
“Jangan ada yang bergerak,” titah Maximo. Dalam satu gerakan, ia menurunkan kaca mobil dan menembak ke arah peluru berasal. Baku tembak pun tidak terelakkan. Mobil Maximo tidak hanya ditembaki sekali melainkan berkali-kali.
Paul meringis kesakitan bercampur dengan rasa takut dan Maximo tetap dengan usahanya memberikan perlawanan.
“Sial!” dengus Maximo saat pelurunya habis.
Melihat Maximo yang kehabisan peluru, Samantha tidak tinggal diam, ia segera mengambil senjata yang tersimpan disalah satu kotak hitam milik Maximo. Ia ikut menembak ke arah yang ditembak oleh Maximo. Maximo sampai tercengang saat melihat Samantha ternyata bisa menembak. Tembakan dari lawan berhenti dan disusul suara erangan manusia. Ia tidak menyangka kalau salah satu butir peluru Samantha mengenai lawan mereka. Sayangnya tidak ada waktu untuk terpukau.
“Turun dari pintu kiri dan bawa Paul masuk ke terowongan. Aku akan melindungimu dari belakang!” Maximo langsung memberi perintah. Tidak ada kesempatan untuk ia bertanya dari mana Samantha belajar menembak.
“Ya!” Samantha segera merespon. Ia turun dari pintu kiri dengan pandangan yang tetap waspada melihat ke sekitarnya. “Keluarlah Paul, aku akan melindungimu.” Samantha juga membuka pintu mobil Paul sambil tetap merunduk berlindung di balik mobil.
Susah payah Paul bergeser untuk berpindah dan keluar dari pintu kiri. Samantha memegangi lelaki itu dan segera membawanya masuk ke dalam terowongan yang pintunya sudah terbuka. Jalanan yang sedikit menurun dan licin. Maximo segera menyusul dari belakang dan tetap memastikan semuanya aman.
“Akh!” Paul kembali mengaduh saat kali ini kakinya yang terkena tembakan untuk kedua kalinya.
“Sial!” Maximo semakin kesal.
Ia menembak dengan memab*bi buta ke arah lawan, percikan senjata jelas menunjukkan dari mana asal mereka. Tetapi gelapnya malam membuat Maximo tidak bisa melihat sosok lawannya yang ada disebrang sana. Yang jelas, mereka menembak dari arah hutan, bersembunyi di antara pepohonan dan bebatuan.
Sebuah erangan kembali terdengar dan itu milik lawan Maximo. Maximo menggunakan kesempatan itu untuk menambahkan serangan. Ia mengambil senjata dari tangan Samantha lalu menembakannya. Kedua tangannya kompak bergantian memberikan tembakan sementara Samantha sudah berjalan masuk ke dalam sebuah terowongan.
“Duduk di sini sebentar Paul.” Samantha mendudukkan Paul di tempat yang tidak ia kenal. Terowongan itu memang gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun.
“Bagian mana yang sakit?” Samantha segera memeriksa tangan Paul walau dengan merabanya.
“Akh, sebelah sini nona.” Paul membawa tangan Samantha pada luka tembaknya di lengan kanan. Samantha bisa merasakan cairan hangat yang kental dan berbau amis mulai tercium. Cairan itu tidak berhenti keluar dari luka tembakan. Napas pria itu terengah kesakitan seolah kematian sudah mendekat padanya.
“Bebat lukanya!” seru maximo yang baru datang untuk menyusul setelah menutup pintu terowongan. Mereka sudah aman di dalam terowongan yang memiliki panjang sekitar lima ratus meter.
“Lepas jas mu.” Samantha melepas jas Paul. Paul meringis kesakitan dan berusaha menahannya. Maximo juga melepas jasnya dan mengikatkannya di kaki Paul yang terluka.
“Apa darahnya masih keluar?” tanya Samantha.
“Aku rasa tidak.” Maximo tidak merasakan lagi darah keluar dari luka Paul. “Kamu bisa berjalan?” tanyanya kemudian.
“Bisa tuan.” Semangat Paul memang masih besar. Ia sadar kalau ia tidak boleh mati di sini.
“Kita akan berjalan menyusuri terowongan ini. Panjangnya sekitar lima ratus meter. Berhati-hatilah, karena jalanan ini bukan jalanan beraspal. Jalananya berbatu dan licin. Lepas sandalmu dan pakai sepatuku.” Maximo memberikan sepatunya pada Samantha.
