
Rencana pernikahan itu malah diawali dengan sebuah pemakaman salah satu putra angkat Cortez. Di bawah cahaya matahari yang terik, jasad Gerald benar-benar dikebumikan. Tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah peti mati dan diturunkan perlahan ke liang lahat. Hanya beberapa orang yang mengantar kepergian Gerald ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Di balik kacamata hitamnya, Samantha menatap nanar tanah yang mulai menutupi peti mati itu. Ia tidak menyangka kalau sosok laki-laki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, pergi dengan cara yang tragis. Ini kali kedua Samantha menghadiri pemakaman Gerald dan ini menjadi kali terakhir ia bertemu dengan pria itu.
“Selamat tinggal Michael, sekarang nama itu yang tertulis di batu nisan mu,” batin Samantha pada bayangan Gerald yang semakin lama semakin menjauh. Tubuhnya sudah benar-benar ditutupi oleh tanah dan pendeta mulai membacakan puja-puji untuk mengiringi kepergian Michael.
Tidak ada yang bersuara ataupun terisak. Hanya ada lelehan air mata di sudut mata Maximo yang tertutup kacamata hitam. Bagaimana pun ia tidak pernah menyangka kalau saudara laki-lakinya akan pergi dengan cara yang tragis seperti ini.
Tiba di rumah Maximo, laki-laki itu tampak terdiam sendirian di balkon. Ia melepas kacamata hitam yang menutupi mata merah penuh kesedihan. Isi kepalanya masih memutar kenangan masa lalu yang begitu indah antara ia dan Michael. Berlarian di ladang milik kedua orang tuanya, berseluncur mengunakan karung pupuk milik sang ayah atau sesekali mengganggu Mirella yang ingin menangkap kupu-kupu.
Mereka akan tertawa lebar saat berhasil menggagalkan usaha Mirella untuk mengambil kupu-kupunya. “Nanti malam aku akan menangkap kunang-kunang, jangan ada yang ikut denganku!” seru gadis itu dengan kesal. Ia segera menghampiri sang ibu dan memeluknya dengan erat. Tidak lama, Mirella pun menangis karena kesal.
“Michael! Maximo! apa yang kalian lakukan?” teriak sang ayah sambil berkacak pinggang. Saat itu Maximo dan Michael kompak berlarian ke hutan. Mereka bersembunyi di sana. Mengisi waktu mereka dengan berrenang di danau atau bermain perang-perangan dan memanjat pohon.
Terakhir kali mereka membuat orang tua mereka marah dan tidak berani pulang ke rumah. Mereka baru pulang saat malam hari. Saat itu kamar Mirrela terlihat begitu terang oleh cahaya kunang-kunang di dalam toplesnya. Michael dan Maximo hanya bisa mengintip dari celah pintu kamar, karena takut anak kecil itu berteriak memanggil kedua orang tuanya.
“Kalian, sedang apa?” tanya sang ibu yang menangkap diam-diam perilaku kedua putranya.
Keduanya sampai terhenyak dan hanya bisa menunduk dihadapan sang ibu. “Kami minta maaf ibu. Kami berjanji tidak akan mengganggu Mirella lagi,” ucap tulus Michael dengan penuh sesal. Ia menyikut Maximo agar ikut meminta maaf.
__ADS_1
“I-iya ibu. Aku juga tidak akan mengganggu Mirella lagi.” Maximo ikut bersuara dengan takut-takut.
Sang ibu hanya menatap mereka beberapa saat. Kenakalan anak-anak memang sudah menjadi hal yang biasa. “Makanlah, setelah itu pergi mandi. Tubuh kalian bau matahari,” titah sang ibu, yang memang tidak pernah bisa berbicara manis. Tetapi mereka tahu kalau sang ibu sangat menyayangi mereka.
“Iyaa,” mereka berjalan dengan semangat menuju meja makan sederhana yang terbuat dari kayu. Mereka mulai mengambil makanan mereka masing-masing dan menikmatinya.
“Kamu bangun?” tanya sang ibu saat melihat Mirella di mulut pintu kamarnya.
“Aku mimpi buruk ibu, aku melihat ayah mati,” ucap gadis kecil itu.
Sang ibupun segera menghampiri Mirella dan menggendongnya, lalu mendudukkannya di kursi yang berhadapan dengan Maximo. “Perutmu lapar, makanlah. Setelah itu kembalilah tidur,” ucap sang ibu yang kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
“Jangan diulangi, ibu bilang laki-laki tidak boleh jahat pada wanita. Mereka harus melindungi wanita. Aku harap kalian mengingat itu,” ucap gadis bergigi ompong itu dengan menggemaskan.
“Iyaa, kami tidak akan mengulanginya.” Maximo mengacungkan jari kelingkingnya pada Mirella. Ia juga menarik tangan Michael untuk turut serta. Mereka bertiga saling mentautkan jari kelingking mereka dan saling tertawa entah untuk alasan apa.
“Habiskan makanan kalian, jangan tidur terlalu malam. Besok kalian sekolah,” pesan sang ibu.
“Baik ibu….” Sahut ketiganya bersamaan.
__ADS_1
“Kamu merindukannya?” Sebuah suara menjadi jeda akhir dari lamunan Maximo. Laki-laki itu mengusap air matanya dengan kasar dan menoleh pada sang adik yang datang menghampirnya.
“Duduklah,” Maximo menepuk tempat di sampingnya untuk Eveline.
Gadis itu patuh dengan duduk di samping Maximo dan menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Maximo. “Kamu ingat mimpi buruk terakhirku?” tanya Eveline. Gadis ini sudah mengingat semua kejadian di masa kecilnya, termasuk saat ia tersesat di Rusia dan menjadi wanita malam karena jebakan Michael.
“Ya, ibu bilang mimpi buruk itu hanya karena kita sering membaca buku tentang vampire.” Maximo mengingat jelas ucapan sang ibu.
“Kalau saja waktu itu aku tidak mimpi ayah mati, apa mereka masih akan ada di dunia ini?” suara Eveline terdengar bergetar penuh kesedihan.
Maximo tidak lantas menimpali. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Eveline lantas mengusap lengan sang adik dengan lembut. Ia pun merasakan kesedihan yang sama. “Terkadang kita tidak bisa memilih sesuatu yang ingin atau tidak ingin terjadi dalam hidup kita. Tapi kita sudah belajar untuk mempertahankan apa yang kita punya,” timpal Maximo. Maximo yang duduk dengan tegak, menjadi sandaran ternyaman untuk sang adik. Ia telah kehilangan satu orang kakak, dan ia tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya.
“Aku menyayangimu, Max. terima kasih telah mempertahankanku,” ucap gadis itu seraya mengecup pipi Maximo.
Maximo hanya tersenyum, ia mengusap kepala Eveline lantas mengecup pucuk kepala wanita itu dengan sayang.
Di belakang mereka, ada seorang wanita yang diam-diam mengabadikan moment adik kakak itu dalam sebuah tablet yang biasa Eveline gunakan. Banyak foto yang ia ambil. Ia pandangi kembali satu persatu, hatinya ikut menghangat melihat keakraban kakak beradik tersebut.
“Aku menyayangi kalian,” gumam samantha, seraya mengecup foto Maximo dan Eveline dalam satu gambar yang sama.
__ADS_1
****