
Langkah kaki Samantha terlihat panjang mengelilingi rumah mewah kediaman William. Ia sedang mencari-cari keberadaan Maximo. Setiap sudut ruang ia datangi, tetapi sulit sekali menemukan laki-laki berbahu lebar itu. Ya, itu ciri khas yang Maximo miliki, berbahu lebar. Tempat ternyaman untuk bersandar.
Ada satu ruangan diujung sana yang membuat Samantha cukup penasaran. Tidak ada penjaga disana dan pintunya sedikit terbuka. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan itu.
“Samantha!” Tiba-tiba seseorang menarik tangan Samantha dari balik dinding. Laki-laki itu bahkan membekap mulut Samantha. Mata Samantha membulat kaget saat ternyata laki-laki itu adalah Wilson.
“Wilson?” Suara Samantha terdengar samar dalam bekapan tangan lebar Wilson.
“Diamlah, aku akan bicara. Waktu kita hanya sebentar saja.” Wilson berujar dengan tergesa-gesa. Samantha mengangguk pelan dan perlahan Wilson melepakan bekapan dimulut Samantha.
“Bagaimana kamu bisa datang ke sini?” tanya Samantha yang penasaran.
“Aku mengikuti pelacak yang dipasangkan Alicia,” sahut Wilson. Samantha mengangguk paham.
“Samantha, apa kamu sudah melihat tato yang ada ditubuh Maximo? Apa isinya?” Wilson langsung bertanya akan hal itu.
“Belum, aku belum melihatnya.” Samantha menjawab apa adanya. Ia menyilangkan tangannya didepan dada.
“Kenapa lama sekali? Kamu bilang itu mudah. Kenapa sampai sekarang kamu belum melihatnya?” Wilson terlihat sangat tergesa-gesa dan emosional.
“Kenapa kamu menyudutkanku dengan hal ini?" Samantha berbalik meradang.
"Kamu tau Wilson, berada di samping Maximo itu tidak mudah. Aku harus mencari dinformasi tentang pria itu dan diwaktu yang bersamaan aku harus mengatur perasaanku yang sangat murka pada laki-laki itu. Kenapa kamu tidak coba membantuku lebih banyak dan malah menyalahkanku seolah aku tidak becus melakukan pekerjaanku?” Samantha mulai kesal. Ia menatap Wilson dengan penuh kemarahan.
“Ingat Wilson, selain Gerald adalah timmu, dia juga kakakku. Aku yang paling sedih dan merasa kehilangan dibanding kalian. Harusnya kamu bisa memahamiku. Aku mengatur strategi sendiri didekat Maximo, padahal lingkungannya sangat asing dan membuatku ngeri. Tidakkah kamu tau kalau itu sulit?” Samantha berbicara dengan panjang lebar mengatakan apa yang selama ini ia alami.
__ADS_1
“Kamu hanya mau tau hasilnya, padahal yang tersulit adalah bertahan ditengah serangan Maximo yang bisa datang kapan saja.” Samantha mendengkuskan napasnya kesal seraya memandangi Wilson yang menurutnya sangat egois. Ia mulai merasa, tujuan Wilson dan dirinya sepertinya berbeda. Wilson ingin mengetahui tanda di tubuh Maximo sementara fokus Samantha adalah menemukan pembunuh Gerald yang sesungguhnya.
“Maaf, aku minta maaf, harusnya aku tidak menyudutkanmu.” Wilson mulai menyadari kesalahannya. Ia memeluk Samantha untuk menunjukkan rasa simpatinya. “Harusnya aku lebih memahami kamu, Sam. Aku memang terlalu emosi karena aku hanya ingin membalaskan dendam Gerald dan membuat Maximo hancur.” Laki-laki itu berbisik ditelinga Samantha lalu seperti mengecup leher Samantha.
“Kamu tidak perlu sampai memelukku seperti ini.” Samantha mendorong tubuh Wilson sedikit menjauh, membuat laki-laki itu melepaskan pelukannya. Sikap Wilson menurutnya cukup berlebihan.
