
Tanpa berpikir panjang, Samantha segera memindahkan tubuh Maximo ke kursi penumpang. Memasangkan sabuk pengaman di tubuh laki-laki itu dan ia berpindah ke balik kemudi. Ia menyalakan mesin dengan kasar lalu menancap gas dengan sepenuh hati. Mobil maximo melaju kencang di jalanan yang sepi. Ia harus segera menuju kota dan mencari rumah sakit terdekat.
“Bertahan lah Max, bertahanlah.” Samantha terlihat panik mendapati Maximo yang hanya terbujur lemas seperti tidak ada tulang belulang yang menyangga tubuhnya yang kokoh lagi tegap. Kemampuan menyetirnya yang terkenal ugal-ugalan hingga tidak bisa mendapatkan SIM, saat ini terpaksa ia gunakan demi bisa membawa Maximo ke rumah sakit.
Sesekali heelsnya tersangkut di pedal, "Brengsek! Kenapa kamu sangat menyulitkanku?!" dengan kesal ia melepas heels itu. Laju mobilpun sempat tersendat-sendat dan sesekali melaju sangat cepat sampai Samantha kaget sendiri dengan kekuatan mobil ini.
“Tenang Sam, tenang. Kamu ingin menyelamatkan seseorang, bukan bunuh diri bbersama seperti ini. Cinta sampai mati tidak begini caranya.” Samantha mengingatkan dirinya sendiri agar tenang. Sambil memacu mobilnya Samantha berusaha merasakan ritme menyetir yang seharusnya.
Sesekali ia mengendurkan gasnya lalu sesekali menginjaknya dalam dan perlahan ia bisa mengendalikan laju mobil itu dengan normal meski cara ia bermanufer benar-benar amatir hingga tubuh Maximo dan tubuhnya terguncang-guncang miring ke kiri dan kanan secara tajam di jalanan yang rata.
“Maafkan aku Max, kemampuanku memang payah.” Samantha menoleh Maximo yang menatapnya dengan mata sayunya. Entah apa yang ingin dikatakan laki-laki itu yang jelas ia hanya memandangi Samantha dengan tatapan yang entah.
“Kamu boleh memarahiku setelah sembuh. Kali ini, ikuti saja usahaku yang sudah maksimal ini.” Samantha terus berceloteh dengan kesal pada dirinya sendiri.
Lima belas menit menempuh perjalanan, Samantha tiba di rumah sakit. Ia segera memarkir mobilnya dengan sembarang di depan UGD. Petugas medis segera menyambut Maximo dan menurunkannya dari mobil itu dan berpindah ke blankar.
“Nona, silakan parkirkan mobilnya di sebelah sana.” Petugas keamanan rumah sakit menunjuk sebuah arah panah yang harus di tempuh oleh Samantha untuk memarkirkan mobilnya.
Tentu saja Samantha tidak menurut. Ia malah turun dari mobil yang mesinnya masih menyala tanpa menutup pintu. “Tolong parkirkan untukku, cara menyetirku payah.” Samantha memberikan jawaban.
Ia segera pergi tanpa menunggu persetujuan petugas keamanan yang menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
“Aku tau aku cantik, nanti kita bisa berkenalan setelah kamu membantuku.” Bisa-bisanya gadis itu berkata hal demikian lalu menepuk bahu laki-laki itu sebelum kemudian pergi menyusul Maximo.
“Baik, nona.” Petugas keamanan itu baru tersadar dari lamunannya dan ia segera masuk ke dalam mobil ini untuk memarkirkan mobil sport mewah yang baru pertama kali ia coba. Hah, rasanya mendebarkan.
“Tuan, anda mendengar saya, tuan!” panggil petugas medis pada Maximo yang hanya melongo tidak bisa berkata apapun. Matanya saja yang berkedip pelan.
“Siapa nama pasien, nona?” tanya salah satu dokter yang sedang memeriksa tubuh Maximo.
“Namanya, Daren!” Samantha menjawab dengan sembarang. Maximo meliriknya, sepertinya laki-laki itu masih sadar kalau Samantha sedang berbohong. Tentu saja ia berbohong demi melindungi identitas Maximo yang sebenarnya.
