Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Apa kabar


__ADS_3

“Kamu melihat nama di kartu nama tadi, Max?” Samantha bertanya dengan penasaran. Pertanyaan itu di lontarkan saat mereka sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang.


“Ya aku melihatnya. Nomor teleponnya tidak terlalu aku ingat,” Dahi Maximo tampat berkerut mencoba mengingat deretan angka yang hanya sekilas ia lihat.


“Aku mengingatnya.” Samantha mengambil kertas dari dalam dashboard, lalu menuliskan nomor telepon itu dengan cepat. Dia juga menunjukkan nomor itu pada Maximo. Maximo tidak berkomentar, dia hanya mengecup kepala Samantha sebagai bentuk terima kasih. Wanitanya memang cerdas.


“Apa kartu nama itu milik Michael kakakmu?” Samantha benar-benar penasaran.


“Entahlah, ada banyak Michael di kota Los Angeles ini.”


“Kenapa kita tidak coba menghubungi nomor orang ini? Dia memberikan kartu nama, itu berarti nomornya akan selalu sama dan aktif.” Ide Samantha terkadang memang brilian.


“Ya, kita akan mencobanya.” Maximo tersenyum bangga pada wanita di sampingnya. “Sebelum itu, apa ada yang mau kamu beli, selagi kita di kota?” tawar Maximo. Mereka sedang berada di pusat kota Los Angeles.


“Tidak, aku hanya ingin menghubungi seseorang. Boleh pinjam ponselmu?” Tangan Samantha menengadah pada prianya.


“Silakan.” Maximo memberikan benda pipih miliknya pada Samantha. Samantha tersenyum kecil, wanita ini merasa Maximo mulai benar-benar memercayainya, seperti halnya Samantha yang mulai mempercayai Maximo.


Ada satu nomor yang kemudian Samantha hubungi. Panggilan tersambung tetapi tidak ada yang menjawab. Samantha mengulangnya beberapa kali dan tetap saja tidak ada jawaban.


“Kenapa?” Maximo penasaran melihat wajah gelisah Samantha.


“Temanku tidak menjawab panggilanku. Aku cemas, apa mungkin dia baik-baik saja?” Adalah Alicia yang Samantha cemaskan saat ini.


“Coba hubungi dengan nomor lain.” Maximo melihat ke sekeliling tempatnya berada, sedikit menambah laju mobilnya lalu berhenti di depan sebuah telepon umum. “Cobalah menghubunginya lewat telepon umum,” imbuh laki-laki itu.


“Ya,” Samantha menurut saja. Dia segera turun dan berusaha menghubungi Alicia. Maximo memperhatikan Samantha dari tempatnya. Wanita yang berada di kotak telepon itu hanya mematung, sesekali mengulang panggilan, tetapi tidak berbicara. Terlihat jelas kalau ia sangat gelisah.


“Kenapa?” Maximo bertanya saat Samantha kembali dengan wajah cemas. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tegang.

__ADS_1


“Dia tidak menjawab teleponku dan sekarang ponselnya malah tidak aktif. Aku khawatir terjadi sesuau hal buruk pada temanku.” Samantha benar-benar cemas. Tidak sekalipun Alicia mengabaikan nomor teleponnya, karena telepon Samantha selalu di tunggunya.


“Mau ku antar menemuinya?” tawar Maximo.


“Tidak. Kalau pun harus menemuinya, cukup aku saja. Ini terlalu berbahaya Max. Temanku tidak tahu kalau kita sudah berbagi rahasia. Aku bahkan berbohong kalau aku belum melihat kode di tubuhmu. Jadi sebaiknya aku pergi sendiri.” Samantha dengan pertimbangannya yang matang.


Maximo tidak lantas menjawab. Ia mengambil sesuatu dari dalam dashboard dan memberikannya pada Samantha. “Bawa ini selama perjalanan. Tekan tombol ini saat kamu memerlukan bantuan. Aku dan orang-orangku akan segera datang,” terang Maximo dengan khawatir.


Samantha menerima benda kecil itu dan menggenggamnya dengan erat. “Iya, aku akan memanggilmu saat aku membutuhkanmu.”


“Hem, berhati-hatilah.” Maximo sempatkan untuk memeluk Samantha dengan erat sebelum wanita itu pergi.


