Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Paksaan bersepeda


__ADS_3

Sesuai janji Maximo yang ingin mengajak samantha untuk bersepedah bersama, pagi ini Paul sudah menyiapkan dua sepeda di halaman rumah. Satu untuk Samantha dan satu lagi tentu saja untuk Maximo. Tuan dan nyonya nya baru selesai sarapan. Mereka terlihat nyaman dengan mengenakan pakaian olah raga masing-masing.


Samantha sudah turun lebih dulu sementara Maximo masih bersiap-siap, mengambil topi dan kacamata untuk Samantha agar wanita itu terlindung dari terik matahari.


“Selamat pagi, Paul. Bagaimana kabarmu hari ini?” Samantha menyapa Paul yang terlihat tidak terlalu sehat. Ia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi luka lebam dimata kirinya.


“Selamat pagi, nona. Kabar saya sudah membaik.” Pria itu menarik sedikit kacamatanya untuk menunjukkan matanya yang lebam pada Samantha lalu memakai kembali kacamatanya dengan rapi.


Samantha sedikit meringis melihat mata Paul yang masih bengkak kehitaman. “Apa Maximo tidak memiliki dokter? Kenapa dia diam saja dan membiarkanmu kesakitan seperti ini? Padahal setiap waktu dia selalu memerlukan bantuanmu.” Samantha sengaja berbicara dengan keras agar Maximo mendengarnya.


“Saya sudah mengobatinya dengan obat salep nona.” Paul tidak ingin Samantha menyalahkan tuannya.


“Ada apa?” Maximo yang baru datang pun segera bergabung.


“Kamu tidak memanggilkan dokter untuk Paul?” tanya Samantha sambil mengambil alih topi dan kacamata dari tangan Maximo.


“Kamu masih belum sembuh?” Maximo ikut memperhatikan laki-laki dihadapan Samantha.


“Sudah lebih baik, tuan.” Paul berusaha berlihat baik-baik saja padahal matanya masih sakit.


“Kalau kamu tidak bisa memanggilkan dokter untuknya, aku akan mengajaknya ke rumah sakit. Jadi kita tidak perlu bermain sepeda.” Samantha melepaskan lagi topi dan kacamatanya.


“Tidak!” Maximo segera menahan tangan Samantha agar tidak melepas kacamatanya. “Aku akan memanggilkan dokter untuk Paul.” Lihat laki-laki ini langsung ketar-ketir. “Kenapa tidak bilang kalau masih sakit?” Paul lagi yang kena omelan.


“Saya sudah membaik tuan.” Paul merasa tidak enak, karena ia yang menyebabkan Maximo merasa bersalah.


“Sudah membaik tapi belum sembuh. Dan kamu mengabaikannya.” Samantha menatap Paul dan Maximo bergantian.

__ADS_1


“Kenapa kamu jadi meributkan orang-orangku yang terluka? Apa itu sangat penting untukmu?” Maximo mulai kesal. Ia merasa Samantha terlalu berlebihan pada Paul yang hanya kaki tangannya.


“Aku tidak peduli pada yang lain, tapi pada Paul aku sangat peduli.” Samantha tidak ragu menjawab.


“Apa? Kamu sangat peduli pada Paul? Kamu tidak melihat siapa yang kamu ajak bicara sekarang?” Ha! Tuan Mafia ini mulai merasa tersaingi.


“Tentu saja aku melihat. Kamu tuan mafia yang kejam dan tidak memperdulikan anak buahmu. Sementara aku, aku jelas sangat memperdulikan Paul karena aku yang membuatnya terluka. Seperti yang aku bilang tadi, kalau kamu tidak perduli, aku yang akan mengajaknya pergi ke dokter.” Samantha menjawab dengan kalimat panjang.


“Nora! Panggilkan dokter!” Maximo langsung memberi perintah pada Nora. Maximo menatap tajam Samantha sebagai bentuk penolakan permintaan Samantha yang ingin membawa Paul ke rumah sakit.


