Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Saling melepaskan


__ADS_3

Pertemuan dengan William ternyata berakhir tegang. William dan Maximo sama-sama menodongkan senjata untuk satu sama lain. Posisi mereka sama-sama terancam. Secara jumlah orang, sudah jelas William kalah di banding Maximo. Ia melihat ke sekelilingnya, pintol-pistol itu sudah siap menyarangkan peluru di tubuhnya, sementara ia belum siap untuk mati.


Terpaksa William menurunkan senjatanya. Untuk sementara ia harus mengubur rasa kesalnya dalam-dalam karena ada hal yang lebih penting, yaitu memeriksa kondisi putrinya terlebih dahulu.


“Lain kali aku akan membunuhmu dengan cara yang sangat kejam, Max.” Laki-laki itu masih sempat mengancam Maximo.


“Aku penasaran kapan waktu itu datang.” Maximo menjawab dengan santai. Ia memberikan ponsel William pada Paul untuk di periksa dengan seksama.


“Di mana putriku?” Laki-laki ini sangat mencemaskan putri semata wayangnya.


Maximo tidak menimpali, ia berjalan di depan William, menunjukkan arah untuk pria tua itu. Samantha dan Paul mengikuti dari belakang. Mereka bernapas lega karena akhirnya tidak ada baku tembak yang terjadi.


Di lantai empat saat ini mereka berada. Maximo membawa William masuk ke ruang kerjanya dan nampaklah Crystal yang terbaring di atas sofa. Gadis itu memajamkan matanya dengan rapat. William segera menghampiri putrinya, duduk bersimpuh di samping tubuh sang anak sambil mengucap syukur dalam hati. Dikecupinya tangan Crystal yang sangat dingin.


“Dia hanya tertidur karena efek obat. Setelah enam belas jam dia akan tebangun. Mungkin bisa lebih cepat karena dia pengguna aktif obat-obatan terlarang.” Maximo menjelaskan tanpa di minta. Ia berdiri bersandar pada meja kerjanya sambil memandangi pria itu. William benar-benar cemas dan memeriksa tubuh putrinya dengan seksama.


“Bagaimana kamu bisa mengenal pengedar obat itu?” Maximo melanjutkan rasa penasarannya untuk membahas pria yang memberi William obat penawar.


“Dia yang menghubungiku saat ingin membeli salah satu Casino milikku.” William menjawab dengan sesungguhnya, lalu duduk di sofa, tepat di samping kaki putrinya.


Segelas wyne di tuangkan Paul untuk William dan laki-laki itu tampak waspada saat melihatnya. Mungkin takut diracuni.


“Aku bukan pengecut yang membunuh lawan dengan racun.” Maximo menegaskan hal itu. Ia merentangkan satu tangannya sebagai isyarat agar wanita yang ada di pintu itu mendekat padanya. Samantha menghampiri pria itu dan berdiri di samping Maximo. Senjatanya ia taruh di atas meja, tidak terlalu jauh.


“Aku rasa ada yang sedang berusaha mengadu domba kita,” ucap William seraya menatap Maximo dengan tajam.


Maximo mengangguk pelan, ia sudah menduga hal itu. Ia memang merasa kalau belakangan ini banyak hal tidak beres yang terjadi di sekitarnya. Termasuk soal penyerangan pada kediamannya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


“Laki-laki itu memintaku untuk membunuhmu. Tapi sepertinya aku gagal dan laki-laki itu akan menagih janjinya padaku.” William yang gelisah meneguk kembali minumannya dengan gusar. Sulit sekali membuat cairan pahit itu masuk ke perutnya.


“Lalu, kamu akan melakukannya?” Maximo menantang laki-laki tua itu.


“Kali ini tidak, sebagai bentuk penghomatanku pada mendiang sahabatku. Tapi kalau ada kesempatan lain yang membuat kita bersitegang karena kamu melakukan kesalahan semacam ini, aku tidak segan untuk melakukannya.”


Maximo tersenyum kecil mendengar jawaban pria tua dihadapannya. William memang selalu arogan, tetapi Maximo tahu persis batasan laki-laki ini.


“Jangan mengusikku, karena aku tidak segan untuk membalasmu.” Maximo memberikan peringatan yang sebanding dan membuat laki-laki itu bungkam. Ia tahu persis bagaimana cara Maximo menyelesaikan masalahnya.


Dua laki-laki itu bertatapan dengan dingin. William sebenarnya ingin mengatakan kalau laki-laki itu mungkin Michael, tetapi ia tidak punya bukti kuat atas pernyataannya. “Bagaimana kalau ternyata saudara-saudaramu masih hidup dan menginginkan kerajaan bisnis Cortez, apa kamu akan memberi mereka bagian?” William iseng bertanya untuk tahu pandangan pria dihadapannya.


“Kamu mencium keberadaan mereka?” Maximo lebih suka kejelasan di banding pengandaian.


