
Kepulangan Samantha di sambut haru oleh Paul, Nora dan Eveline. Tiga orang itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat Samantha yang didudukkan oleh Maximo di atas kursi rodanya. mereka segera berlari menghampiri Samantha yang begitu mereka rindukan.
“Selamat datang, Nona,” sambut Paul dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang terkembang. Ie mengecup tangan Samantha sebagai bentuk penghormatan. Pria ini benar-benar tidak menyangka kalau wanita yang membuat tuan besarnya nyaris gila ini, benar-benar masih hidup. Ia pikir keyakinan Maximo kalau wanitanya masih hidup hanya bentuk halusinasi Maximo yang belum bisa menerima kepergian Samantha. Nyatanya, wanita ini benar-benar masih hidup dalam keadaan baik.
“Terima kasih, Paul. Bagaimana hari-harimu saat tidak ada orang yang mengerjaimu?” pertanyaan Samantha memang unik membuat laki-laki itu tersenyum simpul.
“Hari-hari saya sangat sepi nona. Saya tidak merasa kalau saya masih hidup, datar saja rasanya dan saya sadar kalau hidup saya tidak baik-baik saja ketika tidak ada yang mengerjai saya.” Paul berujar dengan sesungguhnya.
“Jadi kamu merindukan kejahilanku?”
“Ya,” Paul begitu antusias menjawab.
“Astaga, kamu sangat manis Paul,” ungkap Samantha seraya mengusap pipi Paul lalu mengecupnya dengan lembut.
Mata Paul langsung membulat, ia melirik tuan besarnya yang sedang memandanginya. Lihat sorot matanya yang tajam dan menukik itu, ia rasa Samantha mulai mengembalikan hidupnya yang penuh kengerian. Aakkk tidak, apa ia harus melarikan diri?
“Tidak perlu marah Max, aku hanya memberi apresiasi pada pria ini. Hanya dia yang merindukan kejahilanku.” Samantha yang paham dengan ketegangan Paul pun berusaha menenangkan lelakinya.
“Cukup kali ini saja kamu melakukannya. Dan kamu Paul, mengapa masih merunduk pada Samantha? Bagian mana lagi yang minta dicium?” laki-laki cemburuan itu menepuk punggung Paul agar segera menegakkan tubuhnya.
“I-iya tuan, mohon ampuni saya.” Paul, hari indahmu benar-benar telah kembali. Paul segera menarik tubuhnya menjauh dari Samantha. Nora dan Eveline di buat terkekeh dengan tingkah Paul dan Maximo.
“Kamu sangat gila, Max. Tapi kegilaanmu benar-benar membawa wanita ini kembali. Apa kabar, Sam?” Eveline ikut menyambut Samantha.
“Hay, Eve. Kabarku jauh lebih baik setelah bertemu kalian.” Mereka berangkulan beberapa saat. “Bagaimana bisa kamu sampai di sini?” Samantha benar-benar penasaran.
“Kakakku yang menjemputku.” Evelin berujar dengan bangga. Ia menonjok pelan lengan Maximo yang kokoh.
“Kakak?” Samantha mengernyit tidak paham.
“Ya. Ternyata aku adiknya yang hilang. Tenanglah, aku tidak mengada-ngada. Kami sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok, benar Max?” Eveline butuh bantuan Maximo untuk meyakinkan wanita ini.
__ADS_1
Maximo hanya mengangguk dan seketika Samantha memeluk Eveline lagi. “Terima kasih sudah bertahan, aku senang mendengarnya. Kamu harus tahu, kalau Maximo sangat merindukanmu. Dia sering memandangi foto kalian saat kecil,” ucap Samantha dengan penuh rasa haru.
“Ya, aku tahu dia merindukanku. Tapi tingkahnya benar-benar menyebalkan belakangan ini. Untunglah kamu pulang Sam, sehingga aku tidak perlu mengingatkannya lagi untuk minum obat anti depressan lagi.” Eveline berceloteh dengan kesal.
