
Suara Samantha yang sedang memuntahkan isi perutnya, didengar jelas oleh telinga tajam Gerald. Laki-laki itu berjalan dengan cepat menuju kamar Samantha untuk memeriksa kondisinya. Cukup terkejut ketika ia mendapati wanita itu sedang membungkuk di depan closetnya. Ia hanya ditemani oleh terapisnya yang setia memijat pundak dan leher Samantha.
“Sam,” Gerald mendekat pada Samantha, tetapi wanita itu segera mengangkat tangannya lalu ia kibas-kibaskan sebagai bentuk larangan mendekat pada Gerald.
Laki-laki itu urung mendekat, membiarkan Samantha memuntahkan semua isi perut hingga terasa pahit. Sudah beberapa hari ini Samantha tidak muntah-muntah di pagi hari, Gerald pikir periode hyperemesis wanita ini sudah berlalu, tetapi nyatanya masih saja membuatnya merasa kasihan pada kondisi Samantha yang kemudian akan sangat lemah.
Puas mengeluarkan seisi perutnya, Samantha segera meminum air yang diberikan oleh terapisnya. Berkumur-kumur beberapa kali untuk menghilangkan rasa pahit kemudian menggunakan penyegar mulut untuk mengurangi rasa mual. Setelah perasaannya lebih baik, ia kembali ke ranjangnya dengan bantuan kursi roda.
“Kamu mau makan sesuatu, Sam? Biar aku ambilkan.” Gerald terlihat begitu mencemaskan Samantha.
Samantha hanya menggeleng sambil menyandarkan kepalanya pada penyangga tempat tidurnya. Ia sudah tidak ingin apa pun.
“Sam, kamu harus mengisi perutmu. Meski kamu tidak menginginkannya, anakmu pasti membutuhkannya.” Gerald menunjukkan dengan jelas rasa khawatirnya. Entah kesungguhan atau kepura-puraan, tetapi sepertinya Samantha bisa mengambil keuntungan dari hal ini.
“Aku ingin makan apel yang di beli dari pasar tradisional. Apelnya harus baru di petik dan warnanya tidak terlalu hijau ataupun terlalu kuning.” Samantha meminta dengan sungguh.
“Okey, aku akan meminta pengawalku,”
“Aku mau kamu yang membelinya Michael.” Samantha segera memotong kalimat pria itu. “Kalau kamu ingin aku tetap tinggal di sini, maka paling tidak tunjukkan usaha terbaikmu untuk merayuku. Jangan hanya bertingkah dan membuatku muak,” lanjut Samantha seraya mendelik.
Gerald cukup kaget dengan ucapan Samantha, tetapi sepertinya ini syarat yang cukup masuk akal. Ia memang ingin Samantha tetap tinggal di rumah ini, maka segala cara akan ia lakukan untuk membujuk wanita ini.
“Iya, aku akan membelinya. Apa ada hal lain yang kamu mau selain apel?” Gerald berusaha untuk bersabar mengikuti keinginan Samantha. Ia sangat yakin kalau perlahan-lahan wanita ini akan luluh, ia hanya perlu bekerja lebih keras lagi untuk membuat wanita ini semakin tersentuh. Lagi pula, ia harus menunjukkan kalau ia lebih bisa menjaga Samantha di banding Maximo.
__ADS_1
“Aku ingin apel yang dipanen di musim panen ke tiga. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Karena apel yang dipanen pada periode itu rasanya sangat enak. Aku sudah membayangkan saat menggigit apel itu. Sedikit berair, renyah dan, akh astaga, air liurku nyaris saja menetes.” Samantha sampai mengusap sudut bibirnya hingga membuat Gerald tersenyum gemas melihat tingkah wanita itu. Memang seperti itulah tangkah Samantha yang biasa ia lihat. Dan ia merindukan Samantha yang itu, Samantha yang naif dan perhatiannya hanya untuk Gerald.
“Tenanglah, aku akan membelinya langsung untukmu Sam.” Gerald mengusap kepala Samantha dengan lembut.
