
Di rumah sakit, Samantha di sambut oleh Paul yang sudah menunggunya di depan ruang perawatan. Laki-laki itu duduk terpekur di atas kursi rodanya dengan perasaan khawatir terhadap kondisi tuan besarnya.
“Anda dari mana nona? Apa anda baik-baik saja?” Paul juga mengkhawatirkan Samantha yang terlihat berlari tanpa alas kaki.
“Aku pergi untuk memeriksa sesuatu,” ucap Samantha dengan tergesa-gesa. Tubuhnya berkeringat dengan rambut yang berantakan. Ia mencepol rambutnya begitu saja menggunakan sumpit yang ia temukan di meja hotel.
“Bagaimana keadaan Maximo? Apa dia sudah membaik?” Kekhawatirannya pada Maximo kembali bertambah.
Paul menggeleng lemah. “Belum nona, tuan besar belum membaik. Tubuhnya masih sangat lemah. Dokter mengatakan, dari hasil pemeriksaan, terdapat gangguan syaraf yang belum diketahui penyebabnya. Saya khawatir tuan besar akan mengalami kelumpuhan.” Paul tampak terpukul dengan kondisi Maximo yang hanya bisa terlentang di atas ranjangnya.
“Tenanglah Paul, Maximo akan segera sembuh. Aku yakin, saat ini dia hanya diracuni.” Samantha berujar dengan penuh kesungguhan.
“Diracuni? Seperti apa maksud Anda nona?” Paul segera menoleh dengan wajahnya yang kaget.
“Ssstt, kecilkan suaramu.” Samantha merendahkan suaranya. Ia duduk di samping Paul dengan jarak yang sangat dekat.
“Bagaimana Anda bisa mengira kalau tuan besar diracuni, Nona?” Paul semakin penasaran. Kalimatnya pelan, tetapi penuh penekanan.
__ADS_1
Samantha menunjukkan sebuah plastik yang didalamnya ada gelas dan cairan bening sedikit kekuningan. “Maximo pernah berkata kalau di dunia mafia ada sebuah obat dengan tiga varian, namanya trycyclo. Obat itu adalah racun. Obat jenis pertama bisa menyebabkan tubuh peminumnya membusuk dari dalam. Jenis kedua bisa menyebabkan kerusakan syaraf bagi peminumnya. Dan jenis ketiga, bisa menyebabkan kematian. Aku khawatir Maximo meminum salah satu jenis racun itu. Ini adalah gelas yang digunakan oleh Maximo dengan sisa wyne di dalamnya. Segeralah periksa, agar kita tahu hasilnya.” Samantha menyerahkan plastik itu pada Paul.
"Baik, nona." Paul segera menerimanya. Ia memanggil seorang pengawal dan memberinya beberapa perintah. “Pastikan tidak ada yang tahu tentang hal ini.” Itu kalimat terakhir yang Paul pesankan sebelum pengawal itu pergi untuk menemui salah satu kenalan Maximo.
Pengawal itu menurut saja. Ia segera pergi menuju tempat yang telah diperintahkan Paul.
“Menurut Anda siapa pelakunya, Nona?” Paul kembali bertanya. Saat ini hanya Samantha dan dirinya yang bisa diandalkan untuk memecahkan masalah ini.
“Aku tidak terlalu yakin. Di tempat kejadian ada banyak sekali orang. Kita harus memeriksa, kalau ada pengunjung lain yang mengalami hal yang sama dengan Maximo, maka pelaku meracuni seluruh minuman. Tetapi kalau pengunjung lain tidak mengalami hal yang sama, maka hanya minuman Maximo yang diracuni.” Samantha baru menyimpulkan satu benang merah yang bisa ia tarik.
“Saya akan meminta pengawal untuk menyelidiki apakah ada yang mengalami seperti yang tuan besar alami atau tidak.” Paul menimpali dengan penuh semangat.
“Siapa, Nona?” Paul semakin mendekat pada Samantha.
Samantha memejamkan matanya beberapa saat untuk meyakinkan dirinya sendiri. “William dan putrinya,” ujar gadis itu dengan penuh keyakinan.
“Bagaimana Anda bisa menduga pelakunya adalah tuan William? Beliau tidak di undang di acara itu.” Paul mulai ragu dengan keterangan Samantha.
__ADS_1
“Tepat sekali! William memang tidak kita undang. Tapi asal kamu tahu, laki-laki itu datang setelah Maximo meghabisi beberapa orang Maximo palsu. Laki-laki itu menunjukkan kekecewaannya karena tdak di undang dan mengajak Maximo untuk minum. Aku ingat persis kalau dia sendiri tidak sempat minum, begitupun dengan putrinya dan aku. Hanya maximo yang minum dan hampir habis. Itulah mengapa aku sangat yakin kalau pelakunya adalah laki-laki tua itu.” Ucapan Samantha sangat tegas. Tatapannya pun tajam saat ingatan tentang William dan Maximo berputar dikepalanya.
“Astaga, bagaimana mungkin? Tuan William bersahabat baik dengan tuan Cortez.” Paul mengusap wajahnya tidak habis pikir.
“Memangnya apa yang tidak mungkin? Walaupun terlihat dekat tetapi mereka bermusuhan. Dan musuh Maximo itu banyak selain itu,” Samantha tiba-tiba terdiam. Ia sadar akan ucapannya sendiri. Benar, musuh Maximo itu banyak salah satunya adalah Wilson. Ya, Wilson dan Alicia ada di tempat itu, tetapi apa mereka mungkin melakukannya? Bagaimana caranya?
“Ada apa, Nona?” Paul memperhatikan Samantha yang termenung tiba-tiba. Samantha sampai terhenyak karena kaget, membayangkan kalau apa yang ia pikirkan benar adanya. Apa mungkin Alicia berkhianat padanya? Atau Alicia pun ditugaskan untuk meracuni Maximo?
Aakhh, kepala Samantha mendadak pusing karena semakin banyak dugaan dalam benaknya yang membuat ia mulai merasa sangat mual. Seperti ada himpitan besar yang menekan kepalanya.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?” Paul ikut khawatir dengan apa yang mungkin terjadi pada wanita cantik yang wajahnya berubah pucat.
“Sebaiknya, pastikan dulu isi kandungan minuman itu lalu, kita cari obatnya. Tapi untuk sementara, menurutku sebaiknya kita rawat Maximo di rumah saja? Aku khawatir ada musuh yang tahu dengan kondisi Maximo yang seperti ini dan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan Maximo. Kita tidak tahu kalau mungkin ada musuh yang berkeliaran di sekitar kita.” Samantha jadi paranoid. Ia tidak mempercayai siapapun termasuk para dokter di rumah sakit ini.
“Maximo punya dokter pribadi yang hebat kan?” Samantha ingin meyakinkan.
“Ada Nona. Saya sepakat dengan Anda, sebaiknya tuan besar kita rawat di rumah.” Paul mengiyakan ajakan Samantha. Baginya ini lebih aman untuk Maximo.
__ADS_1
Sam, kita berpikir terlalu banyak hari ini. Aku jug merasa sakit kepala.
***