“Tuan Daren, apa Anda mendengar saya?” tanya dokter tersebut. Maximo tidak bergeming. “Baik, kedipkan mata anda satu kali kalau anda mengerti pertanyaan saya.” Dokter itu memberi perintah.
Mata Maximo berkedip satu kali yang tandanya laki-laki ini merespon.
Maximo mengedipkan matanya satu kali. “Bagus!” dokter itu menghembuskan napasnya lega. Kesadaran Maximo masih sangat bagus.
“Bagaimana kejadian sebelumnya? Apa pasien terjatuh atau kepalanya terbentur atau mungkin pasien memakan sesuatu yang memincu alergi?” dokter bertanya banyak hal pada Samantha.
“Tidak, dia tidak jatuh atau terbentur. Tadi kami sedang berciuman dan tiba-tiba kakinya lemah. Tidak sampai lima menit, tubuhnya ikut lemah dan dia tidak bisa bicara. Hanya matanya saja yang menatapku seperti sekarang.” Samantha menjawab dengan polos.
“Apa pasien memiliki riwayat darah tinggi?” dokter itu berlanjut pada pertanyaan berikutnya walau jawaban Samantha yang sebelumnya membuat ia ingin tertawa.
__ADS_1
“Aku tidak tau. Aku baru mengenalnya selama beberapa minggu ini. Tapi selama ini dia baik-baik saja. Tidak pernah mengeluh sakit dan staminanya juga bagus saat di atas, ranjang.” Suara Samantha pelan pada satu kata terakhirnya.
“Baik nona, fokus. Apa yang pasien makan sebelum ini?” dokter mencoba mengendalikan pikirannya dan pikiran Samantha.
“Dia makan malam seperti biasanya, dengan steak dan minum wyne. Lalu kami menghadiri acara dan dia juga minum wyne. Dia tidak mabuk tapi,” kalimat Samantha tiba-tiba terhenti. Ia jadi teringat pada laporan hasil pemeriksaan obat yang ada di dalam stokingnya. Apa mungkin Maximo meminum racun yang sejenis dengan Tricyclon seperti yang pernah laki-laki ini katakan?
“Tapi apa nona?” suara dokter kembali menyadarkan Samantha.
“Ti-tidak apa-apa. Dia hanya minum wyne dan tidak makan minum yang lainnya.” Samantha kaget sendiri dengan ucapannya. Ia tercenung dan mulai sadar kalau sesuatu mungkin benar-benar terjadi pada Maximo.
“Baik, terima kasih nona. Anda boleh menunggu di luar kami akan melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu pada pasien,” terang dokter tersebut.
“Iya,” Samantha menyahuti dengan lemah.
Ia segera berjalan keluar ruang UGD dan duduk di kursi tunggu. Gadis itu termenung sendiri di sana. Ia membaca berulang kali expertisi analisa isi obat yang ada di tangannya yang sebenarnya tidak terlalu ia pahami. Ia memejamkan matanya beberapa saat, mengingat kembali penjelasan Maximo beberapa waktu lalu tentang obat-obatan yang terkandung di dalam Trycyclo itu. Satu untuk membusukkan tubuh dari dalam, dua untuk melumpuhkan syaraf-syaraf dari dalam dan lagi untuk membuat seseorang meninggal. Lalu kandungan obat ini ada di jenis obat yang mana?
“Akh sial! Aku yakin seseorang meracuni Maximo.” Samantha terlihat semakin gusar. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar lantas beranjak dari tempatnya. Berjalan mondar mandir mencari jalan apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Apa sebaiknya aku kembali ke hotel itu? Aku harus memeriksa minuman yang diminum Maximo.” Samantha bergumam sendiri. Ia berpikir sejenak dan ia merasa, tidak ada yang bisa membantu Maximo selain Samantha sendiri.
Tidak menunggu lama, Samantha segera berlari dari rumah sakit itu dan segera menuju tempat parkir. Ia mengeluarkan mobil Maximo dengan tergesa-gesa dan susah payah. Sesekali menyenggol dinding dan membuat goresan besar di body mobil Maximo. Masa bodoh, ia tidak peduli, pikirnya selama tidak menyenggol mobil orang lain, hal ini masih aman.
__ADS_1
****