Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Rasa steak yang berbeda


__ADS_3

Suasana makan siang terasa menegangkan antara Samantha dan Gerald. Makan siang pertama mereka di temani beberapa orang penjaga yang berdiri di sekitaran Samantha. Penampilannya sangar-sangar dan masing-masing memiliki senjata yang siap di tembakkan kapan saja.


Wanita itu berusaha untuk tenang. Ia memotong steaknya dengan kasar sementara Gerald masih memandangi wanita yang tampak kecewa itu.


“Biar aku bantu.” Gerald memberi penawaran. Tangannya terulur hendak mengambil piring Samantha..


Plak!


Sayangnya Samantha malah menepis tangan laki-laki itu dengan kasar. “Hanya Maximo yang boleh memotongkan makanan ini untukku,” ujarnya dengan kesal. Ia memang tidak pandai memotong steak dengan ukuran yang sama besar dan tiap sisinya rapi seperti buatan Maximo. Makanan ini juga yang membuat Samantha merindukan laki-lakinya.


Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia masih memikirkan Samantha? Apa hari-harinya lebih tenang setelah Samantha tidak ada? Bagaimana jadinya kalau ia tahu Samanta masih hidup dan tengah mengandung buah cinta mereka? Hah, semua pikiran itu terus berputar di kepala Samantha. Seperti melodi romansa yang membuat dada Samantha sesak.


Mendengar ucapan Samantha yang penuh kegelisahan, Gerald pun menghentikan kunyahannya. Ia menaruh sendok dan garpunya dengan kasar.

__ADS_1


“Apa yang kamu mau Sam? Kenapa terus bersikap seperti ini padaku? Aku sudah menjelaskan semuanya, aku berjuang dengan sulit Sam untuk sampai di titik ini. Tolong jangan mengecilkan usahaku apalagi memperbandingkanku dengan laki-laki itu.” Gerald mulai terpancing. Ia kesal mendengar Samantha menyebut nama laki-laki yang rasanya benr-benar ingin ia bunuh.


Mendengar ucapan Gerald, Samantha hanya terkekeh. “Perjuangan, kamu bilang?" Wanita itu ikut menaruh pisaunya dengan kasar lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dagu. "Itu bukan perjuangan Gerald, melainkan siasat. Siasat untuk membuatmu terlihat seperti pahlawan.” Samantha tersenyum tipis seolah sedang menertawakan ucapan pria ini.


“Apa maksudmu, Sam? Aku sudah menyelamatkanmu. Aku bahkan berusaha menyelamatkan bayi dari pria brengsek itu.” Gerald semakin kesal, tidak mengerti dengan pola pikir Samantha.


“Maksudku, semua ini pun hanya siasatmu, Gerald. Kamu ingin mengurungku di tempat ini dan memanfaatkan kondisi saat aku jatuh ke laut untuk menculikku. Seperti itu cara kerja sebuah suasat 'kan?” Samantha menjawab dengan acuh. Ia bahkan menyuapkan potongan daging yang cukup besar, tetapi kembali ia muntahkan karena tidak enak saat dikunyah. Potongan dagingnya terlalu besar, tidak seperti milik Maximo memang yang paling nyaman masuk ke mulutnya.


“Kamu salah, bukan ketenangan ini yang aku cari.” Samantha menatap laki-laki itu dangan tajam. “Jika ketenangan hanya tentang tempat, orang mati tidak akan meminta dido’akan agar mendapat ketenangan. Ketenangan itu tentang bersama siapa aku melalui hari-hariku,” imbuh wanita itu dengan tegas.


Seperti ditampar, Gerald tidak menimpali, ia tersenyum kecil dan meneguk minumannyaa untuk meloloskan steak yang masih mengganjal di tenggorokannya.


“Rupanya kamu mulai merasa terancam bersamaku, Sam. Padahal dulu kamu bilang, kamu hanya merasa tenang saat bersamaku.” Laki-laki itu tersenyum sinis, menarik sebelah garis bibirnya untuk tersenyum pada Samantha.

__ADS_1


“Ya, banyak hal yang telah merubah pemikiranku, Gerald. Terutama sikapmu. Aku hanya mengenali Gerald yang selalu terbuka dan bercerita banyak hal padaku, bukan laki-laki asing yang duduk satu meja denganku, tapi pikirannya tidak disini. Pikirannya masih sibuk menyiapkan banyak siasat.” Samantha menaruh serbetnya dengan kasar.


“Antarkan aku pulang. Aku merasa ini bukan tempatku,” imbuh gadis itu.


Gerald hanya tersenyum, lantas terkekeh. Tidak lama kemudian ia tertawa lebar, sangat lebar menertawakan permintaan Samantha.


“Jangan berharap lebih Sam. Kamu sudah tahu tujuanku, mana mungkin aku akan membiarkanmu pergi?" Lihat tatapannya yang licik itu. "Aku bisa menerima bayi itu sebagai anakku, tapi jangan berpikir untuk kembali pada ayahnya,” tegas pria itu dengan penuh percaya diri.


Samantha tidak berreaksi, hanya hatinya saja yang mengeram kesal. Rasanya ia mulai tahu, siapa Gerald sebenarnya. Andai saja kakinya sudah bisa berjalan normal, mungkin ia akan memberikan tendangan menukik pada laki-laki brengsek ini. Sayangnya saat ini ia masih harus menerima perlakuan Gerald sambil menunggu kondisi fisiknya membaik.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan Gerald? Memilikiku atau menghancurkan Maximo?”


****

__ADS_1


__ADS_2