
Pagi itu Samantha bangun dalam keadaan kaget dan linglung. Saat membuka mata, yang ia lihat adalah foto Maximo dengan seekor singa Jantan yang sangat gagah, terpajang didinding. Mereka sama-sama menatap Samantha dengan tajam dan memberi lonjakan energi yang mengagetkan untuk jantungnya.
“Kenapa aku ada di sini?” Samantha bertanya pada dirinya sendiri. Segera bangkit untuk duduk dan melihat bajunya yang masih utuh didalam selimut, cukup membuatnya merasa lega. Artinya tidak ada yang terjadi semalam selain ia mabuk dan mendengar beberapa kali suara tembakan.
Sambil memeluk kedua kakinya yang terlipat, Samantha memperhatikan seisi kamar Maximo yang asing untuknya. Mata bulatnya menyelidik setiap sudut kamar yang wangi parfum khas Maximo. Ada jendela yang selalu tertutup, nyala lampu yang tidak terlalu terang, furniture yang tidak terlalu banyak, juga ruangan yang sangat luas dan didominasi oleh warna abu tua, ciri khas Maximo.
Samantha juga melihat sebuah bantal yang sama dengan yang ia pakai, ada diatas sofa. Itu artinya pria itu tidur diatas sofa, bukan di sampingnya. Suatu hal yang mengagetkan karena ternyata Maximo benar-benar menepati apa yang sudah ia janjikan. Ia tidak menyentuh Samantha sedikitpun malah membiarkan ia bermimpi tentang Gerald hingga inti tubuhnya terasa basah. Kepalanya sedikit pusing karena mabuk semalam. Ia menggaruk kepalanya membuat rambut ikalnya berantakan.
Hah, mimpi yang sangat indah semalam ia alami bersama Gerald. Laki-laki yang begitu ia rindukan dan bayangannya masih seperti nyata. Yan, semuanya terasa seperti nyata saat Gerald menciumnya dan memeluknya juga memberikan sapuan lebut diperutnya yang membuat Samantha enggan menolak sentuhan Gerald berikutnya. Ia terbuai.
Samantha mengusap lehernya sendiri yang masih meremang saat mengingat bagaimana Gerald mengecupi lehernya dengan nikmat dan memberikan jejak kepemilikan dikulit lehernya yang putih. Juga kecupannya yang dalam, seolah ingin ******* habis bibir Samantha yang sekarang terasa kering dan ia jilat untuk membasahinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada kedua kaki yang ia peluk sambil tersenyum-senyum sendiri mengenang mimpi indahnya semalam.
Sekali waktu, Samantha menoleh ke sebelah kiri. Ia melihat pantulan dirinya dari sebuah cermin tinggi yang nyaris setinggi Samantha. Matanya sedikit memincing saat melihat sesuatu dilehernya.
“Apa ini?” Samantha terlonjak kaget melihat berkas kemerahan yang ada dilehernya. Tidak hanya satu, melainkan dua atau tiga dan ternyata banyak.
“Astaga, kenapa banyak sekali?” Samantha kaget sendiri. Ia sedikit menurunkan bajunya dan ternyata berkas merah itu sampai ke dadanya nyaris mengenai gundukan sintal didada kirinya.
“Siapa yang melakukan ini? Tidak mungkin hantunya Gerald 'kan?” Samantha panik sendiri.
Tidak lama berselang, seseorang masuk ke kamar Maximo, ya dia pemiliknya. “Kamu sudah bangun?” Maximo bertanya tanpa menatap Samantha. Ia masih kecewa dengan kejadian semalam. Susah payah ia menidurkan adiknya yang sudah terbangun.
“Maximo, apa yang terjadi semalam?” tanya gadis itu dengan segera.
“Semalam?” Maximo balik bertanya dan menatap Samantha penuh selidik. Entah apa yang ingin diketahui gadis ini.
__ADS_1
“Iya, semalam!” Samantha menghampiri Maximo dengan segera sampai Maximo terhenyak kaget dengan sikap agresif Samantha. Lihat saja matanya yang membulat penasaran dan langkahnya yang cepat menuju Maximo.
