sangat mencintaiku, tapi sering membuatku kesal karena bayangannya saja terus mengikutiku. Aku yakin, saat dia tahu aku mengandungmu, dia akan sangat menyayangimu. Tolong jangan rebut perhatian dia seluruhny ya."


"Saat ini kamu harus bersabar sedikit lagi, kita masih harus berjuang untuk keluar dari tempat ini. Aku akan melakukan segala cara supaya bisa keluar dari tempat ini, aku harap, kamupun mau berjuang bersamaku.” Hati Samantha berdesir lirih saat mengatakan kalimat itu. ia sangat ingin segera memberi tahu Maximo kalau ia masih hidup. Bukankah laki-laki itu akan mencemaskannya?


Berbekal tekad itu, Samantha berusaha beranjak dari kursi rodanya. Salah satu efek dari koma yang cukup lama, membuat kedua tungkanya ini lemah. Tetapi tidak ada alasan untuk Samantha menyerah. Ia mendekatkan kursi rodanya ke pagar beranda, lalu menurunkan satu per satu kakinya dengan kedua tangan. Ia juga menekuk pijakan kursi rodanya.


“Tenanglah Sam, tenang. Lakukan dengan perlahan dan hati-hati. Kamu pasti bisa.” Sambil mengatur napasnya, Samantha mencoba menyemangati dirinya sendiri. Ia berpegangan pada pagar lalu pelan-pelan mengangkat tubuhnya.


“Akh, sial!” Dengusan pelan terdengar jelas saat ia gagal mengangkat tubuhnya dan malah kembali terjatuh di atas kursi roda. Tetapi ia tidak lantas menyerah. Ia kembali berpegangan pada pagar dan kembali berusaha berdiri, tetapi malah terjatuh lagi.


Samantha berusaha menenangkan dirinya. Ia memandangi kedua kakinya yang lemah. Di pukul-pukulnya kedua kaki itu dari atas hingga ke bawah.


“Ayolah, rasakan sakit ini. Supaya kalian bisa berlari. Kalian bagian dari tubuhku, aku lah yang seharusnya mengatur kalian untuk bergerak atau diam. Bukan aku yang harus menyerah pada keinginan kalian!” Samantha memukuli kakinya dengan semangat. Sesekali ia mencubiti kaki kebas yang hilang rasa itu.


“Fokus Sam, kaki ini masih ada. Dia tidak bisa bergerak karena kamu tidak menggerakannya. Kaki ini memang tidak merasakan apa-apa, tapi dia kokoh. Tidak patah dan tidak terluka. Ini hanya tentang pikiranmu yang menganggap kaki ini lemah. Ayo bangunlah Sam! Bangun!!!” Samantha meneriaki dirinya sendiri dengan berapi-api. Masih belum terasa apa pun meski ia memukuli kakinya dengan kepalan tangannya yang kuat. Ia juga mencoba memukulnya dengan vas bunga yang ada di atas meja, hasilnya vas bunga pecah dan kakinya sedikit berdarah.


“Ayo Sam, kamu pasti bisa Sam. Kamu pasti bisa!” Samantha tetap memotivasi dirinya walau ia sadar kakinya belum merasakan apa pun. “Ayolah Sam, kamu tidak bisa berakhir di sini. Kamu tidak boleh berpisah dengan orang yang kamu cintai. Kamu juga tidak mungkin hidup dengan laki-laki yang hanya bisa menipumu. Ayolah Sam,” Samantha mulai terisak. Sungguh ia mulai putus asa dengan keadaannya. Darah yang mulai keluar dari lapisan kulitnya bercampur dengan air mata yang menetes tanpa diminta.


“Argh!” akhirnya Samantha kesal sendiri karena tetap tidak berhasil merasakan apapun meski kulit kakinya sudah ia gores dengan pecahan vas hingga berdarah. Sambil menangis, ia menggapai kembali pagar berandanya, berusaha meringkan tubuhnya seperti saat ia melayangkan tubuhnya di udara. Bukankah ia pernah mempelajarinya dalam taekwondo?

__ADS_1


Pelan-pelan kaki itu bisa bertahan. Meski tidak merasakan apapun pelan-pelan Samantha bisa berdiri sambil berpegangan pada pagar. Hanya saja ia belum bisa melangkah. Kakinya terlalu berat.


“Good job Sam, paling tidak kamu sudah membuktikan kalau kakimu masih kokoh dan tidak patah.” Samantha tersenyum puas. Ia berusaha kembali ke kursi rodanya, tetapi saat akan meraih tangan kursi roda, tiba-tiba saja kursi roda itu bergeser.


Brug!


“Akh!” Samantha mengaduh. Ia terjatuh di lantai dan kedua kakinya mengenai pecahan kaca. Telapak tangannya ikut terluka terkena serpihan vas. Beruntung ia tidak jatuh tengkurap karena kedua tangannya masih bisa menahan bobot tubuhnya.


“SAM!” Gerald datang di waktu yang tepat. “Astaga Sam, kamu kenapa?” Laki-laki itu segera menghampiri Samantha dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ia menggendong Samantha ke atas sofa yang ada di dalam kamar Samantha.


“Aku tidak apa-apa Gerald, hanya terjatuh. Tidak usah mempedulikanku.” Samantha mengibaskan tangan Gerald yang masih melingkar di pinggangnya.


“Kamu berdarah Sam, pasti sangat sakit.” Gerald memperhatikan kaki Samantha yang berdarah cukup banyak. Ia segera mengambil tissue dan mengelap darah di kaki Samantha. Tetapi darah itu tidak mau berhenti.


