
“Ups! Apa aku mengganggu?” tanya seseorang yang berdiri dipintu dan menatap Samantha juga Maximo bergantian. Ia tersenyum kecil, tetapi lantas berubah dingin. Acuh saja ia dengan sikapnya yang tenang dan tanpa rasa bersalah meski telah merusak moment dua orang dihadapannya.
Samantha segera menurunkan tangannya yang melingkar di leher Maximo. Juga merapikan gaun tidurnya yang sudah ditarik kesana kemari oleh tangan jahil Maximo. Maximo menurunkan tubuh Samantha dan menutupi tubuh wanitanya dengan jas yang tersampir dikursi kebesarannya.
“Ada apa?” tanya Maximo yang merasakan kekecewaan lebih besar dibanding Samantha saat melihat kedatangan orang tersebut.
“Harusnya kamu mengunci pintu kalau mau atraksi seperti itu.” Seorang wanita melenggang masuk ke dalam ruang kerja Maximo dan duduk disalah satu sudut sofa. Siapa lagi kalau bukan Crystal, yang merasa punya akses VIP masih ke rumah Maximo, termasuk area privasinya.
“Aku tidak menyangka kalau sekarang kamu bisa bermain-main dengan wanita seperti ini.” Kalimat Crystal terdengar mengejek, ia tersenyum sinis menatap Maximo lalu terkekeh.
“Wanita seperti apa maksudmu? Mungkin Maximo bukan tidak tertarik pada wanita tetapi tergantung siapa wanitanya. Kalau itu aku, jelas Maximo bisa, kalau yang lain, aku tidak yakin.” Samantha yang menimpali dengan penuh percaya diri. Ia juga kesal atas kedatangan Crystal yang tiba-tiba dan seolah merendahkannya.
Maximo menahan senyumnya dalam hati, ia pikir Samantha akan memerlukan pembelaannya, tetapi ternyata gadisnya bisa membela dirinya sendiri. Rasanya ia ingin bertepuk tangan atas keberanian menghadapi Crystal sang putri mafia. Padahal dari sorot matanya saja sudah jelas kalau kehadiran wanita ini sangat mengancam.
Crystal tidak menimpali, ia hanya tersenyum sinis pada Samantha, sambil menatap sosok wanita cantik itu dari atas hingga ke bawah. Samantha tidak kalah diam, ia malah berpose dihadapan Crystal lalu menempatkan satu tangannya melingkar di lengan Maximo, lalu mengecup bibir laki-laki itu dan ********** sebentar sambil tetap melirik Crystal.
"Ck!" Crystal berdecik sebal sambil memalingkan wajahnya. Terlihat sekali kalau wanita Maximo yang satu ini sedang menantangnya.
“Urusan kita belum selesai, kamu tau dimana harus mencariku kan?” ucapnya seraya mengusap wajah Maximo dan mengedipkan mata kanannya dengan genit. Setelah itu ia pergi meninggalkan Maximo dan temannya.
Maximo masih memandangi Samantha hingga keluar kamarnya, lalu menjilat bibirnya yang masih merasakan manis bibir Samantha. Gadis itu benar-benar beracun dan memabukkan. Maximo ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Crystal dan segera menyusul wanita cantik itu.
“Ada apa?” lagi Maximo mengulang kalimatnya. Ia bersandar ke meja kerjanya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
__ADS_1
Crystal memilih beranjak dari tempatnya dan menghampiri Maximo. “Kamu bersungguh-sungguh dengan wanita itu?” diusapnya tangan Maximo yang berotot dan menjadi favoritnya. Sayangnya Samantha yang lebih dulu memegangnya.
“Katakan tujuanmu, waktuku tidak banyak.” Maximo mengibaskan tangan Crystal dan memilih berpindah tempat dengan duduk dikursi kerjanya. Ia tidak suka berbasa-basi terlebih ia tahu kalau Samantha menaruh rasa cemburu pada wanita ini.
