Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Adik Kakak yang asing


__ADS_3

“Jadi, kamu adalah kakakku?” tanya Eveline sambil menatap foto tiga anak kecil di tangannya. Seperti burung beo, gadis ini terus mengulang pertanyaannya. Ia masih tidak menyangka saat Paul mengatakan kalau dirinya adalah anak angkat Cortez, adik Maximo.


“Kenapa kamu menutupi tato pemberian Cortez?” Maximo lebih tertarik untuk menanyakan hal itu. Pertanyaan Eveline sudah berulang kali di jawab Paul, hingga mulut laki-laki itu berbusa.


“Akh! Tolong pelan-pelan.” Gadis yang terduduk di sofa itu sedikit meringis, saat dokter yang sedang merawat luka-luka di tubuhnya terlalu keras menekan lukanya. Lukanya memang cukup banyak dan dalam. Luka ini akibat cambukan Maximo palsu yang gila itu.


Maximo yang bersandar pada meja kerjanya, tampak menunggu benar jawaban sang adik.


“Karena aku pikir, itu angka sial. Setiap laki-laki yang aku layani terus bertanya arti angka tersebut dan aku kebingungan menjelaskannya karena tidak ingat asal mula angka itu. Makanya ku gambari tato supaya lebih menarik.” Bisa-bisanya gadis itu tersenyum bangga.


“Kapan terakhir kali kamu bertemu dengan Dmitry? Apa laki-laki itu tidak mengatakan apapun tentang masa lalumu?” Maximo semakin penasaran. Saat ia menanyakan kedua saudaranya, keluarga Ivanov itu berbohong dengan mengatakan mereka kabur. Nyatanya pria itu memperjual belikan adiknya. Lalu bagaimana dengan kakanya, Micahel? Apa dia pun masih hidup?


Gadis itu menghembuskan napasnya kesal. Lalu memakai kembali kemeja oversize milik samantha. Pengobatannya dirasa sudah cukup.

__ADS_1


“Kamu tau Max, kamu memperlakukanku dengan sangat asing. Aku tidak yakin kalau kamu benar-benar mencariku selama ini. Atau kamu sedang tidak baik-baik saja? Kenapa kamu tidak terlihat senang bertemu denganku?” Rentetan pertanyaan itu diutarakan Eveline dengan penuh tanya, tetapi Maximo enggan menjawabnya. Pikirannya memang sedang tidak fokus. Ralat, tidak pernah bisa fokus.


Mendapati Maximo yang hanya etrdiam, Eveline beranjak dari tempatnya, mengambil segelas minuman untuk dirinya dan sang kakak. “Ambillah, mungkin kita perlu sedikit santai.” Gadis itu memberikan gelas minumannya pada sang kakak dan Maximo menerimanya tanpa melepaskan pandangannya dari Eveline.


“Untung wajahmu cukup enk dipandang, kalau tidak, mungkin aku akan membunuhmu karena memiliki nama yang sama dengan laki-laki gila itu,” umpat Eveline dengan penuh penekanan. Ia meneguk dengan santai minuman ditangannya.


“Apa yang kamu inginkan sekarang?” Maximo balas menantang sang adik. Kemarahannya juga cukup besar pada laki-laki yang telah menyiksa wanita muda ini.


“Hancurkan pria itu hingga tanpa sisa. Kamu bisa melakukannya?” Eveline berujar dengan tegas. Lihat matanya yang menyipit tajam penuh kemarahan.


Eveline menyeringai tipis mendengar ucapan sang kakak. Ia menoleh Paul yang sedari tadi mematung di tempatnya. “Buat dia dan keluarganya tidak punya kesempatan untuk kembali, sekalipun ke rumahnya.” Perintah itu yang Eveline katakan untuk pertama kalinya.


“Baik, nona.” Dengan senang hati Paul menimpali. Laki-laki itu segera mengambil ponselnya dan memberikan perintah pada orang-orang kepercayaannya untuk menghancurkan Maximo palsu itu.

__ADS_1


“Besok pagi Nona akan mendengar kabar baik.” Paul berujar dengan penuh percaya diri.


“Terima kasih,” ucap Eveline dengan senang hati dan Paul menganggukinya dengan semangat. “Malam ini, dimana aku bisa beristirahat? Tubuhku sangat lelah.” Eveline memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, untuk merenggangkan sendi-sendir di tubuhnya. Tubuhnya masih terasa ngilu setelah tadi mendapat banyak deraan dari Maximo palsu.


“Gunakan kamarku,” sahut Maximo tanpa ragu.


“Lalu, kamu sendiri akan tidur dimana?” Eveline sedikit penasaran.


Maximo tidak menjawab. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Eveline. “Temani dia Paul,” titahnya sebelum benar-benar keluar dari ruang kerjanya.


“Baik, tuan.” Paul hanya bisa patuh. Ia menunjukkan arah untuk nona mudanya. Eveline menurut saja dengan arah yang ditunjukkan Paul. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat arah berlalunya sang kakak. Rupanya laki-laki itu masuk ke kamar yang ada di ujung sana.


“Kamar siapa itu?” Eveline berbisik lirih pada Paul.

__ADS_1


“Masuklah dulu, Nona. Nanti saya ceritakan.” Laki-laki itu membukakan pintu untuk Eveline.


****


__ADS_2