Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Jasper Ridley Hale


__ADS_3

“Ada apa? Dia menendangmu dengan keras lagi?” tanya Maximo yang segera bangkit. Ia kaget melihat Samantha yang hanya terdiam sambil menahan sakit. Tangannya berpegangan dengan erat pada sandaran bangku.


“Astaga Sam, ada apa? PAUL!!!” teriak Maximo yang segara memanggil Paul karena Samantha hanya bisa meringis dan tidak bicara.


“Iya Tuan,” Paul segera menghampiri.


“Paul, lihat! Ada apa dengan Samantha. Dia sepertinya kesakitan.” Ia melihat satu tangan Samantha yang mencengkram lengannya dengan erat.


“Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Paul. paul ikut panik. Ia melihat Samantha yang berkerigat dingin tiba-tiba.


“Perutku, sa-ngat sa-kit.” Kalimat Samantha terbata-bata.


“NORA!” Paul akhirnya berteriak memanggil Nora yang ada di dalam. Wanita itu yang paling bisa membantu Samantha saat nyonya mudanya kesakitan akibat tendangan Maximo junior.


“Ada apa?” tanya Nora yang datang dengan berlari.


“Perutnya sakit,” Maximo terlihat panik. Wajahnya tegang, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Nora segera menghampiri Samantha yang meringis kesakitan sampai berkeringat dingin. Ia mengusap punggung Samantha yang sangat tegang.


“Astaga, nyonya!” Nora terhenyak saat melihat cairan bening mengalir di sela kaki Samantha.


“Ada apa?” Maximo semakin kaget.


“Tuan, sepertinya nyonya akan segera melahirkan. Sudah ada cairan yang keluar.” Nora menunjuk cairan yang membasahi kaki Samantha.


“Astaga Samantha.” Maximo benar-benar panik. “Paul segera hubungi dokter dan siapkan semuanya! Kita akan ke rumah sakit sekarang!” seru maximo. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera menggendong Samantha dan membawanya turun.


“Ada apa ini?” Eveline yang baru turun terlihat kaget melihat Maximo yang menggendong Samantha dengan langkah kakinya yang cepat, setengah berlari.


“Nyonya akan melahirkan, nona,” ujar Nora yang segera mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah ia siapkan.


“Ya tuhan! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” Eveline segera mengambil kunci mobilnya dan mengikuti langkah kaki Maximo yang membawa Samantha turun. Ia tidak peduli walau masih mengenakan piyama.


Dua mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Selama perjalanan Maximo tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir dengan kecepatan tinggi sementara satu tangannya memegangi tangan Samantha. Di belakang sana, mobil Eveline segera menyusul. Ia segera menyalip Maximo untuk membantu membuka jalan di depan sana. Paul sibuk bertelepon dengan dokternya Samantha, meminta mereka menyiapkan semuanya.

__ADS_1


“Bertahanlah, Sam. Kita akan segera sampai,” ujar Maximo dengan suara gemetar. Tubuhnya berkeringat dingin melihat Samantha yang hanya terdiam. Ia pikir Samantha akan berteriak-teriak kesakitan, tetapi nyatanya wanita itu hanya diam sambil meringis menahan sakitnya.


“Berteriaklah sam, kalau ingin berteriak. Aku ingin mendengar suaramu,” melihat Samantha yang hanya terdiam membuat perasaannya semakin tidak karuan.


“Tidak Max, aku tidak mau berteriak. Aku merasa kalau sesuatu akan kaluar dari jalan lahirku. Cukup bawa aku dengan cepat ke rumah sakit.” Hanya itu permintaan Samantha di antara rasa tidak berdayanya menahan sakit sambil mencengkram pegangan pintu sebagai alat pelampiasan rasa sakitnya.


Seperti orang gila, Maximo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bantuan Eveline sangat berarti hingga ia bisa menerobos antrian kendaraan yang menghalangi mereka. Membunyikan klakson berulang kali agar kendaraan di depan mereka segera menyingkir. Dalam beberapa saat mereka sudah tiba di rumah sakit. Dokter sudah menunggunya dan membawa Samantha turun dari mobil lalu memindahkannya ke atas blankar.


“Silakan tunggu, kami akan menangangi pasien,” ucap dokter Samantha.


“Aku ingin menemaninya. Aku tidak boleh meninggalkannya!” seru Maximo yang bersikukuh. Tangannya tidak pernah melepaskan genggaman tangan Samantha yang begitu erat hingga membuat tangannya memerah.


“Baiklah, tapi saya mohon agar anda tenang, tuan,” pinta dokter. Ia tahu benar bagaimana rusuhnya Maximo setiap kali ada hal yang terkesan mengancam istri dan putranya.


“Iya, aku akan berusaha tenang,” ucap laki-laki itu seraya menggenggam tangan Samantha dengan erat. Mengikuti arah laju blankar menuju ruang tindakan.


Semua persiapan sudah selesai. Samantha dipindahkan ke blankar khusus persalinan. Ia sudah bersiap untuk melahirkan, mempertaruhkan nyawanya demi nyawa yang akan terlahir ke dunia. Jalan lahirnya sudah terbuka lebar dan kepala bayi sudah mulai tampak.


“Atur napas anda nyonya, saat perut anda terasa sangat sakit, baru Anda mengedan,” ujar sang dokter.


“Akh, sangat sakit dokter!” seru Samantha saat gelombang kontraksi itu kembali ia rasakan dan semakin kuat.


“Silakan dorong nyonya, dorong sekarang,” ucap dokter setelah memastikan kontraksi rahim Samantha sangat kuat.


