
Peluru berjatuhan di lantai dan suara tembakan bersahutan menembaki pintu lift yang berhenti di lantai empat. Perlahan pintu lift terbuka dan tampaklah sesosok tubuh yang tergolek tidak berdaya dengan luka tembak di sekujur tubuhnya.
“BERHENTI!” seru Richard. Di detik yang sama, semua senjata di turunkan karena musuh sudah berhasil dilumpuhkan. Langkahnya mengendap-endap mendekati mayar tersebut.
“SIAL!” Richard berseru kemudian saat melihat ternyata yang mereka tembaki bukan tubuh Samantha, melainkan tubuh seorang agent yang berhasil di lumpuhkan oleh wanita itu dan dimasukkan ke dalam lift untuk mengalihkan perhatian mereka. Harus Richard akui, cerdik juga strategi gadis itu.
Richard mengeram kesal, karena merasa dikelabui oleh wanita itu. Ia pikir Samantha lawan yang mudah, ternyata wanita itu sangat licin, penjaga di bawahpun sudah habis dibantainya.
“Cari perempuan itu di seluruh markas. Kalian boleh menembaknya kalau dia melawan.” Richard benar-benar geram. Tindakan wanita itu membuat ia dan rekan-rekannya terlihat bodoh di mata Wilson, bos mereka.
Saat itu juga semua penjaga berhamburan, berbagi tugas untuk menyisir setiap sudut markas yang memiliki enam lantai.
Sementara itu, Samantha masih berusaha meloloskan dirinya dari para penjaga yang sedang mencarinya. Dia terus berusaha untuk menghindari banyak CCTV dan terus mencari keberadaan Alicia. Ia sangat yakin kalau wanita itu masih berada di dalam gedung ini. Usaha penjaga untuk mencegahnya masuk seolah meyakinkan kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi di tempat ini dan tidak boleh diketahui oleh Samantha.
Menaiki anak tangga, Samantha tiba di pintu darurat lantai tiga. Keluar dari sana, ia melihat beberapa ruangan gelap tanpa pintu. Samantha memeriksa satu persatu ruangan itu. Semua ruangan di lantai ini gelap dan kotor juga lembab. Sesekali Samantha mendengar suara derap langkah dan ia segera bersembunyi di balik dinding. Tidak ada yang terdengar selain suara napasnya sendiri.
__ADS_1
“Kalian ke arah utara, kita ke selatan.” Salah satu penjaga memberi instruksi. Mereka mulai berpencar dan satu orang masuk ke ruangan yang ditempati Samantha. Gelapnya ruangan itu membuat laki-laki tersebut tidak bisa melihat sosok Samantha yang berada di ruangan yang sama dengan mereka. Pria itu menodongkan senjatanya ke segala arah sampai kemudian,
BUK! Samantha memukul leher pria itu dengan senjatanya.
“Äkh,” Laki-laki itu langsung terhuyung dan jatuh bertekuk lutut tanpa sempat melihat wajah samantha. Pukulan atlet taekwondo ini memang sangat keras. Selain itu, ia juga menarik tubuh laki-laki itu, menempelkan senjatanya di dada laki-laki itu lalu menembaknya dengan cepat. Suara tembakan terredam sempurna, hanya tubuh pria itu saja yang terjatuh di lantai dengan bersimbah darah.
Selesai dengan pria itu, Samantha segera menuju ruangan lain. Dia berjalan mengendap-endap dan tetap siaga. Suara tembakan tiba-tiba terdengar dan nyaris saja mengenai kepala Samantha. "Dia di sebelah sana!"
Samantha segera merunduk, untungnya tembakan itu mengenai dinding di sebelahnya. Samantha berlari menuju tangga. Tangga ini terhubung dengan lantai empat. Tidak ada apa-apa di lantai itu selain barang-barang rusak yang sudah tidak terpakai. Sebentar saja samantha memeriksanya lalu segera pergi ke anak tangga berikutnya.
