Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Saling melindungi


__ADS_3

Samantha benar-benar dalam posisi tersudut. Ia bersembunyi di belakang dinding untuk menghindari pandangan para agent yang bersamaan turun menuju basement. Di sampingnya masih ada Alicia yang terlihat lemah, bersandar pada dinding dengan suara napas yang lelah dan berat. Entah sanggup atau tidak dia berlari bersama Samantha.


“Sam, kamu tinggalkan saja aku di sini. Aku hanya akan memperlambat langkahmu, sebaiknya kamu pergi dan selamatkan diri kamu.” Dengan lemah Alicia bersuara. Dia tidak mau menjadi beban bagi samantha dan malah membuat gadis di sampingnya celaka.


“Pikirmu aku akan meninggalkanmu di sini? Jangan bodoh! Aku tidak akan pernah melakukannya!” Samantha begitu serius dengan ucapannya. “Bertahanlah denganku, Alice. Karena aku tidak meninggalkanmu,” imbuh wanita itu, sambil tetap mengintip keluar sana.


Alicia tercenung mendengar ucapan samantha. Ia tidak mengira kalau Samantha begitu bersungguh-sungguh untuk menyelamatkannya.


“Kenapa kamu melakukan ini semua, Sam?” Tiba-tiba saja gadis itu bertanya dengan suaranya yang bergetar, haru.


Samantha tidak lantas menjawab, ia menoleh Alicia dan menatapnya dengan heran. “Mana mungkin aku membiarkan temanku mati di tempat yang tidak seharusnya apalagi setelah mendapatkan siksaan sekeji itu. Matilah dengan terhormat dan bahagia Alice, bukan dalam kondisi terhina dan terintimidasi,” ujar wanita itu dengan tatapan tajam.


Sudut bibir Alicia terenggang untuk tersenyum kecil, konyol sekali jawaban samantha. Tetapi kekonyolan itu yang justru membuat semangat Alicia bangkit kembali. Dia tidak menyangka kalau seorang Samantha yang baru ia kenal beberapa waktu lalu, sangat peduli padanya. Kepribadiannya mirip dengan Gerald dan jauh berbeda dengan Wilson yang ternyata hanya menipunya sampai tega menyiksanya.


“Kamu benar, paling tidak aku harus mati dalam keadaan cantik, bukan dengan tampilan lusuh dan berantakan seperti ini.” Alicia mengiyakan ucapan samantha.


“Bagus kalau kamu paham!” Samantha ikut tersenyum kecil. Dia melihat sekilas kaki Alicia yang berdarah, “Kuatkan kakimu sebentar saja Alice, kita akan berlari ke mobilku. Kamu berlari di depanku dan aku akan melindungimu dari belakang,” pinta Samantha.


“Iya. Tapi beri aku senjata, aku juga harus berusaha melindungi diriku sendiri."

__ADS_1


Samantha menatap Alicia dengan heran, rupanya wanita ini masih memiliki keinginan untuk hidup. Samantha segera bersiap, "Kemarilah! Kita akan berlari dalam hitungan tiga." Samantha memosisikan Alicia di depannya, membentuk garis diagonal lurus menuju mobilnya.


"Ya, aku akan melakukannya." Alicia benar-benar bersiap. Ia mempersiapkan senjatanya, mengecek jumlah peluru yang ternyata masih ada delapan lagi. "Aku sudah siap," imbuh Alicia.


"Okey," Samantha mengokang senjatanya dan bersiap untuk berlari. Sebelum itu ia menekan sesuatu yang ada di dalam sakunya, sebagai permintaan bantuan pada Maximo. Ia berharap Maximo bisa segera menyusulnya. "Satu, dua, tiga!" seru Samantha.


Alicia dan Samantha kompak berlari menuju mobil sport berwarna hitam. Tidak lama, mereka disambut oleh suara tembakan yang menghujani mereka. Samantha dan Alicia melawannya, mereka mempercepat langkah kakinya, menski langkah Alicia tertatih-tatih karena kakinya sempat di rendam di air es yang sangat dingin hingga sempat mati rasa.