Samantha menarik napasnya dalam-dalam lalu dengan seluruh tenaganya ia mendorong isi perutnya. “Aaaaakkk!!!” baru kali ini Samantha berteriak sambil mengedan kuat. Tangannya mengcengkram tangan Maximo dengan erat.


“Kamu bisa Sam, kamu akan menjadi ibu. Ayo sayang, kamu bisa,” ucap Maximo seraya mengecupi kepala Samantha. Ia seperti sedang berpacu dengan waktu yang rasanya ingin segera ia lompati.


Dalam hitungan menit, seorang bayi terlahir dengar selamat. Ia menangis dengan cukup keras. Suaranya seperti melodi piano yang sangat indah bagi kedua orang tuanya. Maximo segera memeluk Samantha dengan erat. Mengecupinya penuh rasa sayang dengan air matanya yang menetes tanpa di minta.


“Bayi laki-laki, panjang 54 cm dan berat 3,8 kg. Selamat tuan dan nyonya, bayi Anda lahir dengan sempurna,” ucap sang dokter dengan penuh rasa bangga karena Samanthha berhasil melahirkan bayinya yang berukuran cukup besar dengan cara yang normal dan tenang. Wanita ini benar-benar mengikuti semua arahannya hingga bayi mereka bisa terlahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


“Terima kasih Sam, terima kasih,” ucap Maximo seraya mengecupi sang istri yang tampak kelelahan. Samantha hanya bisa tersenyum haru sambil memandangi sang putra yang sedang dibersihkan oleh dokter lalu diselimuti dengan kain. Ia tidak menyangka kalau ia bisa melewati fase ini dengan cepat dan selamat.


“Aku bangga padamu, Sam.” Samantha memuji dirinya sendiri. Ia telah melewati badai yang sulit dan tiba dengan selamat. Ada Maximo di sampingnya yang selalu menemaninya dengan penuh semangat. Beruntung laki-laki ini bisa mengendalikan dirinya sehingga semuanya berjalan dengan lancar.

__ADS_1


“Anda mau menggedong bayinya, nyonya?” tawar dokter.


“Ya, aku ingin menggendongnya.” Wanita ini begitu semangat menyambut bayi yang ia kandung selama lebih dari sembilan bulan. Seketika rasa sakit ditubuhnya hilang berganti rasa bahagia yang tidak bisa ia gambarkan. Ia menggendong bayi itu di lengan kirinya lantas tersenyum penuh haru.


“Dia mirip denganmu, Max,” ucap Samantha seraya tersenyum kecil.


“Ya, dia benar-benar Maximo junior. Jasper Ridley Hale,” ucap Maximo dengan nama lengkap yang langsung ia sematkan pada putranya. Ia sengaja tidak menambahkan marga Cortez pada nama belakang putranya karena ingin memberikan kebebasan hidup pada putranya, tidak harus selalu hidup di dunia mafia. Ia ingin putranya menentukan sendiri masa depannya, tanpa harus menjadi seorang mafia seperti dirinya.


“Nama yang indah Max. Hello Jasper, ini ayahmu, Maximo. Aku, Samantha, ibumu,” ucap Samantha seraya mengecup kepala putranya dengan penuh perasaan. “Kamu mau menggendong Max?” tawar Samantha pada Maximo.


“Bolehkah?” laki-laki itu tampak gemetar namun penasaran.


“Tentu boleh,” timpal sang dokter.


Maximo tersenyum senang. Tangannya begitu kaku berusaha menggendong Jasper. Padahal ia sudah berlatih dengan menggunakan boneka. Tetapi saat benar-benar menggendong putranya, semua teori itu menguap dari pikirannya. Dengan hati-hati Samantha memindahkannya ke tangan Maximo. Laki-laki itu tersenyum haru pada wajah kecil yang ada dihadapannya. Bibir bayinya yang merah mengerucut dengan menggemaskan. “Bibirnya mirip denganku,” aku Maximo.


“Hahahha… ya, dia sangat mirip denganmu. Rahimku hanya tempat dia bertumbuh. Selamat menghadapi dirimu dalam versi kecil, Max,” timpal Samantha.


“Tentu, aku akan menghadapinya dengan penuh kasih sayang. Aku akan menjagamu sebaik aku menjaga ibumu, Jasper. Aku mencintaimu,” ucap laki-laki itu seraya mengecup kepala sang putra.


Baru satu kecupan ia berikan, tetapi ternyata Jasper malah menangis. Sangat kencang hingga seisi ruangan ini bisa mendengarnya.


“Astaga Sam, bagaimana ini? Apa dia tidak suka dengan ucapanku?” tuan mafia itu panik.


“Coba kamu diamkan Max, pelan-pelan, dengan penuh kasih sayang,” goda Samantha.


“Tidak Sam, jangan sekarang. Aku gugup, kamu saja yang melakukannya.” Maximo segera memberikan bayinya pada Samantha. Samantha pun menerimanya dengan senang hati.


“Anda bisa menyusuinya nyonya,” ucap sang dokter.


“Baik,” Samantha segera menempelkan bayi itu ke tubuhnya. Rasanya hangat dan nyaman saat kulit tubuh mereka bersentuhan. Dengan bantuan perawat, ia menyusui Jasper dan bayi itu langsung menyusu dengan kuat. Refleksnya sangat bagus.


“Cara dia menyusupun mirip denganku, Sam,” ucap Maximo dengan polos.


Samantha langsung melotot mendengar ujaran suaminya. “Astaga tuan mafia, bisakah tidak membahas itu di hadapan mereka?” batin Samantha saat melihat tim medis berusaha menahan senyum mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2