Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Inti Dunia


__ADS_3

“Setiap Wanita yang aku panggil, tidak pernah aku sentuh sedikitpun. Aku memanggil mereka, bukan untuk menyentuhnya apalagi menidurinya. Tapi untuk mencari seseorang.” Maximo menjeda kalimatnya. Ia termenung beberapa saat, menatap kedua tangannya yang saling menggenggam satu sama lain untuk menguatkan hatinya.


Samantha yang masih tersadar, mendengar benar ucapan laki-laki itu. “Maksudmu Mirella? Kamu mencari dia?” Gadis itu menoleh.


Maximo mengangguk dan tetap tertunduk. Sudah enam tahun ia mencari Mirella dengan cara ini, banyak gadis yang golongan darahnya sama dengan Mirella juga wajahnya yang ia rasa mirip. Sayangnya, ia tidak pernah menemukan satupun gadis yang memiliki tato seperti miliknya.


“Enam tahun lalu, aku menemui mafia rusia yang menculik Mirella. Aku mendesaknya sampai dia mengakui kalau Mirella ia jual ke tempat pelacuran karena wajah cantiknya yang menguntungkan. Laki-laki itu tidak memiliki satu pun foto Mirella karena menurutnya tidak penting. Mirella hanya tawanan untuknya.”


“Tetapi dia memberitahuku ciri-ciri fisik dari Mirella. Matanya biru, rambutnya ikal dan dia ada dirantai pelacuran internasional. Itu mengapa aku membangun club sebesar ini dengan harapan suatu hari Mirella akan datang ke tempat ini.”


Maximo berujar dengan sungguh. Ia menghembuskan napasnya kasar. Ada kemarahan dan kelegaan yang datang bersamaan setelah ia menceritakan hal ini pada Samantha. Laki-laki itu menoleh Samantha yang ternyata sedang memandanginya dengan perasaan iba.


“Jangan mengasihaniku seperti itu, aku tidak suka membuat orang lain melihat kelemahanku,” ucap Maximo pelan. Seperti ia sedang menutupi lukanya yang kembali tergores karena bercerita pada Samantha.


“Hey,” Samantha menyentuh pipi Maximo dan menangkupnya dengan satu tangan. “Aku tidak sedang mengasihanimu, tapi ceritamu itu memang menyedihkan. Aku tau, sesulit apa mencari seseorang yang masih kita harapkan keberadaannya.” Samantha berujar dengan sungguh. Diusapnya pipi Maximo dengan sayang dan lembut, membuat laki-laki itu memejamkan matanya menikmati usapan lembut Samantha.


“Kemarilah.” Sambil berbaring Samantha merentangkan tangannya untuk Maximo. Ia juga sedikit bergeser memberi ruang untuk laki-laki itu berbaring disampingnya.


Maximo sedikit beranjak, ia membaringkan tubuhnya disamping Samantha lantas menyambut pelukan gadis itu. Ia memang membutuhkan seseorang untuk menenangkannya.

__ADS_1


“Maaf karena membuatmu mengingat hal yang tidak menyenangkan itu.” Sambil memeluk Maximo, Samantha berbisik pelan ditelinga prianya. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya pada Samantha, bahkan membenamkan kepalanya didada Samantha. Samantha menepuk-nepuk bahu Maximo dan laki-laki itu seperti mulai menemukan rasa nyaman dan tenang.


“Hanya ada dua wanita yang aku pikirkan dalam hidupku, Sam. Kamu dan Mirella. Dua wanita yang saat ini paling berarti dalam hidupku.” Maximo berujar dengan lemah, tetapi penuh kesungguhan.


Samantha tersenyum kecil mendengar ucapan itu. “Benarkah? Namaku disebut pertama kali, apa itu berarti aku yang paling utama?” Ia iseng menggoda Maximo. Tidak seru melihat Maximo terpuruk seperti ini.


Maximo tersenyum kecil. Ia menengadahkan kepalanya sedikit demi melihat wajah Samantha yang ada dihadapannya. “Sepertinya begitu.” Maximo menjawab sambil tersenyum.


