Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Potongan kenangan


__ADS_3

Usaha mencari bukti yang dilakukan oleh Maximo dan Samantha, dimulai dengan mendatangi lokasi terbunuhnya Gerald. Siang itu, Maximo mengajak Samantha untuk mengecek lokasi secara langsung. Di kota Los Angeles ada satu kuburan mobil terbesar. Berbekal informasi dari Alicia, Samantha mendatangi tempat ini. Untuk masuk ke tempat itu, aksesnya memang cukup sulit. Kuburan rongsokan mobil itu berada di balik tembokan pagar tinggi yang cukup tebal. Pintu gerbangnya juga terkunci.


“Siapa pemilik tempat ini?” tanya Maximo pada Paul. Ia memandangi pintu besi yang memiliki tinggi lebih dari tiga meter.


“Dari informasi yang saya dapat, tempat ini milik seorang veteran angkatan darat yang sudah lama meninggal. Keluarganya pindah ke Irlandia dan tempat ini terbengkalai sekitar delapan tahun lamanya,” terang Paul.


Maximo terangguk paham dengan informasi yang ia dapat dari Paul. Pagar besi yang berkarat itu menunjukkan kalau tempat ini memang sudah lama tidak diperhatikan.


“Kita akan masuk ke dalam, tapi pastikan untuk selalu waspada dan berhati-hati. Tempat ini mungkin memiliki ranjau yang tidak kita tahu letaknya. Cukup dua orang yang ikut denganku dan Samantha, sementara yang lainnya berjaga di luar. Pastikan untuk mengikuti semua perintahku.” Maximo berpesan dengan serius.


“Baik tuan.” Walau cemas, Paul hanya bisa mengiyakan.


Gembok pagar itu dihancurkan oleh anak buah Maximo dan tidak lama, pintu gerbang itupun terbuka. Suara besi berderit keras saat pintu itu terbuka dengan lebar. Di tangan Samantha dan Maximo sudah membawa senjata masing-masing. Mereka masuk dengan diikuti dua orang pengawal yan berjaga di belakang. Mereka melangkah dengan hati-hati dan tatapan yang waspada, khawatir ada jebakan yang mungkin akan membahayakan mereka.


“Kalian menyisir daerah luar dan aku akan ke sana bersama Samantha.” Maximo menunjuk sebuah bangunan tua yang terlihat seperti Gudang.


“Baik Tuan.” Dua pengawal itu mengangguk patuh. Mereka mulai berpencar sementara Maximo dan Samantha melanjutkan langkahnya menuju Gudang.


“Berhati-hatilah Sam.” Maximo juga mengkhawatirkan wanita yang ada di sampingnya.

__ADS_1


“Iya, aku akan berhati-hati.” Mata Samantha terlihat waspada melihat ke sekelilingnya.


Mereka terus bergerak menuju Gudang. Maximo mendorong pintu besi itu dan ternyata tidak terkunci. Suasana Gudang sangat gelap meski pada siang hari. Tidak ada celah cahaya dan udara yang membuat kondisi ruangan itupun sangat pengap. Seisi ruangan dipenuhi oleh tong yang berderet rapi dan entah berisi apa. Yang jelas jalanan yang mereka lewati sedikit licin.


Maximo dan Samantha sama-sama menyalakan senter yang mereka bawa. Melihat ke sekeliling ruangan itu dan mencari apa saja yang bisa mereka temukan di sana.


“Bagaimana kondisi tubuh kakakmu saat ditemukan?” Maximo bertanya dengan penasaran.


“Aku tidak tahu persis. Aku hanya melihatnya di ruang mayat. Tubuhnya di penuhi luka sayatan dan ada luka tembakan di bawah bahunya. Saat itu aku tidak diperbolehkan menyentuhnya. Karena menurut mereka, tubuh kakakku beracun. Aku melihatnya kalau tubuh Gerald segar padahal aku melihat jasadnya di hari ketiga. Bukankah harusnya sudah ada pembusukan?” Samantha mencoba mengingat kembali bagaimana kondisi tubuh Gerald saat itu.


Maximo tidak lantas menimpali, ia masih berusaha berpikir. “Mungkin tubuhnya beracun karena dia terkurung di tempat ini.” Maximo yang penasaran, membuka penutup satu tong besi untuk melihat isinya. Isinya sangat berbau, seperti limbah oli yang tersimpan terlalu lama. Maximo segera menutupnya kembali.


“Uhuk! Uhuk!” laki-laki itu sampai terbatuk karena bau dari dalam tong itu sangat menyengat.


Maximo dan Samantha melangkah semakin jauh. Ia melihat sisa cairan oli yang tertumpah di lantai dan sudah mengering. Ada sesuatu di bawah salah stau tong dan bentuknya sangat dikenali oleh Maximo. Maximo menyenteri benda itu. Benda bulat lonjong berwarna hitam yang mirip dengan sebuah bom. Pengaitnya masih terpasang yang berarti bom itu belum sempat digunakan.


“Berhati-hatilah Sam. Bom itu sepertinya masih aktif dan bisa meledak kapan saja.” Maximo memberikan peringatan.


Tidak ada sahutan dari gadis itu, membuat Maximo segera menoleh. Ia mendapati gadis itu sedang berjongkok dan melihat sesuatu di bawah salah satu tong. Ada sebuah sisir kecil di sana. Samantha mengenal benar sisir itu sebagai milik Gerald. Lalu di sela sisir kecil itu ada sebuah robekan kertas. Samantha memberanikan diri untuk mengambilnya. Saat dilihat ternyata kertas itu adalah potongan foto yang terrobek.

__ADS_1


“Max,” Samantha menunjukkan potongan foto itu pada Maximo dan Maximo tampak terkejut. Foto yang ditunjukkan Samantha adalah foto wajah adiknya, Mirella.


“Kenapa foto Mirella ada di sini?” Maximo melotot tidak percaya.


“Memangnya siapa saja yang memiliki foto itu?” Samantha balik bertanya.


Maximo terdiam, memandangi wajah Mirella yang kotor terkena oli kering. “Aku, Michael dan Mirella. Apa itu artinya Michael atau Mirrela datang ke tempat ini?” Maximo berpikir dengan keras.


Samantha ikut berpikir, ia teringat persis kalau foto yang ditunjukkan Wilson saat itu adalah foto yang sama, namun tanpa wajah gadis ini. Foto yang sama juga yang ia lihat di tangan Maximo beberapa waktu lalu.


“Aku rasa, aku tahu siapa pemiliknya, Max,” ujar Samantha yang masih mencoba menarik benang merah.


“Siapa?” Maximo bertanya dengan cepat.


Dhuar!


Suara ledakan tiba-tiba saja terdengar.


“SAMANTHA! BERLINDUNG!” seru Maximo saat melihat satu tong meledak. Maximo segera menarik tangan Samantha dan berlari menuju pintu, berusaha keluar dari Gudang itu. Tetapi entah sejak kapan pintu Gudang tertutup dan sulit dibuka. Satu per satu tong itu terus meledak dan mengeluarkan api yang berkobar. Jarak kobaran api semakin dekat dengan Samantha dan Maximo.

__ADS_1


"Max, bagaimana ini?" tanya Samantha yang menutup hidungnya karena bau cairan limbah yang terbakar sangatlah menyengat.


****


__ADS_2