Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Gangguan


__ADS_3

Golf ternyata bukan olahraga yang enteng. Meski sekilas hanya belajar mengarahkan bola ke lubang yang sudah disediakan, nyatanya permainan itu tidak semudah yang Samantha bayangkan. Ini kali pertama Samantha bermain golf dan efek samping pada tubuhnya terasa hingga malam hari.


Ya, malam ini Samantha tidak bisa tidur. Badannya pegal-pegal, mungkin karena sudah lama ia tidak berolah raga. Tubuhnya yang sudah terbiasa bergerak ekstreme, sekarang lebih sering diam, karena itu sekali ia olah raga, otot-ototnya langsung tegang.


Berguling kesana kemari dan Samantha masih belum bisa memejamkan matanya. Tidak ada posisi yang membuatnya nyaman. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar, berkeliling ke sana kemari, kemana saja yang penting rasa pegalnya teralihkan.


Tanpa sengaja Samantha melihat pintu ruang kerja Maximo yang masih terbuka. Tidak ada Paul disana, mungkin laki-laki itupun kelelahan mengejar-ngejar bola. Ya, usaha Paul memang lebih berat dibanding usaha Samantha. Entah berapa kali laki-laki itu berlarian dan matanya terkena pukulan Samantha hingga menyisakan bengkak di mata kirinya.


“Aku ingin memeriksanya.” Gumam Samantha yang mendekat ke ruangan Maximo. Dilihat dari celah pintu, benar saja laki-laki itu masih terduduk dimeja kerjanya sambil memandangi laptop sementara satu tangannya menopang kepalanya. Dahinya berkerut, seolah sedang sangat serius berpikir.


Samantha mengetuk pintu ruang kerja Maximo dan laki-laki itu segera menoleh. “Hey, masuklah.” Maximo segera menegakkan tubuhnya dan tersenyum kecil pada Samantha.


“Sepertinya kamu masih bekerja keras?” Samantha mendekat. Bersandar di meja dan menghadap pada Maximo.


“Hem, ada beberapa yang harus aku selesaikan.” Suaranya terdengar lemah.


Samantha mengintip sedikit layar laptop Maximo yang hanya menunjukkan kurva merah hijau dan biru.


*“Ini angka permintaan supply* obat-obatan.” Maximo menjelaskan tanpa diminta. Ia menutup laptopnya karena ia lebih tertarik memandangi Samantha yang sudah mengenakan gaun tidurnya dengan outer yang sengaja diikatkan longgar pada talinya.


“Ilegal?” Samantha bertanya dengan penasaran.


“Memangnya ada mafia yang bermain dengan barang legal?” Maximo balik bertanya.


“Entahlah.” Samantha mengendikkan bahunya acuh. Ia juga tidak mau memikirkan apa ada barang legal yang diperjualbelikan oleh Maximo. Tidak mungkin ada kan?


“Kamu belum bisa tidur?” Berganti Maximo yang bertanya pada wanita cantik dihadapannya. Rambutnya tidak bergelombang, tetapi tetap terlihat menarik.


*“Hem. Tanganku pegal, sepertinya aku terlalu semangat mengayunkan stick golf*. Kakiku juga pegal karena posture tubuhku sangat kaku. Sepertinya tadi itu harusnya aku menurut pada Paul, aku harus melemaskan otot bahu dan punggungku.” Samantha memukul-mukul bahunya sendiri yang terasa pegal.


“Kemarilah, biar ku bantu.” Tiba-tiba saja Maximo mengangkat tubuh Samantha dan mendudukkannya diatas meja. Ia melepas sandal Samantha dan kedua kaki Samantha ia tempatkan diatas pangkuannya.


“Kamu mau apa?” Samantha menarik kakinya saat Maximo menekan betisnya yang pegal.


“Aku akan memijatnya sedikit. Ini akan membuat otot-otot kakimu lebih relax.” Laki-laki itu memberi penjelasan.


“Kamu bisa melakukannya?” Samantha tidak yakin dengan ucapan Maximo.

__ADS_1


“Kamu nilai sendiri.” Maximo kukuh menarik kaki Samantha lalu mulai memijat kaki Samantha mulai dari lutut, lalu turun ke betis dan memberi pijatan lama disana. Laki-laki itu tersenyum memandangi kaki Samantha yang putih dan kulitnya yang lembut.


“Kenapa terus memperhatikan kakiku?” Samantha bingung sendiri melihat Maximo yang senyum-senyum sendiri pada kakinya. Padahal tidak ada yang istimewa disana selain ada bekas memar yang cukup terlihat saat ia berusaha memecahkan tumpukan bata dua bulan lalu.


“Kakimu sepertinya terbiasa berolahraga,” ujar Maximo seraya mengangkat wajahnya untuk menatap Samantha.


“Aku suka bersepeda.” Samantha menarik kakinya dari Maximo, ia takut laki-laki itu semakin banyak tahu tentang dirinya.


“Sesekali kita berjalan-jalan dihutan dengan sepeda. Aku penasaran ingin melihat bagaimana otot kakimu bekerja mengayuh pedal.” Maximo masih menatap Samantha dengan penuh perasaan.


“Rasa penasaranmu sangat tidak penting,” timpal Samantha. Ia beranjak hendak bangun, tetapi tangan kokoh Maximo menahan bahunya.


“Jangan pergi, aku belum selesai menebus kesalahanku.” Laki-laki itu berdiri demi mensejajarkan tubuhnya dengan Samantha.


“Kesalahan? Kesalahan yang mana?” Samantha mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


“Membiarkanmu menungguku dibawah terik matahari. Juga tidak menemanimu bermain-main. Padahal aku sudah berjanji kalau aku akan menyediakan waktuku untukmu.” Maximo mulai memijat bahu Samantha dengan lembut. Sesekali Samantha menggelinjang karena geli, tetapi Maximo hanya menyunggingkan senyum tipis.