“Aku tidak melihat kesungguhan. Kamu juga mengatakan dengan ragu dan bilang sepertinya. Hal itu jelas menunjukkan, aaup….” Kalimat Samantha tiba-tiba terhenti saat ternyata Maximo malah menciumnya. Bukan hanya menciumnya melainkan ******* bibir Samantha dengan lembut beberapa saat. Ia juga menggigit bibir gadis itu dan mendiamkannya beberapa detik lamanya.


Tanpa diduga, Samantha membalas ciumannya. Gadis itu membalik tubuh Maximo dibawah tubuhnya sementara ia naik ke atas tubuh Maximo. Dilepaskannya beberapa saat pagutan itu lantas ia pandangi wajah Maximo yang tampan itu. Lihat sorot matanya yang begitu dalam dan menginginkan Samantha.


Jas dan kemeja Maximo sudah terlepas seluruhnya. Sambil tertap saling memagut dan menyesap satu sama lain Maximo menarik baju bagian atas Samantha hingga turun dan menunjukkan dadanya yang menarik. Ada dua gundukan sintal yang baru terlihat separuhnya dan membuat Maximo semakin penasaran pada wujud utuhnya.


Sebelum melanjutkan semuanya, Maximo menatap gadis itu. “Boleh kulanjutkan?” tanya Maximo dengan pelan-pelan.


“Hem. Pastikan kalau kamu sudah mengunci pintu.” Samantha mengingatkan agar tidak ada yang mengganggu mereka untuk kedua kalinya.


Maximo hanya tersenyum. Ia menggendong Samantha didepan tubuhnya menghadap padanya. Laki-laki tegap itu membawa Samantha menuju tepat tidurnya yang bersprei hitam dan berbahan lembut. Ia melanjutkan memagut bibir wanita itu dengan serakah, ********** beberapa kali dan jalinan dua otot indra pengecap itu saling menyerang didalam rongga mulut.

__ADS_1


Tiba didepan tempat tidur, Maximo membaringkan Samantha dengan hati-hati. Ia mengusap wajah cantik yang ia tatap dengan lekat dan penuh perasaan. Samantha membalas tatapan itu, mengusap dagu Maximo yang tercukur rapi dengan rambut halus yang masih menutupinya.


“Kamu membuatku memiliki hasrat, Sam,” ucap laki-laki itu dengan sungguh.


“Oh ya, coba tunjukkan, aku ingin melihatnya.” Gadis itu balas menantangnya.


Tidak ada lagi yang Maximo tunggu. Ia kecupi dahi Samantha, menelusur pipi gadisnya dengan bibir. Memberinya kecupan kecil-kecil yang turun semakin bawah hingga ke leher.


“Aahhh….” Samantha melenguh. Suaranya begitu dinikmati oleh Maximo. Laki-laki itu mulai menunjukkan sisi buasnya. Ia menarik baju Samantha yang tertanggal hanya dengan satu tarikan keras. Ia melanjutkan untuk mengecupi leher Samantha, memberi jejak-jejak kemerahan yang membuat gadis tu mengerang nikmat sambil mencengkram seprei hitam yang mulai kusut.


“Aaahh, Max….” Samantha mulai meracau. Ia tidak bisa membuka matanya karena serangan Maximo yang sungguh hebat setiap menyentuh titik-titik tubuhnya. Ia merasakan inti tubuhnya yang mulai basah dan Maximo pun merasakan inti tubuhnya yang menegang penuh Hasrat yang ingin segera dituntaskan.


Tanpa menunggu lama, Maximo menyesapkan into tubuhnya pada Samantha.


“Aaakhh….” Mereka sama-sama terengah dan mengerang dalam balutan gairah. Semakin lama, udara diruangan itu semakin panas dan membara. Dua orang itu berpesta dalam balutan gairah yang tidak tertahan. Tidak ada yang mereka tunggu selain menuntaskan hasratnya dengan banyak hentakan dan lenguhan tidak tertahan.


“Aku mencintaimu Sam, aku mencintaimu….” Suara Maximo terdengar terengah ditelinga Samantha setelah hasratnya tuntas. Samantha tidak menimpali. Tubuhnya terlalu lemah dan hanya bisa tersenyum menatap wajah tampan yang ada didepan matanya.


Entah mengapa, ia tidak lagi melihat bayangan Gerald disekitarnya. Hanya ada Maximo, ya hanya laki-laki itu yang mengisi seluruh pikiran dan hatinya.

__ADS_1


****


__ADS_2