Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pertentangan


__ADS_3

“Kenapa lama sekali? Apa kamu tersesat?” sambut Maximo yang segera melingkarkan tangannya di pinggang Samantha.


“Iyaa, sedikit tersesat. Tapi setelah melihatmu, aku selalu tahu jalan untuk pulang.” Samantha berujar dengan manis. Hal itu selalu ia lakukan setiap kali ia merasa kalau Maximo curiga terhadapnya.


“Kamu sangat manis.” Maximo menarik tubuh Samantha mendekat lantas mengusap pipi Samantha dengan hidungnya dan mencium leher jenjang wanita itu. Samantha balas dengan melingkarkan tangannya di leher Maximo lalu tersenyum kecil.


“Segera selesaikan urusan kita di sini, aku ingin segera pulang.” Samantha berbisik lirih. Kalau dilihat dari belakang, seolah wanita itu sedang mencium bibir Maximo dan hal itu membuat Wilson mengepalkan tangannya. Rasanya ia tidak rela. Tetapi, meskipun begitu, ia tidak bisa melarang Samantha untuk mendekat pada laki-laki itu. Ia sadar, rayuan yang dilakukan oleh Samantha pada Maximo adalah salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang ingin mereka dapatkan.


“Tunggulah di sini, aku akan segera menyelesaikannya,” bisik Maximo pada Samantha. Samantha mengangguk dan tidak lama Maximo naik ke atas panggung kecil yang membuat sosoknya terlihat dominan.


Suara gelas berdenting cukup keras, membuat seisi ruangan mendadak senyap. Semua perhatian tertuju pada Maximo yang terlihat gagah di depan sana.


“Selamat malam, tuan dan nyonya,” sapa Maximo seluruh tamu undangan yag hadir. Mereka tersenyum kecil melihat sosok Maximo yang tampak berkharisma di depan sana.


“Terima kasih atas kehadiran Anda semua, malam ini. Anda tentu bertanya, siapa yang telah mengundang Anda semua malam ini, perkenalkan saya adalah Maximo Cortez yang mengundang Anda semua untuk datang.”


Suasana ruangan yang sunyi mendadak riuh karena pengakuan laki-laki yang berdiri di depan sana.


“Jangan bercanda dan mengaku sebagai Maximo Cortez. Akulah Maximo yang sebenarnya!” Seorang laki-laki muda langsung menimpali. Tidak terima Maximo mengaku dirinya sebagai Maximo.


“Aku Maximo Cortez yang sebenarnya.” Pria bertubuh kurus ikut menimpali.


“Tidak! Akulah Maximo Cortez!” Satu orang sampai meradang merasa namanya di aku oleh Maximo.


Samantha semakin bingung, semua orang ikut bersuara dan mengaku dirinya adalah Maximo Cortez. Nama itu terus menggaung di ballroom luas yang di isi lebih dari tiga ratus nyawa. Masing-masing mengaku kalau dirinya Maximo Cortez, bahkan ada beberapa orang yang mulai bersitegang satu sama lain. Maximo tersenyum kecil, akhirnya Samantha melihat kalau nama Maximo Cortez benar-benar dipakai oleh banyak orang. Maximo menatap gadis yang tampak kebingungan itu, entah apa maksud Maximo memancing beriak dari para Maximo ini.


“Tenanglah!” seru Maximo membuat seisi ruangan itu mendadak senyap. Suaranya yang menggema dan berkharisma membuat semua orang bungkam.


Mereka pun diam dan kembali menatap Maximo yang tampak tenang saja di depan sana.

__ADS_1


“Hah, sepertinya tidak hanya ayahku yang tidak yakin kalau aku Maximo Cortez putranya. Aku benar-benar sulit untuk menghadapi Maximo yang sebanyak ini.” Maximo pura-pura melemah. Ia menggaruk dahinya yang sebenarnya tidak gatal.