“Kamu berlebihan, ada Paul sudah cukup. Dia juga pasti kelelahan malam ini. Belum lagi mata kirinya aku buat bengkak karena terkena bola dan ayunan stick.” Samantha jadi teringat pada laki-laki tinggi itu.


“Apa sakit?” lihat, serigala lapar ini menyeringai meledek Samantha.


“Ya, kamu menyakitiku. Kalau tidak berniat mengobatiku, paling tidak jangan menyakitiku.” Samantha menatap Maximo dengan kesal.


“Kamu juga baru saja menyakitiku.” Laki-laki itu mengusap bahu Samantha lembut, bukan dengan telapak tanganya melainkan dengan jari-jarinya yang membuat bulu kuduk Samantha meremang.


“Kapan aku menyakitimu?” Gadis itu menatap tidak mengerti. Pikirnya, Maximo hanya mengada-ngada.


“Beberapa detik lalu, saat kamu bilang cukup ada Paul. Aku tidak suka seseorang menggantikan posisiku, apapun fungsinya. Apa aku harus melenyapkannya agar kamu tidak lagi mencemaskannya?” Maximo menghentikan pijatannya dan memilih menumpukan kedua tangannya di atas meja, disisi kiri dan kanan tubuh Samantha. Sementara wajahnya sengaja ia dekatkan pada Samantha agar gadis itu melihat matanya yang menunjukkan rasa tidak suka atas kalimat Samantha beberapa saat lalu.


Samantha hanya terkekeh.


“Kenapa tertawa? Apa aku memiliki sisi humoris?” Maximo memasang kembali wajah garang dan tatapannya yang tajam.


“Ya, kamu lucu saat sedang cemburu. Itu menggelikan Max.” Samantha mencengkram dagu Maximo lalu sengaja mengerucutkan bibir merah berkumis tipis milik laki-laki itu.


“Yang lucu biasanya dapat hadiah.” Mafia ini tidak kehabisan kata-kata untuk menimpali Samantha.

__ADS_1


“Hem, tentu.” Samantha mengangguk pelan. “Terima kasih untuk hari ini, aku menikmatinya. Kamu membuatku bisa tertawa lepas untuk pertama kalinya,” ucap Samantha dengan sungguh. Lihat matanya yang penuh haru merasakan keceriaan untuk pertama kalinya.


“Lalu, hadiahnya?” Laki-laki ini masih tetap menagih.


Samantha tidak menjawab. Ia menangkup kedua sisi wajah Maximo, mengusap rambut halus dari pelipis, lalu jambang Maximo kemudian menggigit dagu laki-laki ini. Maximo tidak merespon, ia menunggu apalagi yang akan dilakukan Samantha untuk memberinya hadiah.


“Aku suka matamu, Max. mirip sepertiku, menyimpan luka yang bisa menyeret siapa saja untuk ikut tenggelam dalam kesedihan dan kemarahan,” Samantha bersuara dengan lirih. Ia menutup mata Maximo lalu mengecupnya.


“Aku suka hidungmu, terlihat menarik saat kulihat dari samping.” Samantha menyentuhkan hidungnya dengan hidung Maximo, terdiam beberapa saat dan menghirup hawa hangat hembusan napas Maximo.


“Dan,” kali in Samantha mengusap bibir maximo dengan ibu jarinya. “Bibirmu selalu mengatakan hal yang membuat hidupku tertantang. Sebanyak apa kalimat yang kamu punya untuk memujaku?” ia mengusap-usap bibir Maximo dengan lembut.


“Sebanyak pagutan yang bisa aku berikan. Mau mencobanya?” Maximo balas menantang.


“Siapa yang akan memulainya dan mengaku kalah? Aku atau kamu?” Mata sendu Samantha menatap laki-laki itu dengan lekat.


Maximo tidak menjawab, melainkan langsung memagut bibir gadis itu dengan dalam. Meraupnya dengan serakah hingga Samantha terengah. Maximo menghentikan pagutannya beberapa saat, mengusap wajah Samantha dengan lembut juga menatap matanya dengan lekat.


“Aku bersedia mengakui kekalahanku,” ucap laki-laki itu seraya mengusap bibir Samantha dengan ibu jarinya membuatnya sedikit terbuka dan memperlihatkan sebagian barisan giginya yang rapi dan putih.


Tanpa menunggu lama, kali ini Samantha yang lebih dulu memagut Maximo. Ia menggigit bibir berisi itu dengan penuh gairah dan Maximo membalasnya. Lidahnya mulai bergerilya mengabsen setiap isi di rongga mulut Samantha dan menyesap saliva yang bertukar dengannya. Satu tangannya mulai sibuk melepas tali pengikat outer Samantha dan bibirnya menjelajah leher Samantha yang jenjang.


“Akh, Max….” Samantha melenguh, menangkup kepala Maximo yang mulai merambat turun dari leher lalu ke dadanya.


“Aku menginginkanmu, Sam.” Kalimat itu terdengar penuh kesungguhan saat keluar dari mulut Maximo.


“Lalu apa yang kamu tunggu?” timpal Samantha yang segera memagut bibir Maximo dengan penuh gairah. Seperti halnya Maximo, Samantha pun tidak ingin menundanya.


Ia melenguh beberapa kali saat Maximo mengusap punggungnya sampai kemudian,


“Selamat malam Max,” sapa seseorang di pintu.


Aksi sepasang kekasih itupun langsung terhenti dan menoleh ke pintu.


“Ups! Apa aku mengganggu?”


****

__ADS_1


__ADS_2