__ADS_1
“Maksudmu kamu akan bertelanjang kaki?” Samantha tidak habis pikir.
“Lakukan saja yang aku suruh.” Maximo tidak menginginkan adanya penolakan. Sambil meraba-raba, Maximo memasangkan sepatunya dikedua kaki Samantha. Sementara ia memilih bertelanjang kaki. Jantung Samantha berdenyut lembut, tersentuh atas usaha laki-laki yang saat ini sedang memprioritaskannya. Meski ia tidak bisa melihat wajah Maximo, ia sangat yakin kalau Maximo ada dihadapannya dan menatapnya dengan penuh kecemasan.
“Bangunlah,” ujar Maximo pada Paul.
Samantha dan Maximo segera membantu Paul untuk berdiri. Tangan kiri Paul dilingkarkan di leher Maximo, sementara Samantha berjalan di sebelah kanan Paul. Paul berjalan tertatih-tatih karena kakinya tidak bisa dipijakkan di atas tanah. Terlalu sakit dan hanya bisa ia tekuk.
Sepanjang perjalanan itu mereka lalui dalam keheningan, tidak ada suara yang berarti selain suara Paul yang sesekali meringis kesakitan.
Sekitar kurang lebih sebelas menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di ujung terowongan. Keluar dari terowongan itu mereka menemui jalanan yang sedikit menanjak. Setelah keluar, cahaya lampu jalanan cukup terang untuk menerangi langkah mereka menuju kediaman Maximo. Beberapa pengawal segera menyambut mereka dan membawa Paul masuk. Sementara Maximo dan Samantha berjalan di belakang, menyusul mereka.
Saat menaiki anak tangga, Samantha memperatikan kaki Maximo yang kotor. Ia cukup terrenyuh dengan usaha Maximo yang lebih memperdulikan Samantha dibanding dirinya sendiri. Mereka masuk ke dalam lift dan beberapa saat kemudian tiba di lantai empat.
“Bersihkan tubuhmu, setelah itu bersitirahatlah,” pesan Maximo sebelum ia masuk ke kamarnya. Samantha tidak menimpali dan malah ikut berbelok ke kamar Maximo.
“Ada apa?” tanya laki-laki itu yang menatap Samantha dengan bingung.
“Aku akan membantumu membersihkan kakimu, setelah itu aku akan kembali ke kamarku.” Samantha menjawab dengan penuh kesungguhan. Maximo memandanginya dengan ragu, tetapi gadis itu malah masuk lebih dulu ke kamar yang pintunya baru sedikit terbuka.
Di dalam kamar, Samantha segera melepas sepatu Maximo yang keberasan dikakinya. Tetapi berkat sepatu itu kakinya jadi terlindungi dari permukaan kasar jalanan berbatu itu.
“Duduklah di atas toilet, aku akan memeriksa kakimu,” titah gadis yang sedang membasahi handuk dengan air hangat.
Maximo hanya bisa menurut. Ia duduk di dudukan toilet sambil memperhatikan Samantha yang sibuk sendiri. Gadis itu melepas selang toilet dan menyiram kaki Maximo dengan air yang ia alirkan dari kran. Perlahan tanah di kaki Maximo mulai tergerus air dan Samantha bisa melihat kaki Maximo yang memiliki luka dibeberapa bagian. Sepertinya laki-laki ini menginjak kerikil tajam yang merobek lapisan kulit kakinya.
Setelah sudah tidak ada lagi tanah yang menutupi kaki Maximo, Samantha mengusap kaki Maximo dengan handuk basah. Ia meniupinya perlahan dan memberikan obat luka.
“Lepas bajumu dan mandilah agar segar,” ujarnya walau tetap fokus pada luka Maximo.
Maximo melepas satu per satu kancingnya hingga tertanggal semua. Perhatiannya tetap pada Samantha dengan sikap lembutnya saat merawat luka dikakinya. Kemeja itu ia lempar begitu saja, menjauh darinya.
"Sejak kapan bisa kamu menggunakan senjata?" Penasaran rasanya kalau tidak bertanya. Ia pikir ancaman Samantha selama ini hanya sebuah gertakan. Tetpi nyatanya, gadis ini cukup mahir menggunakan senjata bahkan tepat mengenai sasarannya padahal kondisi disekitarnya gelap.
"Sejak aku sadar kalau aku tidak bisa menggantungkan keselamatanku pada orang lain." Sahutan Samantha terdengar sarkas.