“Tidak perlu berlebihan Gerald, kakiku lumpuh dan mati rasa. Mana mungkin aku merasakan sakit.” Samantha berujar dengan sinis.


Akan tetapi seorang Samantha tidak terrenyuh. “Kamu meminta maaf untuk hal yang kecil, tapi melupakan kesalahan besar yang harusnya kamu sesali.” Lagi, kalimat Samantha terdengar semakin sinis.


“Kesalahan apa maksudmu? Aku sudah meminta maaf karena membohongimu, Sam. Apalagi yang kurang?!” Gerald mulai terpancing. Ia sampai beranjak dari tempatnya dan melempar tisue di tangannya dengan kasar. Ia juga menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu mengusapnya kasar. Tidak habis pikir dengan kemarahan Samantha yang tidak berkesudahan.


“Maksudku adalah, kamu melakukan kesalahan bukan hanya dengan membohongi dan menipuku. Kamu juga memisahkanku dari laki-laki yang aku cintai dan ayah dari anakku. Pulangkan aku ke rumah Maximo, Gerald!” Samantha berteriak keras pada Gerald.


“ARGH! TIDAK! Aku tidak akan pernah mengembalikanmu ke sisi maximo. Aku mencintaimu Sam. Kamu milikku sam, hanya milikku!! Dia sudah mengambil banyak hal dariku, maka aku tidak akan mengambalikan sesuatu yang berharga untukku juga untuknya!” tegas Gerald dengan dipenuhi teriakan kemarahan.


“Kamu picik Gerald. Sangat picik!” Samantha berdecik sebal pada laki-laki itu. Matanya menyalak penuh kekecewaan. Ia benar-benar tidak mengenali lagi sosok Gerald yang ada dihadapannya. Atau mungkin ia memang tidak mengenal siapa Gerald sebenarnya.


“Bukan aku yang picik, Sam. Tapi Maximo. Andai kamu tahu apa yang dia lakukan saat kamu seperti ini.” Gerald menghampiri Samantha dan mencengkram dagu wanita itu dengan kesal. Seperti pria ini telah gelap mata.

__ADS_1


“Aku tidak mempercayaimu Gerald. Aku yang paling mengenal Maximo di banding kamu atau siapa pun.” Samantha berujar dengan tegas.


“Oh ya? Kalau begitu kamu lihat ini,” Gerald mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Samantha.


“Lihat Sam, selain kamu sudah dianggap mati, laki-laki yang kamu cintaipun sedang berdansa dengan wanita lain. Waahh, laki-laki ini tampak menikmati momentnya bersama sang wanita. Kamu mengenalnya bukan?” Gerald berujar dengan puas saat menunjukkan foto Maximo yang sedang berdansa dengan Crystal. Jarak mereka sangat dekat, Crystal bahkan melingkarkan tangannya di leher Maximo. Tatapan keduanya lekat beradu.


Seketika, hati Samantha seperti patah dan terluka hingga pedih. Ia mengibaskan tangan Gerald yang mencengkram dagunya lantas memalingkan wajahnya. Ia sudah tidak mau lagi melihat foto-foto itu.


“Kamu sudah puas melihatnya Sam? Lihatlah, seperti ini perilaku laki-laki yang kamu cintai. Tidak lebih baik dariku.”


“DIAM!!!!” teriak Samantha dengan berapi-api. Ia menatap Gerald penuh kemarahan dan laki-laki itu hanya menyeringai seolah ia telah menang.


“Aku pemenangnya, Sam. Kenapa masih menolakku? Bukankah kita pernah memiliki perasaan yang sama? Apa salahnya mengulang perasaan itu dengan lebih dewasa?” raut wajah pria itu berubah sendu, menatap lekat sepasang mata hazel milik Samantha.


“Keluar,” pinta Samantha.


“Tidak, aku akan mengobatimu terlebih dahulu.” Gerald bersikukuh dengan mengambil tissue.


“KELUAR BRENGSEK!!!” Lagi Samantha berteriak tidak kepalang, hingga suaranya menggema di seisi ruangan kamarnya yang cukup luas.


Gerald pun berhenti. Ya, ia terpaksa berhenti setelah melihat Samantha yang terengah sambil memegangi perutnya yang menegang. Wanita itu menatap Gerald beberapa saat lantas mata beningnya meneteskan air mata yang tidak bisa ia tahan.


Samantha mengusap air matanya dengan kasar lalu memalingkan wajahnya dari Gerald. “Keluarlah Gerald, aku ingin beristirahat,” ucap gadis itu dengan terbata-bata.


Gerald hanya bisa tertunduk sambil menghembuskan napasnya kasar. Sejujurnya ia paham benar apa yang Samantha rasakan. Ia sebenarnya masih ingin menemani gadis itu, mengobati luka-lukanya. Tetapi sepertinya ia tidak bisa memaksakan keinginannya. Dengan berat hati laki-laki itu pun beranjak dan berjalan mundur keluar dari kamar Samantha. Membiarkan Samantha seorang diri sambil sibuk mengusap air matanya yang berjatuhan.


“Kamu brengsek Max! Aku pastikan kamu tidak akan bisa melanjutkan kehidupanmu dengan tenang,” batin Samantha seraya mengeram kesal. Prasangkanya berubah haluan. Seorang wanita yang cemburu memang bisa sangat menggila.

__ADS_1


***


__ADS_2