“Ya, belilah. Tapi permintaanku, kali ini tolong jangan bermain intrik denganku Michael, aku ingin belajar mempercayaimu lagi. Aku ingin memanggilmu dengan nama Gerald lagi.” Tepat sekali Samantha menyentuh hati Gerald, hingga mata laki-laki itu tampak berbinar haru.
“Tentu, semua akan aku lakukan untukmu.” Gerald berujar dengan tegas, ia merasa kalau Samantha sedang memberinya kesempatan. Mungkin karena wanita ini tidak memiliki pilihan lain selain tetap tinggal di sisinya.
“Hem, pergilah.”
“Ya!” Gerald begitu semangat. Ia segera beranjak dari tempatnya. Mengambil kunci mobil dan segera menuju garasi rumahnya. Tidak lama terdengar suara deru mesin mobil jeep kesayangan Gerald, laki-laki itu benar-benar berangkat untuk membeli apel.
“YES!” Samantha bersorak dengan riang dalam hatinya. Ia telah berhasil membuat peluang untuknya melarikan diri.
“Silakan, Nyonya.”
Samantha segera mengambil alih ponsel itu dari tangan pemiliknya. Ia menghubungi Slavyk yang katanya siap kapan pun. Ide berpura-pura untuk muntah-muntah di pagi hari benar-benar memberinya peluang.
“Michael sudah pergi. Aku ingin segera bertemu denganmu.” Begitu bunyi pesan yang sedikit menggoda itu.
“Aku akan segera datang. Aku menginap di hotel terdekat. Tunggu aku, Sam.” Lihat, laki-laki itu begitu semangat.
“Berhati-hatilah, aku mengandalkanmu.” Samantha menambahkan sedikit motivasi untuk pria itu.
__ADS_1
Dengan hati berbunga-bunga, Slavyk segera keluar dari kamarnya dan menuju mobil yang terparkir di depan hotel. Ia menginjak pedal gas dan rem dalam-dalam berurutan hingga suara decitan rem terdengar jelas. Mobil sedan itu pun melaju dengan cepat. Ia harus mempergunakan waktunya sebaik mungkin untuk menjemput Samantha. Ia sudah berpakaian rapi dan mulutnya pun sangat wangi, sudah beberapa kali ia semprot dengan pewangi.
Mobil Slavyk melaju dengan kencang menuju kediaman Gerald. Setiap lekukan jalan ia libas habis dengan kecepatan tinggi. Jiwa pembalap yang sedang bergelora seperti merasuki tubuhnya, hingga tidak sampai setengah jam pria itu tiba di rumah Gerald.
“Kamu sudah siap?” tanya Slavyk yang berdiri di mulut pintu.
“Apa aku belum terlihat cantik?” Samantha balik bertanya, menunjukkan senyumnya.
“Kamu yang terbaik, Sam,” ungkap Slavyk dengan penuh kesungguhan. Ia segera membawa Samantha dalam gendongannya. Gadis ini benar-benar terasa ringan.
“Permisi tuan, nona Samantha tidak boleh keluar dari rumah ini.” Seorang penjaga segera menghadang Slavyk yang sudah menggendong Samantha.
“Aku hanya ingin berjalan-jalan di luar sebentar, tolong jangan melarangku, karena aku tidak segan untuk mengadukanmu pada Michael. Atas perintahku, dia tidak akan ragu untuk menghancurkan kepala orang yang suka mengganggu kesenanganku.” Samantha menjawabnya dengan ancaman.
“Benar, jangan buat aku memaksamu duduk di kursi roda Samantha.” Slavyk ikut menambahkan.
“Mohon maaf, nona.” Hanya itu timpalan sang penjaga pada Samantha dan Slavyk. Kalau sudah berhubungan dengan kekuasaan Gerald, ia bisa apa?
Samantha hanya mendelik lantas tersenyum pada Slavyk. “Lekas bawa aku ke taman bunga itu. Gerald pun pasti menungguku di sana.” Samantha sedikit berbohong agar penjaga ini tidak bertingkah.
"Tentu, Sam."
"Slavyk, kamu seperti kerbau yang kucocoki hidungnya, hahahaha...." Samantha.
__ADS_1
****