"Semakin banyak yang ingin aku tahu dari kamu, Sam." Maximo berujar dengan sungguh.
"Cari tahulah sampai kamu merasa puas." Samantha menatap Maximo beberapa saat sebelum kemudian kembali sibuk dengan merawat luka-luka Maximo.
__ADS_1
Menarik, pikir Maximo. Ya, gadis ini memang sangat menarik dan menyenangkan saat menggodanya. "Perluku lepas dengan celananya?” Ini salah satu cara Maximo untuk menggoda Samantha.
“Tergantung kebiasaanmu saat mandi, memakai celana atau melepasnya.” Santai saja samantha menimpali.
Maximo tersenyum kecil mendengar jawaban Samantha. Ia melepas gesper, lalu resleting celananya dan menurunkannya hingga ke bawah. Setelah di bawah, Samantha membantu melepasnya. Tubuh Maximo tidak terbalut sehelai benang pun.
“Lukamu sudah ku obati, setelah mandi, aku akan memberinya obat luka lagi.” Gadis itu beranjak dari tempatnya tanpa menatap Maximo yang sedari tadi terus memandanginya dengan penasaran.
“Samantha,” panggil Maximo saat gadis itu hendak beranjak.
“Ya?” gadis cantik itu berbalik dan menatap Maximo tanpa rasa ragu.
“Bisa membantuku untuk hal lainnya?”
“Misalnya?” Samantha berjalan mendekat pada Maximo.
“Aku tidak bisa mengambil sabunku karena obat lukaku belum kering.” Pandai memang lelaki ini membuat alasan.
Samantha tidak menimpali. Ia mengambil sabun di salah satu sudut kamar mandi dan kembali menghampiri Maximo. Tidak hanya itu, tanpa ragu duduk di atas pangkuan Maximo menghadap pria itu.
“Karen kamu membantuku melindungi kakiku, maka aku akan membantumu sampai selesai,” ucapnya. Sungguh Maximo penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis ini.
Ia menumpahkan sabun cair itu didada Maximo dan turun ke perutnya. Mengusap dada Maximo dengan gerakan memutar dan pelan lalu memberinya sedikit air. Maximo hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Samantha dan ia menikmatinya.
“Aku juga ingin meringankan bebanmu.” Laki-laki itu mengambil inisiatif untuk melepas resleting dibagian belakang tubuh Samantha. Samantha tidak protes sedikitpun. Ia membiarkan Maximo melakukan apa yang ia mau. Setelah baju Samantha tertanggalkan, ia mengusapkan sabun di punggung Samantha dengan lembut dan hati-hati. Mereka bertatapan penuh hasrat seolah paham kebutuhan masing-masing. Tidak lama sampai kemudian ia menarik tubuh Samantha untuk mendekat dengan tubuhnya.
Samantha terhenyak saat merasakan inti tubuhnya bertemu dengan benda tumpul yang menerobos masuk begitu saja. Maximo memegangi pinggang ramping Samantha dan membuatnya sedikit memutar pelan. Laki-laki itu terengah saat inti tubuh Samantha benar-benar menyatu dengan inti tubuhnya.
Gadis itu tidak menolak saat Maximo meraih tengkuknya dan ******* bibirnya dengan lembut dan sesekali sedikit brutal. Tidak sampai di situ, hidung dan bibir Maximo menyesap setiap titik dileher wanitanya, lau turun ke bawah hingga ke dada.
"Max...." suara Samantha terdengar penuh g4irah.
"Ya, akupun menikmatinya, Sam." Suara Maximo berbisik ditelinga samantha yang sesekali ia sesap lalu menggigitnya pekan. Samantha membalasnya dengan guyuran air disekujur tubuh keduanya. Mereka menikmati tarian bersama yang sesekali membuat keduanya melenguh dan mengerang menikmati saat ada sengatan listrik yang menjalar disekujur tubuhnya dan membuat keduanya mengejang.
Beberapa kali hendakan hingga kemudian Samantha ambruk dalam pelukan Maximo yang masih terengah menikmati sisa gairah yang belum sepenuhnya reda.
“Kamu sangat pandai dalam hal merawatku, Sam,” puji Maximo disela napasnya yang terengah.
Samantha tidak menimpali, ia masih menikmati saat ia memeluk tubuh kekar Maximo yang kerap membuat darahnya mendidih. Disesapnya buli keringat yang terasa manis saat ia kecup.
__ADS_1
***