*Keputusan sudah di ambil. Samantha pergi dengan mengendarai mobil Maximo. Dia melajukan mobil sport* berwarna hitam itu dengan kecepatan tinggi, makin lihai saja ia mengendalikan setir dengan satu tangannya, sementara satu tangan lainnya mengatur perseneling.


“Kamu harus pulang dengan selamat, Sam.” Maximo memandangi wanita itu dengan penuh kecemasan. Perasaannya mendadak tidak karuan.


“Apa kabar, adik?” sapa pria itu lantas tersenyum kecil. Secepat ini Maximo bisa menemukan nomor teleponnya.


****


Setengah jam perjalanan di tempuh Samantha untuk sampai di markas Wilson. Seperti biasa ia dihadang oleh pengawal. Wanita itu menurunkan kaca jendelanya dan menunjukkan wajahnya yang cantik.


"Kamu masih belum bisa mengingat wajah cantikku? Aku Samantha." Wanita itu menatap tajam penjaga yang enggan membukakan gerbang untuknya.


"Maaf nona, Anda tidak bisa masuk." Laki-laki itu begitu tegas berbicara.


"Benarkah? Aku mau bertemu Alice, sampaikan kalau aku yang datang." Samantha mulai kesal, kecemasannya terhadap Alicia membuat ia tidak sabaran.


"Mohon maaf nona, tapi sebaiknya Anda pergi. Anda tidak diizinkan masuk." Laki-laki bertubuh tegap itu tetap dengan usahanya untuk menghadang Samantha.

__ADS_1


Melihat kukuhnya sikap pengawal itu, membuat Samantha makin yakin kalau ada hal yang tidak beres. Ia sangat yakin kalau ada sesuatu yang terjadi hingga Alicia tidak menjawab panggilannya.


"Kenapa laki-laki sulit sekali mengalah pada perempuan? Mereka benar-benar hidup dengan egonya." Samantha berdecak sebal. Ia menatap pria itu dengan sinis.


"Mohon nona, tapi sebaiknya Anda segera,"


BROOM!!!


Bukan Samantha namanya kalau menurut begitu saja. Ia malah menarik perseneling dan menginjak pedal gas hingga dalam. Ia lajukan mobilnya dengan cepat dan menerobos gerbang besi yang sengaja ia tabrak.


*"Astaga!!" seru laki-laki itu sambil memegangi kepalanya bingung. Pintu gerbang di hajar begitu saja oleh Samantha. Beberapa bagian body* mobil Samantha rusak, tetapi tidak menyurutkan tekadnya dan tetap menambah laju mobilnya semakin kencang, masuk ke area basement.


Samantha turun dengan gagah. Ia mengambil senjatanya juga beberapa butir peluru yang ia masukkan ke dalam sakunya. Benar saja, beberapa orang menghadangnya di lift. Mereka keluar dari dalam lift, tetapi baru saja mereka menodongkan senjatanya,


Dor! Dor! Dor!


Samantha sudah lebih dulu menembaki orang-orang itu hinga satu per satu berjatuhan karena terkena tembakan Samantha tepat di dada kiri dan kepalanya.


Samantha tersenyum puas. Jiwa liarnya mendadak timbul. Setelah serangan itu, Samantha makin mempercepat langkah kakinya. Ia menyingkirkan tubuh para agent yang  menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam lift. Seluruh agent di markas itu bersiaga mengepung lift yang di naiki Samantha. Bersiap menembak jika Samantha keluar dari dalam lift itu.


Angka lift terus naik menuju lantai empat. Para agent bersiap di tempatnya. "Tembak wanita itu saat keluar dari dalam lift." Richard yang memberi perintah pada para agent itu. Mereka bersiap di posisi masing-masing untuk menghujani Samantha dengan timah panas. Mata buas mereka begitu waspada menunggu sosok cantik Samantha muncul dari balik pintu lift.


Ding!


Lift berhenti di lantai empat. Detik-detik menegangkan saat pintu lift terbuka terasa begitu crusial. Beberapa agent sampai berkeringat dan menahan napas, bersiap menembaki Samantha. Perlahan pintu lift pun terbuka sedikit demi sedikit.


"TEMBAK!!!" seru Richard dan para agent pun menembaki lift tanpa ampun.


****

__ADS_1


__ADS_2