Samantha baru sadar, ternyata setelah Paul, maka Nora adalah orang kedua yang Maximo percaya. Pantas saja banyak pertanyaan Samantha yang sering tidak dijawab oleh wanita itu.


“Baik, tuan. Saya akan segera memanggilkan dokter untuk Paul.” Nora begitu sigap.


“Bagus. Masalah dokter sudah selesai. Masalah apalagi sekarang yang membuat kita tidak bisa bersepeda?” Maximo menatap Samantha dengan lekat.


“Jangan ada yang menggangguku!” pesan Maximo sebelum ia pergi. Ia segera menunggangi sepedanya dan menyusul Samantha yang sudah mendahuluinya.


Sepeninggal Maximo, Paul ikut termenung. Ia menoleh Nora yang ada dibelakangnya. “Kamu benar-benar memanggil dokter?” Paul bertanya.


“Ya. Aku tidak mau membuat nona Samantha kesal.” Nora berujar dengan sungguh.


Paul hanya tersenyum kecil tanpa menimpali. Ia tidak menyangka kalau ternyata Samantha memperdulikannya dan merasa bersalah atas tingkahnya sendiri.


Melewati jalanan beraspal yang dilewati hutan pinus, membawa Samantha menuju ke sebuah dataran tinggi. Maximo segera menyusul gadis itu dan mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Maximo melihat, Samantha menghentikan kayuhan sepedanya, membiarkannya melaju pelan sambil memejamkan matanya dan merentangkan tangannya. Beberapa saat saja ia ingin menikmati udara pagi yang segar.


Maximo baru tahu kalau ternyata gadis ini memiliki tingkat keseimbangan yang tinggi. Ia tidak terjatuh dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


“Kamu menyukainya?” tanya Maximo yang ikut mengayuh sepedanya tanpa memagang stang sepedanya. Keseimbangannya juga cukup tinggi yang penting ia kayuh sepedahnya perlahan.


“Ya, aku seperti seekor burung yang terbang bebas. Sangat melegakan.” Timpal Samantha seraya tersenyum kecil.


Maximo ikut tersenyum melihat ekspresi gadis itu. Tidak lama Samantha membuka kembali matanya dan memegangi stang sepedanya.


“Mau masuk ke hutan?” Maximo memberi penawaran.


“Memangnya ada apa di hutan?” Samantha penasaran.


“Kamu akan melihatnya sendiri.” Maximo memilih turun lebih dulu dari sepedanya dan disusul oleh Samantha yang penasaran. Mereka sama-sama menuntun sepedanya masuk ke dalam hutan yang cukup lebat dan hanya sedikit disinari cahaya matahari. Suasananya yang asri, wangi rerumputan yang belum terjamah, juga suara binatang kecil yang saling bersahutan menambah kesyahduan.


Jejeran pohon pinus berbaris rapi, seperti sebauah terowongan panjang yang dihiasii rerumputan yang masih berembun. Seekor kijang tampak berlari saat melihat kedatangan Samantha dan Maximo, sepertinya ia mau bersembunyi karena sadar ada bahaya mengancamnya.


“Berapa tahun umur pepohonan ini?” Samantha penasaran dengan pohon pinus yang berdiri kokoh ini. Ia sedikit menengadah untuk melihat ke atas dan ujungnya sama sekali tidak terlihat.


“Entahlah. Mungkin lebih tua dari umur kita.” Maximo memukul salah satu pohon pinus dan beberapa buahnya berjatuhan.


“Maximo, kamu sangat usil!” Samantha berceloteh kesal, tetapi ujungnya tetap saja ia tersenyum.


“Hahahah… aku ingin membuktikan kalau pohon ini sudah tua dan buahnya pun banyak juga mudah berjatuhan.” Maximo beralasan.


“Kamu hanya perlu mengatakannya, tidak perlu membuktikannya langsung.” Samantha berdecik kesal dan Maximo hanya terkekeh.


Mereka meneruskan langkahnya, masuk ke dalam hutan hingga melihat cahaya yang semakin lama semakin terang.


****

__ADS_1



__ADS_2