“Tuan Cortez sudah meninggal! Kamu jangan berbohong!” timpal salah satu laki-laki.


“Wah, benar! Bagaimana kalian tau? Padahal kematian ayahku di dirahasiakan.” Maximo menyahuti dengan tenang.


“Apa maksudmu pria gila? Tentu aku tau kalau dia sudah meninggal, karena aku putranya. Setelah berbohong dengan mengaku sebagai Maximo, sekarang kamu mau berbohong untuk hal lain. Apa keinginanmu?!” Seorang Maximo tua terlihat meradang. Rasanya Maximo ingin tertawa melihat laki-laki yang mengaku dirinya sebagai Maximo dengan usia yang nyaris sama dengan ayahnya. Sayangnya saat ini ia harus menahan tawa itu dan menyimpannya sampai akhir.


“Ayolah, aku ingin kalian berhenti mengaku sebagai Maximo. Bukankah saat menerima surat undangan dengan nama asli kalian dan memutuskan untuk datang ke sini kalian harusnya sadar kalau aku tahu identitas asli kalian? Dan kemapuan itu hanya dimiliki oleh seorang Maximo asli.” Maximo tersenyum kecil pada pria itu dan laki-laki itu langsung terdiam.


“Identitasku memang dipakai oleh banyak orang untuk menunjukkan kekuasaan kalian dan selama ini aku tidak mempermasalahkan itu. Sekarang pun aku memiliki penawaran untuk kalian yang memang sangat menginginkan namaku untuk kalian pakai.” Maximo melanjutkan kalimatnya dengan penuh percaya diri.


“Apa penawaranmu?” tanya satu laki-laki bertubuh tambun dengan jenggotnya yang tebal.


Maximo berdiri dengan tegak dan menatap seisi ruangan ini dengan tatapannya yang tajam. Tatapan yang mengintimidasi dan membuat beberapa orang memalingkan wajahnya dan memilih menunduk dihadapan Maximo.


“Apa buktinya kalau pria itu yang membunuh tuan Cortez?” Satu orang langsung berrespon, seolah mengakui kalau ia benar-benar tidak tahu bahwa Cortez bukan meninggal karena di bunuh.


“Aku menemukan foto ini di dekat jenazahnya. Karena itu, aku ingin memberikan penawaran. Siapa saja yang berhasil menangkap pria ini dan menyerahkannya padaku, dia akan menjadi satu-satunya Maximo Cortez di dunia ini. Aku akan mengakuinya secara absolute dan menyerahkan sebagian besar harta peninggalan ayahku pada orang yang berhasil menemukan pelaku pembunuhan ini. Selain itu, aku juga tidak akan menggunakan nama Maximo Cortez. Nama itu hanya akan dimiliki oleh Maximo Cortez yang yang berhasil menemukan pembunuh tuan Cortez.”


“Lalu kalian yang mengaku sebagai Maximo Cortez palsu namun gagal menjalankan misi ini, kalian harus melepaskan nama itu dan kembali ke kehidupan kalian masing-masing. Jika suatu waktu aku menemukan seseorang yang masih mengenakan nama itu, aku tidak segan-segan untuk menghabisinya.” Maximo memberi tawaran dan ancaman di waktu yang bersamaan.


“Pikirmu aku takut pada ancamanmu?” tanya seorang laki-laki yang menodongkan senjatanya pada Maximo.


Dor!


Dalam waktu sekian detik Maximo mengambil senjatanya dan lebih dulu menembak laki-laki itu dihadapan orang banyak. Orang-orang terhenyak kaget melihat apa yang dilakukan Maximo secara tiba-tiba. Satu nyawa pergi tanpa ampun.


“Seperti itu salah satu contohnya.” Pria itu tersenyum kecil membuat banyak pasang mata menatapnya ngeri.

__ADS_1


“Pikirmu aku akan patuh dengan perintahmu?!” Satu orang lagi masih tidak terima. Ia menyerang Maximo dan beberapa orang mengikutinya. Mereka ingin menaklukan Maximo asli agar di anggap paling kuat.