“Entahlah, tapi aku berpikir mungkin saja mereka masih hidup dan berada di suatu tempat. Sedang menunggu kedatanganmu untuk menyelamatkan mereka atau bisa saja sedang menyusun rencana untuk menjatuhkanmu. Aku tidak tahu persis apa yang mereka pikirkan, tetapi bagi mereka mungkin Cortez tidak cukup adil memperlakukan kalian bertiga.” Kalimat William cukup panjang kalau di anggap sebagai peringatan, ini lebih pada kecurigaan yang ia sembunyikan.


Sepeninggal William dan putrinya, Maximo duduk termenung seorang diri di ruang kerjanya. Sambil memandangi foto ia dengan kedua saudaranya, pikiran Maximo berkelana juah tidak tentu arah. Hanya segelas wyne yang menemaninya mengurai benang kusut semua kejadian yang belakangan menimpanya.


Banyak hal yang sedang ia pikirkan, tetapi belum ada ujung yang ia temukan. Semuanya masih sulit untuk ia urai. Pertanyaan William beberapa saat lalu tentang saudaranya, membuat Maximo membayangkan kalau mungkin saja dua saudaranya itu ternyata memang masih hidup. Bagaimana kalau mereka benar-benar membutuhkan bantuan Maximo? Apa mereka kesulitan untuk kembali?


Hah, Maximo jadi gelisah. Ia meneguk lagi minumannya walau rasa cemasnya tidak lantas hilang. Pikiran yang tidak ada ujungnya membuat pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Samantha. Biasanya perasaannya jauh lebih baik setelah menemui Samantha.


“Nona Samantha sedang beristirahat tuan. Beliau masih belum mau makan.” Kalimat itu yang Maximo dengar dari Nora, pelayannya. Perempuan itu baru keluar dari kamar Samantha.


“Aku akan menemuinya,” timpal Maximo yang melanjutkan langkahnya menuju kamar Samantha.


Pintu kamar itu tertutup rapat. Saat Maximo membukanya, ia melihat Samantha sedang berdiam diri di balkonnya, memandangi ujung dedaunan cemara yang akan segera menghitam di telan senja sore.  Ia memeluk tubuhnya sendiri yang terasa tidak nyaman.

__ADS_1


“Apa yang membuat wanitaku tidak mau makan?” Tangan maximo terulur melingkar di pinggang Samantha lalu memeluk wanita itu dari belakang. Tubuh Samantha sempat terhenyak, kaget tetapi segera sadar saat ternyata Maximo yang memeluknya.


Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Maximo dan Maximo dengan senang hati mengecupi leher Samantha hingga ke pucuk kepalanya.


“Bagaimana urusanmu dengan William? Apa dia masih berniat membunuhmu?” Samantha penasaran dengan hal itu. Ia melihat kesungguhan di mata William saat mengatakan suatu hari akan membunuh Maximo.


“Tidak perlu kamu cemaskan. Selama ini, tidak hanya William yang ingin membunuhku dan seperti yang kamu lihat, hingga saat ini aku masih baik-baik saja. Jadi jangan berpikir terlalu jauh.” Kali ini Maximo melingkarkan tangannya di leher Samantha. Gadis itu menoleh dan Maximo mengecup bibirnya dengan lembut.


“Aku mengkhawatirkanmu, Max.” Samantha begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Aku bisa merasakan itu. Tapi, jangan sampai rasa khawatir itu yang membunuh kita pelan-pelan. Sampai sekarang kamu belum mengisi perutmu, apa kamu mau kalah begitu saja dengan intimidasi dan ketakutan yang diciptakan orang-orang di luar sana?” Maximo mengeratkan pelukannya dan perlahan mengusap perut Samantha yang rata.


Gadis itu menggeleng, “Tidak,” sahutnya.


Maximo tersenyum kecil, ia menyentuhkan hidungnya ke hidung Samantha, membuat tubuhnya cukup melengkung mengimbangi tinggi tubuh Samantha. Ia sangat suka menghirup napas Samantha yang membuatnya merasa hidup.


“Ayo kita makan malam di luar. Aku rindu berjalan berdua bersamamu dan duduk berhadapan di meja bertaplak merah dengan suasana yang romantis.” Laki-laki itu membisikkan hal indah di telinga Samantha.


Samantha tersenyum kecil, hembusan napas Maximo di telingannya, membuat bulu kuduknya meremang, namun ia menikmati hal ini.


“Hem, aku akan bersiap-siap. Kamu mau aku memakai baju warna apa?”


"Akan lebih baik tanpa sehelai benang pun," balas Maximo.


Samantha hanya tergelak mendengar ucapan prianya. Ia membiarkan Maximo mengecup jemarinya sebelum melepaskan tangannya dan membiarkannya pergi untuk bersiap-siap. Maximo bisa bernapas lega karena akhirnya berhasil membujuk Samantha untuk makan. Tugas Paul lah untuk menyiapkan tempat makan yang romantis dan luar biasa.


"Paul, tolong pilihkan tempat yang nyaman untuk mereka."

__ADS_1


****


__ADS_2