Samantha melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Eveline dengan erat. “Tentu aku harus pulang, karena aku harus kembali ke sangkarku,” ungkap wanita itu. Maximo hanya tersenyum, terrenyuh dengan ucapan Samantha.
“Nora, bagaimana kabarmu?” Samantha juga menyapa wanita yang sedari tadi sibuk mengelapi air matanya yang terus menetes.
“Lebih baik setelah melihat nona Samantha pulang,” suaranya bercampur tangis tertahan.
“Ooo kamu sangat manis. Kemarilah, aku sangat merindukanmu,” Samantha merentangkan tangannya menyambut Nora. Wanita itu berjalan dengan cepat menghampiri Samantha. Ia menagis terisak di bahu Samantha.
“Ternyata kalian sangat mencintaiku,” ungkap Samantha dengan sungguh. Nora hanya bisa mengangguk, dadanya yang sesak perlahan mulai terisi udara yang lebih segar.
Kehangatan itu masih berlanjut hingga ke dalam rumah. Maximo menggendong Samantha dengan kedua tangannya, sementara sang wanita melingkarkan tangannya di leher Maximo. mereka saling bertatapan penuh cinta, seolah wajah satu sama lain adalah pemandangan terbaik yang mereka nanti dan rindukan.
Sesekali Samantha mengecup bibir Maximo dan laki-laki itu membalasnya dengan brutal. Ia membawa Samantha ke kamarnya dan membaringkannya dengan pelan-pelan.
“Kenapa aku mencium bau tubuhmu di kamarku?” tanya Samantha sambil mengendus-endus.
“Kamu bisa menciumnya? Aku memang selalu menginap di sini, tapi aku sudah meminta Nora untuk membersihkan dan membereskan semuanya. Bagaimana bisa bauku masih ada di kamar ini?” Laki-laki itu tampak kebingungan. Menciumi satu per satu bantal dan ia sendiri tidak bisa mencium aroma tubuhnya di kamar ini. Semuanya wangi Samantha, wangi wanita yang ia rindukan.
“Tidak masalah, aku suka wangi ini. Aku merindukan wangi ini, terasa menyegarkan kepalaku.” Samanta kembali memeluk Maximo dengan erat, sambil mengecupi leher laki-laki itu hingga meremang. Entah sejak kapan wangi tubuh Maximo menjadi candu bagi Samantha.
“Aku juga merindukanmu, Sam. Dunia ini sepi dan gelap saat kamu tidak ada di sisiku.” Maximo balas mengeratkan pelukannya. Ia menarik tubuh Samantha untuk rapat dengan tubuhnya. Merasakan hawa tubuh Samantha yang hangat.
“Max, apa kamu tahu, harusnya kamu tidak membunuh Slavyk,” ucap Samantha tiba-tiba. Ia menyayangkan laki-laki itu pergi dengan cepat.
Pelukan Maximopun melonggar, ia melerainya beberapa saat seraya menatap lekat sepasang mata milik Samantha. “Apa harus membahas hal semacam itu di saat seperti ini?” Maximo bertanya dengan tidak mengerti.
“Ya, kita harus membicarakannya. Aku merasa bersalah pada pria itu. Dia yang membantuku keluar dari rumah yang menyekapku.” Samantha memulai ceritanya sambil mengusap pipi Maximo yang dipenuhi jambang lebat.
__ADS_1
“Ya, aku cukup berterima kasih atas usahanya. Hanya saja, aku tidak suka memberi peluang pada siapa pun yang memiliki niatan untuk memilikimu. Buatku mereka potensi terbesar untuk memisahkan kita pada masa depan.” Maximo menjawab dengan penuh keyakinan.
“Apa seperti itu?” Samantha melihat jelas ketakutan di mata Maximo. Ia menangkup kedua sisi wajah Maximo, mengusapnya perlahan lalu mendorong bibirnya agar mengerucut dan ia kecup perlahan sambil mengusapkan hidungnya di hidung Maximo.
