Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pelampiasan kekesalan


__ADS_3

“Kamu sudah yakin kalau itu benar titiknya?”


Suara tegas dan tegang itu milik Wilson. Ia bertanya pada salah stau staf yang melacak keberadaan pelacak yang semula menempel ditubuh Samantha. Laki-laki itu menatap layar monitor dengan kesal karena alat pelacak Samantha sempat menghilang dari radarnya setelah sebelumnya pelacak itu tidak bergerak dan masih tetap ada dikediaman William.


“Aku yakin, sepertinya seseorang melepas pelacak itu dari tubuh Samantha,” timpal staf tersebut.


“Akh sial! Kita bisa kehilangan jejak gara-gara ini.” Wilson meninju mejanya dengan kesal. Peluang emas yang sudah ia dapatkan malah lepas begitu saja.


“Apa mungkin gadis itu tertangkap?” Richard yang memberi komentar.


“Tidak mungkin. Samantha lihai, tidak akan semudah itu tertangkap.” Wilson masih memberikan pembelaan.


“Bagaimana bisa kamu begitu yakin? Mungkin saja semalam dia tertangkap karena kamu memaksa untuk menemuinya dan William tahu kamu menyusup.” Richard berreaksi dengan kesal.


“Iya, itu sangat mungkin terjadi. Aku rasa kamu terlalu tergesa-gesa Wilson.” Alicia ikut berbicara. Laki-laki ini bersikeras ingin menemui Samantha padahal tempat yang akan ia datangi bukanlah tempat yang aman untuknya. Bisa saja itu menjadi perangkap untuk Wilson.


“Lalu menurutmu kita harus diam saja, sementara tubuh rekan-rekan kita sudah menjadi tanah?!” Wilson berujar dengan geram, suaranya menggema diruangan luas itu.


Richard dan Alicia sama-sama terdiam. Ucapan Wilson memang benar dan mereka tidak bisa membiarkan usahanya gagal lagi untuk menghadapi Maximo.


“Tapi paling tidak, kita sudah menemukan titik yang paling mungkin menjadi pintu masuk ke kediaman Maximo. lokasinya sesuai dengan yang digambarkan Samantha. Kita hanya perlu memeriksanya langsung ke sana.” Richard berusaha menenangkan keadaan.


“Ya, kita kirim mata-mata untuk menyisir daerah itu. Kerahkan orang sebanyak mungkin untuk meminimalisir serangan yang tiba-tiba dari pihak Maximo.” Wilson menimpali dengan semangat. Ia tersenyum sinis pada layar monitor yang mulai menunjukkan titik tempat ia bisa mencari keberadaan Maximo dan menghancurkan pria itu.


“Siapkan semuanya, aku akan memeriksa sesuatu,” imbuh laki-laki itu seraya berlalu pergi.


Richard, Alicia dan staf lainnya saling menoleh. Mereka menunggu Wilson berlalu untuk memberi umpatan.


“Sial, Wilson masih saja gegabah. Dia selalu lupa kalau yang dihadapi bukanlah orang sembarangan.” Richard bergumam kesal, ada kalanya ia tidak setuju dengan cara kerja kapten mereka yang serampangan itu.

__ADS_1


Alicia yang melihat ketegangan antara Wilson dan Richard, segera menyusul laki-laki itu. Ia harus berbicara dengan Wilson.


“Wilson, tunggu sebentar!” panggil Alicia saat Wilson akan masuk ke ruangan kerjanya.


“Ada apa?” Wilson menghentikan langkahnya beberapa saat.


“Kita perlu bicara, tentang Samantha.” Alicia sengaja menyebut nama Samantha karena itu selalu menarik perhatian Wilson.


Benar saja, laki-laki itu menoleh dan berpikir beberapa saat. “Masuklah!” ia membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar untuk Alicia. Mereka masuk ke ruangan itu dan Wilson menutup pintunya rapat-rapat.


Mereka berdiri berhadapan, Wilson bersandar pada meja kerjanya, sedikit terduduk disana dengan kedua tangan sebagai tumpuan disisi kiri dan kanan tubuhnya. Sementara Alicia bersandar pada dinding.


“Katakan, apa yang kamu ingin ceritakan tentang Samantha?” laki-laki itu menatap Alicia dengan penuh perhatian.


Alicia menyilangkan tangannya didepan dada dan bersandar dengan nyaman. “Saat aku bertemu Samantha, aku melihat kalau laki-laki bernama Maximo itu memberi perhatian yang besar pada Samantha. Bukan sebagai petani dengan buruannya, tapi lebih seperti seorang laki-laki yang memuja seorang wanita.” Alicia mengawali kalimatnya dengan provokatif.


“Apa maksudmu? Apa inti pembicaraan yang mau kamu sampaikan.” Wilson menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekat pada Alicia. Ada kilatan kemarahan dimatanya.


“Oh ya?” Wilson terlihat tidak terima, karena baginya Samantha hanyalah umpan yang tidak bisa dimiliki oleh Maximo.


