
Pertemuan dengan Samantha dan berbekal informasi yang ia dapatkan dari gadis itu, membuat Alicia segera pergi menuju apartemen Gerald. Ia memeriksa banyak hal seperti yang diminta Samantha. Memeriksa laci dikamar Gerald satu persatu tetapi ia tidak menemukan apapun. Ia juga memeriksa laci di kamar Samantha dan hasilnya sama-sama nihil.
“Kenapa tidak ada apapun?” Alicia bingung sendiri karena tidak menemukan obat seperti yang dikatakan Samantha. Wanita itu beralih ke rak televisi, membuka satu laci disana dan isinya hanya kaset DVD film action. Lantas ia berpindah ke rak yang ada dikamar mandi juga tidak ada apa-apa disana.
“Ini apa?” tanya Alicia saat melihat sebuah botol kecil yang berisi cairan berwarna biru, ada didalam sepatu Gerald. Sepatu itu berada persis di dekat pintu kamar mandi. Alicia mencium baunya sedikit dan rasanya sangat menyengat hingga wanita itu terbatuk dan matanya perih.
“Akh sial! Obat apa ini?” Alicia panik sendiri. Ia memasukkan botol itu ke dalam sebuah plastik lalu mencuci tangannya dan membasuh wajahnya. Ia menatap beberapa saat wajahnya yang ada dicermin. Matanya langsung merah terkena paparan bau dari cairan dibotol kecil itu.
“Apa mungkin obat ini yang Samantha maksud?” Alicia memandangi obat yang berada didalam plastk. Ia memutuskan untuk membawa botol obat ini ke laboratorium untuk memeriksanya. Ia harus tahu apa kandungan dari obat yang menyengat itu.
Setelah menyelesaikan urusannya dari apartemen Gerald, Alicia segera pergi ke laboratorium. Letak laboratorium yang tersembunyi membuat Alicia sengaja memarkir motornya di minimarket. Lalu dengan tangga kecil yang menjorok ke bawah, Alicia menyusuri jalanan gang yang sempit lagi kumuh.
Dibawah sana, Alicia mengetuk sebuah pintu dari bangunan tua bercat hijau tua. Bangunan itu dikelilingi pagar kawat yang cukup tinggi. Ia harus menemui sahabatnya yang tidak dikenal oleh Wilson untuk memeriksa cairan didalam botol. Dengan begini ia berharap kalau Wilson tidak akan tahu apa-apa.
Seorang pria berjenggot tebal dan bermata coklat menyambut Alicia dibalik sebuah jendela kecil yang hanya berukuran lima belas kali lima belas senti. Wajahnya saja yang terlihat oleh Alicia.
__ADS_1
“Periksa ini untukku, besok aku ambil.” Satu kalimat pendek itu yang Alicia katakan ada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu tidak banyak komentar. Ia mengambil alih plastik dari tangan Alicia dan segera menutup kembali jendela kecil miliknya. Alicia pun segera pergi setelah memastikan disekelilingnya tidak ada yang memperhatikan kedatangannya.
Dalam perjalanan kembali ke markas Wilson, Alicia banyak berpikir tentang kejadian belakangan ini. Tentang Wilson yang selalu tergesa-gesa dan serampangan dalam mengambil keputusan, tentang misteri kematian Gerald yang semakin rumit dan tentu saja tentang Samantha yang ia rasa tidak sepolos awal ia bertemu. Melihat apa yang terjadi disekitarnya, ia memutuskan kalau sementara ini ia akan mengikuti semua petunjuk Samantha. Bagaimanapun gadis itu cukup lama bertahan di sangkar Maximo dan ia yakin bukan tanpa alasan. Gadis itu pasti memiliki siasat dan taktik sendiri.
Tiba di markas Wilson, Alicia segera menyelinap masuk. Ia berusaha terlihat tenang saat beberapa kamera CCTV menangkap kedatangannya.
“Dari mana?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya saat Alicia membuka pintu.
“Ya, kamu pikir siapa? Siapa yang akan penasaran melihat kepergianmu yang tergesa-gesa dan menuju apartemen Samantha. Untuk apa kamu pergi ke sana tanpa meminta izin dariku?” Kalimat Wilson begitu mengintimidasi membuat Alicia tercengang. Ia tidak merasa kalau ia memakai pelacak, lalu bagaimana Wilson tahu ia pergi ke tempat Samantha?
“Bagaimana kamu bisa tahu?” Alicia terpaksa bertanya.
Wilson tidak lantas menjawab. Ia berjalan menghampiri motor yang tadi digunakan Alicia dan mengambil sesuatu dari belakang kaca spion.
__ADS_1
“Dari sini,” Laki-laki itu menunjukkan sebuah pelacak yang masih menyala ditangannya.
“Maksudmu kamu memasang pelacak di motor Gerald?” Alicia bertanya dengan tidak percaya.
Wilson hanya tersenyum kecil. “Seperti kamu yang mulai bermain rahasia, sepertinya akupun harus melakukannya.” Wilson menatap Alicia dengan tajam dan senyuman yang meledek. Ia merasa banyak hal yang mulai berubah dari cara kerja Alicia yang lebih banyak bertindak sendiri.
“Aku tidak bermain rahasia.” Alicia segera menimpali. “Ya, aku akui memang aku pergi ke tempat Gerald tanpa memberitahumu. Tapi itu aku lakukan karena aku merindukannya. Apa yang salah kalau aku ingin menyembunyikan hal yang memalukan seperti itu darimu? Hidup dan perasaanku tidak seluruhnya menjadi milik organisasi ini.” Alicia terpaksa berbohong walau sebagian kalimat benar adanya, bahwa Ia merindukan Gerald.
“Wah, kamu sudah berani menjawabku dengan tegas, Alice. Itu menarik.” Kalimat Wilson terdengar seperti ejekan bagi Alicia. Lihat juga senyumnya yang sarkas dan membuat gadis itu mengepalkan tangannya kesal. Andai saja dihari kematian Gerald, Wilson mengizinkannya menemani Gerald menjalankan misi, mungkin ia masih bisa bersama-sama dengan laki-laki yang ia suka, entah dalam keadaan hidup ataupun mati bersama-sama.
“Lalu apa yang kamu lakukan disana? Bercinta dengan hantu Gerald? Apa dia memberitahumu siapa yang membunuhnya?” Wilson semakin semangat mengejek kesedihan Alicia.
“Lucu! Kamu brengsek Wilson! Sangat brengsek!” Hanya itu timpalan dari seorang wanita cantik yang masih berusaha menahan kemarahannya. Matanya membulat lebar seperti ingin menelan Wilson bulat-bulat. Laki-laki itu hanya terkekeh melihat kekesalan Alicia. Semakin menarik saja wanita ini, pikirnya.
Alicia hanya bisa mengeram dalam hati dan saat ini ia lebih memilih meninggalkan Wilson yang menurutnya sangat menyebalkan. “Jangan menangis jika suatu hari nanti kamu mati seperti Gerald!” dengusnya dalam hati.
__ADS_1
****