
Setelah berbincang, Samantha segera keluar dari toilet, disusul oleh Alicia. Ia tidak mau terlalu lama meninggalkan Maximo karena khawatir laki-laki itu akan curiga.
"Urusanmu sudah selesai?" tanya sebuah suara yang terdengar disamping Samantha.
“Astaga!” seru Samantha yang kaget bukan kepalang.
Wanita itu refleks menoleh seorang laki-laki yang bersandar sambil bersidekap, didinding toilet samping pintu masuk toilet wanita. Entah sejak kapan Maximo ada disitu dan menunggunya. Sosok Maximo berdiri dengan tegap menghadang langkah Samantha di pintu luar toilet Wanita. Tidak hanya Samantha yang dibuat kaget, melainkan juga Alicia yang tiba disampingnya. Baru beberapa saat lalu keduanya berpelukan sebagai tanda perpisahan dan ternyata Maximo muncul dihadapan mereka secara tidak terduga.
“Sedang apa kamu disini?” Samantha tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya.
“Menyusulmu. Kamu belum kembali padahal makanan sudah terhidang.” Jawaban pria itu terdengar santai saja. Ia masih bersidekap dihadapan Samantha dan mata tajamnya melirik Alicia yang berdiri mematung tidak tahu harus pergi kemana.
“Oh, aku tidak sengaja bertemu dengan kawan lamaku. Namanya Irene, ya Irene.” Samantha asal saja menyebut nama yang berbeda dari pemiliknya. Ia takut Maximo melacak siapa Alicia kalau ia menyebutkan nama yang sebenarnya.
“Kawan lama kenapa kamu ajak berbincang di toilet?” Maximo masih tetap penasaran pada sosok wanita berambut pirang dan memakai topi itu
“Kami hanya sebentar. Lagi pula Irene akan pergi. Ia kan Irene?” Samantha sedikit mendorong tubuh Alicia agar beranjak pergi.
“Iya, saya harus pergi, permisi.” Alicia tidak berani menunjukkan wajahnya sedikitpun pada Maximo.
__ADS_1
“Yaa, bye Irene! Hati-hati dijalan!” seru Samantha dengan sepenuh hati.
Alicia pun segera pergi dan membuat Maximo menoleh dan memperhatikannya beberapa saat.
“itu alasanku tidak mengajaknya duduk, kamu memperhatikannya!” Protes Samantha yang tiba-tiba saja menangkup wajah laki-laki itu agar berpaling padanya, lalu mencium bibir Maximo dengan agresif. Ia ingin mengalihkan perhatian Maximo dari sosok Alicia.
Maximo sampai kaget dengan serangan tiba-tiba Samantha, tetapi beberapa detik kemudian ia menikmati pagutan bibir mereka yang hanya beberapa saat.
“Kamu sudah tidak marah?” tanya Maximo saat pagutan mereka terlepas. Ia menatap Samantha dengan lekat, penuh rasa penasaran.
“Tentu aku masih marah dan kamu membuatku makin marah karena memperhatikan wanita lain.” Ditepuknya pipi Maximo beberapa kali lalu pergi menunju mejanya dan meninggalkan Maximo yang mematung kebingungan.
“Astaga, benar kata Paul, wanita itu sulit dimengerti. Dia bisa menciumku dengan agresif padahal dia sedang marah.” Maximo menggaruk dahinya dengan telunjuk, walau sebenarnya tidak gatal. Pikirnya, ada-ada saja tingkah Samantha.
“Kamu tidak menungguku?” Maximo bertanya dengan hati-hati. Ia memperhatikan sepasang mata yang masih kesal padanya.
“Aku selalu egois saat sedang lapar, sebaiknya kamu tahu itu.” Samantha masih mendelik kesal dan menguapkan makanannya ke mulut dengan rakus. Tidak ada Samantha yang tenang dan manis saat sedang marah.
“Makanlah dengan tenang, aku tidak akan mengganggu.” Maximo mendekatkan semua menu pada Samantha sementara ia hanya memandangi wajah Samantha dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Samantha hanya mengdengus kesal, ternyata Maximo masih berusaha mengalah. Entah ia memang memposisikan dirinya dibawah Samantha karena merasa bersalah atau ia memang menempatkan Samantha diprioritas utamanya.
Samantha duduk dengan tidak tenang, ia masih sempat khawatir kalau Maximo mendengar perbincangannya dengan Alicia.
“Aku tidak tahu kalau kamu punya teman dekat dan menyembunyikannya dariku.” Maximo memulai rasa penasarannya. Ia ingin mengenal Samantha lebih jauh.
“Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya tidak mau temanku celaka setelah kamu mengenalnya.” Samantha beralasan dengan serius.
“Ayolah Sam, jangan sesarkas itu. Aku tidak akan tiba-tiba mencelakai seseorang kalau dia tidak mengancam dan membuat kesalahan dihadapanku.” Maximo memberikan jawaban serius.
“Lalu kalau aku yang melakukan kesalahan dan sudah berulang kali mengancammu, apa kamu akan mencelakai bahkan membunuhku?” Samantha menyerangnya dengan pertanyaan yang lebih menekan.
Maximo tersenyum kecil. “Mana mungkin aku membunuhmu. Membunuhmu sama saja dengan membunuh diriku sendiri.” Maximo berujar dengan sungguh. Tatapannya begitu lekat sambil mengusap rambut Samantha dengan lembut.
“Aku tidak tahu mana kebohongan dan mana kebenaran dari ucapanmu. Kamu terlalu abu-abu dan membuatku tidak yakin,” timpal Samantha. Ia mengerlingkan matanya dari Maximo, rasa kecewanya masih jelas terasa.
“Aku sudah membuka diriku sepenuhnya. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Apa yang membuatmu merasa kalau aku masih abu-abu? Apa karena pendapatku tentang sebuah keluarga?” Kalimat Maximo terdengar begitu serius. Terlihat sekali kalau ia ingin memahami Samantha sepenuhnya.
“Entahlah. Mungkin karena untuk beberapa hal kita tidak satu pemikiran.” Samantha mengendikkan bahunya acuh.
__ADS_1
Maximo tersenyum kelu. “Selesaikan dulu makanmu, kita akan bicara nanti. Jika keberadaanku membuatmu tidak nyaman, aku akan menunggu diluar.” Diusapnya kepala Samantha dengan sayang seraya tersenyum kecil. Ia bisa membaca sikap skeptis yang ditunjukkan Samantha padanya. Samantha tidak menimpali dan membuat Maximo pergi dari hadapannya. Pria itu ingin menghargai waktu milik wanitanya.
****