Di lantai lima, ada beberapa ruangan kosong. Di salah satu sudut ia melihat ruangan yang lampunya menyala remang-remang. Samantha segera pergi ke sana, membuka pintu itu pelan-pelan dan ternyata ruangan itu cukup terawat. Samantha perhatikan, ada sebuah layar monitor yang menampilkan setiap sudut bangunan ini. Sudut yang tergambar di layarpun lebih banyak di banding monitor pengawas di ruang kontrol.
“Aku yakin, Alice pasti ada di salah satu ruangan di tempat ini.” Mata bulat Samantha mencari dengan jeli keberadaan Alicia. Lantai satu tidak ada apapun selain mayat para penjaga. Lantai dua dan tiga juga sama. Lantai empat hanya ada para penjaga yang sedang berpencar mencari samantha. Sedikit janggal karena sejak tadi dia tidak melihat keberadaan wilson. Kemana perginya laki-laki itu?
Samantha terus memperhatikan setiap ruangan. Perhatiannya terhenti saat ia melihat sebuah ruangan yang gelap, tanpa nomor lantai. Kalau diperhatikan dengan seksama, ruangan ini berada di bawah basement, seperti ruang bawah tanah. Samantha memperbesar layar tersebut. Walau minim pencahayaan, samar-samar dia melihat ada seseorang yang terikat dan tergantung. Samantha memperhatikan benar-benar sosok tersebut. Sepertinya seorang wanita berambut pirang.
__ADS_1
“Alice?” Perempuan itu yang di duga samantha. Samantha hendak keluar dari ruangan itu, tetapi tiba-tiba orang-orang naik ke lantai tersebut dan menyisirnya. Samantha segera menutup pintu rapat-rapat. Dan saat pintu di tutup, tiba-tiba sebuah tali ikut tertarik handle pintu hingga jatuh dan melepaskan kain penutup yang samantha kira adalah jendela.
Samantha tercengang saat yang ia lihat ternyata ada banyak foto yang terpasang di dinding. Ada beberapa foto yang terpajang dengan berbagai macam keterangan. Ia semakin terkejut saat melihat ternyata foto dirinya, Maximo dan william juga terpajang di sana. Foto lainnya adalah foto Gerald dan Alicia yang wajahnya telah disilang dengan menggunakan spidol merah.
“Perbuatan siapa ini?” Samantha mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Ia memperhatikan benar foto-foto itu yang id gabungkan dengan sebuah garis lurus. Beberapa garis di coret dan sisanya di biarkan kosong. Hanya ada satu foto yang tidak ada di sana, yaitu foto Wilson.
“Jika dia tidak ada dalam kawanan domba, maka dia adalah peternaknya. benar Wilson?” Pikiran Samantha mulai mengerucut. Ia merasa sangat kesal pada laki-laki yang kemungkinan besar telah menipunya.
“Cari ke ruangan itu!” Samantha terhenyak, itu adalah suara milik Richard. Samantha segera bersembunyi di balik lemari besi yang ada di ruang itu. Tidak lama berselang, beberapa orang masuk memeriksa ruangan itu dengan penerangan yang minim tersebut.
“Ruangan siapa ini?” tanya salah satu agent. Rupanya mereka sendiri tidak ada yang mengetahui keberadaan ruangan ini.
“Sepertinya, ini ruangan Alice. Karena itu Wilson menyiksanya di ruang bawah tanah. Brengsek, wanita itu ternyata pengkhianat.” Ujaran penuh kekesalan itu yang Samantha dengar. Dari obrolan orang-orang tersebut, Samantha akhirnya tahu kalau Alicia di sekap di ruang bawah tanah. Dia sangat yakin kalau sepertinya Alicia di tuduh melakukan sesuatu oleh rekan-rekannya. Samantha berusaha menahan rasa kesalnya. Dia menunggu dengan tidak sabar kepergian orang-orang itu. Rasanya ingin segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menemui Alicia.
Tetapi, Samantha putuskan kalau ia harus menahan dirinya terlebih dahulu. Suara derap langkah kaki mendekat ke arah lemari, semakin lama semakin dekat. Samantha membekap mulutnya sendiri agar napasnya tidak terdengar.
__ADS_1
“Kita periksa lemari ini,” ujar salah satu agent. Samantha mulai tidak karuan. Akankah mereka menemukan keberadaan samantha di belakang lemari ini?
****