
Suara hentakan musik disko menyambut kedatangan Samantha dan Maximo di salah satu club terbesar di pusat kota Los Angeles. Club ini merupakan salah satu asset milik Maximo yang menambah banyaknya pundi-pundi dollar bagi seorang Maximo.
Berbagai macam transaksi ada di sini. Mulai dari jual beli obat-obatan terlarang, pesta dengan minuman yang memabukkan, penawaran tarif seorang wanita yang akan dijadikan pemuas nafsu para pria dan tentu saja hal-hal menyenangkan lainnya bagi para pengunjung. Perjudian, minuman beralkohol dan wanita, menjadi paket lengkap yang disediakan oleh club tersebut.
Maximo memegangi tangan Samantha yang mulai asyik mengoyangkan tubuhnya perlahan sejak menginjakkan kakinya ke dalam club. “Ini lagu favoritku, Max. Biarkan aku menari beberapa saat.” Samantha berusaha melepaskan genggaman tangan Maximo.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Sam. Disini banyak orang asing. Banyak yang sedang melakukan transaksi.” Maximo masih enggan melepaskan cengkraman tangannya. Baginya ini terlalu berbahaya jika Samantha ada ditengah-tengah mereka.
“Ayolah Max, jangan merusak kesenanganku. Kamu bisa menitipkanku pada Paul. Iya kan Paul?” Samantha mengintip Paul yang terhalang oleh tubuh tegap Maximo yang berdiri ditengah-tengah.
Paul langsung merinding, kalau Samantha sudah memintanya menemani, pasti ada-ada saja tingkahnya. “Mohon maaf nona, saya harus mendampingi tuan Maximo.” Cepat-cepat Paul menimpali.
“Akh sial! Sejak kapan kamu tidak mendukungku?” Samantha berdecak sebal. Ia mengibaskan tangan Maximo yang memeganginya. Cukup keras sampai terlepas. Ia bersidekap dan menunjukkan wajahnya yang kesal.
“Aku akan menyediakan ruangan khusus untukmu. Kamu bebas menari di sana dan aku tidak akan melarangnya.” Maximo memberi penawaran.
“Maksudmu diruanganmu yang ada di dalam? Tidak, itu tidak seru. Aku datang ke club untuk bersenang-senang, bukan untuk semedi.” Samantha bersikukuh. Mendengar ucapangadis itu, Maximo terlihat bingung sementara Paul menahan senyumnya mendengar kata semedi.
“Ya, kamu boleh naik ke lantai dansa, tapi dua pengawal akan menemanimu. Satu jam kemudian Paul akan menjemputmu.” Lagi Maximo memberi penawaran.
Samantha tidak menimpali, ia hanya berkata, “Ikut denganku. Kita bersenang-senang.” Ucapnya pada salah satu pengawal seraya menangkup wajah pengawal itu beberapa saat hingga pengawal itu bergidik geli. Sentuhan Samantha yang lembut dan tiba-tiba membuat sesuatu dalam tubuhnya bangkit.
“Baik, Nona.” Setelah berhasil mengendalikan dirinya, pengawal itupun menyusul Samantha yang sudah pergi lebih dulu.
__ADS_1
“Astaga, Samantha. Kamu selalu berhasil membuat kepalaku sakit.” Maximo memijat kepalanya yang mulai terasa pusing dengan tingkah Samantha.
“Perlu saya panggilkan terapis, Tuan?” tawar Paul.
Maximo terdiam beberapa saat, menatap Paul yang ada disampingnya. “Sembuhkan saja matamu, aku bosan melihatmu memakai kacamata hitam.” Selamat Paul, kamu pun terkena imbas kekesalan Maximo.
“Baik, Tuan.” Nasib, Paul hanya bisa mengiyakan.
Maximo berjalan menuju ruangannya yang berada dilantai dua. Memijaki satu per satu anak tangga sementara matanya tetap tertuju pada Samantha yang mulai meliukkan badannya di lantas dansa. Sesekali gadis itu meneguk minuman dan sepertinya setengah jam lagi ia harus segera turun dan mengecek Samantha apa masih sadar atau sudah mabuk.
“Pasang CCTV ke ruanganku. Aku harus melihat pergerakan Samantha.” Titah Maximo pada Paul yang ikut memperhatikan Samantha dari kejauhan. Harus ia akui kalau nona mudanya itu memang sangat mempesona. Pantas saja banyak pasang mata yang melirik.
"Kamu memakai kacamata hitam, bukan berarti aku tidak paham apa yang kamu lihat." Ujaran Maximo membuat Paul terhenyak. Bagaimana mungkin tuannya tahu kalau ia sedang memperhatikan nona cantik itu.
"Mohon maaf, Tuan." Paul segera tersadar. Ia mengikuti langkah Maximo yang sudah berjalan menuju ruangannya. Banyak wanita yang sudah mengantri didepan ruangan itu dan menunggu kedatangan Maximo.
“Halo cantik,” sapa seorang laki-laki yang tertarik ingin mendekati Samantha.
“Hay,” Samantha masih tetap dengan usahanya menikmati alunan musik yang menggetarkan jiwanya. Laki-laki itu menari dibelakang Samantha, hendak melingkarkan tangannya dipinggang Samantha, tetapi tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh menahannya.
“Tolong jaga sikap Anda, Tuan.” Siapa lagi kalau bukan pengawal Maximo.
“Ck!” laki-laki itu berdecik sebal. Ia terpaksa menjauh dari Samantha dengan perasaan kecewa dan memilih menghampiri wanita lain yang bebas ia ***** bibirnya sambil tetap memperhatikan Samantha dari kejauhan. Gadis itu terlalu memikat, sangat sayang untuk dilewatkan.
__ADS_1
“Ambilkan aku minuman,” pinta Samantha pada salah satu pengawal. Pengawal segera menurut. Ia mengambilkan segelas minuman untuk Samantha dan Samantha segera meneguknya.
“Akh….” Ia melenguh nikmat sambil menengadahkan kepalanya. Lihat wajahnya yang sudah mulai berkeringat dan malah terlihat segar.
Tiba-tiba saja seseorang menabrak Samantha. Seorang laki-laki yang lewat begitu saja.
“Hey! Kamu menabrakku!” seru Samantha ditengah suara musik yang keras. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh. Samantha memandanginya dari kejauhan. Postur tubuhnya sangat mirip dengan seseorang.
“Gerald?” tanya Samantha yang penasaran. Ia berusaha memfokuskan perhatiannya pada pria yang membelakanginya,
“Maaf, aku tidak sengaja.” Kalimat laki-laki itu terdengar tegas dan membuat Samantha terhenyak. Suaranya pun sangat tidak asing untuk Samantha.
“Kamu Gerald?” Samantha semakin mendekat, tetapi laki-laki itu malah memilih pergi.
“Hey, tunggu!” panggil Samantha. Karena tidak berhati-hati Samantha sampai terjatuh, tersandung kaki orang lain.
“Nona! Anda baik-baik saja?” tanya pengawal yang segera mengampiri Samantha. Samantha tidak menjawab. Ia malah menggelengkan kepalanya kasar untuk mengusir rasa pusing dikepalanya.
“Apa aku mulai mabuk? Mana mungkin aku melihat hantu ditempat seramai ini?” tanya gadis itu pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menimpali begitu pun dengan laki-laki tadi yang ia rasa mirip dengan seseorang. Hanya suara hingar musik yang terus menggema ditelinganya.
“Gerald sudah meninggal Samantha, sudah meninggal.” Samantha berbicara pada dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya yang terkadang suka melantur.
__ADS_1
Ya, dia sudah meninggal.
****