Hujan peluru terus mengarah pada dua wanita itu. Samantha berlari leih cepat dari Alicia, ia menarik tangan wanita itu untuk masuk ke dalam mobil. Para agent berlari mengejar mereka, tetapi dengan cepat Samantha menyalakan mesin mobil. Tembakan itu masih terus menghujani mereka, beruntung kaca mobil Maximo memakai pelapis anti peluru.


Samantha menginjak pedal gas dan rem bersamaan. Mobil itu sempat mundur untuk mengambil tolakan sebelum kemudian melaju dengan cepat meninggalkan basement. Kendaraan roda empat itu bergerak meliuk mengikuti alur basement.


"Tutup gerbang utama! Jangan biarkan mereka lolos!" Richard memberikan perintahnyaa pada penjaga gerbang utama melalui handy talky.


"Baik, tuan!" sahut pria itu. Pria bertubuh tambun itu pun segera menutup seadanya gerbang yang sudah di tabrak Samantha saat perempuan itu datang. Ia memasang palang di antara pintu gerbang kiri dan kanan. Tetapi, saat pintu nyaris tertutup sempurna, mobil Samantha melaju semakin kencang, matanya yang tajam menatap gerbang yang ada dihadapannya. Satu lapis gerbang sudah ia hancurkan, tidak ada salahnya kalau lapisan keduapun ia coba hancurkan.


BRAK!


Benar saja, Samantha menghantam pintu dan palang itu tanpa rasa ragu. Mobil Samantha sampai meloncat karena turunan dan tanjakan yang tiba-tiba tanpa memelankan laju mobilnya. Tubuh Samantha dan Alicia sampai berguncang. Bukannya takut, mereka malah berseru, "WOHO!!" seru Samantha yang mulai merasakan udara kebebasan.

__ADS_1


Samantha terus melajukan mobilnya, diikuti oleh Richard dan kawan-kawannya. Aksi balapan di jalanan pun tidak terelakkan. Beberapa kali mobil Samantha di tembaki dan Samantha tidak bisa melawan selain harus menghindarinya. Ia berusaha bergerak dengan lincah walau akhirnya hanya terkesan ugal-ugalan.


"SAM! AWAS!!" teriak Alicia saat melihat sebuah mobil box yang menghalangi mereka karena lajunya yang lambat.


"Jangan mengagetkanku Alice! Aku sedang berusaha supaya kita tidak mati karena tabrakan!" Samantha berujar dengan kesal. Teriakan Alicia membuat ia kaget dan menginjak pedal gasnya semakin dalam lalu membanting setirnya ke kiri. Di belakang ada mobil yang melaju cepat dan memberi klakson panjang pada Samantha karena masuk tiba-tiba ke lajur miliknya.


"Sebentar brengsek! Aku juga punya hak sebagai pengguna jalan!" Samantha hanya bisa memaki dan tetap melajukan mobilnya dengan cepat. Alicia segera memasang sabuk pengamannya, dia harus bersiap kalau-kalau Samantha kembali menginjak pedal gas dan tem tiba-tiba, hingga membuat tubuhnya nyaris terlempar dan terbentur.


"Kamu punya SIM, Sam?" Alicia penasaran, karena cara menyetir Samantha yang ugal-ugalan.


"Hanya malaikat kematian yang berhak bertanya itu padaku dan aku belum mau menemuinya," timpal Samantha yang tetap melajukan mobilnya dengan cepat. "Tidakkah ini sangat menyenangkan, Alice? Aku merasa menjadi Leti yang balapan setelah mencuri mobil Dominic!" Wanita itu malah tersenyum senang, mendalami karakter pemain salah satu film box office.


"Terserah padamu, Sam. Bawa aku ke mana pun asalkan jangan buat aku mati sekarang, aku belum mandi selama empat hari." Alicia hanya bisa pasrah.


"Tenanglah, malaikat kematian tidak suka bau keringatmu, dia akan memberi kita waktu untuk membersihkan tubuh dan memakai parfum mahal." Gadis itu masih menimpali, membuat ajang balapan ini terasa lebih menyenangkan.


"Kamu gila, Sam." Hanya itu komentar Alicia untuk wanita di sampingnya.


****

__ADS_1


__ADS_2