Lantas Samantha menatap sepasang mata Wilson yang tajam padanya. “Aku melihat sendiri, ada orang yang mengaku kalau dia adalah Maximo. Seperti yang kamu katakan, banyak orang yang mengaku-ngaku dia adalah Maximo. Aku mulai ragu, apa benar Maximo atau bukan yang membunuh Gerald. Aku khawatir membalas dendam pada orang yang salah.” Samantha mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
“Sudah pasti Maximo, kamu harus yakin, Maximo lah yang membunuh Gerald.” Wilson begitu tegas mengatakan kalimat itu.
“Lalu apa buktinya?” Samantha malah ragu melihat Wilson yang sepertinya tidak berpikir jernih.
Wilson mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah foto, dua orang anak ada di sana. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.
“Benarkah ini milik Maximo?” Samantha menatap Wilson dengan tidak yakin.
“Ya, aku sangat yakin.” Lihat, Wilson sangat bersemangat.
“Baiklah, aku akan mencari tahu lebih dalam lagi. Kamu tenanglah, aku akan mengabarimu kemudian.” Samantha akhirnya mengiyakan ucapan Wilson.
“Baiklah, tolong kabari aku secepatnya. Kamu harus segera mendapatkan kode itu.” Wilson berpesan dengan sungguh.
“Ya, tentu saja.” Samantha dengan yakin menyahuti.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera menjemputmu saat kita berhasil menghancurkan Maximo.” Wilson menagkup kedua sisi kepala Samantha lalu mengecup kepala Samantha. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
“Ya, tentu.” Untuk sementara Samantha biarkan saja Wilson melakukan apa yang dia mau.
Wilsonpun segera pergi. Ia menyelinap diantara ruangan-ruangan yang ada dirumah itu.
“Foto itu barang bukti, lalu kenapa ada didalam dompet Wilson dan tidak terbungkus plastik seperti barang bukti lainnya?” Samantha bergumam sendiri. Ia mencoba memikirkan apa yang dilakukan Wilson selama ini.
Puas berpikir dengan isi kepala yang seperti benang kusut, Samantha segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tetapi baru satu langkah ia keluar dari persembunyiannya, Samantha segera mundur lagi saat ternyata Maximo keluar dari ruangan itu bersama William. Samantha kembali bersembunyi di balik dinding dan berdiam diri beberapa saat di sana.
“Kenapa kamu ingin melakukan hal itu, Max? Kamu mulai terusik dengan para Maximo palsu itu?” Sedikit percakapan dua pria itu bisa Samantha dengar dan ini suatu keberuntungan.
“Iya, aku bosan dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang tidak aku lakukan.” Maximo berujar dengan penuh ketegasan membuat Samantha menyimak benar obrolan dua laki-laki itu.
“Tapi, bukankah itu juga membantumu untuk menyembunyikan dirimu sendiri? Petani akan cenderung lebih mudah menemukan bambu yang tumbuh lurus dsbanding bambu yang terlihat merunduk normal. Keberadaan para Maximo palsu itu benar-benar menyamarkanmu.” William membuat analogi yang masih bisa dipahami Samantha.
“Iya, tapi aku juga harus menghadapi konsekuensi dari sesuatu yang mereka tuduhkan pada nama Maximo. Kamu ingat Nicholas yang pernah menjadi orang kepercayaanmu? Dia menyamar menjadi aku dan membuat kekacauan di casino,” terang Maximo.
“Ya, aku dengar kamu membunuhnya. Kamu terlalu sadis Max.” William meneguk minumannya untuk meredakan rasa kecewa karena satu orang kepercayaannya dibunuh dan disiksa oleh Maximo.
“Itu karena kesalahannya sendiri. Dia terlalu sembarangan.” Maximo masih menimpali dan William memilih diam. Ia masih merasakan kekecewaan atas Tindakan Maximo.
Lalu saat ini, Samantha yang dibuat bingung. Disatu sisi, Wilson sangat yakin kalau Maximo bersalah dan disisi lain. Maximo sangat gigih mengusahakan agar ia tidak terbukti bersalah, lalu mana yang harus Samantha percayai sekarang?
Samantha memilih melepas pelacak yang ada ditelinganya. Baik Maximo ataupun Wilson saat ini tidak bisa ia percaya.
****
__ADS_1