“Ya, seperti itu. Aku meminimalisir orang-orang yang akan mengganggu kita di masa depan. Aku melihat laki-laki itu sangat menginginkanmu. Mana mungkin aku mendiamkannya?” Maximo dengan keyakinannya sendiri. Ia sudah mengenal banyak macam orang dan orang seperti Slavyk bukan baru pertama kali ia lihat.
“Rupanya kamu sangat takut aku berpaling pada laki-laki lain. Kalau begitu, tolong jangan bertingkah. Jangan menatap wanita mana pun selain aku,” Samantha mengecup mata Maximo.
“Jangan mendengarkan ucapan dan lenguhan wanita mana pun selain aku,” beralih pada telinga Maximo yang ia kecup.
“Jangan mencumbu wanita manapun,” kini bibirnya yang di kecup singkat.
“Atau memikirkan wanita lain yang pernah hadir di hidupmu, sekalipun wanita yang kamu lihat saat mencari Mirella.” Berakhir pada dahi Maximo yang ia kecup.
“Dan jaga dia agar tidak bertemu inti tubuh wanita lain.” Satu tangannya mengusap tongkat sakti milik Maximo, merem4asnya pelan, membuat laki-laki itu melenguh nikmat.
“Akh, Sam….” Laki-laki itu dibuat mabuk kepayang oleh sentuhan nakal Samantha.
Dengan satu tangan saja, ia menarik tubuh Samantha hingga terduduk di pangkuannya, berhadapan dengan dirinya. Lantas ia menarik tengkuk wanita itu dan mengecupi bibir yang sedari tadi memberinya banyak aturan. Aturan yang sama akan ia berlakukan pada Samantha.
Di gigitnya bibir itu dengan lembut, Samantha membalasnya sambil melingkarkan tangannya di leher Maximo. Mereka berpagutan cukup dalam, bertukar saliva hingga berbunyi decapan yang penuh gairah. Napas keduanya memburu, membuat tubuh keduanya seperti terbakar gairah. Maximo menarik dress Samantha hingga tertanggal, hingga menyisakan kacamata kuda berwarna putih dan berrenda.
Serangannya berpindah pada dua benda sintal yang ia bongkar paksa. Ia menangkupnya, rasanya ukurannya lebih besar dari sebelumnya. Ia mengecupinya dan memberi beberapa tanda kemerahan sambil ia remas. Sesekali ia memperhatikan ekspresi Samantha yang mulai terbakar gairah, menggeliat tidak tertahan dengan suara lenguhan lirih dari mulutnya. Matanya terpejam menikmati setiap sentuhan Maximo yang begitu memanjakannya.
Hasrat keduanya sudah tidak terbendung. Maximo melesakkan tongkat saktinya ke inti tubuh Samantha yang basah. Keduanya sama-sama melenguh saat kulit dalam mereka bersentuhan dan bergesekan. Maximo menanggalkan semua pakaiannya, dada bidang nan altetisnya dikecupi oleh Samantha tanpa rasa ragu. Wangi keringat ini yang sangat Samantha rindukan dan membuatnya memeluk tubuh Maximo dengan erat. Ia membiarkan Maximo bekerja keras menghantam inti tubuhnya dengan tongkat sakti itu hingga berulang, terus-menerus hingga kemudian keduanya merasa telah mencapai puncak nirwana yang selama ini mereka nantikan.
Dua tubuh itu saling berangkulan. Maximo masih mengusap punggung Samantha yang berkeringat. Memberinya sentuhan sensu4l dengan ujung jemarinya. Wanita itu kembali menggelinjang sambil mengatur napasnya yang memburu.
“Kamu tidak akan pernah tergantikan, Sam,” ujar suara yang menderu di telinga Samantha. Samantha hanya tersenyum kecil, tenaganya nyaris habis karena serangan memb4bi buta yang dilakukan prianya.
***
__ADS_1