Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Moscow


__ADS_3

Moscow, tempat yang didatangi Samantha saat ini. Sesuai informasi yang didapatkan oleh Paul, bahwa obat penawar untuk Maximo diperjualbelikan di pasar gelap. Di tangan Samantha sudah ada nama club yang dijadikan pasar gelap untuk memperjualbelikan obat penawar tersebut melalui sistem lelang.


Suatu tantangan tersendiri karena tidak ada patokan harga yang pasti untuk obat penawar tersebut. Mereka akan menjual pada penawar yang memberikan tawaran harga paling tinggi. Harga pembuka yang ditawarkanpun sangat tinggi dan setelah mendapatkan obat tersebut, keselamatan Samantha pun bisa terancam. Para mafia mungkin akan memburu gadis itu karena merasa menginginkan obat tersebut. Samantha masih berpikir keras untuk menghadapi masalah berikutnya.


Ada sekitar delapan orang pengawal yang diam-diam memantau Samantha dari kejauhan. Mereka akan segera memberikan bantuan saat Samantha memerlukannya. Mereka juga terhubung dengan beberapa organisasi mafia yang berada di bawah kekuasaan Maximo dan berada di kota ini. Walau kekuatan mereka tidak besar, tetapi cukup untuk membantu Samantha.


Di sebuah hotel saat ini Samantha tinggal. Hotel itu tidak jauh dari club yang biasa dijadikan tempat lelang obat penawar. Sambil bersiap-siap dengan merias dirinya, sesekali Samantha memperhatikan pergerakan yang ada di bawah sana. Ia menggunakan teropong untuk memperjelas mengintaiannya dan mencari kesempatan yang tepat untuk ia turun.


Samantha tidak pernah menyangka kalau ia akan melangkah sejauh ini. Pergi ke negara yang tidak pernah ia pijak dengan menggunakan identitas palsu sebagai Jelena. Ia tampil dengan dengan sederhana, menghindari kesan memukau agar tidak terlalu menarik perhatian. Tetapi pesona seorang Samantha memang sangat sulit untuk disembunyikan. Meski ia menggunakan topeng, tetapi matanya yang cantik dan bisa menenggelamkan, membuat wanita itu tetap menjadi bahan lirikan siapapun yang melihatnya.


Jam Sembilan malam waktu Moscow, Samantha turun, menuju club. Suasana hingar jelas terasa sejak ia melangkahkan kaki untuk memasuki pintu yang di jaga ketat oleh beberapa bodyguard pemilik club.


“Identitas Anda?” tanya seorang penjaga yang menghadang Samantha di pintu masuk.


Samantha mengeluarkan sebuah kartu keanggotaan club itu. Ia membuka sedikit saja topengnya pada pria tersebut untuk mencocokan dengan identitas yang ia serahkan.

__ADS_1


“Silakan masuk.” Laki-laki itu membukakan pintu setelah mengembalikan tanda keanggotaan club.


Samantha melenggang masuk dan melihat ke sekeliling club. Suasananya sama dengan club pada umumnya hanya saja orang-orang yang hadir di tempat ini bukanlah orang-orang sembarangan. Sebagian besar dari mereka adalah mafia. Samantha tidak berani untuk meneguk minuman di tempat ini, ia sangat waspada dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Bagaimana pun tidak ada yang bisa melindunginya selain dirinya sendiri.


Samantha duduk di salah satu kursi dengan tangan menyilang di depan dada dan tatapan yang waspada ke sekelilingnya. Ternyata sangat sulit untuk bersikap biasa saja di tempat yang asing untuknya. Menurut informasi dari Paul, lelang akan diadakan sekitar jam sepuluh malam. Ia sengaja datang lebih awal karena ingin membaca situasi yang akan ia hadapi nanti.


“Sepertinya Anda baru pertama kali datang ke sini, Nona?” seorang pria tiba-tiba duduk di hadapan Samantha dan menyodorkan satu gelas minuman pada gadis itu. Laki-laki berwajah khas orang penduduk rusia ini tersenyum kecil pada Samantha.


Samantha hanya tersenyum, berusaha bersikap ramah walau tidak terlalu terbuka.


“Diego,” laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Samantha.


“Anda datang sendirian?” laki-laki itu tampak penasaran pada sosok pemilik mata cantik yang memakai topeng itu.


“Dengan kekasihku,” Samantha terpaksa berbohong. Laki-laki itu tampak kecewa dan melihat ke sekeliling club.

__ADS_1


“Aku tidak melihat laki-laki asing di sekitar sini.” Diego sepertinya tidak percaya.


“Kamu mengenal Slavyk?” Samantha menyebut satu nama orang yang berpengaruh di kota ini. Seorang mafia yang terkenal karena kekejamannya.


Laki-laki itu lantas menarik tubuhnya menjauh dari Samantha saat mendengar Samantha menyebut nama itu sambil tersenyum. Sepertinya yang dikatakan Pual, nama itu memang sangat berpengaruh dan ditakuti di kota ini.


“Ternyata kamu memang wanita yang berbahaya.” Laki-laki itu menyeringai tipis pada Samantha.


“Setiap wanita akan memilih laki-laki yang kuat untuk melindunginya.” Samantha menjawab dengan penuh percaya diri.


Laki-laki itu hanya tersenyum lantas mengusap dagunya dengan kecewa. “Selamat menikmati pestanya.” Laki-laki itu beranjak pergi setelah mengetuk meja sebanyak tiga kali sebagai tanda permisi.


“Tentu," sahut Samantha. Gadis itu bisa bernapas lega setelah laki-laki itu pergi. Laki-laki itu tersenyum kecil entah dimaksudkn untuk apa. Samantha melirik dengan sudut matanya dan melihat laki-laki itu berbisik pada pria lainnya. Sepertinya memberitahu pria lain kalau Samantha adalah wanitanya Slavyk yang tidak bisa ia dekati.


Samantha menghembuskan napasnya lega saat akhirnya ia keluar dari kondisi yang mengancam. Ia memang tidak ada hubungan apa-apa dengan pria Bernama Slavyk itu, ia hanya menggunakan nama itu untuk menakuti siapapun yang mendekatinya. Tidak akan ada juga yang protes karena Samantha tidak menyebutkan seperti apa hubungannya dengan laki-laki bernama Slavyk itu.

__ADS_1


Pada titik ini, Samantha tersenyum bangga dalam hati karena berhasil mengelabui pria itu. "Tidak punya nyali dan tidak bertaktik, benar-benar bukan laki-laki yang bisa di pilih." Samantha bergumam lirih dalam hatinya.


****


__ADS_2