Crystal memandangi tangannya yang dikibaskan Maximo, rasanya sangat menyebalkan diabaikan oleh laki-laki ini selama bertahun-tahun.
Namun sudahlah, ia yakin kalau kelak ia akan mendapatkan waktu yang lebih tepat untuk menjadi wanita Maximo. Ia hanya perlu menyusun rencana yang bagus.
“Aku dengar, kamu mengadakan pertemuan dengan mafia tetua. Apa itu benar?” Crystal masih tetap berdiri dihadapan Maximo. Satu tangannya berkacak pinggang sementara satu tangan lainnya bertumpu pada meja kerja Maximo.
Maximo tidak lantas membalas. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sambil berpikir, dari mana Crystal mengetahui pertemuannya dengan mafia tetua padahal hal itu ia rahasiakan. Ia tidak menyangka kalau ternyata ada yang membocorkan pertemuan rahasianya.
“Aku punya urusanku sendiri, yang tidak harus semua orang tau. Termasuk William dan kamu.” Maximo menjawab dengan diplomatis.
“Bukan urusanmu.” Maximo memilih memalingkan wajahnya.
“Ayolah Max, kenapa masih harus merahasiakan hal semacam ini? Kelak kita akan menjadi keluarga. Ayahmu sudah berjanji akan menjadikanku sebagai nyonya Cortez. Mana mungkin kamu mengingkarinya? Jangan bermain rahasia denganku, itu tidak baik untuk hubungan kita.” Crystal menggunakan telunjuknya untuk mengusap leher Maximo lalu turun ke dadanya. Ia berusaha mengingatkan janji kedua orang tua mereka.
“Tidak masalah kamu mau bermain-main dengan wanita manapun, karena pada akhirnya kamu akan kembali kepadaku. Benarkan?” Wanita itu kukuh dengan pendiriannya, kalau Maximo hanya miliknya.
“Aku tidak lupa. Hanya saja aku tidak berkeinginan untuk memenuhinya.” Kembali Maximo mengibaskan tangan lancang Crystal.
“Apa maksudmu?” Crystal segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak terima dengan ucapan Maximo.
__ADS_1
“Aku tidak bermaksud apa-apa. Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak berniat memenuhi perjanjian orang tua kita. Lagi pula, yang saat itu dijanjikan untuk dijodohkan denganmu adalah anak tertuaku, yang berarti Michael, bukan aku.” Maximo menjawab dengan penuh percaya diri.
“Tapi Michael sudah mati. Mana mungkin aku dijodohkan dengan orang mati?” Crystal tidak terima.
“Aku tidak bilang kamu dijodohkan dengan orang mati. Coba pikir dari sudut pandang lain, kalau Michael sudah mati, itu berarti perjanjian kedua orang tua kita oun sudah tidak berarti apa-apa.” Maximo dengan santai menjawab.
“Kamu bebas memilih laki-laki mana yang mau kamu nikahi dan itu bukan aku.” Maximo bersikukuh dengan ucapannya.
“Brengsek!” seru Crystal tidak terima. Ia mengeram kesal sementara Maximo terlihat santai saja.
“Kalau tujuanmu hanya ingin marah-marah, sebaiknya kamu pergi. Aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat.” Ucap Maximo sambil pura-pura menguap.
“Brengsek!” lagi Crystal mengumpat kesal. Wanita itu segera beranjak pergi setelah menatap Maximo dengan tidak suka.
“Kita lihat, siapa yang nanti akan menyesal.” Tidak lupa Crystal memberikan ancaman para pria tampan itu. Ia sudah bertekad untuk membuat Maximo menyesal.
Maximo tidak bergeming sedikitpun, ia tidak peduli dengan ancaman Crystal, karena baginya kekuatan Crystal tidak pernah sebanding dengan dirinya. Apa yang harus ia takutkan?
"Pintunya ada disebelah sana, akses VIP untukmu." Maximo menunjuk pintu keluar dari ruang kerjanya dan Crystal hanya mendengus lalu pergi dengan penuh kemarahan.
****
__ADS_1