Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kehilangan perhatian


__ADS_3

“Selamat pagi, tuan dan nyonya….” Sapa Paul pada sepasang suami istri itu. Pagi ini Paul menghampiri Samantha dan Maximo yang sedang berjalan-jalan di taman belakang tanpa alas kaki.


“Pagi Paul. Kamu tampak keren dengan jas berwarna abu tua,” puji Samantha.


“Terima kasih nyonya.” Laki-laki itu refleks mengusap rambutnya yang sudah tersisir rapi. “Apa tidur Anda nyenyak, nyonya?” imbuh Paul. Semalam ia mendengar Nora masuk ke kamar nyonya mereka karena Samantha mengeluh sakit perut dan sesak. Mungkin karena usia kehamilannya yang sudah mendekati masa persalinan.


Ya, tidak terasa, pernikahan Maximo sudah melewati waktu setengah tahun. Keluarga kecil ini tampak bahagia dengan suara tawa Samantha dan keisengannya saat mengerjai Paul ataupun pengawal lain.


“Tidurku nyeyak setelah Nora membantuku mengusap punggung dengan minyak hangat yang dia bawa dari desanya.”


“Syukurlah. Nyonya mau makan apa hari ini?”


“Apa harus selalu Samantha yang ditanya kabar dan makanan yang dia mau?” Seseorang mulai protes. Rasa terabaikan itu muncul begitu saja di hati Maximo.


“Oh, maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu.” Paul segera tersadar.


“Hahahaha… tidak perlu marah Max. memang wajar Paul hanya bertanya padaku, karena sarapanmu hanya itu-itu saja. Andai kamu sarapan dengan menu yang beragam, Paul pasti akan bertanya.” Samantha berusaha melerai dua laki-laki itu.

__ADS_1


“Tapi bukan berarti dia tidak perlu bertanya. Aku merasa kalau hanya istriku yang diistimewakan di rumah ini oleh Paul. Berbeda dengan Nora dan Eveline, mereka tetap peduli padaku.” Maximo dengan gaya cemburunya yang khas sampai tidak mau menatap wajah Paul yang merasa bersalah.


“Maafkan saya tuan. Tolong ampuni saya.” Paul benar-benar menyesal.


“Sudah, buatkan aku kopi yang enak. Kalau sampai tidak enak, kamu harus mengulang membuatnya sampai kopi itu enak. Aku yakin, kamu bahkan sudah lupa takaran kopi yang pas untukku.” Maximo berujar dengan sinis. Baginya, semua perhatian Paul saat ini hanya tertuju pada Samantha. Seolah Samantha adalah satu-satunya orang yang ada di rumah ini.


“Baik tuan, segera saya buatkan kopi yang pas untuk tuan. Saya permisi,” pamit Paul. Paulpun bergegas pergi meninggalkan Samantha dan Maximo. Rasanya ia memang melakukan kesalahan karena selama ini lebih sering mengurusi Samantha. Entahlah, ia selalu merasa khawatir pada wanita itu.


“Max, kamu keterlaluan.” Samantha yang akhirnya marah sambil meninju lengan lelakinya. Setelah Paul pergi, Samantha melepaskan rangkulannya dari lengan kokoh Maximo dan memilh duduk di bangku taman.


“Mengapa aku yang salah. Aku hanya mengingatkan laki-laki itu agar berimbang. Aku suamimu, tapi perhatiannya malah lebih besar dia daripada aku. Apa dia berpikir kalau kamu adalah istrinya?” protes Maximo dengan kesal.


“Aku tidak suka saat dia berlebihan. Perhatiannya berlebihan, Sam,” sahut Maximo.


Samantha tersenyum kecil mendengar jawaban suaminya. “Bukan perhatiannya yang berlebih, tapi kamu yang merasa tercuri olehku karena Paul membagi perhatiannya denganku,” cicit Samantha seraya menatap sang suami dari samping. Laki-laki itu tidak lantas menjawab.


“Kemarilah,” Samantha menepuk pahanya tempat biasa Maximo membaringkan kepalanya dan berbicara dengan janin mereka.

__ADS_1


“Boleh?” laki-laki itu tampak ragu, mengingat kemarin Samantha protes kakinya kram saat Maximo tertidur di sana.


“Kalau tidak mau ya sudah.”


“Tunggu, aku Mau!” Maximo membaringkan tubuhnya dengan paha Samantha sebagai bantalan. Ia menatap perut Samantha yang sudah semakin membulat. Diusapnya perut itu dengan sayang lalu ia kecup.


“Max, aku berpikir kalau Paul bersikap berlebihan kepadaku mungkin karena dia sangat mengkhawatirkanku. Dia tidak memiliki keluarga satupun, dan aku sebatang kara. Perhatiannya terhadapku lebih seperti perhatian seorang ayah pada putrinya. Itu yang aku rasakan,” ucap Samantha.


Maximo tidak lantas menimpali, ia masih asyik mengecupi perut Samantha yang terlihat semakin sesak saja.


“Jadi jangan terlalu keras pada pria itu. Dia pasti cukup kesulitan menghadapiku yang banyak maunya,” imbuh wanita itu seraya mengusap kepala Maximo dengan lembut. Rambut tebalnya selalu menyenangkan untuk disentuh.


“Hem, akan aku pertimbangkan.” Hanya itu saja jawaban Maximo, meski wajahnya terlihat tidak rela.


“Baguslah. Lain kali, jangan berbicara keras padanya. Aku pasti akan membelanya. Jadi, Akh!” di tengah-tengah kalimatnya, tiba-tiba saja samantha mengaduh sambil memegangi perutnya.


"Hey, kenapa?" tanya Maximo yang kaget.

__ADS_1


****


__ADS_2