Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Terowongan


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran itu masih berlanjut hingga keluar dari jalanan ramai dan memasuki area perbukitan. Samantha mulai kehabisan akal dan arah, karena ia tidak mungkin melarikan diri ke kediaman Maximo. Ia takut jika kemudian kediaman Maximo di kepung dan diserang oleh orang-orang Wilson yang jumlahnya tidak sedikit.


“Kita mau kemana, Sam?” tanya Alicia yang mulai gelisah. Mereka sedang berada di jalanan yang berkelok-kelok dengan sisi kanan tebing tinggi dan sisi kiri tebing curam dengan lautan di bawahnya.


“Kita harus menghindar dan menunggu bantuan dari Maximo datang.” Samantha segera memeriksa alat pelacak yang ada di sakunya dan ternyata alat pelacak itu retak. “Sial! Alat pelacaknya rusak.” Samantha menaruh alat pelacak itu di dalam dashboard. Pantas saja bantuan Maximo tidak kunjung datang untuk menyelamatkannya.


Entah benda ini masih berfungsi atau tidak dan entah Maximo akan berhasil menemukannya atau tidak, ia hanya bisa terus melarikan diri dari kejaran anak buat Wilson yang terus mengejarnya.


Di depan sana, Samantha melihat ada sebuah terowongan. Samantha masih terus menambah laju kendaraannya hingga masuk ke terowongan gelap yang hanya diterangi oleh lampu jalan. Panjang terowongan ini sekitar lima ratus meter. Beberapa menit berkendara, Samantha melihat cahaya di depan sana sebagai ujung dari terowongan ini. Bukan hanya cahaya yang dilihatnya, melainkan juga seseorang yang berdiri mematung di tengah-tengah dengan mobilnya yang ikut menghadang.


“Siapa itu?” Samantha memincingkan matanya untuk melihat sosok itu.


“Aku tidak terlalu jelas melihatnya.” Alicia mengucek matanya yang berbayang karena mendapat pukulan beberapa kali dari Wilson.


“Hah, mengganggu saja!” Samantha yang kesal akhirnya memutuskan untuk tetap melajukan mobilnya dan menabrak salah stau sisi mobil tersebut. Mobil itu berputar dan sekilas ia melihat wajah laki-laki itu yang tidak lain adalah Wilson. Pria itu berlari menepi lalu menembak ban mobil Samantha dengan tepat hingga mobil itu berputar dan oleng menepi ke jurang.


“AWAS!!!” teriak Alicia saat bantingan stir Samantha membawa mereka ke tepi jurang. Suara decitan rem terdengar jelas dan membekas hitam di jalan beraspal.


“Teriakanmu terlambat Alice, kita sudah berada di tepi jurang,” ujar Samantha dengan napas terengah. Ia masih sangat kaget. Bersyukur karena laju mobilnya berhenti tepat waktu. Ia melihat ke bawah dan hanya beberapa senti lagi ban mobilnya akan menyentuh garis batas pinggir jalan. Beruntung ada pagar besi yang menahan mobil itu hingga tidak jatuh.


Samantha segera mengambil senjatanya saat melihat Wilson yang berjalan ke arahnya sambil menodongkan senjata.

__ADS_1


“Sial! Harusnya sejak awal kita bunuh saja laki-laki ini. Kenapa dia bisa menyekapmu dan ingin mencelakaiku?” Samantha masih tidak habis pikir.


“Karena aku adalah saksi hidup yang mengetahui kalau Gerald mati di tangannya.” Alicia berujar dengan penuh kemarahan.


“APA?!” telinga Samantha seperti berdengung mendengar ujaran Alicia beberapa detik lalu.


Alicia menoleh wanita yang ada disampingnya. Wanita itu tampak kaget, sama seperti dirinya saat tahu bahwa Wilson yang membunuh Gerald. “Ya, laki-laki itu yang membunuh kakakmu, Sam.” Alicia berujar dengan sungguh.


“Brengsek!” wajah Samantha berubah merah dengan amarah yang tiba-tiba berkumpul di dadanya. Wanita itu segera mengambil senjatanya. Ia juga memberikan satu senjata pada Alicia.


“Kita harus menghabisinya,” ucap Samantha dengan penuh kekesalan.


“TURUN!” seru Wilson yang sudah berada di hadapan Alicia dan Samantha.


“Apa kabar, Sam? Perjalanan yang berat bukan?” Laki-laki itu menyeringai sarkas pada Samantha.


Samantha menatap laki-laki itu dengan penuh kemarahan. Namun, untuk sementara Samantha tidak bisa melakukan perlawanan karena Wilson menodongkan senjatanya di kepala Alicia. Laki-laki ini bisa menembak Alicia kapan saja. Ia mengangkat tangannya ke udara, berusaha mencari peluang terbaik untuk memberikan perlawanan.


“Kamu masih tidak berubah Wilson, tampak bodoh dan menyebalkan.” Samantha masih bisa mengumpati laki-aki itu.


“Katakan apapun yang mau kamu katakan, Sam. Aku sudah lama tidak mendengar suaramu dan aku sangat merindukannya.” Laki-laki itu tersenyum sinis pada Samantha.

__ADS_1


“Yaa yaa yaa, aku memang sangat mempesona, tapi kamu bukan tipeku. Tipeku bukan laki-laki pengecut sepertimu!” Samantha segera mengambil senjatanya yang ia sembunyikan di pinggang belakangnya lalu menodongkannya pada Wilson.


“Kamu sudah membunuh Gerald, Wilson. Dan kamu memanipulasiku, mengumpankanku pada Maximo. Kamu sangat bodoh karena pada akhirnya kamu tidak akan mendapatkan apa pun.” Samantha berujar dengan penuh penekanan. Matanya menatap tajam laki-laki yang sangat ia benci.


“Waah, rupanya kamu sudah tahu semuanya. Apakah dari wanita ini?” Laki-laki itu semakin menekankan senjatanya di pelipis Alicia membuat wajah wanita itu pucat pasi.


“Jangan hiraukan aku, Sam. Kamu tembak saja laki-laki gila ini!” Alicia berusaha memprovokasi Samantha.


DOR!


Wilson menembakkan senjatanya ke udara dan membuat Samantha juga Alicia terhenyak. Tangan Samantha bahkan mulai terlihat gemetar saat membayangkan kalau ia mungkin akan kehilangan Alicia karena Wilson bukan tipe orang yang bercanda dengan kata-katanya.


“Ayo, tembak lah, Sam. Aku ingin melihatmu membunuh wanita ini, Wanita yang sangat berisik dan berani mengkhianatiku.” Wilson mendorong tubuh Alicia mendekat pada Samantha walau tetap memegangi rambutnya yang ia jambak sesuak hati.


Samantha dilemma, entah ia harus menembak Alicia atau tidak, karena posisi Wanita ini menghalangi sasarannya, yaitu Wilson.


“JANGAN RAGU SAM! TEMBAK AKU!” seru Alicia dengan putus asa.


Samantha semakin gemetar, teriakan Alicia memuatnya tidak bisa berpikir dengan benar.


"TEMBAK!!" seru Alicia dengan putus asa.

__ADS_1


****


__ADS_2