Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Taktik


__ADS_3

Menuruti keinginan Samantha, Maximo membawa wanita itu untuk berjalan-jalan di kota ramai Los Angeles dan membelikannya banyak baju serta perlengkapan wanita. Sudah delapan paperbag yang ditenteng Paul, berisi pakaian Samantha juga sepatu yang dipilihkan oleh Maximo untuk wanitanya. Seperti mendandani barbie hidup, Maximo membeli semua barang mewah dan mahal dengan kualitas terbaik.


Sambil berjalan menuju resto yang akan mereka tuju, Samantha tampak menikmati perannya sebagai seseorang yang berpura-pura ingin belanja. Padahal ia sedang mengulur waktu menunggu kedatangan Alicia yang berusaha keluar dari markas secara diam-diam tanpa sepengetahuan Wilson. Samantha memang sengaja meminta Alicia datang secara diam-diam karena ia merasa ada yang mencurigakan dari sosok Wilson sang komandan agen.


“Max, apa topi itu cocok untukku?” Samantha menunjuk sebuah topi jenis trilby berwarna hitam dengan aksen bunga disisi kanan depan. Topi itu tampak menarik terpajang di kepala manekin yang berpakaian layaknya mafia perempuan.


“Belilah.” Maximo sangat peka untuk menuruti keinginan wanitanya.


“Okey!” Samantha tersenyum girang. Ditariknya tangan Maximo untuk masuk ke dalam toko dengan langkah yang tergesa-gesa. Kakinya begitu ringan melangkah masuk ke dalam toko dan langsung mencoba topi itu didepan kaca dan Maximo memperhatikannya dari belakang.


“Apa aku sudah cocok menjadi nyonya mafia?” Samantha bersuara pelan dan menggunakan kedua tangannya sebagai corong berbisik pada Maximo.


“Cobalah dengan bajunya.” Maximo terlihat lebih bersemangat. Samantha memang terlihat cantik dengan topi itu apakagi kalau berpakaian lengkap.


“Kalau begitu, bantu aku berganti pakaian.” Wanita itu sengaja menantang Maximo.


“Anda akan dibantu oleh pelayan toko, Nona.” Paul tidak rela tuannya dikerjai.


“Lihat, dia selalu iri setiap kali aku meminta untuk diperhatikan.” Samantha mengadu pada Maximo dengan wajahnya yang berlagak sedih.

__ADS_1


Maximo menoleh pria itu, “Tunggu di luar!” titahnya tanpa bisa ditolak.


“Baik, Tuan.” Paul salah strategi, malah ia yang disuruh keluar. Samantha hanya terkekeh karena berhasil mengerjai Paul. Ia berharap diluar sana Paul bisa duduk dibangku agar kakinya tidak kram atau kesemutan.


Samantha pergi ke ruang ganti bersama Maximo, seorang pelayan mengikutinya dibelakang dengan membawakan baju yang akan Samantha coba. Setelah didalam, hanya ada dua orang itu saja yang ada. Samantha menanggalkan bajunya. Melepas satu per satu kancingnya sambil memandangi Maximo yang menatapnya penuh hasrat.


Wanita itu mengambil baju ditangan Maximo lalu memakainya. Maximo dengan setia membantunya. Tetapi saat baju itu akan dikancingkan, Maximo menahan tangan Samantha.


“Apa peranku hanya untuk ini?” tanya pria itu dengan tatapan yang mengunci.


Samantha tersenyum kecil, mendekat pada Maximo dan mengikis jarak mereka hingga tersisa beberapa senti saja “Ya, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan karena tempat ini sangat sempit.” Pelan-pelan Samantha melepaskan tangan Maximo yang menggenggam tangannya.


“Kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu akan melayaniku. Apa kamu lupa?” Samantha sengaja melingkarkan tangannya dileher Maximo, menunjukkan belahan dadanya yang masih terbuka dan hanya tertutup underwear hitam berrenda tipis. Isinya terlihat menyempul keluar.


“Ya, tentu aku ingat.” Dengan berbaik hati Maximo mengancingkan satu per satu kancing Samantha yang sangat mengujinya. Ia tetap berusaha menahan keinginannya untuk menerkam Samantha karena ia tidak mau wanitanya merasa tidak nyaman.


Samantha tersenyum kecil melihat usaha Maximo. “Terima kasih,” bisik gadis itu. Dikecupnya pipi Maximo dengan lembut membuat pria itu tersenyum senang. Satu kecupan saja dari Samantha membuat perasaannya berubah semakin bahagia.


Setelah pakaiannya rapi, Samantha berdiri disamping Maximo, melingkarkan tangannya dilengan Maximo lalu berpose tegak. “Apa aku cocok menjadi nyonya Cortez?” Samantha iseng menjawab.

__ADS_1


Maximo memandangi pantulan sosoknya yang bersanding dengan sosok Samantha. Kalau ia bi=oleh jumawa, mereka memang sangat serasi. Tetapi Maximo memilih untuk tidak menimpali, ia malah mengecup kepala Samantha dengan penuh perasaan lalu beranjak untuk keluar.


“Hey!” Samantha menarik tangan Maximo agar tidak beranjak. Laki-laki itu menghentikan langkahnya tanpa berbalik pada Samantha.


“Apa kamu tidak menyukai panggilan tuan dan nyonya Cortez itu?” Samantha memberanikan diri untuk bertanya. Ia ingin tahu pandangan maximo tentang sebuah pernikahan.


Pria itu termenung beberapa saat. “Sebuah keluarga hanya cerita semu yang ada di negeri dongeng,” timpal Maximo dengan dingin. Ia bahkan tidak menoleh pada Samantha untuk sekedar penasaran dengan perubahan expresi Samantha.


Samantha tersenyum kecil. Sebelum Maximo, ia memilih keluar lebih dulu hingga sengaja menyenggolkan tangannya pada lengan Maximo yang mematung dijalannya. Ia segera berjalan keluar dengan langkahnya yang tegas dan seperti penuh kekecewaan.


“Apa dia berpikir untuk berkeluarga denganku?” Maximo bertanya pada dirinya sendiri sambil memandangi sosok Samantha yang hanya menampakkan punggungnya. Maximo menyusulnya setelah ia memberikan sejumlah uang yang cukup banyak pada pelayan toko untuk membayar baju yang dipakai Samantha. Baju itu memang cocok untuk wanitanya.


“Nona, tunggu. Anda mau kemana?” Paul terlihat panik karena Samantha berjalan dengan cepat meninggalkannya.


Tidak lama, Maximo segera menyusul dan memberikan baju Samantha pada Paul lalu berjalan cepat menyusul wanitanya.


Paul kaget sendiri melihat baju Samantha yang dijejalkan Maximo ditangannya. “Ada apa dengan mereka?” entah pada siapa Paul bertanya.


****

__ADS_1



__ADS_2