Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kapal Pesiar


__ADS_3

Sebuah makan malam romantis telah disiapkan Paul di atas sebuah kapal pesiar. Ia membeli tiket VVIP untuk tuan dan nonanya. Maximo dan Samantha terlihat serasi, duduk berhadapan di meja bundar dengan menu makanan mewah yang disajikan. Seperti biasa, Maximo dengan setia memotongkan steak untuk wanitanya. Sementara gadis itu memandangi sang lelaki dengan penuh perasaan.


“Apa aku sangat tampan?” tanya Maximo yang tersenyum kecil. Sedari tadi Samantha membuat jantungnya berdebar kencang karena terus memandanginya dengan lekat dan penuh perasaan.


“Ya, kamu sangat tampan. Tidak ada laki-laki yang lebih tampan dari kekasihku.” Samantha sengaja menggoda pria itu. Lihat senyumnya yang cerah berpadu dengan lipsticknya yang merah serta riasannya yang paripurna. Seperti makan malam bersama seorang bidadari, bukan?


“Berhenti menggodaku, Sam. Aku bisa memakanmu di manapun, termasuk di salah satu sudut kapal pesiar ini.” Maximo memberikan ancaman yang menyenangkan, membuat gadis itu terkekeh, menyembunyikan tawanya.


“Hey, berhentilah. Aku tidak fokus memotong dagingnya,” protes Maximo sambil tersenyum gemas. Tawa Samantha menjadi candu untuknya.


“Aku penasaran, seperti apa rasanya di makan di tempat seperti ini? Apa gairahku akan semakin berdeburan seperti ombak di bawah sana?” Samantha memang iseng, suka sekali membuat wajah Maximo semakin merah karena gerah mendengar ucapannya.


“Kita patut mencobanya. Sekarang, makan dulu, karena aku tidak akan memberimu jeda berikutnya untuk beristirahat.” Laki-laki bermata hijau itu memberi ancaman. Ia menyuapkan potongan steak ke mulut Samantha dan Samantha sengaja memakan steaknya dengan gaya yang menggoda. Bibirnya di buat mengerucut s3nsual.


“Astaga….” Maximo mendengus pelan, badannya semakin gerah melihat godaan yang diberikan Samantha.


“Tahan dirimu, Max. Aku masih lapar.” Samantha memang jagonya mengaduk-ngaduk perasaan dan gairah Maximo.

__ADS_1


“Ya, aku akan dengan setia menunggumu.” Laki-laki itu benar-benar telaten, menyuapi lagi Samantha dengan steak yang sudah ia potong-potong rapi.


Maximo terus menyuapi Samantha, ia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Baginya, yang penting Samantha makan. Tetapi Samantha tidak setega itu. Ia mengambil garpu milik Maximo lalu menyuapi lelakinya. Maximo dengan senang hati menerima suapan Samantha.


“Di lantai atas ada hiburan musik. Kamu mau pergi ke sana?” tawar Maximo. Sudah lama ia tidak mengajak Samantha ke club dan melihat wanita ini meliukkan tubuhnya hingga berkeringat dan terlihat sangat s3xy.


“Ya, aku ingin sedikit berolahraga. Tapi aku mau kamu menemaniku, Max. Jangan hanya memperhatikanku.” Samantha meraih tangan sang kekasih yang ada di atas meja. Maximo menyambutnya, mentautkan jarinya dengan jari Samantha lalu menggenggamnya dengan erat. Satu kecupan ia berikan di tangan Samantha. Ia suka sekali melihat wajah Samantha yang segar seperti ini.


Makan malam romantis itu berakhir dengan cepat. Maximo langsung mengajak Samantha naik ke lantai atas setelah steaknya habis. Suara musik pelan merambat, membuat udara dingin lautan terasa hangat. Beberapa pasang manusia sedang berdansa, saling berangkulan dan sesekali berputar, memamerkan gaunnya yang mengembang indah.


“Mau ganti musiknya sekarang?” tawar Maximo.


Tentu saja Maximo tidak keberatan. Laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang Samantha sementara sang wanita melingkarkan tangannya di leher Maximo. Alunan musik dari saxophone memang cocok mengiringi dansa mereka. Sepasang kekasih itu saling menatap dengan senyum tipis yang terkembang di bibir keduanya. Perasaan Maximo terasa hangat saat melihat binar mata Samantha yang terlihat indah di terpa cahaya pijar lampu malam kekuningan yang mengelilingi tempat ini.


Pria itu mengecup bibir wanitanya, Samantha tanpa ragu membalasnya. Kecupan pendek-pendek saja di selingi senyum yang mereka lempar untuk satu sama lain. Sekali waktu Maximo mengecup bibir Samantha lebih lama. Mengigit bibir tipis yang selalu menjadi favoritnya. Samantha membalasnya dengan semangat, membuat yang beradu tidak hanya bibir keduanya melainkan lidah yang saling berperang.


Mereka berhenti sejenak, saling mengambi napas sambil melekatkan dahi satu sama lain. Semuanya di ulang saat cadangan udara cukup penuh memenuhi rongga dada mereka. Mereka benar-benar menumpahkan perasaan masing-masing.

__ADS_1


“Mau ke kamar bersamaku?” tawar Maximo di sela hembusan napasnya yang menderu. Tatapannya sudah tampak menguci pada Samantha. Ia tengah mabuk, oleh pesona wanita yang membuatnya merasa hidup.


“Hem, untuk apa berlama-lama di sini?” Sepakat, Samantha mengiyakan ajakan Maximo.


Dua orang itu berlarian menuju kamar di lantai tiga kapal pesiar. Sesekali mereka bercumbu di salah satu sudut yang sepi, lalu melanjutkan langkahnya berlari kecil menunggu kamar mereka. Di ujung lorong, Maximo mengangkat tubuh Samantha dan menggendongnya sampai ke kamar. Pintu itu di dorong dengan paksa oleh Maximo tanpa melepaskan pagutannya dari bibir Samantha.


Tangannya mulai bergeriliya, menyisir seluruh lekuk tubuh wanitanya. Mengangkat dan mendudukkan wanita itu di atas meja lalu melum4at kembali bibir wanita itu dengan rakus. Tangan Maximo sibuk melepas gaun Samantha dan tangan Samantha sibuk melepas satu per satu kancing lelakinya. Tidak lupa Samantha pun menarik gesper lelakinya agar celana Maximo tertanggal.


Tubuh keduanya sudah polos, tanpa sehelai benangpun. Mereka saling berangkulan menyesap wangi lekuk leher yang memabukkan keduanya. Sudah tidak tertahan, Maximo menarik tubuh Samantha untuk turun lantas berdiri membelakanginya, menghadap cermin besar yang berada di hadapan mereka.


Di rengkuhnya pinggang Samantha bersamaan dengan dorongan dari rudalnya yang melesak masuk ke inti tubuh Samantha.


“Ahhh… Max….” Wanita itu hanya bisa mel3nguh seraya memejamkan matanya. Satu tangan Maximo melingkar di leher Samantha sementara satu tangan lagi sebagai tumpuan saat ia menghentakkan tubuhnya ke inti tubuh Samantha.


“Kamu menyukainya, Sam?” tanya pria itu.


“Kamu terlalu sempurna, Max.” Samantha tidak bisa berkata-kata. Ia kembali mengecupi bibir Maximo hingga keduanya terengah bermandikan gairah panas di atas kapan pesiar. Entah sampai kapan semua ini akan berlangsung.

__ADS_1


****


__ADS_2