“Ya, aku melihatnya dengan jelas. Laki-laki itu begitu memanjakan Samantha, membiarkan Samantha merengek dan tidak terlihat risih sedikitpun. Selain itu, aku merasa pandangan Samantha terhadap Maximo mulai berubah. Dia mengatakan kalau dia ragu Maximo adalah pembunuh Gerald. Mungkin saja kita menuduh orang yang salah. Dia juga mengatakan,”


“CUKUP!” Wilson berteriak dihadapan Alicia.


“Aku belum selesai!” Alicia mulai kesal, merasa tidak dianggap.


“Aku bilang cukup.” Wilson mengulang kalimatnya lebih tegas. “Aku merasa kamu bukan sedang melaporkan sebuah perkembangan, melainkan sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak dilakukan Samantha. Semalam aku masih melihat kalau mata Samantha masih menunjukkan kemarahan dan kesedihan atas kepergian Gerald. Jangan mempengaruhiku untuk berpikir yang tidak-tidak tentang Samantha.” Wilson berbicara dengan penuh penekanan. Ia tidak suka Alicia melanjutkan kalimatnya dan membuatnya membayangkan seberapa dekat hubungan Samantha dengan Maximo. Ada perasaan sesak yang mengisi relung hatinya.


“Kamu berubah Wilson, kamu mulai berubah.” Alicia menatap Wilson dengan nanar. Ada rasa kecewa karena laporannya hanya dianggap sebuah tuduhan pada Samantha, padahal Wilson sudah lebih dulu mengenalnya dibanding Samantha.

__ADS_1


“Tidak ada yang berubah. Aku masih tetap sama, tidak suka pada orang yang suka mengada-ngada.” Wilson tersenyum sinis.


“Apa kamu sengaja menjelekkan Samantha untuk membuatku marah? Kamu cemburu Alice?” Wilson semakin mendekat pada Alicia, bahkan menopangkan satu tangannya pada dinding disamping kepala Alicia seolah sedang mengungkung tubuh wanita itu.


“Aku kecewa Wilson, sangat kecewa. Aku….”


Belum selesai Alicia melanjutkan kalimatnya, Wilson sudah lebih dulu melahap bibir coklat nilik Alicia. Menggigitnya dengan rakus hingga bibir Alicia tertarik. “Katakan kalau kamu cemburu, tapi jangan pernah membuatku  membayangkan bagaimana hubungan Samantha dengan Maximo, karena itu menjijikan.” Wilson berbicara dengan jarak yang sangat dekat dengan Alicia. Alicia bahkan bisa merasakan hembusan napas Wilson yang menderu diwajahnya. Apa laki-laki ini sedang merasa cemburu dan melampiaskannya pada Alicia?


“Memangnya apa jadinya kalau aku memang cemburu?” Alicia terpaksa mengubur dalam-dalam usahanya untuk membuka mata Wilson karena sepertinya yang ada dipikiran Wilson saat ini hanyalah kecemburuan membayangkan hubungan Samantha dengan Maximo. Bukankah akan lebih baik menetralisir kembali isi pikiran Wilson agar tetap berada pada tujuannya semula?


Wilson tersenyum kecil, pengakuan Alicia yang seperti ini terdengar lebih menyenangkan dibanding cerita romansa Samantha dan Maximo yang membuat dadanya bergemuruh.


“Aku bisa memberikanmu apapun asalkan kamu tetap mendukungku untuk menghancurkan Maximo.” ucap Wilson seraya membalik tubuh Alicia membelakanginya.


“Akh!” entah mengaduh atau melenguh maksud suara Alicia yang satu itu. Yang jelas ia merasakan Wilson meraba dadanya dan menarik kancing bajunya. Lalu merem4s tumpukan sintal didadanya.


“Kamu mengharapkan ini dariku dan Gerald bukan? Kamu memang serakah!” bisik Wilson dengan menderu.


“Akh, Wilson.” Alicia hanya bisa terengah saat geriliya sentuhan Wilson membangunkan sisi feminis dalam dirinya. Mengingat nama Gerald membuat bayangan laki-laki itu muncul dipikirannya. Laki-laki yang selalu ia puja diam-diam.


“Kamu menyukainya? Aku bisa melakukannya lebih dari ini, dengan satu syarat, jangan membutakanku dengan cerita Samantha.” Penawaran dan ancaman yang Wilson berikan pada Alicia saat ini.


Alicia tidak menimpali, ia hanya bisa melenguh sambil mencakar dinding saat bagian tubuh yang paling penting dari Wilson terasa melesak memasuki inti tubuhnya. Sejujurnya saat inipun Wilson sudah buta karena yang ada dalam pikirannya bukan Alicia melainkan Samantha. Gadis yang mencuri perhatiannya dan wangi parfumnya masih mendominasi penciumannya.


“Ya, lakukan yang bisa kamu lakukan untukku,” tantang Alicia.


Wilson tersenyum kecil, ia mulai menghentakkan tubuhnya pada Alicia dan gadis itu melenguh tertahan. Semuanya sudah dimulai dan mulai sulit dikendalikan oleh keduanya hingga mereka sama-sama melenguh diujung rasa puasnya.


Meski bukan Samantha, paling tidak Wilson bisa melampiaskan hasratnya.

__ADS_1


****



__ADS_2