Perkelahian pun tidak terelakkan. Maximo berkelahi dengan banyak Maximo palsu, menghantamkan pukulannya pada satu Maximo lalu menembakkan senjatanya pada Maximo lainnya. Melihat pergumulan itu, Samantha tidak tinggal diam. Ia ikut membantu Maximo melawan orang-orang yang menyerang Maximo.


Saat itu Samantha terpaksa menunjukkan kemampuan bela dirinya. Maximo sempat gaket, tetapi fokusnya saat ini masih pada menghadapi lawan-lawannya. Satu laki-laki hendak menendang Samantha dan Maximo menarik tangan wanita itu dengan kuat hingga berhasil menghindar. Dipegangnya pinggang Samantha dan memutar tubuh gadis itu hingga Samantha bisa menendang balik laki-laki itu.


“Kamu mengejutkanku, Sam,” ucap Maximo yang menatap Samantha beberapa saat setelah gadis itu berhasil menendang telak musuhnya.


“Aku menimpali kegilaanmu malam ini,” sahut Samantha yang tersenyum puas. Maximo melepaskan rengkuhannya dari samantha dan kembali berjibaku melawan penyerangnya. Begitupun dengan Samantha yang sibuk dengan serangan membabi buta dan todongan senjata yang berusaha ia patahkan.


Sekitar lima belas menit perkelahian itu terjadi dan banyak mayat yag bergelimpangan di lantai. Maximo menembaki beberapa orang tanpa rasa ampun sementara Samantha masih menodongkan pistolnya di samping Maximo.


“Datanglah, jika ada masih ingin mati,” ancam Samantha dengan tatapan yang tajam.


Orang-orang itu mundur perlahan dan berhenti menyerang Maximo. Mereka sadar kalau Maximo sulit untuk ditaklukan, terlebih ada Samantha disampingnya. Beberapa orang yang terluka berusaha untuk bangkit, tetapi Maximo menembak kepalanya tanpa ampun hingga mereka jatuh bersimbah darah di lantai.


“Masih ada yang mau coba?” Maximo masih menantang setiap pasang mata yang menatapnya dengan penuh kengerian. Ternyata benar yang diceritakan selama ini kalau Maximo bisa membunuh seseorang hanya dengan satu dua pukulan saja. Apalagi kalau laki-laki ini sudah menggunakan senjatanya, maka tidak akan ada yang bisa menghindar dari kematian.


Tidak ada yang merespon dan semuanya tampak ketakutan, akhirnya Maximo menurunkan senjatanya. Ia merapikan pakaiannya yang kusut akibar berkelahi lalu mengusap rambutnya yang sudah ia beri pomade. Melawan lebih dari sekitar lima puluh orang tidak merusak tatanan rambutnya sedikitpun. Tidak ada juga yang berhasil memukul tubuh Maximo apalagi membuatnya terluka. Sehebat itu seorang Maximo dalam berkelahi.


“Aku sudah memberi penawaran, sebaiknya kalian ikuti. Kalian hanya perlu menangkap satu orang saja dan kalian akan mendapatkan kehidupan yang mewah lagi penuh kekuasaan. Kenapa kalian masih merajuk dan menawarkan nyawa kalian secara cuma-cuma?” Maximo tetap dengan kharismanya yang menatap seisi ruangan dengan tajam.


“Baik tuan.” Mereka kompak menyahuti. Secara tidak langsung mereka mengiyakan perintah Maximo dan tunduk di bawah kaki Maximo.


“Wah, apa pestanya sudah berakhir?” tanya seseorang yang baru datang. Adalah William dan Crystal yang tersenyum tipis pada Maximo.


Maximo tercengang karena tidak merasa mengundang dua orang ini. Untuk apa mereka ke sini?


****

__ADS_1


__ADS_2