“Ya apa lagi, semalam kamu mabuk. Memangnya kamu tidak ingat apapun?” Maximo balik bertanya. Ia tidak mau salah menjawab.
“Aduh, iya aku mabuk dan aku tidak ingat apapun.” Samantha mengguyar rambutnya kasar, tidak ada ingatan sedikitpun dibenaknya, sepertinya gadis ini masih linglung.
“Kenapa kamu sepanik ini? Bukannya seorang wanita malam sudah terbiasa bertemu dengan hal semacam ini? Mabuk-mabukan, ditiduri klien. Mungkin hanya aku klien mu yang paling ramah dan baik hati.” Bisa-bisanya Maximo malah meledek dengan memuji dirinya sendiri.
“Aku tidak sedang bercanda Maximo!” Samantha mengeram kesal.
“Aku juga tidak bercanda!” Maximo balas menggertak. Mata Samantha membulat tidak terima, tangannya sampai mengepal ke udara.
“Iya, tenang -tenang. Kenapa kamu seperti ingin menerkamku? Aku tidak melakukan hal buruk terhadapmu.” Nyali Maximo manciut melihat ekspresi Samantha yang ternyata bisa segarang itu. Maximo masih berpikir, memangnya dia perawan sampai sepanik itu membayangkan ditiduri seorang laki-laki?
“Lalu siapa yang melakukan ini?” Samantha menunjukkan berkas merah dilehernya.
“Kamu yakin?” Samantha semakin mendekat pada Maximo.
“I-Iyaa, aku yakin.” Sulit sekali untuk membohongi gadis yang sedang menatap Maximo dengan tidak percaya. Atau mungkin Maximo bukan seorang pembohong yang baik.
“Kemari!” Samantha menarik Maximo mendekat. Maximo menurut saja, gadis itu menatap Maximo lalu memandangi bibir Maximo. Dengan ibu jarinya ia menyentuh bibir Maximo lalu menoleh bayanganya di cermin. “Bentuknya cukup mirip,” gumam Samantha.
“Kamu menuduhku?!” Maximo langsung berseru.
“Astaga! Kenapa kamu mengagetkanku Maximo!” Samantha sampai terlonjak karena analisa yang berjalan diotaknya terputus begitu saja oleh seruan Maximo.
__ADS_1
“Bukan aku yang melakukannya, mungin Gerald!” Ada rasa kecewa dari kalimat yang dikatakan Maximo.
“Darimana Kamu tau nama itu?” Samantha menatap Maximo penuh selidik.
“Ya aku tau karena kamu semalam berkata, ‘Ah Gerald, aahh… Gerald’” Maximo mencontohkan rintihan nikmat yang keluar dari mulut Samantha.
“Itu menjijikan Samantha!” imbuhnya dengan kesal.
Samantha tidak lagi menimpali, ia memikirkan benar ucapan Maximo. Ia memandangi lagi bayangannya dicermin dan wajahnya berubah murung.
“Apa hantu Gerald begitu merindukanku?” Ia bertanya dengan sedih.
“Hantu? Mana ada hantu menciummu sampai berbekas begitu!” Maximo tidak terima dengan istilah hantu yang digunakan Samantha pada dirinya.
“Tunggu, maksudmu laki-laki bernama Gerald itu sudah mati?” Maximo balik bertanya. Ia sepertinya baru sadar.
Samantha segera mengatupkan mulutnya. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu pada Maximo?
“Aku tidak tahu!” seru Samantha yang memilih pergi dan tidak membahas masalah ini lagi.
“Hey, Samantha! Kita belum selesai bicara? Kamu harus menjelaskan sesuatu! Hey!” panggil Maximo pada gadis cantik itu. Namun Samantha tetap memilih pergi. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan.
“Jadi Gerald itu sudah mati?” gumam Maximo seraya memandangi pintu yang terbuka, tempat keluarnya Samantha.
Sungguh, seorang Samantha semakin membuatnya penasaran.
__ADS_1
****